Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
60% dan 20 %



“Hentikan!” teriak Rose dengan suara seraknya.


Wanita itu buru-buru melepaskan diri dari kekasihnya. Segera


menghadap ke depan sambil mengelap cairan kental aka ingus, dari hidungnya. Air


matanya, tentu saja.


“Sudah, Relly! Hentikan… hk… hk…!” Sambil mengakhiri


tangisannya, Rose maju ke depan.


Semua orang menahan napas di tempat karena ulah pergerakan


Rose yang tiba-tiba. Apa yang akan disampaikan wanita yang hatinya


tersayat-sayat itu?


Di sisa ekspresi sedihnya, Rose berkacak pinggang seraya melayangkan


tatapan galak. Jangan salah paham! Bukan pada mereka semua yang telah menghinanya


habis-habisan. Tapi pada Relly, asisten kekasihnya itu.


“Kau ini benar-benar cerewet, ya!” Menarik cairan kental


masuk ke dalam hidungnya sebentar.


“Bukannya membuatku senang, tapi kau malah membuatku jadi


tambah sedih!” gerutu Rose sambil mengerucutkan bibir.


“Tapi, kan, saya-“


Tapi Relly bermaksud untuk membela nonanya, kan? Kenapa


tanggapan yang dihadapinya tidak sesuai dengan harapan. Harusnya, kan, Nona


Rose terharu atau apalah?! Kenapa sekarang dia malah kena marah?!


Relly bingung sampai kehabisan kata-kata. Perasaan yang


tadinya bergumul di dalam dada pun perlahan luntur dengan keheranannya.


Mata pria itu sampai mengerap beberap kali sampai ia


benar-benar yakin, bahwa ini adalah situasi yang sesungguhnya. Relly jadi


merasa, perbuatan baiknya itu dibalas dengan air tuba, oleh Nona Rose-nya.


Bukan sedih lagi ekspresi yang ia miliki di wajahnhya. Tapi


lebih kepada, mengenaskan!


Ekspektasinya tidak sesuai harapan!


Dan… orang-orang yang berada di belakangnya mesti melepaskan


tawa, dari napas yang tadi tertahan. Siapa sangka jika Rose akan memilih reaksi


yang seperti ini?!


Mereka hanya turut prihatin terhadap Relly. Nasib pria itu


tidak pernah bagus sama sekali!


“Aku tidak mau sedih lagi! Paham?!” kata Rose sambil


mencondongkan tubuh dan melotot pada Relly.


Relly sampai mesti meringis tak berdaya. Padahal dia ingin


sekali bertanya, itu adalah sebuah pernyataan… atau… peringatan. Hah!


Sungguh ia tak mampu melawan wanita yang satu ini!


Sepertinya… iblis yang biasa menguasi diri bosnya itu, sudah berpindah ke tubuh


nonanya. Hiiihhh….


“Benar…!” Rose lantas mengangkat kepalanya. Menebarkan


pandangan mata pada semua orang yang berdiri membeku di hadapannya.


“Kalian memang patut mendapatkan hukuman!” Gurat kesedihan


yang tadi bersemayam di wajahnya telah menghilang. Tergantikan dengan tatapan


setajam mata elang.


Pengumuman itu sontak membuat kelompok yang kontra dengan


Rose merasa tercekik lagi. Krisis yang tadi, telah datang kembali. Menggerogoti


aman dan nyaman hidup yang selama ini mereka jalani.


Heh! Betapa bodohnya! Hanya karena satu gosip, hidup mereka


jadi dipertaruhkan! Sungguh sebuah ironi!


Mereka saling melirik ketika tubuh gemetar ketakutan.


Punggung yang semula mengering, kini basah lagi oleh peluh yang bercucuran.


Suhu pada kepalan tangan mereka pun menurun drastis. Tangan dan kaki mereka


terasa berkeringat dingin.


Apakah ini saatnya?


Tapi… melihat dari hukuman yang diberikan oleh Rose pada


orang itu, sepertinya mereka masih punya harapan! Semoga wanita itu masih mau


berbaik hati kepada mereka semua!


Sungguh! Harapan yang sangat tinggi! Berbanding lurus dengan


kejahatan yang telah mulut mereka lakukan! Anggie mencibir melalui tatapannya.


Dia tahu isi pikiran orang-orang itu dari mata mereka yang serakah.


“Nona-“


Dan Rose kembali memotongnya. Relly pun terdiam. Sepertinya,


ini memang bukan gilirannya berbicara. Bahkan bosnya pun, Ben, ia memberi


isyarat dengn gelengan kepala. Memintanya untuk diam.


