
“Hentikan!” teriak Rose dengan suara seraknya.
Wanita itu buru-buru melepaskan diri dari kekasihnya. Segera
menghadap ke depan sambil mengelap cairan kental aka ingus, dari hidungnya. Air
matanya, tentu saja.
“Sudah, Relly! Hentikan… hk… hk…!” Sambil mengakhiri
tangisannya, Rose maju ke depan.
Semua orang menahan napas di tempat karena ulah pergerakan
Rose yang tiba-tiba. Apa yang akan disampaikan wanita yang hatinya
tersayat-sayat itu?
Di sisa ekspresi sedihnya, Rose berkacak pinggang seraya melayangkan
tatapan galak. Jangan salah paham! Bukan pada mereka semua yang telah menghinanya
habis-habisan. Tapi pada Relly, asisten kekasihnya itu.
“Kau ini benar-benar cerewet, ya!” Menarik cairan kental
masuk ke dalam hidungnya sebentar.
“Bukannya membuatku senang, tapi kau malah membuatku jadi
tambah sedih!” gerutu Rose sambil mengerucutkan bibir.
“Tapi, kan, saya-“
Tapi Relly bermaksud untuk membela nonanya, kan? Kenapa
tanggapan yang dihadapinya tidak sesuai dengan harapan. Harusnya, kan, Nona
Rose terharu atau apalah?! Kenapa sekarang dia malah kena marah?!
Relly bingung sampai kehabisan kata-kata. Perasaan yang
tadinya bergumul di dalam dada pun perlahan luntur dengan keheranannya.
Mata pria itu sampai mengerap beberap kali sampai ia
benar-benar yakin, bahwa ini adalah situasi yang sesungguhnya. Relly jadi
merasa, perbuatan baiknya itu dibalas dengan air tuba, oleh Nona Rose-nya.
Bukan sedih lagi ekspresi yang ia miliki di wajahnhya. Tapi
lebih kepada, mengenaskan!
Ekspektasinya tidak sesuai harapan!
Dan… orang-orang yang berada di belakangnya mesti melepaskan
tawa, dari napas yang tadi tertahan. Siapa sangka jika Rose akan memilih reaksi
yang seperti ini?!
Mereka hanya turut prihatin terhadap Relly. Nasib pria itu
tidak pernah bagus sama sekali!
“Aku tidak mau sedih lagi! Paham?!” kata Rose sambil
mencondongkan tubuh dan melotot pada Relly.
Relly sampai mesti meringis tak berdaya. Padahal dia ingin
sekali bertanya, itu adalah sebuah pernyataan… atau… peringatan. Hah!
Sungguh ia tak mampu melawan wanita yang satu ini!
Sepertinya… iblis yang biasa menguasi diri bosnya itu, sudah berpindah ke tubuh
nonanya. Hiiihhh….
“Benar…!” Rose lantas mengangkat kepalanya. Menebarkan
pandangan mata pada semua orang yang berdiri membeku di hadapannya.
“Kalian memang patut mendapatkan hukuman!” Gurat kesedihan
yang tadi bersemayam di wajahnya telah menghilang. Tergantikan dengan tatapan
setajam mata elang.
Pengumuman itu sontak membuat kelompok yang kontra dengan
Rose merasa tercekik lagi. Krisis yang tadi, telah datang kembali. Menggerogoti
aman dan nyaman hidup yang selama ini mereka jalani.
Heh! Betapa bodohnya! Hanya karena satu gosip, hidup mereka
jadi dipertaruhkan! Sungguh sebuah ironi!
Mereka saling melirik ketika tubuh gemetar ketakutan.
Punggung yang semula mengering, kini basah lagi oleh peluh yang bercucuran.
Suhu pada kepalan tangan mereka pun menurun drastis. Tangan dan kaki mereka
terasa berkeringat dingin.
Apakah ini saatnya?
Tapi… melihat dari hukuman yang diberikan oleh Rose pada
orang itu, sepertinya mereka masih punya harapan! Semoga wanita itu masih mau
berbaik hati kepada mereka semua!
Sungguh! Harapan yang sangat tinggi! Berbanding lurus dengan
kejahatan yang telah mulut mereka lakukan! Anggie mencibir melalui tatapannya.
Dia tahu isi pikiran orang-orang itu dari mata mereka yang serakah.
“Nona-“
Dan Rose kembali memotongnya. Relly pun terdiam. Sepertinya,
ini memang bukan gilirannya berbicara. Bahkan bosnya pun, Ben, ia memberi
isyarat dengn gelengan kepala. Memintanya untuk diam.
