Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Tunggu aku!



Baru tiga hari, Daniel berada di sana, namun, sudah ada banyak hal yang terjadi. Bahkan, yang tak diduga-duga.


Bertemu dengan seorang bocah perempuan, sampai bertemu dengan ibunya. Yang membuat banyak ingatan aneh datang secara tiba-tiba.


Hari yang panjang kemarin telah ia lewati dengan sakit kepala hebat, juga, menyelesaikan banyak pekerjaan yang tertunda, sampai malam.


Hingga sore hari ini, ia baru saja kembali dari lokasi proyek resort cabang hotelnya. Kembali dengan rasa lelah, namun, ia masih harus mengumpulkan tenaga, untuk bertemu lagi dengan Berly, nanti malam.


Masih ada hal, yang mesti ia lakukan, untuk mengorek berbagai informasi mengenai anak kecil itu, ibunya, serta keluarga mereka.


Apakah, benar-benar memiliki hubungan, dengan dirinya, atau tidak?!


Pandangannya, seketika melebar, saat mendapati beberapa sosok yang ia kenal, berada tak jauh dari posisinya saat ini.


Daniel baru saja melewati lobi depan resort. Berjalan beberapa langkah lebih ke dalam, pria itu melihat Della bersama Emilio sedang berbicara dengan seseorang.


Pria asing, yang belum pernah Daniel temui sama sekali. Nampak dari kejauhan, mereka sedang terlibat dalam pembicaraan yang amat serius.


Mata Daniel menyipit, memperhatikan, mencurigai dan waspada. Segepok uang, Della keluarkan dari dalam tasnya. Pandangan lelaki itu pun, melebar seketika.


Belum selesai, ia menetralisir keterkejutannya, secara tiba-tiba, Della menoleh ke belakang. Daniel refleks melompat ke samping. Di mana terdapat deretan pohon rimbun, yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.


Ia pun mengendap-endap, mendekat, dengan bunyi suara langkah yang ia redam. Ingin tahu, apa yang menjadi topik pembicaraan ketiga orang itu.


Instingnya mengatakan, bahwa ini, benar-benar sangat mencurigakan!


“Kau harus ingat, fokus utamamu adalah, menghabisi wanita itu dan anak perempuannya! Terserah, dengan yang lain. Aku tunggu kabar darimu sampai nanti malam!”


“Jika sampai gagal, bukan cuma tidak mendapatkan sisa bayarannya, tapi kau…, yang akan membayar nyawa mereka berdua!”


“Mengerti?!”


“Mengerti, Nona!”


“Jika sampai dia gagal, tidak perlu mengotori tangan Anda, Nona. Biar saya, yang turun tangan, untuk menghabisinya!” Terdengar, Emilio bersuara sambil menatap tajam, orang asing, yang berada di hadapan mereka berdua.


“Heh! Tenang saja! Aku tidak akan gagal!” Tampak pula, orang berjaket hitam itu tersenyum sinis menanggapi ucapan pengawal pribadi Della, tersebut.


“Hanya seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil? Heh! Pekerjaan ini terlalu mudah untukku!” tambah pria asing itu sambil menunjukkan foto – yang langsung membuat jantung Daniel, berpukul dengan sangat hebat.


“Rose! Berly!” ucapnya tanpa bersuara. Matanya terbelalak dengan mulut menganga. Napasnya pendek-pendek keluar dari mulut. Didorong rasa kaget yang begitu dahsyat.


Rose, Berly! Apa yang hendak tunangannya itu lakukan, terhadap keduanya?


Di balik rindang pepohonan yang bisa menyembunyikan seluruh tubuhnya, Daniel mendengar dan melihat ekspresi Della saat ini.


Sungguh pun! Ia belum pernah melihat mimik wajah kejam dan tirani, pada diri Della, yang selama ini, ia kenal. Ia tidak menyangka, apabila, tunangannya itu, mempunyai hati yang jahat dan keji.


Daniel pun dipukul oleh sebuah keterkejutan yang hebat.


