
“Heh! Dasar kau ini!” Tersenyum dia sambil mengacak rambut pirang Rose dengan gemas.
“Lalu apa maksudnya dengan menginginkan hal itu juga?” tanya Rose dengan ekspresi polos sambil menelengkan kepalanya. Dia baru saja selesai mengelap lengan Ben yang tadi sempat bersimbah darah.
‘Kemana, sih, dokternya?’ Masih sempatnya wanita itu mengomel dalam hati. Kesal karena kekasihnya tak lekas ditangani juga.
Ben mengubah posisinya benar-benar menghadap Rose. Sambil meringis menahan nyeri di bagian lengannya yang terluka.
“Sebenarnya, yang aku inginkan juga sama dengan apa yang kau bayangkan tadi. Inginnya kau
mulai ikut terjun langsung dalam sebuah pertarungan, jika tubuhmu sudah benar-benar kuat dan terlatih. Paling tidak kau juga sudah menguasai teknik dasar menembak.”
“Dan yang paling penting… kau tidak ceroboh dan membangkang lagi padaku!” Disentil hidung mancung wanita itu dengan jari telunjuknya.
Rose menggosok hidungnya sampai memerah. Tapi kemudian dia tersenyum senang. “Bukankah ini suatu keberuntungan untukku?”
“Ya, ya! Kau beruntung kali ini!” Ben membalas senyuman itu, lalu hilang dalam sedetik kemudian. “Tapi tidak ada lain kali!”
Wajah serius dan galak si tuan seram membuat Rose mengerucutkan bibirnya. Huh!
“Kau harus banyak berlatih lagi. Perkuat kuda-kudamu dan banyak latihan menembak juga bela diri. Baru aku akan mengizinkanmu mengikuti misi.”
Rose menghitung-hitung dengan jarinya. Ia ingat jadwal latihan yang diberikan Anggie waktu pertama kali.
“Tapi, kan, itu masih sangat lama, Ben!” Merengek dia tidak terima. Sedangkan Rose sudah sangat tidak sabar untuk ikut serta dalam hal yang seperti tadi dia alami.
“Makanya kau rajin berlatih supaya cepat menjadi kuat!” Diusap lembut pipi putih berisi kekasihnya itu.
Mata hitam legamnya menatap dalam pada netra abu milik Rose. Sebab dia pun sudah tidak sabar untuk segera melihat wanita itu bermetamorfosis menjadi lebih kuat. Dia pasti akan terlihat semakin cantik ketika sedang beraksi sambil menggunakan senjatanya.
Ben sudah sangat menantikan perubahan Rose, karena pria itu tak sabar untuk bisa segera menikahi Rose lalu hidup bersama selamanya, dengan anak cucu mereka nanti.
Hanya membayangkan hal itu saja sudah sangat bahagia hatinya. Berdesir seperti angin malam, sejuk dan menentramkan. Berbunga-bunga hatinya seperti mekarnya padang bunga di musim semi.
Tatapan penuh cinta itu ditangkap oleh Rose. Gelora di mata Ben juga dirasakannya, meski dia tidak tahu apa yang tengah laki-laki itu pikirkan saat ini. Yang jelas Rose tahu, tuan seramnya itu pasti sedang memikirkan dirinya.
Tangan lebar, kekar dan berotot itu tak jua mau turun dari wajahnya. Malah Rose merasa, jemari besar lelaki itu mulai memberikan tekanan, sehingga ia terbawa arus dan semakin mendekatkan diri dengannya.
“Rose!” panggilnya dengan suara serak nan merdu.
Bulu kuduk wanita itu pun sampai meremang hanya dengan mendengar suara seksi tuan seramnya saja.
“Hmm!” sahutnya sebab tak mampu berkata-kata. Wajah mereka semakin dekat dan saling menerpa hawa panas dari karbon dioksida yang dikeluarkan dari hidung satu sama lain.
Semakin tak berdaya, dan Rose tinggalkan kepalanya di telapak tangan besar itu. Ia sandarkan kepalanya di sana dengan perasaan terlena. Tak tahan digoda oleh tatapan menggelora si tuan seram. Matanya sampai terpejam merasakan nuansa syahdu yang sampai ke dalam hatinya.
“Aku mencintaimu!” Jarak semakin terkikis dan Ben dapat melihat dengan jelas setiap ekspresi mikro dari wajah kekasihnya itu. Tersenyum sebentar sebelum kembali menatapnya lagi.
Rose membuka mata ketika mendengar Ben menyampaikan kalimat indah menawan hati. Dilebarkan lengkung bibirnya seraya menganggukkan kepala. “Aku pun begitu!”
