Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Utang penjelasan



Tim yang dipanggil Relly, sudah datang. Bersama juga, dengan bala bantuan yang lain, yang datang. Anggota Harimau Putih yang lain, segera mengetahui, karena berita ini lekas menyebar, seperti angin.


Tidak ada satu pun, tak terkecuali, semuanya merasa takut dan khawatir mengenai hal ini. Tentang bagaimana dan di mana, keberadaan pemimpin mereka, saat ini.


Semua orang mengerahkan tenaga, bergabung pula dengan beberapa detektif swasta, yang mereka sewa. Demi, mempercepat penemuan sosok pemimpin mereka, juga dalang dan penyebab kejadian ini bisa terjadi.


Mereka bergerak, atas dasar inisiatif mereka masing-masing. Sebab, ini adalah situasi yang genting. Jika, sampai berita ini menyebar, tentang pemimpin Harimau Putih yang menghilang, tidak hanya menjadi masalah di dalam kelompok. Tapi juga akan menyebar sampai ke luar.


Permasalahan akan terjadi menjadi begitu luas, karena menghilangnya sang pemimpin. Dapat dipastikan, kelompok-kelompok kecil yang membangkang, akan melakukan pemberontakan, penyerangan, demi mendapatkan perluasan wilayah.


Dan kelompok yang bernaung di bawah pimpinan Harimau Putih, tentu saja akan merasa bimbang, dan mungkin saja, akan melepaskan diri. Akan bergabung dengan kelompok-kelompok lain, yang mungkin, akan semakin memperkikis wilayah Harimau Putih.


Bisa jadi, aka nada penyerangan besar-besaran, tejadi, pada Harimau Putih. Sebab, nama Benny Callary, sungguh dipandang dan disegani begitu banyak orang.


Dan jika, orang itu sudah tidak ada, maka tidak ada lagi, nama yang ditakuti, di sekitar wilayah ini. Untuk memimpin, juga untuk menjaga ketentraman antar kelompok, antar wilayah.


Karena, selama ini, Harimau Putih, terutama sosok Benny Callary, berperan besar menjaga stabilitas antar kelompok mafia di negara ini.


Beberapa regu penyelam dikerahkan, untuk mencari di dasar laut. Sedang yang lain, juga masih mencari, di sekitar lepas pantai, yang letaknya tidak begitu jauh, dari tempat kejadian perkara. Sisanya, terus mencari di setiap tempat yang memungkinkan, untuk ditemukannya pemimpin mereka.


Semuanya, mengerahkan tenaga dengan begitu antusias, diburu situasi yang genting dan mengkhawatirkan. Tidak ada satu pun yang mengeluh. Mereka begitu bersemangat, lantaran tidak bisa menerima, jika pemimpin mereka, benar-benar menghilang, atau pun nyatanya, sudah lenyap dari dunia ini.


Sementara semua orang berusaha,


Relly, Anggie dan juga Baz sudah sampai di rumah sakit terdekat. Beberapa anak buah ikut datang bersama mereka. Guna berjaga-jaga, dari situasi buruk, yang mungkin saja terjadi.


Saat ini, Rose masih diperiksa, di ruang unit gawat darurat. Dan yang lain, menunggu di luar ruangan. Sementara beberapa anak buah yang datang, berjaga di ujung lorong.


Setelan mereka yang mencolok, cukup menjadi pusat perhatian banyak orang, di rumah sakit itu. Namun taka da yang bergeming. Mereka tetap menjalankan tugas mereka, untuk berjaga.


Sudah cukup kejadian nahas itu terjadi. Sudah cukup tuan mereka menghilang dan belum kembali. Jadi sudah cukup, mereka tidak mau kehilangan seseorang lagi.


Karena memang, sosok Rose, sudah diterima di dalam kelompok itu. Sudah dianggap keluarga, dan menjadi satu kesatuan dari tubuh Harimau Putih. Sebagai warna yang lain, yang belum pernah mereka miliki.


Rose berharga, jadi begitulah, para anak buah Harimau Putih itu berjaga, demi melindungi nona mereka.


Dan tiga orang lainnya, menunggu dengan tidak tenang. Baz duduk di sebuah bangku tunggu di lorong itu, sementara Anggi berdiri di sampingnya, sambil menggigiti kuku jarinya, dengan gelisah.


Lalu Relly, berjalan mondar-mandir di depan keduanya. Ditekuk sebelah tangannya ke pinggang, kala menggosok lantai itu dengan kakinya. Kadang kala, ia memijat keningnya, sambil menahan gelisah.


Clek~!


Bunyi pintu terbuka, menghentikan semua gerakan ketiganya. Lantas menoleh, ke sumber suara tersebut.


Deg… deg… deg…~! Bersama debaran jantung yang berpacu kencang. Mereka semua, terlampau mengkhawatirkan keadaan Rose saat ini. Terutama Anggie, yang paling mengetahui keadaan wanita itu, dibandingkan yang lain.


Sesosok pria dengan jas putih panjang keluar dari pintu, yang baru saja terbuka. Ia keluar bersama seorang suster di belakangnya.


Maka, Anggie yang lebih dulu berpaling ke hadapan dokter itu. Kekhawatiran yang tak tertahankan ini, harus ia obati dengan jawaban dari sang dokter.


