Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Jus jeruk menggoda



Mobil yang Relly kendarai baru saja tiba di titik yang sudah diinformasikan oleh anak buahnya. Segera Ben pun melompat turun dari mobil yang terbuka itu. Rasa tidak sabar ia ingin mengetahui apa yang anak buahnya dapatkan di sana.


Aura dingin yang masih ia bawa turut membekukan wilayah yang dia pijak, seolah semak belukar dan pepohonan di sana mengkristal es. Dan anak buah Ben jadi menggigil ketika mereka menatapnya. Padahal dengan jumlah mereka yang banyak, harusnya suhu bisa menjadi hangat.


“Apa yang kalian temukan?” Relly berinisiatif bertanya. Karena sepertinya para bawahannya itu mengkerut tak ada yang berani berucap pertama kali. Tentu saja ia tahu penyebabnya, siapa lagi kalo bukan bos besar mereka sendiri. Si pria bertopi koboi dengan kemeja bunga-bunga, namun hatinya sesuram hutan belantara.


“Ini, Tuan!” Salah seorang di antara mereka menyerahkan sesuatu ke tangan Relly.


Namun Ben segera menyambarnya. Diperhatikan benda itu dari dekat.


“Dan ini, kami menemukannya tak jauh dari yang pertama.” Sekarang Relly yang menerima benda kedua. Dengan wajah penasaran, dia juga memperhatikan benda itu dengan saksama.


Kedua benda itu adalah topeng sintetis yang memang bentuknya menyerupai wajah Ben dan Relly. Ben memegang topeng mirip wajah dirinya, dan Relly pun memegang topeng menyerupai dirinya pula.


Ben menggelengkan kepalanya sambil terus menganalisa topeng wajah yang masih berada di tangannya. Dia pernah melihat topeng wajah seperti ini, tapi tak pernah ada yang sesempurna ini. Sangat mirip dengan wajah aslinya, dan terasa seperti benar-benar kulit manusia.


Ben mengambil topeng wajah yang berada di tangan Relly. Lalu dia berbicara pada anak buahnya, “Coba kalian pakai! Aku ingin melihatnya.”


Dua buah topeng itu melayang pada dua orang yang menyerahkan topeng tersebut. Mereka menerimanya, dan tak ragu untuk melakukan apa yang Ben perintahkan.


“Waahhhh! Luar biasa!” Mulut Relly menganga lebar.


Hap!


“Tutup mulutmu! Bau!” Dipaksa mulut Relly mengatup dengan dorongan tangan bosnya.


Seperti biasa, para bawahan Harimau Putih itu seperti memiliki tugas lebih untuk menahan tawa. Reaksi-reaksi spontan bos besar setiap kali menindas Tuan Relly, selalu menjadi hiburan untuk mereka. Siapa lagi yang berani menindas orang itu selain bos besar mereka sendiri!


Ck! Jahat sekali bosnya itu.


Relly pun menjawab sambil mencibir bibirnya, “Aku sudah sikat gigi, Tuan!” Nada bicaranya setengah protes.


“Lihat, Tuan! Aku seperti melihat wajahku sendiri di cermin!” Ditunjuknya Relly palsu yang berada kini tengah menatap bingung pada mereka semua. Mata bersinar itu menatap pada Ben. Seperti anak kecil yang baru saja melihat mainan baru.


Orang itu pun penasaran seperti apa penampilannya saat ini. Benar miripkah dengan Tuan Relly yang asli?!


“Hem...” Sedangkan Ben nampak berpikir ketika melihat wajahnya yang lain pada orang di hadapannya. Itu bukan suara untuk menanggapi Relly.


Pria bertopi koboi itu mendekat pada wajah palsunya. Dipindai keseluruhan topeng itu untuk mencari informasi yang lainnya. Tapi sebagian otaknya juga memikirkan jika benda ini akan berguna di masa depan.


“Lepaskan!” Titahnya turun dengan suara datar.


Namun, menemukan benda itu tidak menurunkan amarahnya sama sekali. Sebab tak ada informasi yang dapat ia gali.


“Mungkinkah orang-orang itu sengaja membuang benda ini supaya kita mengetahuinya, Tuan?” tanya Relly sambil terus memperhatikan wajah palsunya dibuka.


“Apa keuntungan mereka jika sengaja membuangnya?” Ben malah balik bertanya. Pria itu menerka sesuatu tapi membiarkan bawahannya berpikir.


