Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Obrolan dua orang kakak



Saat putrinya sibuk mengenakan pakaian di kamar mandi, Nyonya Mira malah memunguti lembaran uang yang berserakan di ranjang maupun di lantai.


Pikirnya, sayang jika mereka menyia-nyiakan kesempatan ini. Diperkirakan, nominalnya cukup besar. Dapat dilihat dari tumpukannya yang tebal, ketika pria gendut tadi menyodorkan, kepada mereka.


Ups, tidak! Kepada Mirabel lebih tepatnya! Namun sebagai ibunya, tentu dia juga berhak atas uang-uang itu, bukan?!


Mungkin saja, nanti mereka bisa menghabiskan uang itu dengan berbelanja di sini. Atau, mereka juga bisa menukarkannya dengan kurs mata uang negara mereka sendiri, agar bisa dibawa pulang.


“Mama! Apa yang sedang Mama lakukan?” tanya Mirabel dengan alis menukik dalam. Rupanya, ia sudah mengenakan pakaian lengkap kembali. Gaun hitam yang semalam ia kenakan.


Untung saja, si pria gendut tidak merobeknya. Jadi dia masih bisa menyimpan rasa malunya, sedikit. Tidak perlu ia keluar dari ruangan ini dalam keadaan telanjang, seperti tadi.


“Mengumpulkan uang-uang ini, Sayang!” jawab Nyonya Mira santai. Ia menoleh sebentar seraya tersenyum. Kemudian fokus lagi, memunguti, mengumpulkan uang yang masih tercecer di lantai. Sambil berjongkok.


“Ck!” decak Mirabel seraya memutar bola matanya.


Ibunya ini seperti orang yang tidak pernah melihat uang saja! Tapi, meskipun ia berdecak begitu, Mirabel tetap membantu ibunya memunguti sisa uang yang masih tersebar.


Di dunia ini siapa yang tidak suka uang? Semua orang suka uang! Termasuk pasangan ibu dan anak itu.


Masih ingat alasan Rose harus menikah dengan Tuan Rogh tempo dulu?


Tentu saja, karena ulah Nyonya Mira dengan semua utangnya! Dengan tidak tahu dirinya, dia malah memerintahkan putri sambungnya untuk melunasi utang ratusan juta itu. Dengan cara menikah dengan Tuan Rogh, selaku pemilik piutangnya.


Bukannya meminta putrinya sendiri… ah, tidak! Harusnya dia menggunakan dirinya sendiri untuk menebus utang yang dia sendiri cari-cari! Bukan menimpakan masalah besar itu pada orang lain.


“Ini~!” Diulurkan Mirabel kepada ibunya beberapa lembar yang berhasil ia kumpulkan.


Dia juga menyukai uang. Tapi tidak segila ibunya. Nyonya Mira memang hobi berbelanja. Maka dari itulah, alasan penderitaan yang Rose rasakan, dulu.


“Kau mau?” tanya Nyonya Mira ketika sudah selesai mengumpulkan semua uang itu.


“Heh!” Satu sudut bibirnya ia naikkan, Mirabel tersenyum sinis sambil berusaha berdiri lagi. “Tidak! Untuk Mama saja!” Ia mengedikkan kedua bahu kemudian meraih tas kecilnya di atas nakas.


“Ya, sudah!” Nyonya Mira melakukan hal yang sama. Ia juga mengedikkan bahu dengan sikap tak acuh.


Kalau begitu! Ia akan menyimpan semua uang ini, untuk dirinya sendiri saja. Bagus! Jadi dia tidak perlu berbagi dengan  siapapun!


Wajah mereka berdua, kini, sudah seperti tidak pernah terjadi sesuatu sama sekali. Santai, tenang, dan bahkan bergembira karena uang.


Kesedihan yang tadi ditunjukkan, bahkan ditonjolkan di muka umum, seperti hilang begitu saja terbawa angin. Tidak ada lagi di wajah Nyonya Mira, ataupun pada wajah Mirabel sendiri.


Bagi Nyonya Mira, semuanya seperti terhapus karena uang. Sedangkan bagi Mirabel…


Heh! Yang penting, ia tidak mengingat kejadian semalam sama sekali. Jadi, ia tidak perlu terlalu jijik dengan tubuhnya ini. Karena sudah dinikmati oleh laki-laki gendut dan jelek itu.


