
Siapa yang menyangka, jika roda kehidupan, berputar dengan begitu cepat. Bahkan. tiga hari lagi, tepatnya, Berly akan berulang tahun yang keempat.
Pada bangunan Zanna Bakery di lantai atas, Rose baru saja menidurkan putri kecil kesayangannya. Bocah itu, terlampau lelah sehabis bermain, dengan kedua sepupunya, Bervan dan juga Ellia.
Benar! Victor dan Bella sudah memiliki anak kedua mereka. Seorang putri kecil, yang saat ini baru saja berusia 2 tahun. Sementara Bervan, sudah menginjak 9 tahun sekarang.
Anak yang sudah beranjak besar itu, sekarang, menjadi seorang kakak yang gagah berani dan bijaksana, bagi kedua adik perempuannya. Ellia dan juga Berly.
Siang hari, Victor bersama dengan Bella dan kedua anaknya datang berkunjung. Selain karena putra dan putri mereka sudah sangat merindukan Berly dan juga ibunya. Victor juga, mempunyai tujuan lain datang ke sana.
Clek~!
Dibuka Rose pintu kamar putrinya itu, setelah memastikan, jika, Berly sudah benar-benar terlelap.
“Ekh~!” Terkejut wanita itu, saat mendapati, seseorang sudah berdiri mematung di sisi pintu. Dengan refleks, Rose memeluk dada.
Tidak lain, tidak bukan! Dia adalah Baz, tentu!
Siapa lagi yang menghuni tempat itu, selain mereka bertiga!
Pria itu menyandarkan seluruh punggungnya ke dinding sambil melipat tangan di depan. Menundukkan kepala dalam keheningan. Seolah, sedang mengheningkan cipta.
Menyadari seseorang yang sudah ia tunggu keluar, pria itu lantas mengubah posisi berdirinya. Berdiri tegak lagi, seraya berpaling ke arah si wanita.
“Dia sudah tidur?” tanyanya pelan. Menjaga intonasi nada, agar seorang putri di dalam sana, tidak terbangun karena suaranya.
“Ya! Baru saja!” jawab Rose menyamai intonasi suara Baz.
Ditolehkan Rose sedikit, kepalanya, untuk melirik pintu di belakangnya. Memastikan, bahwa tidak ada suara lagi di dalam sana.
“Kau sudah mau tidur?” tanya Baz.
“Belum,” jawab Rose singkat.
Ia tahu, sepertinya, lelaki itu hendak mengajaknya berbicara. Karena jika tidak, untuk apa ia sampai menunggunya seperti itu?!
Pun, Rose memang belum ingin terlelap ke dalam alam mimpi. Matanya masih segar, gara-gara selalu terngiang ucapan kakaknya tadi.
“Mau minum kopi?” tawar Baz.
Dan memang, langkah Rose, tidak berbelok sama sekali, ke arah kamarnya. Secara tidak langsung, wanita itu pasti sudah membaca apa, tujuan yang ia punya.
“Cokelat panas!” Wanita itu pun memiliki jawaban lain.
Sebab, saat ini, ia sedang ingin mengusir hormon kortisol, yang dihasilkan tubuhnya, ketika sedang mengalami stress. Dengan menghasilkan, lebih banyak hormon endorfin dan serotonin dari cokelat yang ingin ia konsumsi.
“Oke!” Baz menanggapi dengan senyum ringan.
Keduanya, lalu, berjalan menuruni tangga, kemudian menduduk bersama di dapur, di bagian belakang toko.
Kini, dua insan tengah menduduk, dengan dua cangkir minuman panas di atas meja stainless dapur itu.
Baz dengan kopi hitam yang mengepulkan asap putih. Sementara Rose, dengan cokelat panas yang sudah dibuatkan oleh pria itu juga.
“Sepertinya, tadi, Ellia, berat sekali saat akan berpisah dengan Berly!” Baz membuka ruang di antara mereka. Dengan pembukaan materi, mengenai para keponakannya.
“Ya! Dia memang selalu menempel pada Berly, sedangkan putriku, menempel sekali pada Bervan!” Ia terkekeh sebentar, saat mengingat tentang ketiga anak itu. Lantas, diraih Rose cangkir yang berisikan minuman yang masih mengepulkan asap itu.
Mengingat, jika putrinya tidak bisa lepas dari Bervan. Seperti, Bervan yang tidak pernah bisa lepas darinya, kala masih kecil dulu.
Meskipun demikian, tidak mengurangi kasih sayangnya, pada adik kandungnya sendiri, Ellia. Walau, kebanyakan Ellia agak rewel padanya, dan lebih akur, jika bersama dengan Berly, putrinya.
Yah! Begitulah anak-anak!
Pembicaraan mereka pun melebar. Baz mengambil kesempatan ini, untuk membahas hal pokok yang menjadi alasannya ingin mengajak wanita itu bicara.
Wanita, yang ia tidak akan menyerah, untuk selalu mencintainya. Meski, Rose belum atau pun tidak membalas perasaannya sama sekali.
“Sebentar lagi, Berly akan ulang tahun! Kau sudah menyiapkan kado untuknya?”
