
“Di saat ada penyusup masuk dan mencoba mencari masalah di sini, kalian ada dimana?
Sebelum menjawab pertanyaan menegangkan itu, Zayn sempatkan menoleh ke belakang karena dia merasa diperhatikan seseorang.
Namun… ketika dia melihat ke sana, tak didapatinya siapa pun. Dia pun menolehkan kepalanya ke depan lagi.
“Bos mencurigai kami?” tanya Zayn mencoba menyelidik.
Anggie menoleh bingung pada kekasihnya itu.
“Aku tidak mengatakan bahwa aku mencurigai kalian! Aku bertanya dimana kalian berada selama ada masalah tadi?” Ditarik Ben punggungnya. Menopangkan kedua tangannya ke paha, lalu menautkan jari jemarinya. Ditatap serius kedua anak buahnya itu.
“Tuan! Mungkin maksud Zayn, pertanyaan Tuan Ben terlalu sensitif untuk kami.” Anggie mencoba menengahi, walau sebenarnya dia tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Tapi tentu saja, mereka tidak akan mungkin berkhianat pada kelompok yang sudah mereka anggap seperti keluarga.
“Terlalu sensitif? Jadi kalian menyalahkan isi pertanyaanku?” Hanya melirik tajam, tapi Ben semakin membuat wanita kuat sekelas Anggie merasa semakin tertekan.
“Tidak,Tuan! Bukan begitu!” Anggie makin merasa bersalah dan Zayn tetap diam.
“Maaf, Tuan!” Anggie menunduk lemah. “Tadi wajahku baru saja dipakaikan masker oleh Zayn. Makanya aku tidak keluar. Maafkan aku, Tuan! Aku memang bersalah!”
Tidak tahu mereka, jika Rose yang sedang berada di kamar mandi hampir saja terpeleset di sana. Rose sungguh tidak membayangkan, jika di sebuah markas mafia besar seperti ini akan ada hal konyol seperti itu.
Bahunya bergerak naik turun dengan cepat. Rose menahan tawanya melesat keluar setelah mendengar penuturan Anggie. Lalu… wajahnya kembali serius. Dia pun menanti apa yang akan di katakan oleh Zayn.
Akan tetapi… keduanya adalah sepasang kekasih yang begitu mesra. Jika memang Zayn sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Rose jadi berpikir, mungkinkah Anggie ikut terlibat juga. Sebab, mereka berdua itu sudah seperti tangkai dan dahan, mereka tak terpisahkan.
Memikirkan kemungkinan yang semakin buruk, Rose semakin merasa tidak nyaman di hatinya. Itu baru perasaannya sendiri. Lalu bagaimana dengan perasaan Ben yang merupakan atasan mereka langsung.
Rose menarik napasnya panjang. Jadi menyesal dia pergi dari sana. Saat ini inginnya Rose melihat langsung ekspresi masing-masing dari mereka. Ingin ia lihat siapa yang menunjukkan kebohongan di matanya.
Atau mungkin tidak ada… apa sebenarnya yang Rose harapkan?! Dia bukan apa-apa di dunia yang keras dan kejam itu. Untuk masalah menyembunyikan ekspresi, pasti orang-orang itu sudah handal melakukannya.
Jika Rose berada di sana, paling tidak dia bisa merasakannya. Walau hanya sedikit saja. Ditambah lagi, dia ingin memastikan darah menetes yang tadi dilihatnya.
‘Huh!’
Dia ingin keluar sekarang. Tapi rasanya tidak tepat. Rose tidak ingin dikatakan terlalu mencampuri urusan kelompok mereka. Sedangkan dirinya saja bukan bagian dari kelompok itu.
Sepertinya, dia hanya bisa menunggu. Menunggu sampai pembicaraan serius itu selesai. Dan Rose memilih untuk menduduk, di atas toilet duduk yang ia turunkan penutupnya. Sambil berdebar-debar menunggu jawaban yang akan Zayn berikan.
“Dan kau?” Kini giliran Ben bertanya pada Zayn.
“Aku memakaikan Anggie masker, lalu kami di kamar saja, tidak kemana-mana!” jawab Zayn dengan wajah tenang.
“Aku bersalah,” tambahnya lagi setelah disenggol tangannya oleh Anggie.
“Jika kalian tahu kalian bersalah, maka renungkan. Aku memerintahkan kalian untuk membantu Relly menemukan penyusup yang tersisa. Aku memberikan waktu sampai besok. Tapi karena kalian membantu, jadi aku beri diskon.” Disunggingkan satu sudut bibirnya oleh Ben.