“Tadi kau mengatakan untuk memberikan hukuman juga, kan,
kepada mereka?” tanya Rose pada Relly.
“Iya, Nona!”
“Baiklah!” Rose mengangguk dengan yakin. Lalu ditatapnya
kelompok di sebelah kirinya. Sedang yang sebelah kanan, tim yang selalu
mendukungnya, seakan tak sabar menanti.
“Benar apa yang dikatakan Relly! Aku terluka gara-gara mulut
laknat kalian!”
Deg!
Kalimat Rose barusan seperti belati yang menikam dada, tepat
ke jantung, dan membuatnya berhenti berdetak.
Bayangan buruk pun mulai menghantui pikiran mereka. Seperti
masa depan suram akan mereka hadapi. Dan di sana, tidak akan ada baik-baiknya
sama sekali mengenai nasih mereka kelak.
Sebab, mereka mulai menyadari, kesalahan dan kebodohan apa
yang sudah mereka lakukan selama ini.
Tak melepas tatapan tajamnya, Rose bergerak, bergeser ke
kiri sedikit, berdiri tepat di hadapan mereka semua. Tangannya melipat di depan
dada.
“Pertama… “ Diturunkan sedikit kepalanya oleh Rose. Kesannya
malah semakin mempertegas sisinya yang lain. Yang liar dan beraura kental,
untuk memburu seseorang.
Brukk…
“Maafkan saya, Nona! Maafkan kami semua!”
Tiba-tiba terdengar bunyi dentam keras ke lantai. Setelah
dilihat, ternyata itu adalah bunyi seseorang di antara mereka yang menjatuhkan
diri ke lantai, dengan lutut sebagai bantalan.
Pria itu auto melutut di hadapan Rose, karena posisinya juga
terletak di barisan yang paling depan.
Rose sempat kaget, begitu juga dengan yang lainnya. Sebab…
Rose belum mengungkapkan hal apa pun. Tapi mereka… sepertinya… sudah tahu harus
berbuat apa. Diam-diam Rose tersenyum dalam hati.
“Ya, Nona! Tolong ampuni kami!”
“Kami tahu kami sudah berbuat kesalah besar! Kami sudah
menyadari kesalahan kami!”
“Tolong maafkan kami, Nona!”
“Ampuni kami!”
memukul lantai. Mereka melutut dengan rapi dan teratur sesuai dengan barisan.
Rasanya… saat ini Rose melihat orang-orang itu seperti ombak
manusia. Mereka melutut dan bersimpuh dari barisan depan hingga ke belakang,
dengan tanpa mereka sadari, menjadi satu kesatuan yang menjadi penghiburan
tersendiri di mata wanita itu.
Bukan! Bukan karena dia menertawakan atau puas dengan apa
yang dia inginkan sejak awal. Rose hanay merasa lucu dengan cara mereka
melakukannya saja. Benar-benar indah, seperti pertunjukkan sebuah teater saja,
menurutnya!
Teriakan dan seruan minta ampun juga riuh terdengar dari
wajah-wajah putus asa di bawah sana. Bersahuta-sahutan, sama seperti, ketika
mereka dengan kompaknya menghina dan menyudutkannya. Sungguh pun, Rose merasa
ironi akan hal ini!
Wanita itu menoleh sebentar ke belakang. Menatap Ben, untuk
meminta persetujuan dan pertimbangan mengenai apa yang mau ia lakukan terhadap
mereka, yang notabene masih merupakan anak buah dari kekasihnya itu.
Jadi Rose rasa, ia perlu mendapatkan izin dari pemimpinnya.
Sedangkan Ben, pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum
lembut. Mengedip pelan, memberi leluasa pada wanita itu untuk melakukan apa pun
yang diinginkannya.
“Bisakah kalian diam sebentar?!” seru Rose agak kencang.
Maksudnya ingin membuat mulut mereka berhenti mengeluarkan suara, dan
memberikan gilirannya untuk berbicara.
Sebuah kenyataan ironi kembali terjadi. Sebelum-sebelumnya,
jika Rose meminta mereka untuk diam, maka yang didapatinya adalah suara yang makin
ramai dan hinaan yang semakin menyayat hati.
Namun sekarang… dengan hanya satu kalimat pendek itu, Rose
sudah dapat membuat mulut mereka bungkam. Bahkan beberapa di antaranya tengah
menjepit bibir dengan kuat. Karena sepertinya, mereka belum puas memohon,
sampai Rose benar-benar memaafkan mereka semua.
“Hh…!” Wanita itu mendengkus dulu untuk melepaskan beban dan
perasaan berat di hatinya. Dia perlu membuat hatinya menjadi tenang dan ikhlas
terlebih dahulu.
