
Rasa lelah yang kini ia rasa, sebenarnya sudah ingin dibayar dengan istirahat panjang sampai esok pagi. Angin malam seperti sedang menghasutnya untuk mangkir dari panggilan ini.
Apalagi rengekan perhatian Anggie. Yang memintanya untuk bicara dengan pemimpin mereka besok pagi saja. Seperti setan-setan malas tengah membisikkan hasutannya saat ini.
Namun semua orang juga tahu. Bahwa bos mereka yang seram itu tidak suka dibantah dan diuji kesabarannya.
Meskipun gugup ia rasa, gentar tatapan matanya. Zayn tetap harus menemui orang itu lebih dulu. Agar, ketika dia beristirahat nanti, pikirannya bisa lebih tenang.
Tidak ada rasa penasaran lagi, tentang bagaimana respon orang itu ketika bertatap muka dengannya lagi. Bagaimanapun juga, keputusannya untuk menempuh jalan ini pasti akan merusak semuanya. Zayn juga ingin tahu, apakah orang itu sudah mulai mencurigainya atau belum.
“Kau kembali saja ke kamar! Biar aku yang menemui Tuan Ben sendiri,” pintanya pada Anggie dengan lembut.
“Tidak mau! Aku juga ingin protes pada Tuan, kenapa tidak membiarkanmu istirahat lebih dulu. Masalahnya, kan, masih bisa kalian bicarakan besok pagi!” ocehan kesal wanita seksi itu lantas membuat Zayn tersenyum sendu.
Memang, hanya Anggie yang selalu tulus menyayangi dan memerhatikannya!
Karena saat ini, matanya sedang tertutup oleh api amarah, dan juga dendam yang ingin dibalaskan.
Tok! Tok! Tok!
“Tuan, ini kami!” seru Anggie dari luar, meneriaki pintu di depannya dengan suara nyaring. Seakan tak peduli jika saat ini hari sudah malam. Dan situasi markas, mulai sepi.
Kreett!
Pintu itu otomatis terbuka dari dalam. Pintu ruangan Ben sudah diperbaiki. Termasuk dengan sistemnya yang dapat Ben kontrol dengan remote.
Pemandangan yang langsung mereka dapati adalah, sosok Ben bak raja iblis tengah duduk jumawa di atas takhtanya. Sedang sang permaisuri, Rose, berdiri di sisinya, sambil terus mengelus, punggung lebar itu.
Raut wajah pria itu datar, namun sebenarnya diselimuti awan kelabu yang suram. Badai siap menerjang siapa saja, sekarang.
Namun, dua anak buah wanita yang baru datang, tidak menyadari hal ini sama sekali. Mereka masih berpikir, jika wajah seram Ben memang begini adanya.
Nampak Rose tersenyum tipis pada keduanya. Pada Anggie sebenarnya. Hanya saja, ia samarkan dengan tidak kentara, agar Zayn tidak tersinggung. Ia masih belum bisa melupakan perihal wanita maskulin itu yang merupakan sebab dari semua masalah ini terjadi.
Rose masih belum pandai menutupi emosinya. Dia masih terlalu amatiran dalam hal ini. Takutnya, akan ada yang bisa menebak kegelisahan yang ia rasa sekarang.
Baru saja, ia berhasil menenangkan tuan seramnya. Hah! Rasanya sungguh melelahkan sekali.
Barusan, Ben berniat mengamuk sejadi-jadinya terhadap orang itu. Terhadap pengkhianat yang sudah melakukan ini semua, kepada Rose, markasnya, serta memecah anak buahnya. Bahkan, hampir membahayakan nyawa kekasihnya itu.
Limit kesabaran Ben hanya bisa terulur karena Rose saja. Tapi tidak dengan yang lain. Dia tetaplah sosok yang tidak sabaran bagi mereka semua. Tanpa terkecuali.
Dengan semua masalah yang sudah dia buat di markasnya, di rumahnya ini, Ben sudah ingin menembak kepalanya saja.
Namun Rose menahannya, ingat jika mereka sebelumnya sangat dekat. Rose kembali mengingatkan Ben akan hubungan persaudaraan yang sudah mereka bangun selama ini. Paling tidak, saat ini, Rose meminta Ben untuk menghargai hubungan mendalam itu.
Dan tepat sebelum Zayn dan Anggie masuk, Ben baru saja berteriak dengan keras. Sebagai bentuk pelampiasan amukan yang harus ia tahan. Maka dari itu, ketika kedua orang itu masuk, Rose tengah mengelus punggung luas itu, untuk menenangkan tuan seramnya.
