
Di sisi lain markas,
Nampak, Anggie tengah melakukan latihan tinju sendiri.
Sebenarnya, dia hanya sedang melampiaskan seluruh perasaan yang masih campur aduk, hingga saat ini. Meski waktu sudah berlalu selama kurang lebih tiga puluh hari.
Sungguh pun, yang paling merasa kehilangan dan kebingungan atas raibnya Zayn dari muka bumi ini adalah, Anggie.
Orang terdekatnya selama bergabung di Harimau Putih mendadak hilang tanpa kabar.
Anggie rindu berat, dia ingin mencari, tapi tidak tahu alasan juga tempat tujuan untuk mencarinya. Ia sungguh menyesal, karena sudah bertahun-tahun lamanya mereka bersama, tidak banyak hal yang Anggie ketahui tentang Zayn.
Selama ini, lebih banyak dirinya yang bercerita dan berbicara. Tidak dengan kekasihnya itu, yang lebih banyak diam dan mendengarkan.
Anggie kesal, dia marah pada dirinya sendiri.
Mengapa? Mengapa dia begitu bodoh dan terlena dengan semua kenyamanan yang Zayn berikan?
Sedangkan ia hanya menikmati saja tanpa memberi hal yang sebaliknya.
Anggie tidak tahu, dia tidak mengerti dengan masalah apa yang sedang di alami oleh kekasihnya itu, sampai menghilang tanpa jejak seperti ini.
Hingga… sekarang, saat ini, wanita seksi itu lebih banyak menghabiskan waktunya di atas ring tinju. Dia juga tidak mau berhenti sebelum napasnya hampir habis.
Anggie menyiksa dirinya, menghukum dirinya sendiri atas kesalahan yang tidak pernah ia sadari. Harusnya mereka saling mengerti, bukannya hanya menerima saja di segelah pihak.
Bugh~! Bugh~!
Samsak di depannya menjadi sasaran jab dan cross yang Anggie lakukan dengan sekuat tenaga.
Dan… di jab terakhirnya, Anggie tumbang karena benar-benar hampir kehabisan napas dan tenaga.
Energinya barusan ia kuras habis. Bersama dengan seluruh perasaannya yang kacau. Ia limpahkan, ia kumpulkan pada kepalan tangan kanannya. Sehingga berubah menjadi satu pukulan yang amat kuat.
Bekas bogem mentah, membekas pada samsak yang masih menggantung. Membentuk cap kepalan tangannya begitu dalam.
Sedangkan yang berbuat, sedang tergeletak di atas ring tinju. Terkapar tak berdaya dengan peluh bercucuran di sekujur badan.
“Hh… hh… hh… “ Dia terengah-engah dengan posisi menyamping. Sebelah tangannya yang menjulur, ia jadikan bantalan. Menempel, menekan telinga juga pipinya sehingga nampak sedikit menggelembung.
Kala tubuhnya merasa sedang lelah-lelahnya, tidak hanya peluh yang mengucur deras. Namun kristal bening di mata juga mengalir, membentuk satu aliran.
Turun dari mata kanannya, melalui mata kiri, lalu keluar lewat ujung kelopaknya. Dan membasahi samping dahi, bercampur dengan keringat yang ada.
Anggie tidak tahan, ia sudah tidak bisa menahan perasaannya sendiri. Hingga akhirnya… ia menelentangkan tubuh seraya menutup matanya dengan sebelah lengan yang menekuk. Tangisnya pecah dengan sembilu bernada tinggi.
“Aarghh…,” jeritnya di tengah tangisan itu. Melampiaskan segala perasaannya yang berkecamuk, yang berperang di dalam dirinya saat ini.
Tap~! Tap~!
Anggie yang sibuk menangis, tidak menyadari langkah seseorang mendekat ke arahnya. Mungkin saja, indera pendengarannya, saat ini, terlalu penuh, hanya diisi oleh isak tangisnya yang pilu.
Tap~!
Pada langkah terakhirnya, sepasang kaki itu berhenti tepat di pinggir ring tinju. Lantas salah satunya terangkat, lalu berpijak dan membawa langkah yang satunya lagi mengikuti.
Sepasang kaki itu kini telah sampai di atas ring tinju. Lututnya menekuk, lalu bokongnya pun menduduk tepat di samping wanita yang sedang menangis. Ia duduk sambil menyanggahkan tangannya ke lutut yang tertekuk.
“Hah!” Lantas bunyi helaan napas panjang, terdengar dari dia yang baru saja menduduk.
Sampai saat ini pun, Anggie masih belum menyadari kehadirannya. Wanita seksi itu masih betah menangis, mengalirkan air mata yang seakan tak pernah kering. Meski sudah berhari-hari ini ia keluarkan terus menerus.
