
“Bagaimana ini, Mama? Bagaimana jika setelah ini, Ayah akan mengusir kita?” tanya Mirabel yang mulai khawatir dengan nasib dia dan ibunya.
Pasangan ibu dan anak itu tengah berdiri di pinggiran tangga di lantai dua. Berusaha memaksimalkan kinerja indera pendengaran mereka, agar bisa menguping pembicaraan para lelaki di lantai bawah.
“Jangan takut, Sayang! Kita tidak ikut campur untuk masalah yang terakhir kali. Jadi, kau tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini!” Nyonya Mira mencoba menenangkan putrinya.
Walau dalam hati ia juga gemetar. Namun, ia tetap harus jadi sosok ibu yang kuat di hadapan putrinya itu. Mereka tidak boleh terlihat bersalah sedikit pun. Karena memang, mereka tidak bersalah sama sekali.
Yang terjadi pada Rose tentang penculikannya hingga terbawa dan hampir dijual oleh sindikat perdagangan manusia, tidaklah bersangkutan dengan mereka sama sekali. Meski terdapat Tuan Rogh di dalamnya.
Nyonya Mira mencoba meyakinkan putrinya akan hal itu. Sebab, Tuan Benneth hanya mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rose di kapal. Ia tidak mengungkit masalah kejadian Rose tempo dulu.
“Ayahmu tidak mungkin mengusir kita. Tenang saja!” Nyonya Mira menyerukan keyakinannya pada Mirabel.
Tanpa memandang putrinya, karena ia terlalu fokus menatap ke bawah. Dimana pria-pria itu berkumpul di ruang tengah.
“Ku harap begitu!” angguk Mirabel dengan nada penuh harap.
Ia pun memiliki arah pandangan yang sama. Dengan tatapan yang sama dengan ibunya. Nanar dan tidak yakin jika mereka akan selamat. Namun keduanya hanya menyimpan keraguan ini dalam hati.
Ibu dan anak itu tidak ingin memperlihatkan kegelisahan di mata mereka masing-masing. Sebab mereka tidak ingin menjadi lemah, jika salah satu sudah menunjukkan risau yang mereka punya.
Selagi para pria itu berbincang serius, dengan fokus topik pada apa saja yang Rose lalui. Objek yang mereka bicarakan sedang duduk bersama Bella dan Bervan, di halaman belakang.
Rose tidak mau terlibat dalam pembicaraan, yang isinya adalah lukanya semua. Rose tidak ingin mengingat semua masa lalu yang sudah ia kubur dan larung jauh-jauh ke laut.
Jika mereka ingin membicarakannya lagi, silahkan!
Rose tidak akan melarang jika orang-orang itu akan mengatakan semua hal, yang akan membuat mata hati ayahnya terbuka. Silahkan! Tapi jangan libatkan ia di dalamnya!
Sebab, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia pun menginginka ayahnya itu benar-benar membuka mata. Tidak lagi terjebak dalam halusinasi yang kedua wanita itu buat.
Maka dari itu, Rose memilih untuk berbincang dengan kakak iparnya, Bella. Sambil bermain dengan Bervan.
“Kau tidak apa-apa?” Bella buka suara. Ia nampak khawatir dengan Rose yang lebih banyak diam dan melamun.
“Apa aku boleh berbohong?” tanya Rose balik sambil merekah senyumnya. Senyum yang dipaksakan.
“Terserah kau, saja!” sahut Bella tidak acuh.
Dia tahu bahwa adik iparnya itu sedang tidak baik-baik saja. Namun ia pun tidak dapat memaksanya untuk bicara. Bella ingin membiarkan Rose sendiri yang melepaskan gundah di hati.
Benar memang! Sesuai dengan tebakan Bella, jika Rose sedang tidak baik-baik saja saat ini. Mungkin mulutnya tidak menceritakan apapun mengenai masa lalunya. Tapi benaknya bercerita pada dirinya sendiri, tentang semua luka yang tertoreh di hatinya, sejak pertama kali ia dijual pada seorang tua bangka.
Semua kenangan pahit itu bergulir di dalam otaknya, meminta diingat, satu persatu. Mereka terus mendobrak pagar batas yang sudah Rose buat, agar dapat dengan mudah mencuri ketenangan yang selama ini sudah Rose bangun.
