
Ini revisi bab yang semalem ya gaes,, terjadi human eror tadi malam,, maaf ya teman-teman
Rombongan Tuan Benneth dan yang lain telah kembali ke negaranya, dua hari setelah mereka kembali dari resort.
Hal itu diputuskan, setelah Mirabel tak berhenti merengek minta pulang, seperti anak kecil. Kata-kata Ben dan juga wanita yang ia temui di resort, terus mengusik kesehariannya.
Rasanya, dia hampir putus asa, setiap kali kata-kata mereka terbesit di pikirannya. Mirabel tidak tahan, ia takut, karma akan benar-benar memakan hidupnya. Mengingat banyak dosa dan niat buruk yang telah ia perbuat di masa lalu.
Apalagi, kalimat wanita itu mensugestinya dengan kuat. Agar ia lekas pergi dari sana. Sebab, Mirabel sendiri pun tidak ingin, tertimpa nasib buruk lagi.
Pada akhirnya, semua orang menyetujui permintaannya. Karena, jika dipikir-pikir, mereka harus kembali ke realita hidup di negara asal. Banyak pekerjaan telah menanti mereka di sana.
Di hari yang sama, Ben bersama Rose dan Baz pun kembali ke markas Harimau Putih. Pria itu terus saja mengikuti dirinya dan kekasihnya. Padahal, Ben berpikir jika orang itu pasti tidak akan ikut kembali ke markas lagi.
Ch! Perjalanan mereka pun jadi terganggu lagi.
Dan… rasakan sendiri! Jangan katakan pula jika mereka jahat! Dia sendiri yang mau menjadi nyamuk di antara sepasang kekasih.
Salah pria itu sendiri yang ingin terus menderita, menyaksikan kemesraan mereka.
Satu bulan berlalu, dan semuanya tampak tenang dan berjalan dengan semestinya. Dan semenjak itu pula Zayn menghilang.
Pamit pada Angel untuk mengurus masalah di gudang produksi. Namun setelah itu, kekasihnya tidak menunjukkan batang hidungnya lagi.
Sempat membuat Anggie panik dan khawatir, karena tidak ada kabar sama sekali. Namun sekarang, Anggie nampak pasrah dengan keberadaan Zayn yang sulit dicari.
Bukan hanya tidak ada satu kabar pun darinya. Tapi juga, seakan Zayn menghilang tanpa jejak, entah kemana.
Ben dan yang lain, yang mengetahui apa yang telah Zayn perbuat di belakang mereka pun hanya bisa berspekulasi, saat ini.
Mentari sudah membulat, setinggi tongkat kayu di bagian timur bumi. Dan, di salah satu kamar di markas Harimau Putih, sepasang kekasih masih bergelung di bawah selimut.
Meski mata mereka sudah terbuka, kesadaran mereka pun sudah terkumpul kembali. Dua manusia yang masih polos tubuhnya, akibat pertempuran mereka tadi malam, sedang saling memeluk sambil terdiam.
“Apa yang kau pikirkan? Hem?” tanya Ben sambil sesekali mengecup puncak kepala Rose.
“Entahlah! Aku hanya sedang berpikir… harus bersyukur atau tidak, saat ini!”
“Kenapa?” timpal Ben cepat. Alinya jadi sedikit mengernyit.
“Semenjak kembali ke sini, aku jadi jarang melakukan latihan subuh lagi,” jelas Rose masih memandang ke atas langit-langit kamar.
“Kau, kan, sudah latihan bersamaku!” sahut Ben bermaksud menggodanya. Ia cubit hidung kekasihnya itu dengan gemas.
“Ben!” Rose langsung menghempas tangan Ben dengan cepat. Lalu mendongakkan kepala, kala menyerukan protesnya. Ditatap Rose kesal kekasihnya.
Heh! Lagi-lagi, pikiran pria itu selalu saja ke arah sana!
Memang, semenjak mereka kembali dari markas, hubungan dua sejoli itu terasa semakin intim. Terasa semakin mesra, setelah cinta mereka menyatu dalam sebauh tautan indah.
Oleh karena itu, agar menghemat waktu dan tenaga, bak manusia no maden yang suka berpindah-pindah, pria bertopi koboi itu sekarang, tidak lagi kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Namun yang ia tuju adalah kamar Rose, kekasihnya.
Bahkan Ben telah memindahkan beberapa pakaian, juga keperluan pribadi lainnya ke kamar itu. Seakan kamar Rose juga sudah merupakan kamarnya, sekarang.
Meski sepadat apa pun pekerajaannya, Ben akan tetap memilih kamar Rose, sebagai destinasi akhir di keseharianya. Seperti, ia sudah mempunyai tujuan setelah lelah dan penat bekerja.
Walaupun mereka hanya tertidur sambil memeluk, tanpa melakukan apa pun. Dan, tapi kadang juga malam mereka terasa panjang, seperti tadi malam.
