Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Yang semestinya kalian terima



Meskipun sudah lama tidak berkecimpung dalam dunia seperti


itu lagi, namun Victor belum kehilangan aura menekannya. Jika masih ada Victor,


mungkin bukan Relly yang menjadi orang nomor dua di markas itu, mungkin saja


Victor yang akan menjadi pendamping Ben, memimpin dan mengurus hal di sana.


Dalam segi ketangkasan, kekuatan dan cakapnya seorang


pemimpin, Relly masih kalah jauh darinya. Victor adalah salah satu yang paling


diandalkan pemimpin sebelumnya selain Ben. Semua orang pun mengakui hal itu.


Relly hanya menang otak dengan Victor. Semua pun mengakui


kecerdasan yang Relly miliki sebenarnya di atas rata-rata. Hanya… pria itu


agak… ya begitulah!


Sayangnya, Victor memiliki pilihannya sendiri. Apa lagi


setelah mengetahui sakit keras yang dimilikinya waktu itu. Victor memilih untuk


menjalani sisa kehidupannya sebagai manusia normal.


Terlebih setelah kehadiran Bella dan Bervan sebagai sinar di


hidupnya yang suram. Victor makin kuat prinsip untuk menjauh dari dunia hitam


dan kelam ini, demi keluarga kecilnya.


Terserah jika Rose, adiknya itu memilih jalan seperti ini.


Meski berat, Victor sadar bahwa ia tidak bisa memaksakan kehendak pada adiknya


yang sudah dewasa itu. Rose sudah bisa menentukan jalannya sendiri, serta


bertanggung jawab dengan apa yang ia pilih.


Sebagai kakak, Victor akan selalu mendukungnya. Serta


membantu jika adiknya itu kesulitan. Ya, seperti sekarang ini!


“Terima kasih? Apa maksudnya?” Dilirik Rose, Relly dengan


sedikit kerut di alis. Mungkinkah, Relly yang mengundang kakaknya datang ke sini?


“Ya, benar, Nona! Saya yang menghubungi Tuan Victor untuk


datang ke sini!” Seakan menjawab pertanyaan di kalbu Rose yang bingung.


“Jadi kau pikir aku tidak bisa mengendalikan situasi?”


sungut Rose dengan wajah galak.


Relly, pria itu langsung memutar tubuh dan bersembunyi di


balik punggung Anggie, yang sedari tadi diam. Dia mengintip sedikit dari balik


pucuk kepala wanita seksi itu, sambil berpegangan pada kedua bahunya.


“Relly! Kau ini apa-apaan!” Ditepuk Anggie dua-duanya tangan


Relly. Protes karena tidak mau dijadikan tameng.


“Bukan begitu, Nona!” takut-takut Relly menyahuti. Nona Rose


sejak kapan jadi galak dan menakutkan begini?!


“Lalu?” Masih bersungut-sungut, bahkan sampai mendengkus bak


kerbau marah.


“Aku hanya bermaksud membantu. Membawa bukti nyata bahwa


Nona bukanlah seperti apa yang mereka katakan. Nona lihat sendiri, kan! Mulut


mereka tidak mau berhenti bicara meski sudah tersudut. Jadi ku pikir, sebaiknya


aku menyiapkan sesuatu untuk membungkam mulut mereka!” Agak dimiringkan


kepalanya saat menjelaskan panjang lebar. Namun setelah itu, dia bersembunyi


kembali di belakang Anggie.


Victor hendak menanggapi, tapi Ben sudah membuka suaranya


terlebih dahulu. Pria itu kalah cepat. Dan lagi, sosok Ben memang selalu


mendominasi. Dikatupkan Victor lagi mulutnya rapat-rapat.


“Sudah, ya!” Usapan kepala serta kata lembut dari mulut tuan


seramnya pun membuat Rose urung untuk memarahi Relly kembali.


Suara dalam dan tenang Ben memang mampu menghipnotisnya


untuk selalu menurut. Plus belaian lembut di kepala yang menenangkan emosinya


barusan.


“Ayo, kita ke sana!” ajak Ben lalu pada semua orang.


Kedua tangannya merentang, menghela Rose di sisi kanan,


serta Victor di sisi kiri. Lalu menyusul Bella dan Bervan yang masih manyun di


belakang, bersama Relly dan Anggie.


“Dasar pengecut!” sindir Anggie seraya berbisik.


Ditanggapi Relly hanya dengan mengedikkan kedua bahu, plus


senyum lebar yang menyebalkan. Sampai Anggie tak mampu berkata-kata lagi, untuk


menanggapi pria tidak tahu malu dan bodoh itu.


“Paman!” Sambil terus berjalan, Bervan menarik ujung jaket


Relly.


