Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kau bau!



Dua hari berlalu semenjak saat itu.


Pagi ini, Rose baru saja terbangun ketika ia merasakan sisi ranjang di sebelahnya terasa kosong. Single bed yang biasanya selalu penuh diisi oleh dirinya dan juga Ben, kali ini terasa aneh, karena menjadi lebih lega ia rasa.


Kehampaan itu membuatnya pergi dari alam bawah sadar yang membuainya dengan mimpi. Baru saja ia akan mendudukkan diri lalu mencari keberadaan kekasihnya.


Namun, gemericik suara air dari kamar mandi, telah menjadi jawaban atas pertanyaan, yang belum ia keluarkan.


Hah! Wanita itu pun bernapas lega. Rasanya hampa dan aneh ia rasa, bangun tidur dalam keadaan sendiri. Sebab biasanya, selalu ada tubuh kokoh dan hangat yang masih memeluknya.


Menjaganya dari dingin serta mimpi buruk yang kadang kala memaksa ingin menghantui. Adanya Ben di sisinya, sudah seperti penangkal dari semua kesialan di dalam hidup.


Namun wanita itu tetap mendudukkan diri, sambil bersandar pada ujung tempat tidur. Nampak piyama merah muda yang Rose kenakan masih utuh, melekat di badan.


Memang, malam tadi, mereka tidak melakukan hal apapun yang menyimpang. Sejoli itu hanya benar-benar tidur karena Rose merasa kelelahan.


Sibuk sekali wanita itu kemarin. Bukan karena latihan, melainkan sibuk menyusun rencana untuk menyatukan Relly dan Anggie.


Walaupun hasil yang ia dapat adalah nol besar. Anggie hanya terus ragu dan meragu. Padahal di matanya sudah nampak secercah harapan untuk Relly. Seperti, jauh di dalam sukmanya, ia pun menantikan kehadiran sosok lelaki, yang tepat.


Clek~!


Ben keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja, yang melilit di pinggang. Tangannya yang satu, tengah menggosok rambutnya yang baru saja dikeramas, dengan sebuah handuk kecil.


Beberapa potong rambut yang pendek-pendek, bergoyang di depan dahinya. Ketika Ben terus mengguncang handuk kecil itu di kepalanya.


Wajah segar, rambut setengah basah yang berantakan, juga aroma khas maskulin seorang pria langsung merebak di dalam kamar itu.


“Kau sudah mandi?” tanya Rose pada pria itu.


Ah! Rose baru ingat, jika Ben ada jadwal untuk meninjau beberapa lokasi perbatasan. Dan harus berangkat pagi ini. Agar ia tidak sampai terlalu larut, pulang lagi ke sini.


“Menurutmu bagaimana?” jawab Ben disertai alis yang terangkat naik. Sambil berjalan mendekat ke arah kekasihnya.


Rose mengedikkan bahunya acuh. Ia malas menanggapi lelucon yang berakhir panjang, jika ia malah meladeninya.


Ada senyum tenang, juga menggoda secara bersamaan, di bibir pria itu. Lalu, ia pun meneruskan ucapannya. “Apa kau menyesal?”


“Menyesal?” Alis Ben terangkat naik kembali sebagai jawabannya.


“Untuk apa?” Rose kembali heran. Apa yang harus ia sesali di pagi hari ini, di kala matanya baru saja ia buka. Dan belum melakukan apapun. Jadi, hal apa yang mesti ia sesali?


“Karena tidak mandi bersamaku!” seru Ben tenang dan pelan. Tidak terburu-buru, agar kalimatnya jelas terdengar.


Ia sengajakan pula, senyumnya merekah bak bunga mawar merah besar. Pria itu pun sampai di tepi ranjang.


Kala lututnya sudah menyentuh pinggiran tempat tidur itu, Rose merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dahi dan alisnya berkerut saat ia mencoba semakin merasakan, hal yang semakin mengusik semakin ia rasa.


“Stop! Berhenti di situ!” Dengan cepat Rose merentangkan kelima jarinya di hadapan Ben. Ketika pria itu mencoba mendekat, dengan mencondongkan tubuhnya.


“Emh…” Dirasakan Rose sebuah gejolak yang sangat besar, bak tsunami menerpa di dalam tubuhnya saat ini. Rasanya sangat tidak enak, hingga ia pun jadi membekap mulutnya dengan kuat.


