Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Zanna Bakery



Benar, apabila, nama Rose sudah setenar itu. Meskipun, ia sudah termasuk dalam keluarga Harimau Putih, saat ini, Rose tidak lagi, tinggal di markas.


Ia memilih untuk hijrah ke suatu daerah pinggir pantai, tempat nostalgianya dulu, ketika pertama kali merasakan kehangatan bibir seorang Benny Callary.


Tempat di mana Ben pernah mengajaknya, ketika ia baru saja mengalami kejadian penculikan, tempo dulu.


Sebuah kehidupan layaknya seorang ibu ia jalani, demi perkembangan sang buah hati. Kehidupan keras di dalam markas, darah yang bisa dilihat kapan saja, Rose tidak ingin masa-masa emas anaknya, ternodai oleh hal itu.


Ia ingin, anaknya tumbuh seperti anak-anak yang lain. Layaknya seorang anak, yang butuh bermain dan belajar, bersama dengan sebayanya.


Walau, sang ibu, tidak benar-benar meninggalkan dunia yang sudah membuatnya, menjadi lebih kuat. Kadang kala, Rose ikut melakukan sebuah misi.


Dan terlebih, dalam kesehariannya, Rose menjalankan apa yang menjadi reputasinya saat ini. Yaitu, membantu mereka yang tidak mampu, juga keadilan bagi wanita, yang sering kali mendapatkan pelecehan.


Dan… satu orang di dunia ini, selalu mengekori ke mana pun ia pergi.


Baz! Pria itu menetap di sini, bukan karena Harimau Putih yang kehilangan sosok pemimpin. Meskipun begitu, ia tetap membantu menjalankan misi. Yang kadang kala, sulit untuk ditangani.


Akan tetapi, alasan besar Baz terus berada di sini adalah, Rose. Jadi, ke mana pun Rose melangkah, meski ke ujung dunia sekali pun, maka Baz akan mengikutinya.


Maka, ketika Rose memutuskan untuk meninggalkan markas, Baz pun melakukan hal yang sama.


Zanna Bakery,


Sebuah toko pastry, yang Rose kelola dengan tangannya sendiri. Berdiri tak jauh dari tepi pantai itu, Zanna yang artinya adalah hadiah dari Tuhan. Mengambil dari nama tengah sang anak yaitu, Berly Zanna Callary.


Sedangkan, Berly sendiri mempunyai arti, mutiara hijau yang indah di lautan. Berly Zanna, berarti mutiara hijau indah di lautan yang merupakan hadiah dari Tuhan. Bagi Rose, tentunya.


Wanita itu pun berharap, hal itu berlaku bagi Ben, nanti. Jika pria itu kembali. Sebab, sampai saat ini, Rose tak pernah berhenti berharap dan menanti. Ia masih menginginkan, kekasih hatinya itu kembali.


Ya! Rose tidak mungkin melupakan nama belakang sang kekasih, ayah dari anaknya. Bahkan, dia sendiri pun menggunakan nama yang sama.


Sedangkan, toko pastry tersebut adalah, sebuah usaha yang ia bangun dari passion yang Rose miliki. Dari kesenangannya membuat berbagai macam kue dan cake.


Selebihnya, ada beberapa ibu rumah tangga yang menitipkan kue buatannya di toko pastry yang Rose punya.


Kamuflase manis di antara rasa-rasa manis dan legit makanan itu, dengan penampilan Rose yang terkadang garang. Siapa yang menyangka, jika dia adalah pemilik, sekaligus pembuat sebagian makanan manis di sana.


Dan yang menjadi unggulan di sana, tentu saja, strawberry cheese cake. Dengan cita rasa khas, resep dari Ben, yang ia pertahankan, hingga saat ini.


Adanya Baz di sana, tentu saja membantu dan menjaga ibu dan anak itu. Sesuai amanat dari Victor, begitu juga dengan janjinya pada diri sendiri.


Ia juga mempunyai tugas lainnya, yaitu, menjadi pelatih bagi Rose.


Wanita itu, sampai saat ini, tidak berhenti berlatih. Olahraga, bela diri atau pun menembak. Kemampuannya yang sekarang, ia dapatkan dari gigih dan giatnya berlatih. Serta pelatihan dari Baz, yang tak kalah disiplin, dengan cara didik kekasihnya, tempo dulu.


Klingting~!


Lonceng di atas pintu kaca toko itu berbunyi, kala ada seseorang yang membukanya. Entah itu dari arah dalam, atau pun dari arah luar.


Menguarkan suara nyaring yang otomatis, memanggil semua telinga untuk menangkap suara tersebut, meski si empunya indera pendengaran tersebut sedang sibuk melakukan sesuatu.


“Selamat datang!” sapa Rose dengan ramah, saat dilihatnya, seorang ibu masuk membawa tas jinjing.


Kurva di bibirnya meningkat, setelah menatap dan mengenali siapa yang datang.


“Ibu Reyhan!” Kembali, ia menyapa dengan riang.