“Tadi kau mengatakan untuk memberikan hukuman juga, kan,


kepada mereka?” tanya Rose pada Relly.


“Iya, Nona!”


“Baiklah!” Rose mengangguk dengan yakin. Lalu ditatapnya


kelompok di sebelah kirinya. Sedang yang sebelah kanan, tim yang selalu


mendukungnya, seakan tak sabar menanti.


“Benar apa yang dikatakan Relly! Aku terluka gara-gara mulut


laknat kalian!”


Deg!


Kalimat Rose barusan seperti belati yang menikam dada, tepat


ke jantung, dan membuatnya berhenti berdetak.


Bayangan buruk pun mulai menghantui pikiran mereka. Seperti


masa depan suram akan mereka hadapi. Dan di sana, tidak akan ada baik-baiknya


sama sekali mengenai nasih mereka kelak.


Sebab, mereka mulai menyadari, kesalahan dan kebodohan apa


yang sudah mereka lakukan selama ini.


Tak melepas tatapan tajamnya, Rose bergerak, bergeser ke


kiri sedikit, berdiri tepat di hadapan mereka semua. Tangannya melipat di depan


dada.


“Pertama… “ Diturunkan sedikit kepalanya oleh Rose. Kesannya


malah semakin mempertegas sisinya yang lain. Yang liar dan beraura kental,


untuk memburu seseorang.


Brukk…


“Maafkan saya, Nona! Maafkan kami semua!”


Tiba-tiba terdengar bunyi dentam keras ke lantai. Setelah


dilihat, ternyata itu adalah bunyi seseorang di antara mereka yang menjatuhkan


diri ke lantai, dengan lutut sebagai bantalan.


Pria itu auto melutut di hadapan Rose, karena posisinya juga


terletak di barisan yang paling depan.


Rose sempat kaget, begitu juga dengan yang lainnya. Sebab…


Rose belum mengungkapkan hal apa pun. Tapi mereka… sepertinya… sudah tahu harus


berbuat apa. Diam-diam Rose tersenyum dalam hati.


“Ya, Nona! Tolong ampuni kami!”


“Kami tahu kami sudah berbuat kesalah besar! Kami sudah


menyadari kesalahan kami!”


“Tolong maafkan kami, Nona!”


“Ampuni kami!”


memukul lantai. Mereka melutut dengan rapi dan teratur sesuai dengan barisan.


Rasanya… saat ini Rose melihat orang-orang itu seperti ombak


manusia. Mereka melutut dan bersimpuh dari barisan depan hingga ke belakang,


dengan tanpa mereka sadari, menjadi satu kesatuan yang menjadi penghiburan


tersendiri di mata wanita itu.


Bukan! Bukan karena dia menertawakan atau puas dengan apa


yang dia inginkan sejak awal. Rose hanay merasa lucu dengan cara mereka


melakukannya saja. Benar-benar indah, seperti pertunjukkan sebuah teater saja,


menurutnya!


Teriakan dan seruan minta ampun juga riuh terdengar dari


wajah-wajah putus asa di bawah sana. Bersahuta-sahutan, sama seperti, ketika


mereka dengan kompaknya menghina dan menyudutkannya. Sungguh pun, Rose merasa


ironi akan hal ini!


Wanita itu menoleh sebentar ke belakang. Menatap Ben, untuk


meminta persetujuan dan pertimbangan mengenai apa yang mau ia lakukan terhadap


mereka, yang notabene masih merupakan anak buah dari kekasihnya itu.


Jadi Rose rasa, ia perlu mendapatkan izin dari pemimpinnya.


Sedangkan Ben, pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum


lembut. Mengedip pelan, memberi leluasa pada wanita itu untuk melakukan apa pun


yang diinginkannya.


“Bisakah kalian diam sebentar?!” seru Rose agak kencang.


Maksudnya ingin membuat mulut mereka berhenti mengeluarkan suara, dan


memberikan gilirannya untuk berbicara.


Sebuah kenyataan ironi kembali terjadi. Sebelum-sebelumnya,


jika Rose meminta mereka untuk diam, maka yang didapatinya adalah suara yang makin


ramai dan hinaan yang semakin menyayat hati.


Namun sekarang… dengan hanya satu kalimat pendek itu, Rose


sudah dapat membuat mulut mereka bungkam. Bahkan beberapa di antaranya tengah


menjepit bibir dengan kuat. Karena sepertinya, mereka belum puas memohon,


sampai Rose benar-benar memaafkan mereka semua.


“Hh…!” Wanita itu mendengkus dulu untuk melepaskan beban dan


perasaan berat di hatinya. Dia perlu membuat hatinya menjadi tenang dan ikhlas


terlebih dahulu.