Dan semua hal menyakitkan itu pun menguasai sebagian dirinya. Rose melamun. Menatap lurus dengan pandangan kosong, serta wajah tak ekspresi. Saking sakit semua yang ia rasa, Rose sampai tidak tahu harus mempunyai air muka yang bagaimana. Seluruh bagian wajahnya terasa kebas, untuk ia mengekspresikan sesuatu.
“Tenang saja, Bella! Aku baik-baik saja!” Kalimat dengan suara rendah dan datar itu keluar dari mulut Rose, yang saat ini masih belum juga selesai dengan perasaannya sendiri.
Namun sebenarnya, pernyataan itu juga Rose gunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri. Bahwa semuanya sudah berlalu, dan mereka hanya perlu menyongsong hari baru.
“Kau memang harus baik-baik saja, Rose!” Bella pun seakan memiliki pemikiran yang sama. Meski tak terucap lewat mulut keduanya.
Bella cukup tahu apa saja yang sudah Rose alami, sejak dulu, sampai yang terakhir kali. Jadi… istri dari Victor itu sangat menginginkan kebahagiaan untuk adik iparnya. Setelah apa yang dia lalui.
“Bibi! Awas ada pesawat!” teriak Bervan sambil mengudarakan sebuah pesawat mainan dengan tangannya.
Ngung~!
Bibir anak kecil itu mengerucut sambil mengeluarkan dengungan bak suara pesawat terbang.
Anak kecil itu menghampiri ibu dan bibinya yang sedang duduk dikursi taman.
“Bibi! Ayo kita main! Dari tadi Bibi hanya melamun saja, dan tidak bermain bersamaku!” Bervan menunjukkan mode protesnya tetap di hadapan Rose.
Anak kecil itu berdiri tegap sambil melipat tangan di depan dada. Ia menunda menerbangkan pesawatnya lagi. Demi mengajak bibinya bermain.
“Kau, kan, masih memiliki bibi satu lagi! Kenapa tidak mengajaknya bermain?” Bella sengaja meledek putranya sambil menahan senyum.
“Tidak!” tegas si bocah. Sejurus kemudian, Bervan menolak mengakui. “Aku tidak memiliki bibi selain Bibi Rose! Titik!”
Anak kecil itu menaikkan lipatan tangannya di depan dada beserta dagunya. Ini sungguh sebuah peringatan dari Bervan. Bahwa dia tidak menerima wanita itu sebagai bibinya.
“Ha… ha… ha…!” Tawa lepas akhirnya keluar dari mulut Rose yang sejak tadi rapat.
Bella memandang sendu pada wajah itu. Wajah yang akhirnya bisa menampakkan ekspresi ceria.
“Jadi, ini alasan kau cemberut saat Bibi baru datang tadi?” tanya Rose masih tertawa.
“Iya!” Anak kecil itu lalu mendudukkan diri, memaksa untuk bisa berposisi di tengah ibu dan bibinya.
“Dari kemarin, dia meminta Bervan memanggilnya bibi. Katanya, dia juga bibi Bervan, sama seperti Bibi Rose.” Anak kecil itu mulai bercerita. Berkeluh kesah mengenai bagaimana perasaannya sejak pertama kali bertemu dengan Mirabel.
“Lalu?” tanya Rose. Dia pun sampai menelengkan kepalanya, penasaran dengan kelanjutan kisah Bervan dan saudari tirinya.
Bella yang sudah tahu pun memilih diam, dan membiarkan anaknya bercerita. Mengadu pada bibinya itu.
“Wajahnya jahat seperti penyihir! Bervan tidak mau punya bibi orang jahat!” Bibir anak kecil itu merengut lagi ketika menceritakan tentang Mirabel lagi.
Ya, Tuhan! Rose ingin sekali tertawa! Cara Bervan menggambarkan Mirabel sangat tepat, menurutnya.
Bahkan anak kecil saja bisa menilai hanya dengan melihat wajahnya. Lalu dimana mata ayahnya yang merupakan seseorang yang sudah dewasa, malah sudah lebih dulu menikmati asam garam kehidupan.
Rose tidak tahu bagaimana cara ayahnay itu menilai sosok ibu dan saudara tirinya. Apakah karena sudah berumur, makanya dia jadi rabun untuk membedakan mana yang baik dan tidak baik di hadapannya?!