Laporan penjualan yang sedang ia kerjakan pun, ditinggalkan. Rose lantas mengambil langkah ringan menuju seorang wanita berkepala empat tersebut.


Dia merupakan, salah satu penyuplai makanan di toko pastry itu. Yang juga, adalah salah satu tetangganya yang paling ramah dan baik hati.


“Kau sedang sibuk?” tanyanya sembari terus maju, menghampiri keberadaan si empunya toko, yang tadinya berdiam diri, di dalam counter.


“Tidak juga!” Dikedikkan Rose sebelah bahunya dengan gaya santai.


Ketika keluar dari counter, nampaklah sosok Rose yang selalu, ketika santai seperti ini, pasti akan mengikat jaket kulitnya di pinggang.


“Padahal, kau bisa menggantungnya, kan?” Ibu Reyhan mengomentari seraya menarik sedikit jaket hitam yang melingkari pinggang Rose itu.


“Dia tidak mau jauh dariku!” timpal Rose seraya tersenyum.


“Seperti Tuan Baz itu, ya?” goda Ibu Reyhan. Disenggol bahu si wanita cantik sambil mengerlingkan mata.


Benar saja, siapa yang tidak mengenal seorang pria matang dan tampan di daerah itu. Sungguh pun, tidak cocok sekali berada di daerah itu. Pun, termasuk dengan Rose sendiri.


Rupa dan paras mereka terlalu kontras untuk berada di wilayah pantai, yang mayoritas berkulit sawo matang menjelang hitam.


Juga, status Baz yang tidak jelas, namun selalu tinggal bersama dengan Rose dan anaknya. Warga sekitar, sampai mengira, jika Baz adalah ayah dari Berly.


Namun Rose menjelaskan, jika Baz adalah kerabatnya. Dan memang, untuk menghemat biaya, Rose memilih bangunan yang cukup besar. Di mana bagian atasnya, bisa ia huni sebagai tempat tinggal.


Rose dan Berly menempati kamar di atas, sementara Baz, mempunyai kamarnya sendiri di bawah. Di halaman belakang, yang tidak terjangkau mata, para pengunjung. Jadi, tidak banyak yang tahu, jika sebenarnya, mereka tinggal secara terpisah.


“Jangan menggodaku terus! Aku masih menunggunya kembali.” Tatapannya berubah sendu. Serta, dua sudut bibir yang ia tarik tipis.


“Rose….” Ibu Reyhan memohon dengan seruannya itu.


Khusus untuk dirinya, memang tahu cerita di balik seorang Berly. Rose nyaman untuk sekadar bercerita, atau mencurahkan isi hatinya, kepadanya. Di kala wanita berambut pirang itu, sedang merindukan sosok kekasih hatinya, yang tak lain adalah Ben.


“Tapi ini sudah hampir 3 tahun! Belum ada informasi atau tanda bahwa dia akan kembali, kan?” Dipegangi Ibu Reyhan lengan Rose dan sedikit mengguncangnya. Agar, ibu satu anak itu mau, memikirkan tentang dirinya saat ini, juga Berly yang membutuhkan sosok seorang ayah. Secara fisik, tidak hanya dalam dongeng Rose saja.


“Pikirkanlah ketulusannya, Rose!” Ibu Reyhan menurunkan pegangannya pada lengan Rose. Lalu memegang jemari lentik Rose dan menggenggamnya.


“Toloooong!!! Ada jambret! Tolong!” teriakan dari luar pun menyelematkan Rose, dari situasi ini.


Jadi, ia tidak perlu menjawab apa pun. Dan lantas, tersenyum lebar.


“Sepertinya, ada yang membutuhkan bantuan!” Melepaskan genggaman tangan Ibu Reyhan dengan tidak memudarkan senyuman itu.


Ibu Reyhan hanya bisa menggelengkan kepala dengan tidak berdaya, kala Rose sudah melesat ke arah pintu.


Klingting~!


Bahkan, dengan cepat sudah menaiki sepeda motornya yang berada di luar. Begitu suara pintu terdengar dibuka olehnya.


“Ekh… kau datang!” sapa Baz yang baru saja keluar dari arah dapur. Celemek yang membalut tubuh gagahnya pun ia lepas, sembari berjalan menghampiri.


“Kebetulan sekali, pie susumu habis!” sambung Baz seraya mencari-cari dengan pandangannya.


“Dia keluar!” Ibu Reyhan menanggapi, sebab mengetahui siapa yang Baz cari. Dan itu pasti Rose.


“Oh, pantas saja! Tadi, sepertinya, dia bilang akan mengerjakan laporan, sambil berjaga di depan.”


“Yah… begitu aku datang memang seperti itu!” Dihela Ibu Reyhan napas melalui mulutnya, seraya mengedikkan kedua bahu.


“Lalu?” tanya Baz singkat. Namun tidak juga terlalu penasaran.


“Seperti biasa… dia sedang jadi jagoan!” Sambil melirik ke samping. Ke arah luar. Seperti hal itu adalah sesuatu yang biasa terjadi baginya. Bagi mereka semua, mungkin.


