Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Menangis, bukan berarti menyerah



“Paman, mereka siapa?” tanya Berly, yang berada di pangkuan Baz. Dengan mata sembab.


Bola matanya, bergerak menunjuk orang-orang berpakaian hitam, dengan tubuh tinggi tegap.


Yang jelas, dari postur juga ciri fisik yang mereka punya, semua orang itu, bukanlah, berasal dari negara ini. Begitu, Baz memprediksi.


Setelah mengikuti arah pandang si anak perempuan, Baz pun menjawab,“Paman juga tidak tahu, Sayang!” Sambil mengusap dengan lembut, kepala si anak.


Namun, nalurinya mengatakan, apabila, orang-orang itu, tidak membahayakan sama sekali, untuk mereka.


Pria itu, jadi mengingat, kilas balik, rentetan kejadian, yang berlalu dengan begitu cepat. Sore hari tadi.


Dimulai saat, ia mendengarkan alasan kedekatan Daniel alias Ben yang masih lupa ingatan, dengan Berly. Selama, dalam perjalanan menuju ke pusat souvenir, Daniel terus mengungkapkan tentang bagaimana Berly, mendadak terasa begitu spesial di hatinya.


Pun, setelah bertemu dengan Rose. Perputaran klise, yang tidak ia ketahui, muncul secara tiba-tiba dan terus menerus.


Apalagi, setelah Della mengucapkan tanpa sadar, tentang identitas dirinya, yang sebenarnya. Hal itu malah makin, membuat Daniel berpikir, jika masa lalu yang tidak ia ketahui, saat ini, pasti ada hubungannya, dengan ibu dan anak itu.


Lalu, dengan masalah yang disebabkan oleh Della. Daniel bahkan berjanji, akan bertanggung jawab, atas apapun yang akan menimpa Rose dan Berly.


Hingga, Baz berpikir, apakah benar akan demikian? Sedangkan, mereka saja, baru saling mengenal! Apakah, pria itu, serius dengan kata-katanya?


Apakah, karena sesuatu yang masih tersimpan di dalam lubuk hati? Jadi, pria itu, mau mempertaruhkan segalanya? Mungkinkah, cinta seorang Ben, dulu, pada Rose, ternyata begitu besar dan kuat?


Sambil mendengarkan semua curahan hati Daniel, Baz pun membatin sendiri. Apakah takdir, memang sama sekali tidak berpaling kepadanya, sama sekali?


Sehingga, bahkan, pasangan-satu keluarga, yang sudah terpisah bertahun-tahun lamanya, sekarang dipertemukan lagi?!


Apakah, takdir benar-benar diperuntukkan kepada mereka bertiga?


Sampai…, kembali, sebuah tragedi nahas terjadi. Bahkan, ini terjadi, tepat di depan matanya langsung.


Daniel, yang sebenarnya adalah Ben, kembali, mengorbankan diri, demi orang yang sangat ia cintai.


Seperti, apa yang Rose ceritakan, tempo dulu, setiap detail, dari bagaimana Ben, kala itu, merelakan diri, demi keselamatan Rose.


Walau, harus kalah, dalam taruhan nyawa itu.


Pada kesempatan kali ini, orang itu pun, melakukannya lagi. Hal yang sama.


Heh! Memikirkan hal ini, Baz lantas menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Menertawai diri sendiri, tentang bagaimana, ia berargumen, bahwa ia telah layak, untuk berada di sisi Rose.


Dengan perbandingan, usahanya, karena telah menjaga Rose dan putrinya, selama beberapa tahun belakangan ini.


Ternyata, hal itu, memang tidak bisa dibandingkan, dengan pengorbanan nyawa, yang sudah Ben lakukan, sebanyak dua kali. Termasuk dengan kali ini.


Ditambah, karena memang pada dasarnya, di dalam hati Rose itu, hanya ada nama Ben seorang saja. Tidak ada nama siapapun yang mengisi. Pun, termasuk dengan dirinya.


Dan, tentang orang-orang itu, Baz masih belum mengetahui tentang identitas mereka yang misterius. Tidak satu pun dari mereka menjelaskan, sejak pertama kali kemunculannya.


Yang mendadak datang, berbondong-bondong, setalah tembakan itu terjadi. Dan, Ben mulai hilang kesadaran.


Sempat, Baz berpikir, apabila ternyata, mereka semua itu, adalah kawanan dari para penjahat tadi. Namun, pikirannya segera dipenuhi tanda tanya, karena ternyata, yang mereka lakukan adalah, bertindak segera, untuk memberi pertolongan kepada mereka semua. Kepada Ben, terutama.


Akan tetapi, aneh sungguh aneh! Mereka bertindak dengan sangat efisien, dalam keadaan mulut tertutup rapat. Meski, ia tanya pun, tidak ada yang memberi jawaban pasti.


‘Kami hanya menjalankan perintah untuk menyelematkan kalian. Tuan kami, yang berhak menjelaskan kepada kalian, nanti.’