“Ada apa?” Relly pun menurunkan pandangan.


Tangan Bervan melambai, meminta Relly untuk menurunkan juga


posisi tubuhnya. Seperti ada hal rahasia yang ingin anak kecil itu sampaikan.


mulut Bervan.


“Bibi itu kekasih Paman, ya?” bisik anak kecil itu tepat di


telinganya. Matanya melirik ke arah Anggie di sebelah Relly.


Relly terkekeh geli. Bukan karena suara Bervan yang begitu


halus membelai telinganya, namun karena pertanyaan yang anak kecil itu ajukan.


Sungguh di luar dugaan!


Pria itu tidak menjawab dengan kata-katanya. Relly hanya


mengedipkan sebelah mata sebagai jawaban. Ambigu sebenarnya, namun bagi Bervan,


hal itu seakan mengiyakan.


Mulut anak kecil itu membulat, ber’oh ria sambil beberapa


kali menganggukkan kepala.


Karena Bervan pikir, sikap bibi itu agak mirip dengan sikap


Bibi Rose ketika sedang bersama Paman seramnya. Kadang baik, kadang galak,


kadang lembut dan sangat perhatian.


Tersenyum samar pria itu melihat kesimpulan yang Bervan


ambil. Terserah saja, ia tak peduli. Hanya merasa senang saja, menggoda


rekannya yang seksi itu.


Rombongan itu sudah sampai di atas panggung. Sebagai pihak


luar, Relly dan Anggie cukup sadar diri dengan menyingkir dari sana. Keduanya


berdiri di sisi panggung agak ke belakang. Memberikan ruang dan kesempatan


untuk satu keluarga itu memperkenalkan diri kepada khalayak ramai.


Ben belum banyak bicara. Malahan, ia belum bicara lagi


setelah menunjukkan eksistensinya ketika pertama kali datang. Pria bertopi


koboi itu cukup mengapresiai asistennya atas inisiatif yang dia ambil.


Dengan mengundang Victor, keinginannya yang tertunda untuk


memperkenalkan siapa Rose yang sebenarnya bisa ia laksanakan sekarang. Satu


persatu masalah ini harus ia urai, supaya wanitanya tidak disalah-pahami lagi.


Saat ini, Ben memang berada paling depan sendirian. Meski


Rose berdiri agak ke belakang, namun pegangan tangannya tak ia lepaskan. Sejak


berjalan menuju panggung ini, Ben tak ingin pegangan tangannya dengan Rose


terlepas. Pun wanita itu juga melakukan hal yang sama. Seolah mereka tidak mau


terpisah lagi.


Di sisi Rose, ada Victor, Bella serta Bervan yang berdiri


mantap di tengah ayah dan ibunya. Direngkuh Bervan kedua tangan ibunya di depan


dada. Dengan posesifnya, dengan begitu erat tak ingin ia lepaskan.


Bervan sudah tidak asing lagi dengan pemandangan orang


terluka. Karena Paman Baz-nya juga memiliki banyak anak buah yang sering kali


datang dalam keadaan yang sama, seperti apa yang ia lihat saat ini. Meski anak


kecil itu tidak mengetahui apa yang baru saja mereka lakukan.


Meski tidak terlalu asing, tapi di depan matanya saat ini,


ada terlalu banyak orang, sehingga anak kecil itu merasa kurang nyaman. Makanya


dia berpegangan erat pada ibunya.


Pria bertopi koboi itu meninggikan stand microphone agar


mencapai ke mulutnya. Agar pas suara yang akan dikeluarkan ketika dia


berbicara.


Lantas ia sapukan pandangan pada semua anak buahnya di bawah


sana. Ditatapinya satu persatu, dari yang masih bisa berwajah tenang, sampai


yang sudah pias dan gemetar. Pria itu menarik napasnya panjang sebelum


berbicara.


“Aku minta maaf atas apa yang terjadi kemarin malam!” Ben


bersuara dengan tenang, pun sama dengan ekspresi wajahnya saat ini.


Beberapa pendukung Rose nampak mendengus sambil melirik


sinis pada rekan yang serasa lawan, mereka yang kontra habis-habisan terhadap


Rose.


Lihat! Pemimpin mereka saja tidak segan menurunkan harga


dirinya untuk meminta maaf! Tapi mereka malah dengan congkaknya, enggan untuk


melakukan hal itu, meski Nona Rose bahkan sudah memintanya secara paksa. Apakah


mereka masih punya muka untuk menatap keduanya?


“Itu murni salahku! Tapi… aku tidak menyesalinya sama


sekali! Sebab… itu adalah peringatan dan hukuman yang sudah semestinya kalian


terima!”


Bersambung…