Entahlah! Semoga saja, setelah mendengarkan cerita dari para lelaki, ayahnya itu mau membuka hati dan pikirannya. Bahwa benalu-benalu itu harus dibuang jauh-jauh!
Benar! Di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah, para lelaki sedang memasang wajah tegang dan serius. Terutama Tuan Benneth yang wajahnya sudah terlihat frustasi. Padahal, belum semua cerita ia dengar.
Victor menyerahkan kepada Ben untuk menceritakan bagaimana Rose bisa sampai di sini. Karena memang dia yang pertama kali bertemu dengan adiknya. Ditambah informasi yang Ben dapatkan dari Ken yang menerima Rose bekerja di villanya kala itu. Juga dari cerita Rose yang pernah ia dengar.
Kisal pilu yang tak semua wanita, atau bahkan semua orang sekali pun bisa bertahan pada situasi itu. Dijual kepada pria tua seumuran ayahnya, tidak dibela oleh ayahnya sendiri, hampir diperkosa, hingga Rose melarikan diri dalam keadaan kacau.
Rasanya belum cukup pisau tajam yang sudah menusuk jantung Tuan Benneth. Ia masih harus mendengar bagaimana putrinya itu naik dan bersembunyi di kapal penangkap ikan, demi melarikan diri sejauh mungkin.
Serta… yang paling menyakitkan adalah, ketika ia mendengar Rose kemudian menceburkan diri ke air laut yang dingin demi mencapai daratan. Perjuangan seorang putus asa yang teramat sangat keras. Padahal saat itu tubuhnya sudah sangat lemah.
Hingga salah satu pegawai di villa kenalan Ben menemukannya dan mengajak Rose untuk bekerja di sana.
Tuan Benneth jadi tahu alasan mengapa putri bungsunya itu menghilang selama ini. Hal itu saja sudah menyayat-nyayat hatinya. Dia menyesal karena saat itu malah memasrahkan Rose membayar utang yang istrinya yang bernilai fantastis baginya.
Harusnya memang bukan Rose yang menanggung semuanya. Karena itu bukan kesalahannya sama sekali. Belum lagi Eric menambahkan jika saat itu ayahnya berniat menjadikan Rose, istri kelima.
Ini sungguh kejam sekali! Dan Tuan Benneth makin menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang diderita oleh putrinya itu.
“Sebenarnya aku tidak ingin Ayah mengetahui semua ini, karena tidak akan merubah apa pun pada apa yang sudah Rose lalui. Tapi Ayah tetap harus membuka mata, wanita yang Ayah bawa pulang ke rumah, bukan sesuatu yang membuat Rose bahagia.”
“Mereka malah menjadikan Rose sebagai pembantu di rumahnya sendiri. Apa itu pantas? Sedangkan mereka sibuk menghabiskan uang Ayah!” Victor akhirnya buka suara karena dia pun terlalu emosional saat ini.
“Dan sepertinya, aku tidak perlu menjelaskan kesalahan besar Ayah, sampai Rose menghilang, kan?!” sindir Victor dengan senyum sinis.
Ia tak habis pikir. Bagaimana seorang ayah yang harusnya menjaga putri kandungnya sendiri, malah rela mengorbankannya. Heh!
Kakak dari Rose itu ingin maju karena terprovokasi dengan teriakan ayahnya. Namun Ben segera menahan tubuh itu dari belakang. Pria bertopi koboi itu mencegah, agar Victor tidak melakukan kesalahan yang akan ia sesali. Bagaimana pun juga, dia tetaplah ayah mereka.
“Ayah tahu Ayah bersalah! Hh… sangat-sangat bersalah!” Tuan Benneth lantas menundukkan kepalanya dalam.
Dipejamkan matanya sambil merasai segala bentuk penyesalan juga rasa bersalah. Sakit yang membuatnya merasa frustasi karena tidak bisa disembuhkan. Nyeri yang menusuk sampai ke ulu hati.
Bahunya naik turun samar. Pria paruh baya itu menahan tangisnya. Menahan perasaan sedihnya. Niatnya memberikan sebuah keluarga yang utuh lagi kepada anak-anaknya, ternyata adalah sebuah kesalahan besar yang pernah ia buat.
Ia sampai tidak peduli dengan putra sulungnya yang pergi. Dan tidak tahu jika putranya itu mengidap penyakit keras. Lalu, membiarkan putri bungsunya terluka dan menanggung semua hal menyakitkan itu.