Ah! Nyonya Mira pun jadi mengingat hal ini. Bagaimana bisa putrinya itu malah berakhir dengan di sini?!


“Sebenarnya, apa yang terjadi semalam?” Ia melemparkan tatapannya yang menyipit sambil memasukkan uang-uang itu ke dalam clutch miliknya sendiri.


Untuk masalah putrinya yang tidak perawan, sepertinya Nyonya Mira sendiri tidak mempermasalahkannya. Ia seperti sudah tahu hal ini sejak lama.


Yah, anak muda zaman sekarang, pikirnya! Yang penting, putrinya itu jangan sampai melakukan hal yang  dapat mencoreng nama baik, yang sudah mereka jaga.


Padahal dengan begini saja, Eric sudah dapat menilai wajah Mirabel yang sesungguhnya. Mereka hanya tidak menyadari hal itu. Dengan menganggap masalah ini tidak begitu berarti.


“Hem… aku juga tidak terlalu ingat! Yang jelas…” Mirabel pun menceritakan hal apa saja yang ia ketaui, sampai dirinya tak sadarkan diri.


***


Sementara di luar kamar, Baz menjelaskan semua hal yang ia lihat. Dimulai ketika ia sampai di lorong belakang aula pesta, lalu menemukan Mirabel bersama pria gendut tadi.


“Jadi kau sudah tahu, sejak awal?” angguk Baz polos.


“Dan kau hanya mendiamkannya saja? Tidak menyelematakannya?” angguk Baz lagi bersama alisnya yang naik turun.


“Ya, Tuhan!” Victor memijit kepalanya yang mendadak pening. Sambil memalingkan wajah dan tubuhnya ke samping. Sebentar, karena setelah itu ia menghadap ke arah Baz lagi.


Mereka semua sibuk semalam suntuk, demi mencari Mirabel. Sambil menahan kantuk, sambil menahan lelah dan penat yang mulai merajai tubuh. Tapi ternyata, kakak iparnya itu sudah tahu keadaan yang sebenarnya?! Sejak awal pula!


Jadi ketika Nyonya Mira datang sambil berteriak-teriak minta tolong, Baz sebenarnya sudah tahu? Dan dia malah diam saja, dengan wajah lugu dan polo situ?


Oh, ya ampun! Bolehkah dia memukul kakak iparnya itu? Istrinya nanti pasti tidak akan marah, kan?


“Memangnya dia siapa? Sampai aku harus menyelamatkannya!” seru Baz acuh kembali.


“Tapi tetap saja-“


“Tetap saja apanya?” sanggahan Victor buru-buru Baz potong. Ia kemudian mengubah diri menjadi mode serius. “Sudah ku bilang, hal ini berhubungan dengan adikmu!”


“Apa maksudmu?” Mendengar nama Rose disebutkan, wajah Victor berubah kaku, tengkuk belakangnya juga menjadi tegang.


Ya, dia melupakan hal ini! Jadi, apalagi yang ingin diperbuat oleh saudara tirinya itu?!


Maka Baz menceritakan semuanya, segalanya. Sejak ia pertama kali bertemu dengan Rose di lorong. Sampai akhirnya, ia juga harus pergi dari hadapannya. Dengan luka dan kecewa yang tak berhak ia ungkapkan. Kepada siapa pun.


‘Heh! Sedihnya cinta bertepuk sebelah tangan begini!’ rintih pria itu dalam hati.


Setelah mendengar keseluruhan cerita itu, garis wajah Victor semakin kaku. Telapak tangannya ia kepalkan pula dengan sangat erat, sampai buku-buku jarinya memutih.


Jadi, wanita ular itu tidak jera sama sekali? Setelah topeng mereka terbongkar seperti ini? Dan dia masih berusaha merusak kebahagiaan yang sudah susah payah Rose bangun?


Apa tidak cukup penderitaan adiknya, dulu? Apa tidak cukup, sampai mereka ingin merusak hidup Rose yang sudah bahagia? Penderitaan apalagi yang ingin dia berikan kepada adiknya?


Victor menggeram karena amarahnya mulai meledak di dada. Dia sudah menahan diri sejak pertama kali bertemu dengan saudara tirinya itu. Masih untung, wajahnya belum ia jadikan mahakarya berikutnya.


Mungkin setelah ini, jika ia mendapati tangan kotornya mencoba menyentuh hidup adiknya lagi, maka Victor benar-benar akan membuat wajah Mirabel menjadi abstrak, tak beraturan.