“Kau kembali!” sapa Rose basa-basi pada Zayn. Dan nampak, orang itu hanya mengangguk sekilas.
“Tua-“ seruan Anggie dengan maksud akan melakukan protes pun tertahan, karena Ben sudah mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Ben. Mencoba mengalihkan pandangan matanya dengan tenang ke arah Zayn.
“Semua sudah terkendali! Bandit-bandit kecil yang mengatasnamakan diri mereka adalah kelompok kita sudah dibereskan. Mereka tidak akan berani macam-macam lagi!” jawab Zayn. Sebisa mungkin, ia tahan gemetar di tangannya.
Harus diakui, meskipun mereka tumbuh dan kuat bersama di dalam kelompok itu. Sosok Ben memang yang paling menonjol di antara mereka semua. Tekanan dari aura yang dihasilkan selalu berhasil membuat lawan bicaranya ciut. Bahkan jika itu Zayn atau Relly sekali pun.
Seperti saat ia bertemu dengan wanita mengerikan itu. Zayn memilih untuk memasukkan kepalan tangannya ke dalam saku jaket. Kepalan tangan yang sudah mulai berkeringat dingin.
Ben tak langsung menanggapi ucapan Zayn. Matanya sedang sibuk menilai, menimbang dan menganalisa setiap mikro ekspresi di wajah anak buahnya itu.
Hal apa sebenarnya yang membuat rekan, teman, anak buah, sekaligus saudara baginya itu, bisa berubah haluan. Bukan dalam kesukaannya terhadap sesame gender. Namun karena keputusan besar yang ia ambil untuk melawannya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat dia jadi seperti ini?
Jika dia memang sedang dalam kesusahan, lalu, mengapa tidak berbicara pada padanya yang sudah seperti saudara?! Apakah sekarang hubungan mereka begitu jauh, sehingga tidak ada yang mesti mereka bicarakan baik-baik, bersama?
Tatapan Ben dengan mata yang meruncing itu, mendatangkan kegelisahan pada diri Zayn. Bahkan Anggie pun turut merasakan, meski dia tidak ditatap secara langsung.
Zayn jadi menyimpulkan, mungkinkah Ben sudah mengetahui segalanya?
Jika benar, maka dia harus benar-benar waspada setelah ini! Jangan sampai pria itu memergokinya secara langsung.
Dia harus membuat alibi lagi, agar semua orang, termasuk Ben, kembali memercayainya lagi.
“Kalau begitu… “ Semua orang menahan napas mereka. Pun Rose yang masih setia, berdiri di sampingnya.
Pasalnya, ekspresi Ben saat ini benar-benar tidak bersahabat sama sekali. Rose tahu itu!
“Beristirahatlah! Ini sudah malam!” putus Ben dibarengi dengan ******* napas berat. Bahu lebar itu ikut bergerak turun, ketika napas terbuang.
Dan pria bertopi koboi itu memilih untuk bangun dari kursi kebesarannya. Kemudian berdiri membelakangi mereka berdua, Zayn dan Anggie.
Rose pun menarik napas lega. Beruntunglah, Ben mau mendengarkannya kali ini!
Anggie juga ikut lega, apalagi Zayn tentu saja. Karena, terpikirkan oleh mereka, jika Ben akan melepaskan emosinya karena sesuatu hal. Mereka juga dapat melihat kabut amarah hampir menguasai seluruh pandangan mata Ben terhadap mereka berdua.
Semua orang tahu, jika pemimpin mereka itu sulit ditebak!
“Kalau begitu kami permisi dulu!” cetus Anggie dengan cepat. Sebelum pria dengan topi koboi itu berubah pikiran.
Tak lupa, Anggie menyematkan senyum di bibir, kala bertemu pandang dengan Rose. Ia juga berpamitan pada kekasih dari bosnya itu melalui tatapan matanya.
Ketika Zayn dan Anggie sudah berjalan mendekati pintu, Ben kembali bersuara. Tanpa membalikkan tubuhnya. “Zayn!”
Dua wanita itu pun berhenti. Lalu menoleh dengan rasa penasaran.
“Apakah tidak ada lagi yang ingin kau jelaskan?”
Deg!
Dada wanita maskulin itu serasa dihantam batu besar. Matanya membelalak lebar.
Bersambung…