Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Tetap terlihat keren



Marah Ben ketika mengetahui, bahwa anak buahnya itu membiarkan tamu yang datang menunggu di depan ruangan pribadinya.


Harusnya, bawa tamu itu ke ruangan lain saja. Jadi dia tidak perlu tahu letak areal privasinya. Tidak sembarangan orang diperbolehkan tahu atau masuk ke dalam sana.


Sepanjang perjalanan untuk menemui kekasihnya itu, Rose tak putus berusaha untuk menenangkan Ben. Sebab, kemarahannya itu sudah membuat anak buahnya yang tadi ketakutan.


“Dia sendiri yang menginginkan untuk menunggu di sana, Tuan! Malah, kalau bisa, katanya dia ingin menunggu di dalam saja! Dia sendiri yang mengatakan seperti itu!” bela anak buah Ben, di belakang mereka berdua.


Orang itu *******-***** tangannya yang berkeringat dingin, karena rasa gugup dan takut yang menyerang.


Duh! Dia sangat takut dijatuhi hukuman, karena  telah berbuat salah!


Walau ini bukan kesalahannya sendiri. Karena memang benar, tamu itu yang menginginkan menunggu di sana. Auranya mirip punya Tuan Ben, jadi dia tidak berani membantah.


“Diam!” sentak Ben dari depan.


Dengan nada rendahnya, orang di belakang dia dan Rose jadi makin menciut. Tubuhnya seakan berubah menjadi kerdil, dan ingin rasanya ia melarikan diri sekarang juga.


Hah! Baiklah! Mau bagaimanapun juga, dia tetaplah bersalah! Namanya juga bawahan, kan!


“Sabar, Ben! Lagipula, kita masih belum tahu siapa yang datang, kan!” ucap Rose menenangkan.


Tujuannya untuk dua orang. Pada kekasihnya yang sedang kesal, juga untuk anak buah kekasihnya, yang sekarang makin ketakutan.


‘Tenang saja!’ begitu arti tatapan serta senyum teduh yang Rose berikan. Meski dengan wajah pias, anak buah Ben tetap mengangguk, membalas senyuman nonanya.


“Aku tidak merasa mengundang siapapun! Bagaimana jika yang datang adalah musuh yang tak disangka-sangka!” seru Ben gusar di depan. Tanpa menoleh, sebab dia masih kesal.


“Lalu, bagaimana jika yang datang adalah kawan?” tantang Rose, mulai tak sabar.


Pria bertopi koboi itu menoleh ke belakang. Namun tak berniat menghentikan langkahnya. Matanya mendelik menatap Rose yang tak kalah galak wajahnya.


“Apa?!” Dikedikkan Rose dagunya yang terangkat naik, sambil bertolak pinggang. Gayanya seperti sedang menantang tuan seramnya itu.


“Hah! Sudahlah!” Akhirnya, Ben hanya bisa mengembuskan ketidak-berdayaannya.


Memang, hanya kepada Rose dia harus mengalah! Tidak akan ada habisnya jika dia terus menyahuti wanita itu.


Meski, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi ucapan Rose ada benarnya juga!


Tidak tahu saja pria itu! Ketika Ben menoleh ke depan lagi, barulah Rose bisa menelan ludahnya dengan benar. Agak sedikit kesusahan, sih!


Tetap saja, namanya tuan seram, ya tetap tuan seram! Meski kelihatannya dia berani, tapi sebenarnya, di dalam hati, Rose merasa takut juga. Hehe…


Akan tetapi, jika dia tidak melakukan tindakan sok berani itu, Ben tetap akan marah-marah, tak mau berhenti. Sedangkan orang di belakang mereka sudah makin pias, dan makin menghilang wajahnya.


Orang itu, ya, anak buah Ben itu, di belakang Rose, rasanya ia ingin bertepuk tangan dan bersorak gembira.


Senangnya melihat Tuan Ben kalah dari seseorang!


Karena selama ini, tak ada yang berani menyahuti pemimpin mereka. Mungkin saja ada Tuan Relly, namun ujung-ujungnya, dia akan tetap menuruti perintah Tuan Ben juga.


Benar memang! Jika Tuan Ben sedang tidak ada di ruangan pribadinya, jika ada tamu yang datang, biasanya mereka akan membawa tamu itu ke ruangan atau ke tempat lain. Selagi menunggu Tuan Ben kembali.


Jadi bisa dibilang, ini memang salahnya juga! Dan beruntunglah, ada Nona Rose yang melindungi. Jadi dia tidak perlu mendapatkan hukuman, nanti!