“Berarti kalian berbohong padaku tadi malam? Ben tidak demam tapi dia sedang menahan zat perangsang itu?” Tatapan pria itu pun mulai menginterogasi.


“Hh… benar!” Dengan berat hati Baz menjawab.


Bisa tidak, mereka melewatkan hal ini saja?! Garis bahunya yang simetris pun turun, lesu.


Ada hal yang terasa riskan jika didengar oleh yang tidak begitu berkepentingan. Yaitu, perihal Rose yang memilih mengobati kesakitan Ben, dengan tubuhnya sendiri.


Rasanya tidak pantas, apalagi ada Tuan Benneth selaku ayah dari Rose. Juga Eric yang dirasa termasuk orang lain, di lingkup keluarga mereka.


Victor sudah menarik napasnya, hendak berbicara lagi demi mempertanyakan nasib adiknya saat ini. Namun, dua wanita ular sudah keluar dari kamar.


Dia dan Baz hanya menoleh, tidak menghampiri keduanya. Mereka hanya takut tidak bisa menahan diri, untuk memberikan pelajaran kepada Mirabel.


Keduanya keluar sambil saling merangkul, berpelukan dengan wajah sedih yang terakhir kali.


“Aku akan membawa Mirabel ke kamar kita. Bisa saja dia tetap di sini, tapi dia merasa semakin sedih. Karena terus teringat kejadian semalam!” tutur Nyonya Mira pada Tuan Benneth dan juga Eric.


Nampak pula Mirabel sesekali menyeka air mata yang ia buat-buat dengan air keran di dalam kamar, tadi. Wanita itu juga sengaja membuat napasnya pendek-pendek, seolah ia masih terisak.


Sungguh, Victor dan Baz sangat muak melihat wajah-wajah itu! Harusnya mereka menjadi seorang aktris saja, daripada harus mengganggu hidup orang seperti ini!


Meski Tuan Benneth dan Eric diam dan tetap meladeni, sebenarnya mereka juga muak dengan penampilan amatir ibu dan anak itu. Mereka hanya memilih untuk bungkam dengan semua kelakuan dua wanita itu.


“Kalau begitu, aku akan beristirahat di kamar Eric!” putus Tuan Benneth seraya menoleh pada pria muda di sebelahnya. “Ayo!” ajaknya kemudian, pada semua orang.


Karena kejadian menghilangnya Mirabel, mereka semua jadi harus menginap di resort ini. Awalnya memang Nyonya Mira memaksa Tuan Benneth supaya mereka beristirahat di kamar yang sama.


Siapa tahu saja, dengan nuansa romantis pinggir pantai ini, mereka bisa kembali akur lagi seperti dulu. Jadi Nyonya Mira bisa leluasa menikmati uang pria, yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Yah… sepertinya dia memang mesti menunda rencananya itu! Heh, dan ini semua gara-gara ulah putrinya ini!


Tuan Benneth dan Eric berjalan di depan. Ibu dan anak itu pun mengekori di belakang mereka. Lalu, Baz dan Victor kebetulan berada di barisan paling belakang. Mengambil jarak yang cukup aman, agar mereka masih bisa membicarakan tentang Rose dan juga Ben.


Ketika mereka berjalan, keduanya membahas perkiraan Rose mengenai dua pria yang berusaha membawa Ben saat mulai tidak sadarkan diri.


Victor pun menyetujui pendapat adiknya itu. Dengan adanya kejadian ini, ia meyakini  jika wanita itu memang mengincar Ben. Dirinya secara personal. Bukan lagi tentang Harimau Putih secara keseluruhan.


Dua-duanya lalu menghela napas bersamaan. Mengapa laki-laki aneh itu, begitu banyak wanita yang menyukainya?!


Padahal penampilannya saja, sudah tidak normal seperti penampilan pria kebanyakan!


Lalu, kebanyakan Victor hanya diam. Membisu dengan banyak hal yang tengah ia pikirkan.


“Kau marah? Karena keputusan yang adikmu ambil?” tanya Baz. Sedikit melirik, menilik wajah pria yang mendadak membisu.


“Tapi kenapa kalian harus membohongiku?” Victor bertanya balik dan wajahnya nampak agak emosional. Meski dia masih mempertahankan nada bicaranya agar tidak terdengar oleh orang-orang di depan.