“Bagaimana keadaannya, Dok? Juga, janinnya?” tanya Anggie antusias. Bahkan, saking tidak sabarnya, ia sampai tidak sadar, telah menyebutkan kabar, yang amat menggemparkan bagi dua pria, yang datang bersamanya.


Janin? Relly dan Baz bertanya bersamaan. Bahkan keduanya saling menoleh, saling menatap dengan gerakan lambat.


Hening dari mulut keduanya, juga gerakan lambat yang kebingungan itu pun menarik atensi sang dokter. Dokter itu berpikir, jika, salah satu di antara kedua pria itu, pasti adalah ayah dari janin di dalam kandungan, wanita yang sedang terluka. Di dalam sana.


Mungkin saja, salah satu dari pria itu terkejut karena baru mengetahui kabar bahagia ini.


Sementara Anggie, lalu menoleh, mengikuti arah pandang sang dokter.


Oh, ya ampun! Ia lupa jika mereka belum mengetahui hal ini. Bahkan tidak seorang pun, kecuali dirinya. Termasuk, Ben sekali pun. Yang merupakan, ayah dari janin di dalam kandungan Rose.


Masalah menjelaskan kepada mereka berdua, adalah urusan belakangan. Saat ini, yang ia perlu ketahui adalah, bagaimana keadaan Rose dan calon anaknya.


“Jadi, bagaimana, Dok, keadaan teman saya? Dan juga janin yang berada di dalam kandungannya?” Anggie membeo dengan intonasi agak tinggi. Guna menarik atensi si dokter, padanya.


“Ah, i- iya!” Dokter itu menatap Anggie lagi. Lalu tersenyum gugup. “Ada beberapa luka kecil, di wajah juga tubuhnya. Hanya luka goresan, nanti bisa sembuh dalam hitungan hari. Tidak ada luka yang berarti. Tidak ada juga, luka dalam. Fisiknya hanya mengalami kelelahan dan dehidrasi. Jadi saat ini, teman Nona, sedang beristirahat di dalam.”


“Cairan infusnya akan membantu teman Nona untuk kembali pulih, dari dehidrasi juga untuk membantu memberikan nutrisi lebih, terhadap janin yang di kandungnya.”


“Jadi, bagaimana keadaan janinya, Dok? Apa maksudnya, tidak ada masalah dengan ibu dan calon anaknya?” Anggie buru-buru bertanya lagi, agar sang dokter buru-buru menyimpulkan.


“Saya sudah melakukan USG untuk mengecek bagaimana keadaan si bayi. Beruntung sekali, rahim teman Nona, juga calon bayinya, sangat kuat. Jika saya dengar dari kecelakaan yang Nona ceritakan, ini benar-benar sebuah mukjizat,” jelas sang dokter sambil tersenyum begitu lebar.


“Hah…! Untunglah!” Diusap Anggie dadanya, sembari mengembuskan napas lega. Bahunya yang semula tegang pun merosot, bersama kelegaan yang baru saja ia dapat.


“Tapi…,” Karena nada bicara dokter yang mulai terasa lesu, ketiga orang yang amat menanti itu pun makin menarik atensi yang mereka miliki. Ada apa sebenarnya?


“Tapi, nampaknya, teman Nona, mentalnya sangat terpukul. Mungkin karena kecelakaan hebat, yang baru saja ia alami. Saya tidak tahu alasan pastinya, saya juga tidak tahu bagaimana cara menanganinya, karena hal itu bukan ranah saya untuk mengobati.”


Heehhh…. Embusan napas berat, datang dari ketiganya. Ternyata tidak semudah itu, mereka bisa merasa lega dan tidak khawatir lagi.


“Segera bawa teman Nona, ke bagian psikologis. Karena, jika sampai mengalami depresi, hal itu akan membahayakan kondisi janin di dalam rahimnya. Sementara saat ini, teman Nona masih berada di trimester awal, di mana kondisinya masih sangat rawan bagi janin, untuk mengalami keguguran.”


Penjelasan sang dokter berhenti. Begitu juga napas ketiganya yang tertahan.


Tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan!


Rose sudah kehilangan Ben. Meski mereka sendiri, belum dapat memastikannya. Dan belum bisa menerimanya juga.


Namun… yang jelas, mereka tidak akan membiarkan Rose, sampai kehilangan yang kedua kalinya. Baz, Relly dan Anggie, tidak akan membiarkan Rose kehilangan bayinya.


“Setelah ini, teman Nona, bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Kami bisa mengobservasi keadaan teman Nona, di sana. Jika sudah tidak ada pertanyaan, kalau begitu, saya permisi dulu!” pamit sang dokter dengan sopan.


Ia mengangguk kecil, pada Relly dan Baz bergantian. Lalu pada Anggie, yang terakhir. Sang dokter pun berlalu pergi, disusul seorang suster yang mengekori.


Dirundung perasaan tak menentu, nyatanya mereka semua merasa semakin khawatir dan gelisah. Anggie pun belum selesai dengan perenungannya. Karena kemudian, Relly dan Baz, bertanya bersamaan.


“Anggie! Kau berutang penjelasan!”


“Hk!” Wanita itu pun, memekik kaget seraya membelalakkan mata.


Bersambung…