Dan, yang membuatnya makin terpukul adalah, target tunangannya itu adalah, dua sosok spesial, yang baru saja ia kenal. Yang ia pun tidak tahu, mereka berdua memiliki tempat tersendiri, khusus, di dalam sanubarinya.


Seolah, baik ibu dan anak itu, mempunyai tahta istimewa di hati, tanpa Daniel sendiri sadari.


Oke! Daniel menerima, rasa cemburu Della terhadap Berly juga Rose, meski tidak masuk akal alasannya. Akan tetapi, ia tidak bisa menerima, jika hanya karena masalah itu, Della sampai mesti melakukan hal keji seperti itu.


“Ck! Harusnya, aku menghabisi wanita itu, sejak dulu! Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun, seperti saat ini.” Wanita itu berdecak kesal, saat mengatakan penyesalannya.


Pria asing yang tadi ia suruh pun, sudah pergi. Saat ini, hanya ada wanita mengerikan itu, dan Emilio.


“Sejak dulu?” tanyanya sendiri, saat mendengar pernyataan Della tersebut. Daniel langsung menukikkan alisnya dengan sangat dalam.


Dada yang sudah sejak tadi berdebar pun, semakin kencang debaran jantungnya. Rasanya, ia begitu  menggebu-gebu untuk segera mempertanyakan hal ini.


Amarah. Daniel sudah begitu diliputi oleh amarah saat ini. Ia merasa sangat tertipu. Ditipu oleh begitu banyak manipulasi. Dan selama ini, ia hanya diam.


Ia memilih untuk membungkam mulutnya sendiri, sampai semua bukti kuat ia pegang. Dan ia dapatkan di kedua tangannya.


Namun, kenyataan dan realitanya, saat ini, ada di depan mata. Bahkan Della, mengakui dengan mulutnya sendiri. Seolah, semeseta tengah membayar buah dari kesabarannya, selama ini.


Jadi, sebenarnya, tunangannya itu, dan juga Rose, sudah lama, saling kenal?


Sejak dulu?


Apa maksud ucapannya itu?


“Della!” Daniel telah melompat dari persembunyiannya. Ia langsung menarik tangan wanita itu, ketika hendak berjalan bersama dengan Emilio. Bermaksud meninggalkan tempat tadi.


Tidak hanya menarik, bahkan Daniel menyentaknya, sampai Della dipaksa menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Kemudian tubuhnya pun berbalik dengan cepat, akibat tarikan yang begitu kuat.


“Nona!” seru Emilio kaget bercampur khawatir. Selalu dan akan begitu seterusnya, Emilio tidak bisa membiarkan nonanya terluka.


“Kau, diam!” Diacungkan Daniel jari telunjuknya, ke hadapan wajah pria muda itu, dengan tegas. Bersama ekspresi garang, yang tak pernah Daniel tunjukkan. Pada siapa pun.


Bahkan, tanpa sadar, Emilio auto menuruti perintah pria tersebut. Ia membungkam mulutnya, dan mundur satu langkah.


Agaknya, aura seram dari sosok Benny Callary yang sedang murka, sedang menguar saat ini.


“Daniel!” pekik Della. Antara terkejut dan takut.


Ia berusaha menarik tangannya, namun tunangannya itu, mencekal dan mencengkeram lengannya, dengan sangat kuat.


Bahkan ia yakin, ceplak tangan Daniel, sudah meninggalkan bekas kemerahan, di kulitnya yang putih.


“Kau! Apa yang akan kau lakukan pada Rose dan Berly?” Daniel mengeluarkan geramannya, melalui sela-sela semua giginya yang merapat.


“Apa maksudmu, Daniel? Aku tidak mengerti?” Della menyangkalnya, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Daniel yang terasa begitu menyakiti.


Hanya saja, panik yang menyerang, tidak dapat ia hindari atau ia sembunyikan, saat ini. Daniel begitu saja menyerbunya, dengan pertanyaan telak juga aura suram yang begitu kental. Membuatnya, tidak dapat berakting dengan benar.