“Ada apa?” kernyit di alis Ben sekarang muncul.


“Ku bilang jangan mendekat!” bentak Rose sambil tetap menutup mulut dan hidungnya, ketika Ben mencoba mencondongkan tubuhnya lagi.


Ada apa dengan kekasihnya itu? Mengapa Rose bertingkah aneh seperti itu?


Kali ini ia mesit pergi ke berbagai tempat, dan tidak dapat mengajak Rose. Lagipula, kekasihnya itu pun menginginkan untuk fokus latihan saja.


Apalagi semenjak ia mendapatkan nilai bagus saat latihan menembak tempo hari. Rose semakin mengasah kemampuannya.


“Kau sakit? Tidak enak badan?” Dan pria itu keras kepala dengan tetap mendekati Rose.


Bahkan saat ini, Ben sudah duduk di hadapannya. Sambil mencoba menyentuh dahi Rose, guna mengecek suhu tubuhnya. Apakah wanita itu demam atau tidak!


“Uwgh….” Mendadak perutnya terasa bergejolak. Ia seperti sedang menjadi gunung merapi yang siap memuntakan isi perutnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Ben yang semakin khawatir dengan keadaannya.


Tangan Ben terulur hendak menyentuh dahinya lagi, namun Rose tepis dengan kasar. “Ku bilang, kan, jangan mendekat!” seru Rose, dengan nada kesal.


“Hey! Ada apa denganmu?” Ben malah semakin memajukan tubuhnya. Lantaran dia bingung dengan sikap aneh kekasihnya ini.


“Ben!” Wanita itu segera menahan dada Ben, agar pria itu tak semakin merapat kepadanya. Dan… semakin rapat pula ia menutup indera penciumannya.


“Ku mohon! Please… jangan mendekat lagi!” lirih wanita itu memohon dengan wajah memelas, yang nampak sebagian di balik telapak tangan yang menutupi.


“Tapi kenapa?” Bagaimana pun juga, ia butuh penjelasan.


Karena bagi pria itu, ini terlalu aneh dan tidak masuk akal. Kenapa kekasihnya itu tidak mau ia dekati? Apakah ia telah berbuat salah semalam? Atau pagi ini?


“Kau bau!”


Deg~!


Perlu beberapa detik untuk Ben memroses dua kata yang barusan Rose ucapkan. Tatapannya sempat memaku sebentar pada wajah Rose yang tengah mengernyit alisnya.


“Aku? Bau?” angguk Rose cepat. Sedangkan Ben semakin heran.


“Tapi aku baru saja mandi, Sayang!” ******* panjang terdengar setelah itu. Lelaki itu semakin kehabisan ide akan hal ini.


“Tapi kau bau!” Dan Rose tetap pada pendiriannya. Karena memang itu yang ia tengah rasakan saat ini.


Bahkan, ketika Ben mencoba mendekatinya lagi, perutnya terasa seperti habis diblender dan hendak keluar isinya melalui mulut.


“Uewgh…” Mual hebat melandanya kemudian. Tubuhnya pun sampai bergerak, bergelombang dari bawah sampai ke atas. Akibat dorongan dari dalam perutnya. Mereka sedang memberontak dan minta dikeluarkan. Sedang Rose, masih mencoba menahannya.


“Dimana yang sakit? Katakan saja!” pinta Ben seraya menyentuh jemari lentik Rose yang bebas.


Namun, tangan dingin sebahis mandi itu malah membuatnya semakin mual dan ingin muntah.


“Uewgh!” Sebenarnya tanpa sengaja ia menepis tangan Ben kembali. Karena ia bermaksud menahan mulutnya semakin erat, dengan kedua tangan.


Rasa mualnya semakin hebat dan Rose tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sehingga ia segera melompat dari tempat tidur, lalu berlari ke kamar mandi.


Dan Ben hanya bisa menatapnya dengan kebingungan.


“Uewrrgghh…” Lalu terdengar suara keras dari dalam kamar mandi. Sepertinya Rose sedang muntah di dalam sana.


“Rose! Kau tidak apa-apa?” Ben yang khawatir pun akhirnya segera menyusul. Namun kembali diusir karena Rose hanya merasa semakin ingin muntah, dengan kehadiran kekasihnya itu.


Bersambung…