“Sejujurnya, aku tidak tahu hukuman apa yang pantas untuk


kalian semua!”


Kalimat itu seperti menyiratkan, saking Rose terluka dan


tersayat-sayat sebab mulut jahanam mereka, Rose sampai bingung harus menghukum


orang-orang itu bagaimana.


Udara dikunyah dengan susah payah. Oksigen mereka hirup


dengan kesusahan. Mereka yang mendengar hal ini dan merasa bersalah mendadak


sulit menelan saliva.


Jadi, hukuman apa yang akan mereka dapatkan? Keluh kesah


mereka dalam hati yang ketar-ketir dan ketakutan.


“Hh…” Satu tarikan napas panjang lagi Rose ambil. “Bangunlah,


aku akan berusaha memaafkan kalian! Meski tidak sekarang!”


Rose akui, dia masih merupakan seorang manusia biasa. Dia


tidak sesempurna itu untuk langsung bisa memaafkan dan melupakan semua yang


telah mereka ucapkan padanya. Hal itu sungguh membekas di hati. Namun dia akan


berusaha!


Bagaimana pun juga, waktunya di tempat ini masih panjang.


Dan Rose perlu untuk bekerja sama dengan baik, dengan mereka semua. Dia ingin


hidupnya rukun, meski tidak akan ada kedamaian yang nyata.


Rose tahu hidupnya di jalan yang ia pilih ini akan rumit dan


keras. Maka dari itu, paling tidak, di tempatnya tinggal saat ini, ia ingin


hidupnya tak pertentangan. Karena masalah pasti tidak akan terhindarkan. Pasti akan


selalu datang.


Orang-orang itu berdiri kembali. Paling tidak… untuk saat


ini mereka bisa agak tenang. Tak peduli jika rekan-rekannya di sebelah sana


menatap mereka semua dengan cibiran. Terserahlah! Ini memang kesalahan yang


sudah mereka perbuat, dan harus dipertanggung jawabkan.


“Aku hanya berharap, ke depannya, kalian tidak akan termakan


omongan yang belum tentu kebenarannnya. Cari tahu dulu, gali informasi dengan


benar, baru mulut kalian boleh bersuara.”


“Tapi maaf… aku juga bukan malaikat berhati murni dan suci.


Aku tidak dapat melepaskan kalian begitu saja. Jadi…” Ditarik Rose napasnya


terlebih dahulu.


Hal itu pun menimbulkan efek domino pada mereka yang baru


saja berdiri dan memohon ampun. Mereka juga jadi menarik napas dalam mendengar


hal ini. Apa yang akan mereka dapatkan?


“Seperti dia…” Ditunjuk biang keladi dari masalah ini oleh


Rose.


“Hukuman yang akan kalian dapatkan akan aku serahkan kepada


peraturan yang ada. Dan… selama satu tahun ke depan, gaji kalian akan dipotong  20% untuk mengganti biaya perbaikan dan


perawatan markas yang rusak.”


Wanita itu lantas berbalik dan berjalan ke arah Ben


kekasihnya. Tidak menghampirinya, tapi Rose hanya berhenti sebentar di samping


pria itu, lalu menepuk pundaknya.


“Jadi… sisanya ku serahkan padamu, ya, Sayang!


Cup!


Dikecup singkat pipi pria bertopi koboi itu sambil


mengerlingkan mata.


“Cukup buat mereka sedikit menderita!” bisik Rose mesra.


Tapi tidak dengan matanya, netra abunya sedikit bergulir ke arah mereka semua


dengan tatapan tajam.


Ben tersenyum samar. Tidak menyangka jika wanitanya akan


secerdik ini. Tidak begitu jahat, tapi tidak terlalu baik pula!


Secara tidak langsung, Rose sedang menyatakan kekuasaannya.


Melalui tindak-tanduk, juga keputusan yang dia ambil.


Rose ingin mereka semua mengakuinya. Di samping itu, Rose


juga ingin memberikan pelajaran kepada mereka semua.


Tapi…


Ben saling tatap dengan Relly.


Yang satu potong gaji 60%, sedang yang lainnya potong gaji


20%. Apakah mereka begitu kekurangan uang? Pikir asisten dan bosnya itu.


Dan yang membuat keputusan inovatif seperti itu, dengan


tanpa beban berjalan keluar sambil menggandeng keponakan tersayangnya.


“Ayo, Bervan! Kita sudah lama, kan, tidak bermain bersama!”


“Ya, Bibi!”


Pegangan tangan keponakan bibi itu berayun-ayun seirama


dengan dendang ceria dari mulut keduanya.


Bersambung…