“Maafkan, Ayah! Maafkan Ayah, Victor!” rintihnya dengan suara begitu kesakitan. Sakit karena perasaan bersalahnya yang begitu besar.
“Ayah tidak perlu minta maaf padaku. Minta maaf pada Rose. Tapi…”
“Jangan buru-buru minta maaf, karena ceritanya belum selesai. Ayah harus mendengarnya sampai habis.” Victor lalu melirik Eric dan Ben. Memberi isyarat untuk menceritakan sisanya. Kejadian bagaimana Rose bisa sampai bertemu dengan Tuan Rogh lagi di kapal.
Kedua orang itu lantas memulai kisah yang mereka tahu secara bergantian. Sejak pertama kali Rose kabur dari rumah untuk menyusul Ben, sampai wanita itu dibawa oleh sekelompok orang.
Dan berakhir di kapal, yang ternyata merupakan sindikat perdagangan manusia. Hingga akhirnya, Eric menemukannya. Karena bos dari orang-orang yang menangkap Rose adalah ayahnya sendiri, Tuan Rogh.
Anak buah Tuan Rogh memang mempersembahkan Rose kepada bosnya itu. Namun semua jadi terkendali karena Eric berhasil menyelamatkannya. Meski Rose sempat tak sadarkan diri begitu mereka sampai di pelabuhan, kala mencoba pergi. Dan pria itu pun membawa Rose ke rumah sakit.
“Karena kejadian hampir diperkosa waktu itu, putri Anda mengalami sebuah trauma. Dan ia bertemu dengan pemicunya saat berada di kapal. Makanya, saat selamat waktu itu, traumanya kambuh lagi.”
Eric tahu bahwa penyebab Rose memiliki trauma adalah karena ayahnya sendiri. Maka dia tidak berkata lagi dan memilih diam. Sambil meresapi rasa bersalah yang ia miliki sendiri. Mewakili ayahnya yang sudah tidak waras.
“Bolehkah aku bicara?” sela Baz di antara keheningan yang membentang.
Beberapa pasang mata pun menatap ke arahnya. Dengan ekspresi wajah masing-masing. Yang terbalut emosional karena satu orang. Dan Rose adalah alasannya.
Dug~!
Baz lantas melutut di hadapan semua orang. Diletakkan kepalan tangannya di atas paha sambil menundukkan kepala. Ia menekan perasaan bersalah yang terkumpul sejak tadi dengan menekan kepalan tangan itu ke paha lebarnya.
“Aku belum meminta maaf secara resmi kepada semua orang. Terutama pada Rose yang sudah menanggung kesalahan yang sudah ku perbuat,” ucap pria itu tulus masih dengan menundukkan kepalanya.
Semuanya henyak. Eric dan Tuan Benneth yang tidak tahu pun nampak penasaran. Ada apa sampai orang itu berlutut kepada mereka semua?!
Sedang Ben dan Victor yang sudah menerka pun menatap nanar pada orang itu. Campur aduk amarah dan rasa bersalah mengembang di dada, dan meruncing di pandangan mata mereka.
Akhirnya Rose mau dibujuk untuk bergabung dengan semua orang di dalam. Ia, Bella dan Bervan yang baru saja masuk pun, disajikan pemandangan ini. Ketiganya pun serempak berhenti melangkah ketika mereka sampai di ambang pintu, yang menghubungkan ke halaman belakang.
Mereka tak mengeluarkan suara sama sekali. Seperti ikut henyak dalam kesunyian yang sudah tercipta sebelumnya di ruangan itu. Hanya deru napas yang terdengar dari ketiganya. Itu pun sangat halus, seolah mereka menjadi patung hidup saat ini.
Dan lagi, pria-pria itu seperti terlalu larut dalam pembicaraan serius mereka. Sampai tak menyadari kehadiran Rose, Bella dan Bervan.
“Aku minta maaf pada kalian semua, karena penderitaan yang Rose alami adalah karena perbuatanku.” Baz mengakuinya dengan kuat hati.
Eric dan Tuan Benneth kompak mengernyit. Mereka belum mengerti apa yang Baz bicarakan saat ini.
“Istrimu, Tuan! Ayahmu, Eric!” Bola mata Baz bergulir pada mereka bergantian. Lalu melanjutkan pengakuannya. “Aku yang mengaturnya! Aku yang merancang kehidupan bagi Rose supaya dia hidup menderita waktu itu.”