Bahkan, dirinya yang seorang tirani saja, rasanya, tidak mampu untuk melawan, tekanan yang Daniel berikan.


Dalam hati ia berucap. Bahwa pantas saja, sosoknya yang sebagai Benny Callary, begitu disegani dan ditakuti banyak orang.


“Jangan berkilah, Della! Aku mendengar semuanya tadi!” desis Ben emosi.


“Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang kau bicarakan, Daniel?”


“Kau memerintahkan seseorang, untuk menghabisi Rose dan Berly! Aku melihat orang yang kau suruh, memegang foto mereka berdua! Aku melihat dan mendengar semuanya, dengan jelas. Sangat jelas,” teriak Daniel bersama dengan emosinya.


Bola mata wanita itu langsung melebar. Tidak menyangka, jika Daniel akan mengetahui hal ini. Namun, segera, ia mengubah ekspresinya lagi. Menjadi seseorang yang begitu polos dan sedang tersakiti.


Wanita itu merintih, mendesis, mengungkapkan kesakitannya dengan jelas, di hadapan wajah Daniel. Bahwa pria itu, benar-benar menyakitinya. Dan ingin membuatnya merasa bersalah.


“Dan…, apa maksud dengan…, ‘sejak dulu’? Apa maksud ‘aku jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun, seperti saat ini’? Apa maksud semua ucapanmu itu, Della?”


Disudutkan oleh pertanyaan menusuk itu pun, Della menggerakkan bola matanya pada Emilio. Memerintahkan anjing setianya itu, untuk menyerang Daniel. Agar, tidak ada lagi, pertanyaan yang mesti keluar dari mulut tunangannya.


Karena tidak mungkin, ia mengungkapkan semua itu. Mengatakan kepada Daniel, apabila memang dialah dalang di balik semua hal membingungkan, yang Daniel alami.


Hap~!


Akan tetapi, Daniel dapat menangkis serangan Emilio dari belakang. Bahkan, sambil tidak melepaskan cengkeraman tangannya pada Della.


Wanita itu, beserta pengawal pribadinya pun terbelalak kaget. Padahal mereka, sengaja, tidak pernah membangkitkan ilmu bela diri pria tersebut. Tidak pernah mengingatkan, bahwa Daniel sebenarnya memiliki kemampuan. Meski, pria itu, selalu rutin berolahraga.


Tapi, siapa sangka, jika, tubuh pria itu sendiri, seperti masih mengingatnya.


Bahkan, Daniel sendiri pun terkejut. Ia tidak menyangka, bisa melakukannya. Tanpa sadar.


Maka, ia melanjutkan, menangkis dan melawan berbagai serangan yang Emilio tujukan, kepadanya.


Daniel lalu memutar tubuh Della, karena wanita itu sempat ikut melawannya. Pria itu, mengunci tangan Della di belakang punggung, sehingga, membuat wanita itu tidak bisa melawan. Untuk sementara.


Pukulan, tendangan, tak terelakkan. Baik Emilio dan Daniel saling menyerang. Sementara, Daniel tak melepaskan Della sama sekali dalam setiap pergerakannya. Wanita itu pun jadi terontang-anting, terbawa gerakan Daniel.


Bugh~!


Bugh~!


Satu pukulan masuk ke rahang Emilio dan lanjut dengan sebuah tendangan, yang masuk dalam, ke perutnya.


“Ugh~!” Pria muda itu pun tersungkur ke belakang.


Sekarang giliran Della. Wanita itu, Daniel dorong ke depan dengan begitu kasar. Hingga, ikut terjerembab ke lantai di sisi pengawal pribadinya.


Melihat hal itu, Emilio segera membantu nonanya, supaya bisa duduk dengan benar.


“Jika sampai terjadi sesuatu pada Rose dan Berly, aku tidak akan mengampunimu, Della!” ancam Daniel sembari menyibak jasnya yang berdebu akibat pergulatannya tadi, dengan Emilio.


