Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Dimakan dengki



“Rose!” Ben merajuk di depan pintu kamar kekasihnya.


Saat ini, adalah malam berikutnya setelah mereka melakukan taruhan kemarin. Dan ini sudah lebih dari 24 jam sejak pengumunan hasil taruhan. Namun pria itu masih merajuk tidak terima.


Benar saja! Rose menang, karena kemarin dia melakukan aksi curang. Sengaja wanita itu mengganggu konsentrasinya, sehingga tangannya sempat bergoyang ketika tembakan itu dilesatkan.


Dan terjadilah… selama seharian itu, Ben menjadi bahan tertawaan Baz dan Relly.


6


Itu adalah nilai paling buruk sepanjang sejarah hidupnya. Ben tidak pernah mendapatkan nilai seburuk itu. Bahkan ketika dia baru pertama kali memegang senjata, dimana saat itu ia masih remaja . Waktu itu saja ia bisa mendapatkan nilai 7. Dan tidak pernah turun sekali pun. Karena kemampuannya terus meningkat.


Geram dan gemerutuk giginya ia tahan di rahangnya yang mengetat. Harusnya ia marah pada kekasihnya itu! Namun, apa ia bisa? Tentu saja tidak, kan!


Karena sejak awal, memang tidak ada aturan untuk tidak boleh bermain curang. Mungkin Ben melupakan hal ini. Karena dia sudah merasa di atas angin. Merasa akan menang dengan sedikit usaha. Tapi sepertinya… wanita itu memang sudah merencanakan hal ini sejak awal.


Dengan dengusan napas yang kasar dan keras, sampai bersuara, Ben mesti menerima keputusan itu. Dia kalah! Ben harus memenuhi aturannya. Dia tidak boleh mengganggu kekasihnya itu lagi mulai sekarang.


Huh! Benar-benar menyebalkan! Jadi… dia harus bagaimana jika keinginan itu sedang datang? Haruskah dia selalu mandi air dingin setiap hal itu terjadi? Tidak bisakah dia menyentuh kekasihnya itu, barang seujung rambut saja, misalkan?


Mencoba bertahan seperti kemarin saja, dirinya sudah sangat tersiksa! Lalu… jika semakin dibatasi seperti ini… tidakkah Rose peduli pada kekasihnya ini? Harus seberapa tersiksa lagi dirinya?


Sesungguhnya, pria itu menangis dalam hati. Atas kekalahan paling kejam yang pernah ia rasakan, selama ia hidup.


Kembali ke masa kini,


Ben mencoba menahan Rose yang hendak masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Paling tidak, berikan dia satu ciuman saja, bisa, kan? Dia tidak akan meminta yang lain, sungguh! Tapi tetap tidak janji! Hee…


“Ini sudah malam, aku ingin segera mandi dan beristirahat. Kau juga sama! Mandi dan beristirahatlah! Oke!” Wanita itu tersenyum, amat lebar namun kaku dan terpaksa. Sebab ia sedang berusaha menahan pintu, agar tak semakin didorong oleh kekasihnya. Pria itu sungguh memaksa, ingin masuk.


“Sekali saja!” Sambil memohon, sambil memajukan bibirnya. Ben minta dicium di sana. Ciuman selamat malam.


Untuk menutup aktivitasnya hari ini, dia membutuhkan sesuatu yang manis supaya tidurnya nyenyak nanti. Dan hal itu hanya Rose yang bisa memberikan. Tidak mungkin, kan, dia meminta pada Relly? Hey, dia ini masih normal, tahu!


“Baiklah! Sekali, ya?” Ben mengangguk dengan cepat.


“Setelah ini kau pergi, oke?” Pria itu mengangguk lagi.


Wajahnya yang memelas belum juga hilang, jika Rose belum memberikannya sebuah penawar. Racun yang menggerogoti tubuhnya ini sangat berbahaya. Karena bisa membuat seseorang menjadi gila, jika lama tak diberi penawar.


“Ch!” Rose tertawa kecil. Pria itu… apakah dia masih tuan seram yang dikenalnya?


Lihat saja! Wajah kekasihnya itu, saat ini sudah seperti seorang anak kecil yang sedang sangat berharap keinginannya dipenuhi.


Cup~!


Buru-buru disambar Rose bibir seksi itu. Ia mengecupnya dengan sedikit tekanan. Lalu dengan cepat pula, ia menarik kepalanya lagi.


Dan bukannya senang, pria itu malah menampakkan wajah kecewa. “Hanya itu?” tanyanya kemudian.


“Ehm… ehm… hanya itu!” angguk Rose. “Kau harus ingat taruhan kita! Aku yang menang!” Ia pun mengingatkan. Bahwa kali ini, pria itu sudah tidak boleh sembarangan lagi.