“Hey, adikmu itu sudah dewasa. Dia berhak mengambil keputusan untuk dirinya sendiri! Aku tahu, kau kecewa karena merasa tak dianggap sebagai kakak, tapi…”


“Apa menurutmu, itu adalah hal yang mudah untuk dikatakan oleh seorang adik perempuan? Coba kau pikirkan ini!” tutur Baz dengan tenang dan santai.


Ada sela beberapa detik saat Victor terdiam kembali, mungkin sedang memikirkan apa yang barusan ia katakan. Maka, Baz pun kembali menambahkan.


“Bukankah kau sudah mengalami hal ini lebih dulu, bertahun-tahun yang lalu? Dan aku, yang juga merupakan seorang kakak, cukup mengerti mengapa Rose memilih untuk tidak… bukan, tapi belum mengatakannya kepadamu.”


“Karena Bella pun melakukan hal yang sama. Sulit baginya untuk jujur mengenai hal ini. Tapi nanti, dia pasti akan mengatakannya kepadamu,” tambah Baz sembari merangkul adik iparnya itu.


Menepuk bahunya pelan dan ringan, beberapa kali. Seolah ia sedang mengusir ketegangan yang merebak ke sekujur tubuh adik iparnya.


“Ehhh…” Victor mengembuskan napasnya yang terasa berat. Sambil mengendurkan bahu dan seluruh tubuhnya yang menegang, ia kerutkan bibirnya seraya berpikir.


Apakah ini adalah sebuah karma yang harus ia dapatkan karena kesalahannya di masa lalu? Yang bahkan, ia sampai tidak tahu, jika wanita yang ia tiduri sampai hamil dan melahirkan seorang putra untuknya.


Apakah ini karma untuknya?


Sebab, takdir yang Rose jalani saat ini, sama persis seperti apa yang ia alami bersama dengan Bella. Kala itu.


Sang wanita rela berkorban demi pria yang dicintainya.


“Maaf!” ucapnya pelan kemudian.


“Kau meminta maaf padaku?” angguk Victor lesu.


“Tapi untuk apa? Tidak ada yang perlu minta maaf saat ini!” timpal Baz yang merasa aneh dengan ekspresi adik iparnya itu.


“Bukan untuk saat ini, tapi untuk saat itu!” sahut Victor. Kelopak matanya mengedip ringan kala ia mengucapkan kalimat itu dengan nada tulus.


“Maaf, karena aku tidak tahu Bella sampai hamil anakku. Maaf karena aku sudah memberikan beban hidup kepada kalian berdua,” imbuhnya kemudian.


Victor juga merupakan seorang kakak laki-laki, jadi ia tahu betul bagaimana marah dan kecewanya Baz saat itu. Dan sekarang, pria itu sudah menjadi lebih bijak, pasti karena begitu banyak masalah yang sudah ia jalani sebelum ini.


“Jadi kau menganggap Bervan adalah beban?” tanya Baz langsung. Matanya sedikit menyipit tidak senang.


“Tidak! Bukan begitu-“ sergah Victor cepat. Namun kakak iparnya itu, lagi-lagi memotongnya.


“Iya, aku tahu!” Sambil menepuk bahu Victor, Baz lalu melanjutkan. “Sudalah! Yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Aku pun punya kesalahan padamu, juga terutama kepada adikmu itu!”


“Hem, yah… sepertinya memang begitu!”


Keduanya, sempat saling lempar senyu sebentar. Mengingat hal itu, Victor pun merasa semuanya sudah setimpal. Bahkan mungkin, apa yang Rose alami lebih dari cukup untuk pelampiasan kekesalan dan kemarahan kakak iparnya, waktu itu.


Kebetulan, arah menuju kamar untuk mereka beristirahat, mesti melewati kamar yang Rose dan Ben tempati. Beberapa orang menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup itu. Kecuali Mirabel, satu-satunya yang tidak mengetahui apa pun.


Bagaimana pun juga, ia harus melihat keadaan adiknya itu sekarang. Victor mengangguk samar saat ia sudah memutuskan. Pria itu lalu, berjalan ke arah pintu kamar itu.


“Hey, apa yang akan kau lakukan?!” seru Baz seraya menyusul langkah adik iparnya.


Bersambung…


Abang Victor kepo banget ya… xixixi


Siapa tau aja yang di dalem baru tidur, khan… hehe


Abis tempur sampe subuh,, xixixi