“Memangnya, siapa mereka bagimu, Daniel? Mereka bukan siapa-siapa! Aku…, aku yang adalah tunanganmu. Tapi kenapa, kau malah memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” jerit histeris Della, pada posisi menduduknya di lantai dingin resort tersebut.


Sejak terjadinya pertarungan sengit itu, beberapa pengunjung serta pegawai menjadi penonton. Namun, tidak ada yang berani mendekat.


Tidak mau ikut campur. Takut terluka. Tidak mau mempunyai masalah. Adalah beberapa alasan yang mereka punya. Toh, sepertinya, ketiga orang yang terlibat saling kenal.


Jadi, mereka pun membiarkan saja hal ini terjadi. Selagi, tidak ada hal-hal yang bahaya dan mengancam nyawa.


Langkah Daniel terhenti, saat Della mempertanyakan hal itu. Pria itu lantas berbalik. Memandang nyalang pada wanita itu juga pada pengawalnya.


“Aku memang belum tahu, siapa mereka bagiku. Tapi, yang aku tahu, aku bukan siapa-siapa bagimu, Della. Aku tunanganmu, tapi kau bebas bermain dan bahkan tidur dengan lelaki mana pun,” ucap Daniel tegas sambil sengaja, melirik ke arah pria di sebelahnya.


Mata Della terbelalak mendengar hal ini.


Apa? Apa yang barusan Daniel katakan?


Ucapan Daniel bahkan, membuat kisruh para penonton di beberapa sudut resort. Membuat mereka mencibir dan mengejek pada sang wanita.


“Jangan, kau pikir, aku tidak tahu apa-apa, selama ini! Aku hanya memilih untuk diam. Sambil memperhatikan. Sambil mencari tahu, siapa diriku yang sebenarnya,” sambung Daniel dengan tatapan tajam dan dalam.


“Tidak! Kau adalah Daniel. Daniel-ku. Daniel Ernesto, tunanganku. Kau adalah milikku, Daniel. Kau adalah tunanganku!” Pada posisi duduknya pun, ia bangkit. Melutut sambil menjerit histeris. Otot di setiap lengannya sampai keluar, begitu ia mengejan, meneriakkan penolakannya, terhadap setiap kata yang Daniel ucapkan.


“Apa aku, harus mengeluarkan semua bukti, bahwa aku bukanlah Daniel Ernesto yang kau maksud?”


“Tidak, Daniel! Tidak….” Wanita itu menggeleng keras bersama tangisan yang mendadak, meluruh di wajah.  Della tidak rela jika usaha, kerja kerasnya selama ini, menjadi sia-sia. Sungguh tidak rela!


“Cukup, Della!” tegas Daniel sekali lagi dan agak sedikit membentak. “Mulai sekarang, aku akan mencari tahu, siapa diriku yang sebenarnya!”


“Tidak, Daniel! Kau adalah Daniel Ernesto. Kau bukan Benny Callary yang dia cari-“ Bola mata Della langsung membola dengan begitu besar. Baru saja, ia mengungkapkan kenyataan itu sendiri.


Betapa bodohnya! Wanita itu, langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan.


Senyum merekah di bibir Daniel. Lantas, ia tersenyum sinis, bak menyindir, wanita yang masih melutut itu. “Benny Callary! Ingat…, kau yang mengatakannya sendiri!’’


Laki-laki itu pun berbalik. Berlalu dari sana, membawa semua rasa kecewa, muak dan benci karena merasa, telah dipermainkan selama ini.


Sungguh pun! Daniel sudah tidak tahan dengan semua ini. Semua hal yang ia tahan, selama beberapa waktu ini, akhirnya meledak juga.


Ketidaktahuan tentang siapa dirinya. Manipulasi Della terhadap identitasnya. Kebingungan dengan semua yang menimpa dirinya. Sedangkan, wanita itu tidak mau mengungkapkan, satu kalimat pun untuk menjelaskan.