Eh, percaya diri sekali dia!


Tak ada orang di sana. Tidak ada satu makhluk pun, atau bayangan manusia pun di sana. Hanya ada anak buahnya yang lain yang lalu-lalang dengan aktivitas mereka masing-masing.


“Tadi ada di sini, Tuan! Dia bilang akan menunggu di sini!” Wajah anak buah itu makin memelas. Sambil mengedarkan pandangan, dia menggaruk, menggerus kepala belakangnya dengan kuku jari tangan.


“Dia laki-laki atau perempuan?” tanya Rose yang juga ikut mencari-cari dengan pandangan mata.


“Laki-laki, Nona! Dia sendirian,” jawaban itu membuat dahi Ben berkedut. Siapa?


“Laki-laki?” Sedang Rose membeo, sambil berspekulasi.


“Itu dia orangnya!” seru anak buah itu sambil mengacungkan telunjuknya ke arah lapangan.


Dilihat mereka bertiga, sosok tinggi menjulang sedang berbicara dengan Relly. Ketiganya hanya melihat punggung mereka. Jika dengan Relly, mereka tentu sudah hafal. Namun untuk orang yang satunya lagi… agaknya… terlihat familiar.


Netra abu milik wanita itu menyipit, memicing kala memperhatikan punggung pria itu di kejauhan. Setelah mendapatkan ide di kepala, wajah Rose langsung berubah senang.


Itu…


“Baz!!!” teriaknya dengan penuh semangat.


Sebenarnya… Ben sudah dapat menebaknya ketika melihat punggung pria itu. Mendadak pun, hatinya menjadi kesal dan gelisah karena sosoknya. Pria bertopi koboi itu bahkan menggeram marah, dengan perkiraannya sendiri.


Makin yakin, makin mantap rasa kesalnya, ketika Rose menyebutkan nama itu.


Ben menjepit bibirnya kuat-kuat, mengerutkan hidung, lalu mendengus kasar beberapa kali. Untuk apa? Tentu saja untuk mengontrol kekesalannya yang datang.


Sedang Rose, terlihat sangat senang dengan kehadiran sosok itu. Tangannya melambai ketika orang yang ia sebutkan menoleh dan menatap ke arahnya.


“Hai!” Makin tinggi lambaian tangan Rose, makin memuncak kekesalan yang Ben rasakan.


Makin pening kepala Ben, kala wanitanya itu tak bisa ia cegah untuk segera berlari ke sana. Tangannya hanya bisa menggapai udara kosong, ketika Rose sudah melesat dengan cepat.


‘Mati aku! Mati!’ gumam-gumam anak buah Ben yang tadi. Pelan… perlahan… dia mundur sambil berjinjit. Jangan sampai dia kena sasaran amukan Tuan Ben nanti!


Wajah itu sudah tidak bersahabat sama sekali! Meski ia tidak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi, serta kaitannya dengan tamu yang sedang mengobrol dengan Tuan Relly, namun insting defensifnya mengatakan bahwa dia harus segera melarikan diri.


Ben tengah menangkup wajahnya dengan satu tangan. Meregangkan kelima jarinya, dan memberikan tekanan di beberapa titik. Dahi, pipi, rahang, bahkan dia tekan telapak tangannya ke hidung.


Ben tekan semua ketegangan akibat rasa kesalnya.


Apa maksud kedatangan orang itu? Ben belum tahu, apakah kedatangan orang itu adalah sebuah keberuntungan, atau malah sebuah musibah untuknya?!


Pria bertopi koboi itu ingin melampiaskan amarahnya. Namun orang yang akan menjadi sasaran sudah tidak ada di sana. Ben tidak mendapati siapa pun selain dirinya.


Sial! Anak buahnya itu ternyata sudah mengambil langkah seribu. Orang itu sudah berhasil melarikan diri rupanya!


Ben tambah kesal! Tidak mungkin ia menampilkan wajah kesalnya ini pada Rose. Pasti akan terlihat sangat kekanakan!


Sambil memalingkan wajah, dipijit Ben dahinya yang terasa tegang. Seraya mengembuskan napas berat beberapa kali. Bagaimanapun juga, dia harus tetap terlihat keren, kan!


Dipalingkan Ben wajahnya ke depan lagi. Dua telunjuknya ia gunakan untuk menarik sudut bibirnya, agar tersenyum kian lebar.


Nah! Sekarang dia sudah siap untuk menemui orang itu!


Bersambung…