‘Dalam situasi ini, prioritas kita, seharusnya adalah, membuatnya tetap hidup!’


Baz ingat dengan jelas, salah satu dari mereka, menjawab pertanyaannya, hanya seperti itu saja. Tidak ada clue sama sekali, untuk mengetahui siapa mereka, sebenarnya.


Meski benar, jika, saat ini, mereka harus lebih mendahulukan keselamatan Ben, yang sudah bersimbah darah. Ketimbang, rasa penasaran mereka sendiri.


Ben yang terluka parah, dimasukkan ke dalam mobil ambulan. Tentu saja Rose, segera menawarkan diri, untuk menemani. Setelah menitipkan putrinya, pada Baz yang selalu dapat ia percayai.


Walaupun, sampai pada saat ini, tidak ada hal membahayakan sama sekali, yang orang-orang itu lakukan terhadap mereka semua. Baz tetap bertanya-tanya, siapa sebenarnya, mereka semua.


“Paman!”


“Paman!”


“Paman melamun, ya?”


Si anak perempuan, yang sudah tidak menangis lagi itu pun terus memanggilnya. Karena tak juga dijawab, Berly sampai perlu menarik-narik bagian lengan, jaket yang Baz kenakan.


“Iya, Sayang! Maaf, Paman melamun tadi! Ada apa?” Pria itu, mengusap pipi putih dan kenyal, yang masih sedikit gembul milik Berly. Seraya tersenyum.


“Kapan Mama akan keluar? Aku juga ingin melihat keadaan Daniel,” ucap si anak perempuan dengan menggerutu.


Heehhh…. Ia mengembuskan napas dengan panjang terlebih dahulu, sebelum memutuskan.


Semoga saja, keputusannya ini, adalah benar!


“Jangan panggil dia Daniel lagi!”


“Kenapa?” Raut wajah polos yang meneleng itu, begitu lucu ketika dilihat. Berly yang bingung  menautkan kedua alisnya.


“Karena, mulai sekarang, kau harus memanggilnya, dengan sebutan, PAPA!” Baz mengakhirinya dengan senyuman yang begitu tulus.


Ya! Pria itu berpikir, mungkin, ini adalah saat yang tepat baginya, untuk mulai melepaskan. Jalan dan takdir yang selama ini ia perjuangkan, memang bukan untuknya.


Sekeras apapun manusia mencoba, jika Tuhan tidak berkehendak, maka, kita bisa bilang apa, sebagai yang tidak memiliki daya upaya.


Baz…, ia memang harus memulai sebuah langkah, untuk mengikhlaskan perjuangannya. Selama ini.


“Papa?” Diluruskan Berly kepalanya. Memandang mantap pada mata Baz dengan tatapan serius. Tapi juga, mengerjap beberapa kali di wajahnya yang masih begitu polos.


“Papa? Aku harus memanggilnya Papa? Kenapa aku harus memanggilnya Papa?” tanya anak kecil itu berturut-turut, dengan rasa penasaran yang tinggi dan juga tidak sabar.


Kenapa ia harus melakukannya? Kenapa ia harus memanggil orang itu, dengan sebutan Papa?


Meski masih bertanya, di dalam dada seorang Berly, sudah mulai meletup, kembang api kecil dan  membuat sedikit euphoria.


“Karena, dia memang adalah…, orang yang Mamamu cari-cari dan kau tunggu-tunggu. Dia…, memang adalah Papamu, Berly!” Kembali, Baz mengungkapkan kebenaran. Yang tetap saja, menyisakan rasa pahit untuk dirinya sendiri.


“Benarkah? Paman tidak bohong?” Sepasang mata itu, makin mengerjap, makin lebar pula, ketika kelopak matanya terbuka.


Antusiasme, nampak jelas pada netra hitam itu. Lalu, kebahagiaan, mulai menyapu, seluruh tubuh, si anak perempuan.


“Hem…, benar! Paman tidak bohong. Dia memang Papamu,” balas Baz dengan anggukan yang lebih meyakinkan.


Kelopak mata Berly, lantas bergerak seperti ombak. Semenjak turun ke bawah, lantas naik lalu terbuka dengan sangat tinggi. Seperti ombak kebahagiaan yang dibawa, bagi setiap peselancar, di tepian pantai. Untuk memainkan papan selancar, yang sudah mereka bawa.


Bersamaan naiknya sepasang kelopak itu, senyum pun merekah, dengan begitu lebarnya. Wajah anak kecil itu, bahkan sampai kaku, tidak dapat membalikkan senyumannya lagi, ke ekspresi datar.


“Arrghhkk….” Tak lama, Berly berteriak, tapi langsung ia bekap mulutnya dengan kedua tangan. Mikro-mikro ekspresi kebahagiaan, nampak jelas pada setiap garis wajah yang terangkat naik.


“Hey! Apa yang kau lakukan?” tegur si pria dewasa. Tapi sambil menahan senyum, karena merasa lucu dengan tingkah menggemaskan anak perempuan, nan cantik itu.