“Sejujurnya, aku tidak tahu hukuman apa yang pantas untuk
kalian semua!”
Kalimat itu seperti menyiratkan, saking Rose terluka dan
tersayat-sayat sebab mulut jahanam mereka, Rose sampai bingung harus menghukum
orang-orang itu bagaimana.
Udara dikunyah dengan susah payah. Oksigen mereka hirup
dengan kesusahan. Mereka yang mendengar hal ini dan merasa bersalah mendadak
sulit menelan saliva.
Jadi, hukuman apa yang akan mereka dapatkan? Keluh kesah
mereka dalam hati yang ketar-ketir dan ketakutan.
“Hh…” Satu tarikan napas panjang lagi Rose ambil. “Bangunlah,
aku akan berusaha memaafkan kalian! Meski tidak sekarang!”
Rose akui, dia masih merupakan seorang manusia biasa. Dia
tidak sesempurna itu untuk langsung bisa memaafkan dan melupakan semua yang
telah mereka ucapkan padanya. Hal itu sungguh membekas di hati. Namun dia akan
berusaha!
Bagaimana pun juga, waktunya di tempat ini masih panjang.
Dan Rose perlu untuk bekerja sama dengan baik, dengan mereka semua. Dia ingin
hidupnya rukun, meski tidak akan ada kedamaian yang nyata.
Rose tahu hidupnya di jalan yang ia pilih ini akan rumit dan
keras. Maka dari itu, paling tidak, di tempatnya tinggal saat ini, ia ingin
hidupnya tak pertentangan. Karena masalah pasti tidak akan terhindarkan. Pasti akan
selalu datang.
Orang-orang itu berdiri kembali. Paling tidak… untuk saat
ini mereka bisa agak tenang. Tak peduli jika rekan-rekannya di sebelah sana
menatap mereka semua dengan cibiran. Terserahlah! Ini memang kesalahan yang
sudah mereka perbuat, dan harus dipertanggung jawabkan.
“Aku hanya berharap, ke depannya, kalian tidak akan termakan
omongan yang belum tentu kebenarannnya. Cari tahu dulu, gali informasi dengan
benar, baru mulut kalian boleh bersuara.”
“Tapi maaf… aku juga bukan malaikat berhati murni dan suci.
Aku tidak dapat melepaskan kalian begitu saja. Jadi…” Ditarik Rose napasnya
terlebih dahulu.
Hal itu pun menimbulkan efek domino pada mereka yang baru
saja berdiri dan memohon ampun. Mereka juga jadi menarik napas dalam mendengar
hal ini. Apa yang akan mereka dapatkan?
“Seperti dia…” Ditunjuk biang keladi dari masalah ini oleh
Rose.
“Hukuman yang akan kalian dapatkan akan aku serahkan kepada
peraturan yang ada. Dan… selama satu tahun ke depan, gaji kalian akan dipotong 20% untuk mengganti biaya perbaikan dan
perawatan markas yang rusak.”
Wanita itu lantas berbalik dan berjalan ke arah Ben
kekasihnya. Tidak menghampirinya, tapi Rose hanya berhenti sebentar di samping
pria itu, lalu menepuk pundaknya.
“Jadi… sisanya ku serahkan padamu, ya, Sayang!
Cup!
Dikecup singkat pipi pria bertopi koboi itu sambil
mengerlingkan mata.
“Cukup buat mereka sedikit menderita!” bisik Rose mesra.
Tapi tidak dengan matanya, netra abunya sedikit bergulir ke arah mereka semua
dengan tatapan tajam.
Ben tersenyum samar. Tidak menyangka jika wanitanya akan
secerdik ini. Tidak begitu jahat, tapi tidak terlalu baik pula!
Secara tidak langsung, Rose sedang menyatakan kekuasaannya.
Melalui tindak-tanduk, juga keputusan yang dia ambil.
Rose ingin mereka semua mengakuinya. Di samping itu, Rose
juga ingin memberikan pelajaran kepada mereka semua.
Tapi…
Ben saling tatap dengan Relly.
Yang satu potong gaji 60%, sedang yang lainnya potong gaji
20%. Apakah mereka begitu kekurangan uang? Pikir asisten dan bosnya itu.
Dan yang membuat keputusan inovatif seperti itu, dengan
tanpa beban berjalan keluar sambil menggandeng keponakan tersayangnya.
“Ayo, Bervan! Kita sudah lama, kan, tidak bermain bersama!”
“Ya, Bibi!”
Pegangan tangan keponakan bibi itu berayun-ayun seirama
dengan dendang ceria dari mulut keduanya.
Bersambung…