Baz makin dalam menundukkan kepala. Sampai tubuhnya condong ke depan. Perasaan bersalah yang dulu sudah bisa ia kendalikan, nyatanya sekarang memberontak lagi.
“Apa maksudnya?” desah Tuan Benneth makin tak mengerti dengan semua ini.
“Dulu aku menaruh dendam pada putramu. Karena aku mengira, dia yang telah membuat ayahku tiada. Dan lebih parahnya, dia malah menghamili adikku.”
Tuan Benneth langsung melempatkan tatapannya pada Victor, seakan bertanya. Apa itu benar?
Putra sulungnya itu hanya menatapnya sekilas. Ayahnya itu memang tidak tahu apa pun mengenai anak-anaknya. Victor lebih memilih memandang tajam ke arah Baz lagi. Hingga ayahnya juga mengikuti arah pandangannya dengan tidak berdaya, karena merasa diacuhkan.
“Ternyata semua itu hanya salah paham. Justru Victor dijebak dan dikambing-hitamkan untuk semua masalah yang ada. Termasuk dengan masalah Bella. Yang ternyata saat itu, pelaku yang sebenarnya ingin menjebak adikku.”
“Orang itu berniat sekali membuatku membenci Victor. Sehingga aku lupa untuk mencari kebenarannya. Dan terjebak dalam misi balas dendam yang salah.” Baz mengakhiri penjelasan dan pengakuannya.
“Maka dari itu, tolong maafkan semua perbuatanku di masa lalu!” Kini ia benar-benar meminta pengampunan dari semua orang.
“Angkat kepalamu!” perintah Victor kemudian.
Meski suaranya datar, namun, mengingat semua kejadian itu kembali, ia jadi merasakan marah yang mendesak keluar. Siapa yang bisa terima jika adiknya harus menderita sampai bertahun-tahun lamanya?!
Baz lantas mengangkat kepalanya dengan pelan dan ragu. Ketika dia telah benar-benar mengangkat kepalanya, pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan seseorang.
“Rose!” gumamnya pelan.
Eric dan Tuan Benneth pun mengalihkan pandangan ke arah Baz memandang. Tapi sepertinya, ada dua pria yang tidak peduli. Victor dan Ben.
“Bolehkah aku memukulmu?” tanya Victor dingin.
Bugh~!
Tapi pria itu tidak memerlukan sebuah jawaban. Tinjunya langsung melesat ke wajah tampan Baz tanpa aba-aba.
“Kakak!”
“Kakak!”
Dua wanita berseru bersamaan.
“Aku pun perlu menghajarmu sekali!”
Bugh~!
Kini giliran pipi kanannya yang terkena bogem mentah.
“Ben! Apa yang kau lakukan?” seru Rose seraya berjalan ke sana.
Bella dan Bervan pun buru-buru menghampiri, untuk menenangkan Victor dan juga melihat kondisi Baz saat ini.
“Aku belum memberimu pelajaran atas tindakanmu yang menculik Rose yang hampir saja mengalami hal buruk itu lagi. Kau tidak tahu, kan, bagaimana ketakutannya saat anak buahmu hampir memperkosanya?!” bentak Ben penuh emosi. Karena sebagian besar penderitaan Rose, dia yang menyaksikannya secara langsung.
“Ben! Sudah cukup!” pinta Rose sambil memeluk kekasihnya, agar tak lepas kendali.
“Tidak apa-apa, Rose! Aku memang pantas mendapatkannya!” ujar Baz seraya mengedip pelan. Dengan senyum menenangkan menggunakan bibirnya yang berdarah di kedua sudutnya.
“Aku hanya ingin berpesan kepadamu, Tuan!” Lantas Baz mengalihkan pandangannya pada Tuan Benneth.
“Tinggalkan istri dan putri sambungmu itu! Mereka hanya menginginkan uangmu!”
Kisruh di bawah sana membuat dua wanita di lantai atas menjadi panik.
“Mama, bagaimana ini?”
Bersambung…
Map ya pemirsah ini bab panjang banget,, ada lebih dari 2500 kata karena aku ga sempet ngedit, hehe
Masalah keluarga di selesein dulu ya, baru lanjut ke konflik selanjutnya
Terima kasih