“Hhmm… belum!” Dijawab Rose sembari menghela napas dengan begitu berat. Ia pun menggeleng lemah.
Hati dan perasaanya mendadak terasa berat. Ada yang mengganjal di dalam lubuk hatinya. Dan ini, mengenai permintaan dan pertanyaan yang Berly ajukan padanya.
“Aku belum memikirkan, akan memberinya kado apa,” sambung Rose dengan kebingungan yang ia rasa.
Putrinya itu, sudah pandai berbicara dan sudah banyak bertanya.
Mungkin, saat ini, adalah momen di mana Bella pernah merasakannya, tempo dulu. Di mana, seorang anak, mulai menanyakan keberadaan sosok sang ayah.
Entahlah! Ia memang tidak pernah bercerita tentang hal ini pada Baz. Tapi, mungkin saja, anak kecil itu, sudah banyak bercerita dengan lelaki itu.
Yang memang, Rose menerangkan secara jelas, sejak awal, apabila lelaki yang selalu bersama mereka, bukanlah ayah dari putrinya itu.
Sejak mulai berbicara, Rose sudah memperkenalkan lelaki itu, dengan sebutan Paman Baz.
Baz mengangguk dalam diam.
Benar, seperti apa yang Rose pikirkan! Ia memang sudah mengetahui resah yang menggerogoti pikirannya. Tentang Berly, yang mempertanyakan sosok ayahnya. Juga menginginkan, keberadaan ayahnya, saat ini juga.
Berly selalu bercerita apapun padanya. Tentang semua hal. Yang ia bayangkan, juga yang ia alami di kesehariannya selama sedang bermain ataupun sendiri.
Anak kecil itu unggul dalam berbicara sejak belia. Ucapannya terlampau dewasa, sampai, yang merupakan orang dewasa sendiri , tak habis pikir, jika Berly bisa mengucapkan hal tersebut.
Maka dari itu, Baz ingin mencoba peruntungannya melalui hal ini. Ia sudah memiliki rencana di dalam benaknya. Dan tidak peduli akan berhasil atau pun tidak, dia akan tetap melakukannya.
Toh, sudah bertahun-tahun berlalu, orang itu tidak juga terdengar kabarnya. Tidak ada perkembangan baik, yang menunjukkan, tanda-tanda bahwa dia akan kembali.
“Aku sudah mempersiapkan kado spesial untuknya!”
“Benarkah?” Rose nampak terkejut juga penasaran dengan apa yang sudah Baz persiapkan.
“Tapi, sepertinya, aku membutuhkan bantuanmu,” tatap Baz misterius pada wanita itu.
“Bantuan?” Dikernyitkan Rose alisnya, sambil berusaha menerka.
“Ya!” angguk Baz yakin seraya menyeruput kopi miliknya. Lantas, ia pun menambahkan jawabannya. “Kita terima ajakan Victor!”
Hng…? Rose nampak bertanya dan masih bingung, lantaran Baz tidak mengungkapkan secara detail rencana miliknya.
“Ayo, kita berlibur dan merayakan ulang tahun Berly di sana!” ujar Baz antusias.
***
Selesai dengan percakapan mereka, keduanya pun berpisah, menuju kamarnya masing-masing.
Kini, Rose sudah berada di kamar miliknya sendiri, yang terletak di sebelah kanan kiri kamar putrinya.
Wanita itu, sedang menduduk di depan cermin riasnya. Tidak memandangi wajah cantiknya. Namun, Rose sedang menatapi, topi koboi yang ia bawa, sampai ke sini. Ia ingin, benda itu, selalu berada di dekatnya. Agar, ia selalu merasa dekat dengan si pemilik topi, yang sampai saat ini, masih menghilang.
“Ben! Aku harus bagaimana?!” tanyanya seraya mengusap bagian atas topi tersebut.
Haruskah ia terus mengatakan, jika ayah dari putrinya itu sedang berada dalam perjalanan bisnis?! Atau, mengatakan yang sebenarnya, mengenai bagaimana ayahnya, saat ini, sedang menghilang?!
Mengingat apa yang sudah ia bicarakan dengan Baz tadi. Mungkin benar, apa yang pria itu bicarakan.
Mungkin, dengan mengajaknya berlibur, Berly akan merasa lebih gembira, dan melupakan pertanyaan serta permintaan, yang belum bisa Rose penuhi.
“Ben! Kau pasti tahu, kan, bahwa aku sangat, merindukanmu?" Wanita itu berbicara sendiri pada topi yang sedang ia pangku.
"Aku harap, kita bisa segera bertemu lagi! Lalu, aku akan menunjukkan, betapa manis dan cantiknya, putrimu!” Rose pun memeluk topi itu.
Sampai matanya terpejam, merasakan rindu yang teramat berat. Yang sudah ia pendam, selama bertahun-tahun.
Bersambung…
maaf manteman, baru update nih, aku meriang dari kemarin sore,, dan baru bisa nulis sore ini,, hiks
padahal udah ga sabar pengen bikin ben sama berly ketemu,, huhu
sengaja kau belum memunculkan sosok berly, biar pas nanti ketemu bapacknya aja, biar lebih mendalam rasanya,, xixi