
SUV hitam itu memasuki pagar rumah yang baru saja dibukakkan oleh seorang penjaga keamanan. Ben, Rose dan juga Baz akhirnya sampai di rumah Victor lewat siang hari.
Lalu lintas yang ramai dan beberapa kali tersendat, menjadi alasan mereka agak telat untuk bisa sampai di tempat tinggal ini. Sesuatu yang sudah menjadi tempat Ben pulang beberapa waktu sebelumnya.
Tempat yang belum ia miliki, selain markas Harimau Putih, untuk menyebutkan kata ‘pulang’ di dalam hidupnya.
Dan semua itu terjadi karena dia mengenal seorang wanita. Wanita cantik, yang kadang cerewet dan suka membangkang, yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Bahkan ia resmikan sebagai calon istrinya, di hadapan banyak orang.
Rose Benneth! Dialah wanita itu.
Satu persatu, ketiganya turun dari mobil. Dan tak menyangka jika kehadiran mereka sudah disambut oleh segenap orang di halaman depan rumah asri itu.
Asri, karena Victor suka beraneka rupa tanaman menghiasi rumahnya.
“Bibi!”
Yang paling antusias di antara mereka semua adalah, Bervan. Si anak tampan yang sedang aktif-aktifnya itu langsung berlari, begitu melihat bibinya sampai.
“Bervan!” Rose menyambutnya, menunggu anak kecil itu sampai di pelukannya, sambil melutut.
Namun dahi wanita itu berkedut kala menyadari ada yang tidak beres dengan raut wajah keponakannya. Iris mata Bervan, menunjukkan sebuah kelegaan bersama dengan kekhawatiran sekaligus.
“Bibi!” serunya pelan kala mereka sudah berpelukan. Anak kecil itu seperti menyandarkan segenap kegelisahan yang ia punya, pada bahu Rose, bibinya.
Rose mengedip pelan seraya mengalihkan pandangan ke depan. Dan akhirnya ia mengerti, mengapa suara anak keci ini terdengar sedikit bergetar.
Di sana, terdapat Victor dan Bella yang tengah saling merangkul sambil tersenyum. Tapi anehnya, senyum itu tidak ceria sama sekali. Hanya sebuah lengkung bibir yang menunjukkan jika mereka pun turut merasa lega karena kehadirannya.
Victor lalu menggeser pandangannya ke samping. Maka Rose mengikuti gerakan bola mata itu.
“Rose, Sayang! Akhirnya kau datang, Nak!”
“Hai, Rose! Apa kabar?”
Dua wanita biadab yang membuat Rose harus merasakan kejamnya dunia. Yang membuat Rose terluka lahir batin, jiwa dan raga. Mereka yang membuat wanita itu melalui semua hal menyakitkan, yang tidak ingin dilalui siapa pun di dunia ini.
Merekalah, ibu dan anak yang sama liciknya. Mereka yang sudah menggoreskan luka paling dalam di hati. Mereka, Nyonya Mira dan Mirabel. Ibu dan saudari tirinya.
Tak ada kata tunduk untuk mereka berdua lagi. Sudah cukup waktu itu ia merendahkan harga diri demi bisa bertahan di sana. Di rumah yang masih memiliki banyak kenangan dengan mendiang ibunya.
Sekarang tidak! Sekarang, Rose memandang kedua wanita itu dengan berani. Dengan tatapan nyalang, seolah jika kedua wanita itu berani macam-macam dengannya, maka Rose siap untuk melawan mereka berdua.
Dan… bullshit tentang ayahnya! Rose sudah tidak takut lagi, jikalau mereka akan mengadu atau berbicara macam macam pada ayahnya itu.
Benar! Di sisi kanan mereka, ada Tuan Benneth. Sosok pria paruh baya, yang juga memiliki andil dalam torehan luka mendalam di sanubari.
Pria yang lebih memilih untuk membela mereka yang bukan sedarah. Daripada membela dan menyelematkan putri kandungnya sendiri.
“Hh!” dengus Rose pelan, saat mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya itu. Tatapan nanar, berbalut luka dan kecewa berpendar pada manik mata Rose yang abu.
Sklera beserta pupil abu-abu itu bergoyang. Sebab genangan air mulai mengisi pelupuk mata, dengan segenap perasaan campur aduk yang ia punya.
Menatap ketiga orang itu, rasanya ada yang menghujam hatinya kembali. Ia merasakan sesak yang mendesak, sehingga oksigen menjadi irit masuk ke dalam paru-paru dan berpencar ke seluruh tubuh.
Rose merasakan tubuhnya mulai gemetar. Dan untuk menguatkan diri, maka dia memejamkan mata dan mempererat pelukannya pada Bervan. Tapi… klise-klise masa lalu malah muncul satu persatu di dalam benaknya.
“Hey, Kid! Kau tidak mau menyambutku!”