Namun, ia bisa apa?! Wanita itu pasti tidak akan menerima jika ia berempati kepadanya.
Pasti pikir Anggie, ia malah sedang mencemooh kesedihannya saat ini.
Tapi… diam saja pun bukan merupakan sebuah tindakan. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu larut dalam perasaannya sendiri.
“Apa dengan kau menangis seperti ini, lalu dia akan tiba-tiba datang?!” Relly akhirnya membuka suara.
Dengan segenap keberanian. Dan entah seperti apa pula tanggapan yang akan Anggie berikan kepadanya. Relly tak peduli. Ia hanya tidak bisa membiarkan hatinya terusik dengan suara isak tangis yang tidak mau berhenti.
Ya! Orang itu adalah Relly.
Si pria bodoh yang sudah menaruh hati sejak lama kepada Anggie. Walaupun hatinya mendadak geram dengan tindakan Zayn, yang belum ia temukan jawabannya ini.
Namun ia tidak bisa menutup mata, atas kesedihan Anggie. Yang tentu saja, adalah efek dari menghilangnya Zayn.
Tangisan itu berhenti perlahan, setelah suara familiar terdengar dari sampingnya. Anggie lalu menurunkan lengannya, membuka mata dan pandangan untuk memastikan siapa gerangan yang datang.
Napasnya masih terdengar dan terlihat pendek-pendek akibat tangisnya yang belum benar-benar berhenti.
Awalnya, pandangannya masih kabur karena air mata yang menggenang begitu banyak di pelupuk mata. Kemudian, ia menyekanya kembali. Lalu jelas sudah, sosok Relly mengisi seluruh kornea matanya.
“Kau! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Anggie.
“Menonton seseorang yang sedang menangis. Memangnya apalagi?!” jawab Relly acuh sembari mengedikkan kedua bahu.
“Bukannya aku sudah bilang pada mereka, untuk tidak membiarkan siapa pun masuk, sebelum aku keluar dari sini?!” omel Anggie sendiri.
Dia memang salah satu petinggi Harimau Putih, jadi wanita itu bisa bebas membuat dan memerintah beberapa bawahannya. Asal tidak melewati wewenang Ben sebagai ketua.
Seperti momen ini contohnya. Ruang latihan ini, ia tutup. Ia perintahkan bawahannya untuk berjaga di luar. Agar tak ada yang mengganggu dirinya yang sedang berperang dengan perasaannya sendiri.
Tapi… sepertinya Anggie lupa, jika orang yang baru saja datang, adalah orang nomor 2 di dalam kelompok mereka.
Meski sikap dan tingakhnya konyol dan bodoh, namun Relly tetap sosok yang disegani setelah Tuan Ben. Perintahnya tadi, tentu saja tidak akan mempan pada pria itu.
“Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya kau pergi dari sini! Aku ingin sendiri!” ucap Anggie seraya membalik tubuhnya menyamping, membelakangi Relly.
Pada saat ini, wanita itu masih tidak bergerak dari atas ring tinju. Masih merebahkan diri, sebab tubuhnya terasa amat lemah dan lelah.
“Memangnya, hanya kau yang boleh berlatih di tempat ini? Aku ke sini juga untuk berlatih!” sahut Relly di belakangnya dengan suara agak kencang.
Kontras dengan tatapan matanya yang sendu, mengarah padanya. Relly merasakan hatinya tertusuk melihat Anggie yang biasanya ceria dan bersemangat, sekarang nampak lesu.
“Kalau begitu…” Anggie mencoba untuk menduduk, meski badannya terasa sangat lemah saat ini. Ia pun malas berdebat dengan pria bodoh satu ini. “…biarkan aku membersihkan diri dulu! Setelah itu, kau… dan juga yang lainnya, bisa menggunakan tempat ini!”
Wanita seksi dalam balutan setelan olahraga ketat itu, lantas berdiri dengan susah payah. Padahal tubuhnya saat ini benar-benar lemas dan tak bertenaga. Namun Anggie tetap memakasakan dirinya.
Relly sigap bangun dari duduknya. Ia mengulurkan tangan, bermaksud membantu wanita itu berdiri. Namun tangan Anggie sudah menghela untuk mencegahnya. Hingga, Relly pun hanya bisa pasrah dan menurunkan tangannya lagi.
Hingga…
“Ekh…” Baru dua langkah, tubuh wanita itu pun oleng dan mulai hilanng kesadaran.
“Anggie!” seru Relly panik seraya menggapai tubuh itu sebelum mencapai dan membentur lantai.
Bersambung…