“Tapi kemarin… kau curang, Sayang!” jedanya, Ben lakukan untuk membuat Rose lengah. Sekarang giliran dia yang bermain curang.


Cupppp~!


Ben mengecupnya, bertekanan dan semakin dalam. Bukan lagi sebuah kecupan singkat seperti yang Rose lakukan. Bibirnya yang rakus dan serakah, menguasai bibir kekasihnya dengan dominan. Rasanya, ia ingin menghisap madunya sampai habis tak tersisa.


Mulanya wanita itu sempat terkejut, namun juga terbuai. Rayuan Ben selalu berhasil menggoda iman. Bibir pria itu selalu gagah dalam menjelajah dan memesrai bibirnya. Hingga ia tak mampu melawan.


Tidak cukup lama, karena Rose segera berhasil menyadarkan dirinya kembali. Segera, wanita itu memberontak. Berusaha melepaskan diri dari jerat Ben yang memabukkan. Harus Rose akui itu!


Wanita berambut pirang itu mencoba mendorongnya, menekan dada bidang itu supaya tubuh serta bibir kekasihnya turut menjauh. Dan Ben terlalu keras kepala untuk menuruti kemauannya.


Pria itu melepaskan tautan bibir mereka saat ia sudah puas. Ia menarik diri dari wanita yang sudah kehabisan napas. Lalu menyeringai penuh kemenangan.


Bug~!


“Dasar kau ini!” Dipukul Rose bahu pria itu. Sambil melampiaskan kekesalannya, tangannya yang satu lagi juga sibuk menyeka bibirnya yang sekarang terasa lembab dan basah.


Dengan wajah panik, Rose langsung menyembulkan kepalanya ke luar. Sampai melewati bahu simetris Ben. Melongok, melihat ke kanan dan ke kiri. Apakah ada seseorang yang melihat kegiatan mereka barusan?


Bisa gawat, kan, jika ada yang melihat! Malunya pasti bukan kepalang!


“Jadi kalian sudah selesai, heh?” Baz bertanya sambil bersandar di dinding, tak jauh dari mereka.


“Ekh…!” Wanita itu terperanjat kaget, kala ia menolehkan kepalanya ke kiri. Dimana akhirnya, ia menangkap sosok itu. Yang sepertinya, sudah sejak tadi berada di sana dan sengaja menunggu mereka.


Saking terkejutnya, pegangan tangan Rose terlepas pada kenop pintu. Rose yang hilang keseimbangan, jadi terhuyung ke depan. Beruntunglah ada tubuh Ben di hadapannya. Jadi pria itu bisa sigap menangkap dirinya. Walaupun sambil menoleh ke arah tempat Baz berada. Dan memasang wajah tidak bersalah.


“Kami-“ Baz segera memotongnya. Ia tidak memerlukan sebuah pembelaan atau alasan dari mulut Rose. Sudah tahu, pasti orang aneh itu yang tidak tahu malu!


“Jika sudah selesai, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan… kau!” Iris cokelatnya langsung mengarah pada Ben. Dengan tatapan tegas, agar orang aneh itu mau melepaskan Rose dan mereka bica bicara empat mata.


“Akan ku pastikan kau dideportasi sekarang juga, jika apa yang akan kau bicarakan tidak penting!” singit Ben seraya membantu Rose untuk berdiri tegak kembali.


Cup~!


“Selamat malam!” Sebuah kecupan di dahi Rose adalah benar-benar penutup untuk malam ini, bagi keduanya. Rose hanya memejamkan mata menerima kecupan mendalam itu.


“Tck!” decak Baz sambil berbalik.


Oh, Tuhan! Boleh, kan, dia memukul orang aneh itu, sekali ini saja?! Keberadaannya benar-benar tidak dianggap sama sekali.


Jika sudah begini, Baz pun jadi memikirkan Relly. Akan lebih baik memang, jika menderita bersama, daripada harus menderita sendirian. Seperti ini.


Eh, kenapa dia jadi memikirkan orang bodoh itu?! Bisa besar kepala dia, jika tahu dirinya memang membutuhkan Relly di sini. Sebagai teman satu penderitaan.


Baz berdiri tepat di depan pintu ruangan Ben. Menunggu si empunya ruangan selesai dengan salam perpisahan yang memuakkan. Padahal, mereka bisa bertemu lagi, besok!


Heh! Dasar! Masih saja, ia mencibir di dalam hati. Sungguh pun, saat ini, hatinya sedang dimakan oleh rasa dengki. Awas saja! Nanti dia juga akan pamer, jika sudah menemukan pasangan!


“Apa yang ingin kau bicarakan?”


Bersambung…


Abang baz iri aje sih woyyy… makanya jangan jomblo teros,, wkwkwk