Benar juga! Relly menyanggah dagunya untuk berpikir dengan otaknya yang secuil, kadang sih! Tapi jika sudah berhadapan dengan komputer dan data-data otaknya bisa encer.


Ben pikir, pasti benda ini tidak sengaja terjatuh ketika mereka berusaha untuk kabur.


“Apa ada informasi lainnya?” Ben melanjutkan rasa penasarannya.


“Apakah ada sesuatu di bawah sana?”


“Di bawah terdapat sungai yang mengalir deras dengan bebatuan besar.”


“Apalagi?” Digali terus informasi yang bisa membuat rasa penasarannya hilang.


“A- anu, Tuan!” Orang yang melapor meragu untuk melanjutkan.


“Apa?” tanya Ben dingin.


“Ada sesuatu yang aneh!” seru orang itu memberanikan diri.


Karena bos besarnya hanya diam, maka ia pikir Tuan Ben pasti menunggunya melanjutkan. “Jejak mobilnya menghilang di dekat sungai.”


Dia pun melanjutkan ketika bosnya terus diam. “Kami juga sudah menelusuri daerah di seberang sungai itu, dan tidak ada jejak satu mobil pun di sana.”


“Meng-hi-lang?” tanya Relly kebingungan. Sebenarnya Ben juga sama bingungnya. Namun hanya otaknya saja yang ia pergunakan untuk bekerja. Ben memikirkan segala situasinya.


“Benar, Tuan! Kami sudah memeriksa seluruh area ini sampai yang tak terjangkau kamera pengawas. Dan hanya ada satu jejak mobil ini, lalu jejak ini pun menghilang tepat di pinggir sungai itu.”


Tidak masuk akal!


“Tunjukkan jalan! Aku ingin melihatnya!” titah sang ketua pun turun lagi. Sedangkan orangnya sekarang naik ke mobil yang tadi ia naiki bersama Relly.


Satu mobil berjalan di depan memimpin beberapa mobil yang lainnya. Karena medannya terjal dengan lumpur dan tanah bergelombang, maka semua mobil pun dengan kompak bergoyang-goyang.


***


Sekarang mentari sudah jumawa menampakkan bentuk sempurnanya di atas awan. Namun teriknya belum begitu menyakiti sebab saat ini waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi.


Tapi Rose sudah terengah-engah, dia merasa napasnya seolah hampir habis. Siksaan awalnya baru saja selesai. Dan saat ini ia tengah terkapar di pinggir lapangan. Wanita itu tak acuh untuk merentangkan kedua tangan dan kakinya membentuk diri bak bintang laut.


Dia benar-benar butuh udara segar yang banyak sekarang. Jadi ia pikir dengan posisi ini selain dapat merehatkan tubuhnya yang kelelahan fisik, juga untuk mendapatkan asupan oksigen yang sangat banyak.


“Kalian benar-benar menyiksaku! Hah! Hah!” Rose mengomel sambil naik turun dadanya dengan cepat. Wajahnya banjir peluh, tubuhnya lepek dengan keringat. Lemas sekujur badannya ia rasa saat ini.


Ketika masih gelap, dia sudah berlari sepluluh putaran. Baru istirahat sebentar, sudah menanti sesi latihan yang lainnya. Tubuhnya yang tidak pernah ia ajak untuk berolahraga ini jadi kaku untuk ia ajak bergerak. Dan imbasnya adalah sekarang, saat ini. Ia seperti tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali saking lelahnya.


Anggie berjalan mendekat lalu berjongkok di sampingnya. Lekuk tubuh seksi itu semakin menggoda saja ketika bokongnya menukik dan terpampang nyata. Jadi Zayn sibuk memperingati rekannya yang lain untuk tidak menggoda kekasihnya itu.


“Kau mau ini?” Tangan lentik itu menyodorkan gelas bening yang menampung minuman segar berwarna orange cerah. Bulir-bulir air mencuat dari dinding gelas bening itu, menandakan minuman itu masih fresh dan dingin.


“Tadi ku lihat, matamu tak lepas menatap jus ini!”


Rose hanya menatapnya, mencibir bibirnya, lalu mendengkuskan napasnya dengan kasar. Dia masih kesal dengan siksaan mereka berdua.


“Kalau tidak mau, ya sudah!”


Bersambung...