
“Tuan!”
Senyum senangnya pun seketika hilang, digantikan dengan ekspresi horor yang siap menerkam mangsa.
“Tuan! Bagaimana keadaanmu sekarang? Nona Rose, apa darahnya masih keluar banyak?” Ditanya satu persatu semua orang yang berada di situ oleh Relly, ketika dia baru saja menapakkan kaki di sana.
“Tidak! Darahnya sudah tidak menga-“ Bibir Rose langsung mencebik kesal karena jawabannya belum selesai dan pria itu sudah berbicara lagi.
Sepertinya dia tidak perlu menjawab, ya! Karena Relly seperti sudah tahu jawabannya sendiri. Menyesal dia tadi sudah mau membuang-buang suaranya yang berharga!
“Lihat! Aku membawa dokter yang akan mengobati luka Tuan!” Tersenyum bangga dia sambil berjalan ke arah Ben duduk.
‘Eh, apa yang salah?’
Relly kebingungan, pasalnya saat ini Ben tengah menatapnya seakan bosnya itu hendak menelannya bulat-bulat.
Kesalahan apa lagi yang sudah dia perbuat? Padahal dia datang bersama dengan seorang dokter. Dendan maksud baik pula, untuk mengobati luka tembaknya pula. Lalu dimana salahnya? Dia tidak tahu.
Benar saja memang tidak tahu. Karena Relly datang di saat yang tidak tepat. Momennya bertukar candu yang dibalut perasaan cinta kasih jadi hilang sudah. Meskipun Rose sudah menghiburnya dengan satu kecupan. Hal itu tidak cukup bagi pria bertopi koboi itu.
Ahh! Ben sedikit mengubah ekspresi di wajahnya ketika mengingat sesuatu.
Hukuman ganda yang mesti Rose dapatkan akibat ulah membangkangnya belum dia dapatkan. Jadi… Ben masih mempunyai alasan untuk melakukan hal itu nanti.
Hukuman ganda?
Wow! Ben jadi tak sabar untuk menantikannya! Rasakan kau hey, wanita!
Dan untuk Relly… ya sudahlah! Ini memang bukan kesalahannya yang disengaja. Karena Ben sudah mulai terhibur lagi dengan rencananya, maka kali ini dia akan melepaskan asistennya itu.
“Apa mereka semua sudah diurus?” tanya Ben setelah menenangkan riuh di wajahnya. Kini dia .
Bagaimana pun juga, sebagai ketua kelompok ini, Ben selalu perhatian pada semua anggotanya. Kedatangan dokter ini yang terlambat pun karena Ben sendiri yang memintanya. Pria itu ingin agar semua anak buahnya yang terluka untuk ditangani terlebih dahulu. Alih-alih dia bisa menahan lukanya sementara waktu.
“Sudah, Tuan! Semua yang terluka sudah ditangani. Hanya tinggal Tuan Ben saja yang belum.” Dokter itu menjawab setelah Relly menoleh padanya, mempersilahkan dirinya untuk menjawab sendiri.
Geng Harimau Putih memang memiliki tim medis tersendiri. Dokter dan ahli medis lain, mereka membocorkan informasi apa pun yang mereka ketahui, baik itu sengaja atau pun tidak sengaja.
Dan lagi, taruhannya adalah nyawa jika mereka benar-benar berani melakukan hal itu. Bukan hanya nyawa mereka saja. Tetapi nyawa seluruh anggota keluarga. Ben tak segan untuk membumi hanguskan seluruh keturunannya, jika berani berbuat macam-macam.
‘Oh, pantas saja!’ Rose menganggukkan kepala setelah menyadari keterlambatan dokter itu.
“Jika sebentar lagi Dokter tidak datang juga, aku sendiri yang akan mengobati lukanya!” ucapnya lalu pada dokter itu. Ikut berjalan mendekat juga setelah menutup pintu itu kembali.
“Memangnya kau bisa?” Dinaikkan sebelah alinya oleh Ben. Agak penasaran dia dengan pernyataan Rose barusan.
Relly mengangguk, seperti dia memiliki pertanyaan yang sama dengan pertanyaan bosnya itu.
“Bisa!” sahutnya dengan begitu percaya diri. Rose bahkan sedikit menaikkan dagunya.
“Kau tahu caranya?” Sedangkan Ben tahu jika mengobati luka tembak tidak seperti menangani luka sobek atau luka berdarah yang lainnya. Mereka perlu mengeluarkan pelurunya dulu. Dan jika tidak memiliki keberanian, maka tidak bisa mereka melakukan hal ini.
“Tahu!” sahut Rose lagi masih sok percaya diri.
“Benarkah?” Diliriknya Rose dengan wajah serius dan sangat penasaran. Ben sudah sangat menanti jawaban wanita itu.
