Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Dendam



Zayn mengemudikan mobilnya sendiri. Selama perjalanannya ke perbatasan wilayah hingga detik ini, tak ada orang yang menggantikannya sama sekali.


Lelah? Memang!


Tapi hal ini ia lakukan supaya tak satu orang pun mengetahui gerak-geriknya sama sekali. Meski dari kejadian terakhir kali. Ketika dia nekat menyerang tempat itu secara langsung. Tidak tahu, jika Ben dan yang lainnya sudah mulai curiga atau belum.


Rasa kantuk mulai menyerang. Apalagi sudah tiga hari belakangan dia kurang beristirahat. Wanita maskulin itu lebih memilih untuk melipir. Zayn berhenti di sebuah stasiun pengisian bahan bakar.


Diregangkan Zayn otot-ototnya yang terasa kaku ketika ia sudah keluar dari mobil. Dan saat ia menggerakkan bahunya, nyeri dan perih terasa kembali. Cakaran wanita itu jelas menembus jaketnya.


“Sial!” umpatnya kesal. Diintip bahunya dengan mengangkat kerah jaket dan pakaian yang ia kenakan saat ini. Benar saja, terdapat luka lecet di sana.


Dasar wanita mengerikan!


Wanita maskulin itu baru saja membeli beberapa minuman kaleng. Dilempar Zayn barang yang ia bawa di tangan ke kursi penumpang di sebelahnya. Sebab kursi itu kosong tak berpenghuni.


Sambil menyangga kedua tangannya pada stir mobil, Zayn membuka penutup minuman itu. Desis soda yang memberontak keluar, langsung terdengar. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, langsung ditenggak minuman itu sampai penuh di mulutnya.


Rasa segar dan dingin ia dapati sekarang. Mengusir lelah dan kantuk yang tadi menyerang. Sekarang matanya menatap ke depan. Menerawang masa lalu, bagaimana pertemuan pertamanya dengan wanita mengerikan itu.


Satu bulan yang lalu, ayahnya, Johan. Pria tua yang mulai gila itu, mencoba mengakhiri hidupnya. Dan karena hal itu, ibunya jadi sakit-sakitan. Bahkan saat ini telah tiada, karena penyakit jantung yang memang sudah diderita selama ini.


Zayn murka, dia marah akan nasibnya.


Ibunya, orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya telah tiada. Serta… ayahnya yang dulu menjadi panutan dan contoh, menjadi setengah waras sekarang.


Zayn yang memilih untuk terjun di jalan ini adalah, karena ia ingin sekali menjadi sosok ayahnya. Yang kuat dan tangguh. Sampai Zayn rela mengorbankan kodratnya yang sebagai wanita.


Awalnya penampilannya saja yang berubah. Namun perlahan, tingkah laku dan pahamnya sebagai wanita pun berubah. Ia terlalu lama dan terlalu dalam bergaul dengan banyak laki-laki. Dan menurutnya, lebih nyaman menjadi seorang adam, ketimbang takdirnya sebagai seorang hawa.


Zayna aka Zayn pun berubah menjadi sosok yang sekarang ini.


Di tengah amuknya pada nasib dan takdir, seseorang menghubunginya. Menawarkan sesuatu yang tak disangka-sangka. Benar memang, ia menginginkan kehancuran hidup pemimpinnya saat ini.


Benny Callary, ketua geng Harimau Putih. Jabatan yang disandangnya saat ini semestinya menjadi milik ayahnya. Sebab dulu, pemimpin yang sebelumnya, pernah menjanjikan hal itu kepada ayahnya. Sebab Johan, juga salah satu orang kepercayaan Tuan Danu.


Namun, entah mengapa, Tuan Danu malah lebih memilih Ben sebagai penggantinya. Sedang ia harus pensiun dari dunia gelap itu. Dan meneruskan bisnis keluarga.


Johan marah, murka, mengamuk sampai menjadi gila seperti ini.


Zayn selaku putrinya pun tidak terima. Meskipun ia dekat dengan Ben dan juga Relly, namun hal itu tidak menghentikan kemarahannya sama sekali.


Sebab… hal itulah yang menjadi kehancuran hidup, serta keluarganya. Sekarang ia mesti kehilangan ibunya. Dan separuh ayahnya, karena hanya ada raga Johan, sedangkan pikirannya sudah menghilang.