Sambil memulai langkahnya, pria itu pun menyeringai.


Benny Callary!


Untuk hal ini, rasanya, ia perlu berterima kasih pada Della. Ke depannya, ia hanya perlu mencari tahu, tentang siapa orang ini.


“Sayangnya, kau terlambat Daniel!”


Baru dua langkah, teriakan Della bersama suara kekehan wanita itu, membuatnya berhenti. Pria itu enggan berbalik, karena muak. Maka, dia hanya menolehkan sedikit kepalanya. Yang ia yakini, indera pendengarannya, masih dapat menangkap suara wanita itu, dengan jelas.


“Mungkin saja, saat ini, wanita itu dan juga anaknya…, SUDAH MATI! Hahahaha….” Lalu terbahak wanita itu seperti orang gila. Tertawa sampai benar-benar puas, apalagi, melihat Daniel yang begitu cepatnya, langsung membalikkan badan.


“Aku bersumpah! Jika sampai hal itu terjadi…, kau akan benar-benar membayarnya!” ancam pria itu dengan suara tegas dan tidak main-main. Bahkan, Daniel menelengkan kepala sambil menyipitkan mata yang menghunus pada si wanita iblis itu.


Tak ingin banyak bicara lagi, Daneil segera mengambil langkah seribu untuk meninggalkan lokasi.


Sejenak ia menyalahkan diri sendiri, sebab tadi, sudah terlalu banyak omong kosong, dengan wanita, yang ternyata adalah seorang iblis betina.


Memandangi punggung yang kemudian menjauh pun, tak lama, Della kembali menangis. Ia jatuh terduduk dengan keras ke lantai. Dari posisi melututnya.


Sejak tadi, Emilio sudah menahan diri untuk tetap diam. Melihat betapa rapuh dan sedih nonanya saat ini, akhirnya pria itu pun membuka suara.


“Nona! Apa perlu saya memberinya pelajaran?”


“Ehm….” Della berpikir sejenak. Hingga, dering suara ponsel terdengar.


“Ayah!” Alisnya mengernyit menatap nama si pemanggil. Ia pun memandang pengawal pribadinya itu, seolah bertanya.


Tapi, Emilio pun hanya menggeleng pelan. Memang, dia benar-benar tidak memiliki ide apapun, mengenai panggilan itu.


Ayahnya, Felipe August, hanya akan menghubungi Della terlebih dahulu, apabila memang, terdapat masalah yang benar-benar serius.


“Ya, Ayah!” jawab Della setelah meletakkan gawai itu ke telinga.


“Pulanglah, Della!” Suara bariton di seberang saluran, terdengar tegas.


“Tapi, Ayah-“


“Pulang! Sekarang juga!”


Felipe memang memanjakan Della, dengan semua fasilitas yang ia punya. Membebaskan putrinya itu melakukan apapun yang dia suka. Termasuk dengan hal-hal keji yang biasa Della lakukan.


Tapi, putrinya itu pun tahu, jika, ayahnya sudah berkata, maka, tak akan ada bantahan yang akan ia terima. Apapun itu.


“B- baik, Ayah!”


Sambungan itu pun ditutup sebelah pihak dari seberang sana.


Della dan Emilio pun saling berpandangan kembali. Keduanya menggeleng lemah, sebab tidak mengetahui alasan apa, dibalik perintah ayah dari Della tersebut.


Yang jelas, hal ini, pasti sangat-sangat urgent dan penting.


Sementara di sisi lain,


Daniel masih berusaha mengejar langkah dengan wajah panik bukan main. Ia mempercepat langkah sebisa mungkin. Tak ingin terjadi sesuatu apapun, pada dua orang, yang kini, terasa amat berarti untuk dirinya.


Selain itu, melalui mereka berdua, Daniel bisa mengetahui, siapa dirinya yang sebenarnya.


“Rose! Berly! Tunggu aku!” ucapnya sambil setengah berlari.


Bersambung,,,