Begitu pun Relly yang menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan Rose dan Ben bergantian layaknya wasit bola voli. Kedua orang itu saling melempar bola pertanyaan dan jawaban dengan cepat dan praktis.
Sedangkan si dokter terlihat serius menyiapkan peralatan medis dari dalam kopernya. Tidak terlalu mempedulikan orang-orang yang sibuk berbicara.
“Apa maksudnya ucapanmu itu?” Ben membiarkan tangannya yang mulai diperiksa oleh dokter. Sedangkan dia tetap menanggapi ucapan kekasihnya itu. Agak aneh kedengarannya memang.
“Karena tidak sabar menunggu dokter datang, tadinya aku mempunyai niat untuk mengobati lukamu dengan tanganku sendiri.”
“Bagaimana caranya?” tanya Ben seakan menantang.
“Kau ini ketinggalan jaman sekali!”
‘Apa!’ Rahang Ben sedikit terbuka. Rose sedang mencemoohnya, kah?
“Ee… maaf Tuan! Sekarang saya akan menyuntikkan anastesi!” Agak canggung dokter itu memberi informasi di tengah percakapan intens itu. Pasalnya Relly saja tak berani menyela.
“Ya, lakukan saja!” Ben menoleh sebentar ketika menjawab.
“Ayo jawab! Aku masih menunggu!” Ben mengedikkan dagu pada wanita di hadapannya.
“Oh, ya!” Rose agak terkejut karena dia sedang memperhatikan suntikan di tangan dokter itu dengan saksama. Dia sampai bergidik melihat jarum perak itu menyemburkan cairan anastesi sebagai percobaan.
Bagaimana tidak begitu! Dalam hati di merutuk pada dirinya yang sampai sebesar ini takut disuntik.
“Sekarang semuanya sudah bisa dipelajari melalui internet.”
“Jadi maksudnya kau akan mempelajari cara mengobatiku melalui internet, begitu?” tanyanya memastikan lagi. Rahangnya makin terbuka sebab tidak habis pikir dengan pemikiran kekasihnya itu.
Kreatif? Tidak, bukan kreatif! Tapi ide yang Rose miliki terlalu kreatif, bahkan.
“Kau menjadikan aku kelinci percobaan, hem?” tanya Ben lagi setelah Rose menganggukkan kepalanya.
“Bukan begitu maksudnya… aww….” Rose langsung memekik saat melihat ujung suntikan itu hampir menembus kulit kekasihnya. Sampai terangkat kedua bahunya saking terkejut dan tidak tahan melihat hal itu. Rasanya seperti suntikan itu akan menembus kulitnya sendiri.
Tidak hanya Ben, semua orang, Relly dan dokter itu juga ikut terkejut mendengar suara Rose yang mengagetkan. Tangan dokter yang sedang memegangi suntikan itu saja sampai tergelincir dan hampir salah menyuntik ke bagian yang berlubang.
Ben memperhatikan, mencoba menyadari pengertian dari teriakan takut wanita itu. Diliriknya tangan dokter yang memegang suntikan di sampingnya, menjadi target tatapan Rose. Lengkung bibirnya sedikit naik menyadari jika hal itu lah yang wanita itu takutkan.
“Kau yang takut dengan sebuah suntikan, lalu berani-beraninya berpikir untuk mengobati lukaku?” Ben mendengkus dengan napas tak berdayanya, sambil tersenyum lemah.
“Ak- aku tidak takut! Siapa bilang aku takut disuntik?!” Tergagap dia karena Ben sudah menangkap basah dirinya.
“Biar aku tanyakan pada Victor! Relly, berikan ponselku!” Jika wanita itu tetap pada pendiriannya, maka kakaknya pasti tahu kebenaran mengenai hal ini. Bibirnya tersenyum licik dengan pandangan menantang.
Relly sudah akan beranjak ke meja kerja bosnya itu untuk mengambil ponsel yang diminta.Tapi segera dihentikan oleh seruan keras Rose.
“Jangan, jangan!” Melambaikan tangan dengan wajah panik pada Relly. “Tidak perlu… tidak usah menelepon kakak! Untuk apa?”
Rose melotot dan makin menambah tingkat kepanikan di wajahnya.
“Aku hanya ingin bertanya saja! Nanti, jika terjadi sesuatu padamu, kan, aku jadi tahu apa yang seharusnya kau lakukan padamu!” Ben semakin menggoda wanita itu dengan melambaikan tangannya pada Relly.
Dan tak lama kemudian, gawai itu sudah ada di tangannya. “Sebentar, aku akan menghubungi kakakmu dulu!”
“Ben! Jangan!” Rose hendak bangun untuk meraih ponsel itu. Tapi ingat dia sedang terluka dan sedang diobati maka Rose berhenti dan menduduk kembali.
“Jangan, Ben! Tidak perlu!” serunya lemah seolah kalah.
Ben menyeringai. “Jadi?”
Bersambung…