Atas nasib dan takdir yang menimpanya ini, Zayn limpahkan semuanya kepada Ben. Ini salahnya, ini akibat dia menerima jabatan itu. Ayahnya memilih mundur ketika Ben dinobatkan. Dan sekarang hidup Zayn hanya dipenuhi dengan kemarahan.


Della Moran August, seseorang yang mengatasnamakan asisten wanita itu tiba-tiba menghubunginya, satu bulan yang lalu. Menawarkan sebuah kerja sama yang tak disangka-sangka.


Hal yang sangat ingin Zayn lakukan, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.


Wanita itu menginginkan Ben. Sedangkan dia ingin kehancuran hidup lelaki itu. Dan bahkan jika ia mesti mengkhianati kelompoknya sendiri, Zayn sudah tak peduli. Matanya sudah ditutup oleh api dendam yang membara.


Zayn sempat berpikir, darimana wanita itu tahu semua hal mengenai dirinya, juga mengenai Ben, bahkan Rose yang menjadi kekasihnya. Wanita itu juga ingin agar ia menjauhkan Ben dan Rose. Membuat pasangan itu berpisah.


Sungguh pun, ia baru melihat wanita dengan ambisi yang begitu kuat.  Serta di matanya, tidak ada nilai kemanusiaan sama sekali.


Zayn mencari tahu. Dia menerima tawaran wanita itu, tapi dia juga tidak ingin menjadi bodoh karena tidak tahu latar belakang rekannya saat ini. Sebab bisa saja, suatu saat rekan akan menjadi lawan.


Tapi siapa sangka, jika ia menemukan hal yang tak diduga-duga. Wanita itu jelas bukanlah wanita biasa. Dia adalah putri satu-satunya dari seorang penguasa di Benua E. August Felipe, adalah penguasa dunia hitam di sana.


Wajar saja, jika Della bisa sampai mengetahui segalanya. Sampai hal yang mendetail sekali pun. Tentang mereka semua.


Ini tidak main-main! Namun yang ia lihat di mata wanita mengerikan itu, semua hal hanya sebuah permainan baginya.


Dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki ayahnya, wajar jika wanita itu dapat dengan mudah menjalankan setiap rencananya. Dan dia juga baru mengetahui, jika perkara di pelabuhan tempo hari, juga merupakan ulahnya.


Keingin-tahuan Della untuk mengetahui kekuatan Ben, rasanya tidak setimpal dengan pengorbanan puluhan nyawa anak buahnya.


Sepertinya wanita itu memang sudah gila, tidak berperikemanusiaan, tidak berperasaan. Sampai rela menukar nyawa banyak orang, hanya untuk rasa penasarannya saja.


Kembali ke masa sekarang,


Ditenggak Zayn sisa minuman kaleng pertamanya sampai habis. Kemudian matanya membidik, ia melempar kaleng kosongnya ke arah sebuah tempat sampah. Dari dalam mobil itu. Dan… selalu tepat sasaran.


Wanita maskulin itu membuka kaleng kedua, lalu meminumnya sedikit. Dia menggeleng pelan. Sekarang ia sudah tidak bisa mundur lagi dari jalannya ini.


Rasanya tidak adil, jika hidup Ben harus lancar dan bahagia. Sedangkan hidupnya saat ini sudah hancur berantakan.


Meski tidak tahu kemenangan atau kehancuran yang akan ia dapatkan, paling tidak, ia akan terus berusaha, untuk menghancurkan hidup Ben. Orang yang padahal sudah menjadi temannya sejak lama.


Kring… kring… kring…


Dering ponsel mengganggu lamunannya. Anggie~!


Tatapan mata wanita maskulin itu melembut kala melihat siapa yang memanggil.


“Ya! Aku sedang dalam perjalanan pulang! Mungkin dua jam lagi baru akan sampai!”


Segera ia menutup sambungan telepon itu,dan memasukkan kembali gawainya ke dalam saku jaket.


Anggie! Hanya dia yang membuat Zayn menjadi waras sampai sejauh ini.


Dengan kasih sayang yang Anggie berikan, Zayn masih bisa mempertahankan sisi manusiawi-nya. Padahal dalam hati, dendam kesumatnya sudah menggelora.


Lihat saja!


Setelah ini, tidak aka nada hidup tenang bagi mereka semua!


Bersambung…


Maaf ya kebanyakan narasinya,,, khusus bab ini doang kok,, hehe


Selamat beraktivitas ya teman-teman