Dua pria di belakang Rose, saling berpandangan. Mereka menyadari jika Rose mulai merasa tertekan. Keduanya mengangguk samar, menyepakati untuk membuyarkan kegelisahan pada diri wanita itu.
“Paman!”
Jangan harap jika Bervan akan menyambut Ben terlebih dahulu. Karena kurang lebihnya, mereka nampak seperti musuh bebuyutan. Yang biasa berebut kasih sayang dengan Rose.
Anak kecil itu segera memeluk Paman Baz-nya. Pria itu pun menyambut, dan bahkan menggendongnya. Diacak rambut anak kecil itu dengan gemas dan sayang.
Bervan tidak suka, karena dia merasa tidak akan tampan lagi jika rambutnya berantakan. Tapi anak kecil itu membiarkannya saja, dan memilih untuk mempererat pelukannya pada Paman Baz. Sebab, saat ini ia lebih membutuhkan sandaran, daripada apapun itu.
Sedang Rose yang sudah berdiri, dirangkul dengan posesif dan protektif. Menyatakan kepemilikan, sekaligus perlindungan padanya.
Siapa yang berani menyakiti Rose lagi, maka, mereka harus berhadapan dengannya!
Tiga orang yang baru datang maju, bersama dengan Bervan di gendongan Baz. Mendekat pada orang-orang yang sudah menanti mereka dengan ekspresi berbeda.
Ada dua pria gagah dan tampan di hadapan matanya, tentu saja membuat hati Mirabel gatal untuk mendekati mereka. Nyonya Mira yang sudah mengetahui gelagat putrinya pun segera menahan. Dia menggeleng sambil memegangi kedua lengan putrinya.
Jangan terburu-buru! Biarkan Rose menyambut yang lainnya terlebih dahulu! Pun mereka harus menjaga sikap pada Eric. Karena dialah yang sudah membawa mereka semua ke sini.
Benar! Ada Eric di sana. Di sisi Tuan Benneth, di ujung barisan. Dia agak berpaling ke samping. Membiarkan semua orang tidak begitu menyadari kehadiran dirinya.
Sebab… Eric pun cukup sadar diri, hal apa yang sudah menimpa Rose, adalah disebabkan oleh ayahnya. Dan ia merasa bertanggung jawab atas rasa sakit dan penderitaan, yang sudah pernah ia lihat secara langsung. Saat
menyelamatkan Rose di kapal kala itu.
Eric tidak bisa tutup mata. Perasaan suka yang sudah ia pendam cukup lama, rasa-rasanya sudah tidak pantas lagi untuk perjuangkan pada Rose. Sudah begitu… sudah ada lelaki kuat dan hebat di sisinya. Dengan segala alasan, Eric sadar bahwa ia memang harus mundur dan menjauh.
“Rose! Akhirnya kau datang!”
Ben mau melepaskan wanitanya, saat mereka sudah sampai di hadapan Victor dan juga Bella. Dua wanita itu saling memeluk dan melepas keresahan. Bella pun seakan lega, setelah melihat kehadiran mereka semua.
Setelah melepas pelukannya, pandangan mata Rose bersirobok dengan Victor. Seperti kakaknya itu sudah menunggu untuk ditatap olehnya. Victor mengedikkan dagunya ke samping. Seolah berbicara pada Rose untuk menemui mereka lebih dulu.
Ya! Mereka! Keluarga jauh… sangat jauh yang belum lama sampai. Keluarga yang rasanya teramat jauh seperti bukan keluarga.
Rose segera menolehkan kepalanya pada Ben. Ia meminta pendapat melalui tatapan matanya.
Pria itu pun tak segan untuk menganggukkan kepala seraya berkedip pelan. Tidak apa-apa! Ben akan selalu berada di sisinya.
Dua orang itu berangsur, menggeser langkah mereka ke samping. Sedangkan Baz, memilih untuk diam sejenak. Membiarkan dua pemeran utama untuk menemui sanak keluarganya. Lagipula, ia hanya berkepentingan pada Tuan Benneth saja, selaku besan. Yang dia akui! Tidak dengan istrinya itu.
“Ro-!
“Halo, Tuan! Kenalkan, namaku Mirabel! Aku adik dari Rose!” Sudah tidak tahan, Mirabel langsung menyelak ibunya untuk menyapa pria dengan topi koboi, yang ia rasa amat memukau dengan kharismanya.
Pernyataan percaya diri itu langsung dipandang sebal oleh Nyonya Mira. Dilirik tajam oleh Tuan Benneth, juga Eric, yang sedari tadi diam.
Bersambung…
Cewek gatel,, eh,, cewek gatel! Sekarang aja ngaku-ngaku sodaraan,,, dari dulu kemana aja, neng! Bukannya nganggep Rose cuma pembantu di rumah mereka, eh rumah Rose deh maksudnya…suka ngaku-ngaku deh mereka!
Yang udah baca season pertama, pasti tahu siapa aja mereka-mereka orang,,
Tetap dukung cerita aku ya manteman,,