“Hee….” Baz tertawa kecil. Meskipun demikian, ia tidak berniat menyusul Rose sama sekali. “Sebentar lagi, dia juga akan kembali!”


Benar juga! Untuk apa pula ia terlalu mengkhawatirkan wanita itu, jika pria yang satu ini saja, malah bersikap tidak acuh dan seolah begitu memercayai kemampuan, orang yang dia khawatirkan.


“Kalau begitu, ini!” Menyerahkan tas jinjing miliknya pada Baz. Ibu Reyhan lantas berpamitan. “Ada 20 kotak pie susu kecil. Yang besar, aku akan mengantarnya nanti sore. Sekalian mengambil hasil penjualan sebelumnya. Aku pulang dulu! Sampaikan salamku pada Rose!”


“Oke!” angguk Baz seraya melihat isi dari tas, yang sekarang ia pegang.


Pria itu pun, mengangkat kepalanya, saat Ibu Reyhan sudah sampai di dekat pintu. Dan mendapati jika, wanita itu sedang menatap ke arahnya.


“Ada apa?” tanyanya. Agak heran dengan arti tatapan ambigu itu.


“Tidak ada! Hanya saja…,” Ibu Reyhan pun nampak ragu untuk meneruskan ucapannya. “Ah, sudahlah! Aku pergi!” Putusnya seraya melambaikan tangan dan membuka pintu toko tersebut.


Klingting~!


Sementara Baz nampak tidak acuh dengan sikap anehnya. Lalu, lebih memilih untuk men-display kue-kue itu.


Ibu Reyhan, nampak resah dengan apa yang hendak dikatakannya sendiri. Namun tetap saja, sambil berjalan ke arah rumahnya di dalam salah satu gang, ia pun berharap, jika, suatu saat nanti, pria baik itu, akan menemukan jodoh untuknya sendiri.


Walaupun, tidak ada yang takdir apa yang akan mereka terima nanti, di masa depan.


“Aakhh…,” pekiknya kaget, saat ia hendak berbelok dan memasuki gang rumahnya.


Dari dalam gang, Rose tengah menjinijng kerah belakang seorang pria muda, yang sudah babak belur seluruh wajahnya.


Sedangkan, tidak ada hal apapun yang terjadi pada wanita itu. Ia bahkan, mengangkat bagian belakang pakaian pemuda itu, dengan gagahnya. Seolah itu ringan sama sekali baginya. Padahal, jika dilihat-lihat, mereka memiliki postur tubuh yang sama.


Lalu disusul, di belakang kedua orang itu, seorang wanita muda yang sedang memeluk tas dengan sangat erat.


“Terima kasih, Nona!” ucap si wanita muda ketika mereka semua sudah berada di luar gang, di pinggir jalan.


“Jangan sungkan, begitu!” balas Rose dengan nada lembut.


“Dan untuk kau…,” Didekatkan wajahnya ke telinga si pemuda babak belur.


“Jika, sampai aku melihat wajahmu di daerah ini lagi, jangan harap, aku masih akan mengampuni nyawamu!” bisiknya sambil merapatkan gigi menahan geram.


Lalu, ia pun melepaskan cengkeramannya pada si pemuda dengan memberi dorongan. Sehingga, pemuda yang sudah konyol wajahnya itu, hampir saja tersungkur ke jalanan.


Padahal saat itu, sebuah mobil melaju di hadapannya. Rose memang sengaja melakukan hal itu. Untuk menginjak mental si pemuda, dengan ketakutan yang teramat sangat.


Tapi, Rose masih punya hati nurani. Wanita itu menarik kerah baju si pemuda. Tidak jadi tertabrak mobil, justru ia harus terjengkang ke belakang. Ke aspal pinggir jalan.


Ibu Reyhan, hanya dapat menggelengkan kepala berulang kali. Speechless. Ia sudah tidak dapat berkomentar apapun, mengenai tindakan yang biasa Rose lakukan itu. Meski, terkadang kejam, menurutnya.


Dak~!


“Pergi!” usir Rose pada si pemuda, sambil mengentak kakinya ke tanah. Memberikan wajah tirani yang mengancam.


“I- iya! I- iya!” Orang itu pun mengambil seribu langkah kemudian, setelah berusaha berdiri.


Debu bergumul, berterbangan mengganggu napas mereka yang masih ada di sana. Ternyata, dia benar-benar langsung berlari terbirit-birit, tanpa memandang ke belakang lagi.


“Kau…,” Dialihkan Rose pandangannya ke arah wanita yang barusan ia tolong.


“Lanjutkan perjalananmu!” ucapnya. Dengan nada lembut, yang jauh sekali dari bagaimana dia berbicara dengan si pemuda tadi.


Ch! Ibu Reyhan berdecak. Jika dengan wanita, pasti bahasanya selalu lemah lembut seperti itu!


Bersambung…


mampir di ceritaku yang baru ya menteman,, di apk FIzzo, bertajuk Enemy Scandal, di sana baca gratis tis sampai tamat