Digerakkan bulu mata lentik pria itu ketika hendak menutup matanya. Sambil begitu, ia rasai ujung ibu jarinya yang tengah mengusap bibir lembut dan kenyal milik wanita itu. Bibir merah muda yang akan ia serang dengan bibirnya secara langsung setelah ini.
Sudah sampai selama ini pun, dirinya selalu bergetar dan berdebar bukan main setiap kali mereka hendak menyicipi candu milik satu sama lain. Ben hanya menempatkan ibu jarinya, bukan bibir seksi pria itu langsung yang menyapu bibirnya. Tapi Rose merasa sudah terbang melayang.
Dan ketika sedikit lagi bibir Ben tertanam di bibir Rose yang ranum dan sudah terbuka, seakan siap menerimanya. Suara gaduh dari luar, langsung membuatnya sakit kepala.
“Tuan!”
“Tuan!”
“Tuan, saya datang bersama dengan dokter yang akan mengobati luka Tuan!” Relly berteriak dari luar ruangannya. Karena sejak tadi ketukan pintunya tak mendapat sahutan juga. Sedangkan ia yakin jika bosnya itu sedang berada di ruangannya saat ini.
Rose pun refleks membuka matanya. Dadanya yang berdebar masih tak dapat ia kontrol dengan benar. Masih naik turun dengan cepat oleh adegan yang hampir saja terjadi di antara dia dan tuan seramnya itu.
Mendengar suara Relly, dia jadi teringat kembali pada tangan Ben yang belum ditangani. Masih ada timah panas bersarang di dalam sana. Yang sekarang membuat lengan pria itu berlubang. Dan ini adalah hal yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi dengan tidak sabar.
“Tunggu sebentar, Relly!”teriak Rose dengan begitu bersemangat. Lalu didorong tubuh Ben dengan tidak berperasaan. Rose bahkan langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu tanpa memandangnya ke arahnya lagi.
‘Rose!’
Wanita ini sejak kapan menjadi begitu tega! Paling tidak bisa, kan, berikan satu kecupan saja untuk menghiburnya! Sepertinya hanya dirinya saja yang kecewa karena mereka tidak jadi bertukar candu.
Hah! Sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, Ben mendesah dengan napas berat. Lengannya yang tidak terluka ia pergunakan untuk menutupi wajahnya yang kecewa. Sambil berusaha menetralkan perasaannya lagi.
“Ben!”
“Ya!” jawab pria itu dengan nada malas, masih tersisa sedikit rasa kecewanya yang tadi. Dibuka lengannya yang menutupi wajah, dan mendapati Rose sudah membungkuk tepat di hadapannya.
Cup!
Satu kecupan singkat didaratkan Rose di bibir seksi Ben yang tengah kesal. Rose tahu itu! Makanya dia kembali lagi untuk melakukan hal ini.
“Aku akan membukakan pintu dulu!” Wanita itu tersenyum lalu kembali berjalan ke arah pintu.
Ditinggalkannya Ben dalam kondisi terkejut dan merona. Tak berapa lama pun, pria itu lalu mendesah merasa salah. Diejek dirinya sendiri dengan senyum kecil. Ternyata dia sudah salah menilai. Rose masih mengingatnya.
Meskipun Ben adalah si tuan seram yang penggambaran dirinya bak raja iblis yang kejam. Bagaimana pun juga dia tetaplah manusia biasa. Diberi kejutan seperti itu juga dia bisa merona.
Ya, seperti sekarang ini! Makanya dia memalingkan wajahnya karena merasa malu. Sudah begitu asistennya yang rusuh juga akan datang. Jadi dia perlu menata diri untuk menyembunyikan perasaan menghangat di wajahnya ini.
“Romantis sekali!” Ditangkup wajahnya dengan satu tangan. Sehingga masih bisa menampakkan senyumnya yang
kegirangan dari sebelah wajahnya.
Ceklek
Dibukakan pintu itu oleh Rose.
“Tuan!!!”
Senyum senangnya pun seketika hilang, digantikan dengan ekspresi horor yang siap menerkam mangsa.
Bersambung…
Maaf ya kalo untuk aku masih slow update,, masih ngurusin rumahku yang kebanjiran soalnya,, hehe
Tapi tetep dukung cerita ini ya supaya aku jadi semangat lagi, siapa tau besok aku udah bisa update lebih banyak lagi
ayo, ayo, kasih like, vote sama komentar kalian sebanyak-banyaknya ya
terima kasih juga yang selalu sempetin baca dan kasih dukungan selama ini
keep strong and healthy semuanya