Pria yang biasanya bertopi koboi itu mendengkus dengan satu helaan napas. Senyum licik ia buat samar.
“Hanya sampai malam ini… waktu yang kalian punya. Dan jika tidak berhasil, hukuman menanti kalian semua. Tak terkecuali Relly. Katakan juga padanya seperti itu.”
Setelah mengatakan itu semua, Ben menyandarkan lagi punggungnya ke sofa. Memejamkan matanya lagi dengan raut wajah tenang.
Tapi justru… ketenangan itu terasa menjadi badai bagi mereka yang berada di sana. Bagi Anggie dan Zayn, tidak… bagi semua orang, lebih baik Ben yang murka melampiaskan amarahnya. Lebih baik seperti itu ketimbang bos besar mereka hanya diam. Diam di tengah badai yang akan datang.
Diskon apanya? Benar diskon, memang! Tapi bukan potongan harga yang dimaksud. Melainkan waktu menyelesaikan tugas mereka yang dipotong. Bos mereka ini memang eksentrik luar biasa! Huh!
“Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan!”
Anggie pun menggandeng tangan kekasihnya. Lalu mereka undur diri dari sana. Pergi dari badai yang belum siap mereka temui. Dan lebih baik dengan mereka menyelesaikan tugas yang Ben berikan dengan sesegera mungkin.
Jangan sampai, hukuman yang akan bos besar mereka berikan nanti, menjadi badai yang mereka takutkan.
Berpikir apa ia sebenarnya? Seharusnya dia berpikir positif bahwa mereka pasti akan segera menemukan pelakunya!
Sambil menutup pintu ruangan itu, ditatap Anggie bos mereka yang masih memejamkan mata. Dengan pose seperti itu saja, dia sudah bisa membuat orang lain tertekan.
“Rose!” seru Ben masih dengan memejamkan mata.
Memang tidak begitu kencang suara Ben memanggil kekasihnya itu. Karena saat ini, dirinya sedang mengalami dilema. Berat pikiran dan hatinya untuk menerima semua kenyataan yang baru saja didapatinya.
Hatinya berkecamuk, menjadi gelisah tak menentu dan tak karuan. Kini, detik ini, ia sangat membutuhkan Rose untuk menguatkannya… lagi. Seperti tidak kuat ia menjalani beban ini sendirian.
Dulu, ketika Tuan Danu, pemimpin kelompok ini sebelumnya meninggal dunia, lalu Ana sebagai cinta pertamanya memilih lelaki lain sebagai pendamping hidupnya, ia pikir, itu adalah momen terberat yang pernah ia lalui.
Ternyata bukan! Ternyata seiring berjalannya waktu, akan ada terus momen menyedihkan dan memberatkan hati yang akan dia lalui. Di sepanjang hidupnya ini.
Jika saja dia adalah seorang wanita, mungkin sudah menangis sesegukan sekarang. Sayang, air matanya seolah beku oleh darah-darah yang pernah mengalir di tangannya. Hati Ben beku, hati Ben tidak selembut itu untuk mudah mencairkan kristal berharganya dari mata.
“Rose!” Kembali dipanggil kekasihnya yang sekarang entah berada dimana.
Ben tidak tahu, dia enggan membuka matanya. Belum siap dia menerima kenyataan yang ada.
“Rose!” Makin serak suara panggilan itu. Mungkin itu adalah bentuk Ben yang menahan diri dari amukan perasaan di dalam hatinya kini.
“Ro-“ Tertahan karena kini dirinya sudah dipeluk, direngkuh kembali oleh wanita pemilik nama yang sejak tadi ia panggil.
Dalam posisi berdiri Rose memeluknya. Mengulangi posisi yang tadi, namun dengan perasaan yang berbeda. Kali ini lebih dalam perasaan hancur yang Ben rasakan. Kali ini lebih erat dekapannya pada tubuh kekasihnya itu.
“Ben!” Diusap Rose lembut, puncak kepala prianya.
Tadi, begitu mendengar Ben terus saja memanggilnya, Rose segera berjalan ke arah pria itu. Walau sudah dipanggilan kedua dia baru mendengarnya.
Dan betapa terkejutnya Rose, melihat kerutan dalam di dahi pria itu. Tidak di dahinya saja, tapi seluruh wajahnya berkerut seolah sedang menahan sakit luar biasa. Maka dari itu Rose berinisiatif untuk segera memeluknya.
“Rose!”
“Hmm?”
“Kau melihatnya juga, kan?”
Bersambung…
Sampai sini dulu, ya untuk mala mini
Selamat membaca semuanya