Ada perbincangan, percakapan yang hanya bisa dilakukan oleh tubuh mereka. Dengan pagutan mesra sebagai pembuka.
Tak masalah, jika mereka harus berhimpitan pada tempat tidur single yang lumayan sempit untuk ditiduri mereka berdua. Namun, hal itu yang membuat mereka akan terus tidur sambil memeluk, satu sama lainnya.
Nyaman dan hangat, sehingga jatuh lelapnya ke alam mimpi, terasa semakin berkualitas. Begitu Rose merasakannya.
Walau saat ini, masih ada yang mengusik ketenangan mereka, dengan menghilangnya Zayn. Juga, ketenangan yang membuat hati malah menjadi semakin resah.
“Maksudku, semenjak Zayn tidak ada, aku jadi tidak latihan subuh bersama mereka, seperti biasanya!” Rose meluruskan dengan wajah yang masih cemberut.
Memang benar, ada perasaan kecewa terhadap wanita maskulin itu. Namun di sisi lain, Rose tetap merasakan hatinya kehilangan sosok seorang teman, yang meski kadang mulutnya pedas jika berbicara.
Kebersamaan mereka yang seperti biasanya, yang seolah tanpa ada masalah, tetap berarti bagi Rose yang menganggap mereka teman, ketika pertama kali datang ke markas Harimau Putih ini.
“Oh, ku pikir…” Membulat mulut Ben seraya mengangkat alisnya sebentar. Ia masih belum selesai menggoda kekasihnya.
“Ku pikir apa?” tantang Rose kemudian mencebik kesal.
“Ku pikir, kau masih ingin latihan lagi denganku pagi ini!” jawab Ben dengan santainya. Seakan tidak ada masalah dalam setiap kalimat yang dia ucapkan, sama sekali.
“Heh!” Ditarik Rose napasnya dalam, sembari memalingkan tubuhnya.
Lantas ia mendudukkan diri sambil memegangi selimut di dada. Agar tubuhnhya masih tertutupi, dan tidak mengundang monster di sampingnya bangkit lagi.
Malas menanggapi omongan menjurus itu lebih lanjut, maka Rose memilih untuk segera beranjak ke kamar mandi.
Menghilangnya Zayn tidak menjadikan jadwal latihan Rose semakin melonggar. Yang menghilang hanya sesi latihan paginya saja. Selain itu, ia tetap harus menjalankan sesi latihan yang ada sampai petang menjelang.
Kompensasi yang ia dapat dengan latihan paginya yang menghilang, tentu saja atas wewenang kekasihnya. Sebab, yang membuat jadwal latihannya pun adalah Ben sendiri.
Sampai Rose berpikir, jika kekasihnya itu sedang memanfaatkan wewenang yang dia punya! Mentang-mentang… huh!
“Ugh…” Wanita itu menjulurkan tangannya ke bawah. Berusaha menggapai pakaian apa pun, agar dapat dikenakannya. Yang terpenting, dia tidak perlu sampai bertelanjang diri menuju kamar mandi.
Sampai akhirnya, ia berhasil meraih kemeja abu-abu milik kekasihnya. Mau tak mau, Rose menurunkan selimut yang sedari tadi ia pertahankan di dada.
Hingga… tubuh polosnya pun terpampang nyata di hadapan manik mata yang sedang membara.
Sebab Ben, memilih terdiam, tangan yang menyiku itu menyanggah kepalanya. Ia menikmati setiap kegiatan yang Rose lakukan, sambil melebarkan senyum.
Apapun, setiap gerakan yang Rose perbuat dengan tubuh polosnya itu, membuat gairah paginya bergejolak. Dan ia sudah mencoba menahan diri sejak tadi. .
Hanya saja, tanpa sadar, Rose malah semakin membangkitkan api di dalam tubuhnya, dengan setiap gesture yang dia punya.
Belum selesai Rose mengancing kemeja berlengan panjang itu. Namun tubuhnya mendadak terangkat naik.
“Aakhh…!” pekiknya kaget. Sebab Ben kini telah menggendongnya dalam posisi melutut di atasa tempat tidur.
“Ben! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Aku mau mandi, tahu!” protes wanita itu kala kekasihnya malah turun dari ranjang, sambil menggendongnya. Namun masih dalam keadaan telanjang.
Rose menatap kaki prianya yang menapak mantap ke lantai, kemudian beralih melihati bibirnya yang menyeringai licik.
“Aku juga ingin mandi!” jawab Ben dengan santai. Lalu ia melanjutkan saat tatapannya berubah penuh makna. “Tapi mandi bersama, adalah yang aku inginkan!”
Seringai yang begitu lebar itu, lantas membuat Rose membeku sebentar. Kemudian…
“BEN!!” teriak wanita itu tidak rela saat bersamaan pintu kamar mandi tertutup rapat.