“Aku ingin berteriak, saking senangnya. Tapi aku juga ingat, kata Mama, di rumah sakit, kan, tidak boleh berisik!” ungkap Berly dengan begitu polosnya.


“Oh, Berly! Kau benar-benar pintar sekali!” Lantas, ditarik Baz anak kecil itu ke dalam pelukannya.


Mereka tertawa dengan riang, namun tetap, sambil berusaha mengontrol volume suara. Saling berpelukan, dalam balutan selimut kasih sayang.


Oh, Berly! Beruntungnya, seseorang yang ditakdirkan, memang untuk menjadi ayahmu! Dia anak kecil yang cantik dan manis, kadang menggemaskan dan lucu, kadang juga, mengesalkan dan membuat diri ingin mencubit pipinya.


Di dalam hangatnya pelukan Paman Baz-nya, Berly tak henti-hentinya menatap ke arah pintu, yang selalu tertutup, jika tidak ada yang berkepentingan masuk.


Kembang api di dalam dada Berly, rasanya, sekarang sedang meledak. Membuat euphoria tak terlupakan, dengan beraneka warna, menghiasi langit suram di hati si anak kecil itu.


***


Sementara, di dalam ruang rawat intensif, Rose seakan memiliki stok air mata yang begitu banyak dan tiada habisnya.


Kristal bening itu, terus mencair dan meluruh di wajahnya, yang cantik. Juga, di tangan yang terus menggenggam tangan seseorang, yang sedang terbaring, tak sadarkan diri.


Rose terus menggenggam dan memeluk tangan pria itu. Sambil meletakkannya, di pipi. Dan, tentu saja, air mata kesedihan itu pun, sampai mengalir ke tangan tak berdaya, pria, yan masih memejamkan mata.


Kesedihan dan nelangsa ini, terlalu larut, membalut jiwa dan hatinya. Sampai, ia tidak memikirkan sama sekali, orang-orang yang menolong mereka, dan bahkan masih berjaga di luar.


Rose ingat, bagaimana dokter mengatakan jika, Ben masuk masa-masa kritis, karena kehabisan banyak darah. Sebab, ia mengalami luka tembak yang tidak sedikit.


Empat peluru bersarang di punggungnya. Beruntung sekali, keempat-empatnya, tidak ada yang mengenai organ dalam. Sehingga, masih ada harapan Ben, untuk diselamatkan. Meski, kecil kemungkinannya. Ditambah, begitu banyak darah, yang keluar dari tubuh.


Masih saja, terus, keberuntungan datang pada mereka. Rumah sakit itu, mempunyai stok kantung darah yang banyak, untuk golongan darah yang Ben miliki.


Dengan gerakan cepat, efektif dan efisien, luka-luka pria itu ditangani.


Akan tetapi, detak jantung Ben sempat menghilang. Dan, membuat semua orang semakin panik. Makin menjadi pula, kesedihan yang menusuk sanubari.


Alat pemicu jantung digunakan oleh tim medis. Di hadapan Rose, Baz dan Berly. Ketika, alat medis itu masih tidak dapat membuat jantung itu berdetak lagi, semua yang berada di ruangan, mulai pasrah.


Jika Rose menangis, maka Berly, makin histeris, di dalam pelukan pamannya. ‘Daniel!!’ sebut si anak dalam tangisannya.


Akan tetapi, dengan menagis, bukan berarti ia menyerah.


Mereka sudah terpisah, setelah bertahun-tahun. Maka, kali ini, ia tidak akan membiarkannya. Tidak akan membiarkan begitu saja, putri semata wayangnya itu, terpisah kembali dari ayahnya.


Wanita itu maju dengan langkah yakin. Mendekat ke arah tempat tidur.


Diambilnya tangan Ben yang sudah lemah tak berdaya.


Padahal, matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya juga gemetar, menahan sedih dan takut. Tapi, Rose tetap harus melakukannya.


Sambil menggenggam tangan itu, tubuhnya maju, condong jauh, sampai bibirnya berhasil menggapai daun telinga si pria yang tak sadarkan diri.


Pada saat itulah Rose berhenti bergerak. Sepasang bibir itu, membisikkan sesuatu di sana. Berkata dengan sangat lembut dan pelan, sehingga bahkan, tidak ada satu orang pun, yang dapat mendengarnya, di dalam ruangan itu.


Setetes air mata, jatuh. Tepat pada kelopak mata Ben, yang masih tertutup.


Hal itu terjadi, ketika Rose hendak menarik diri, dari posisi tersebut. Namun Rose tidak segera pergi. Melihat, kekasihnya itu masih memejamkan mata dan tak bereaksi. Lantas, ia pun mendudukkan diri, di samping ranjang tersebut, tanpa melepaskan pegangannya.


Rose tak kehilangan akal, tangan yang menggenggam tersebut, ia tempelkan di keningnya. Sambil berucap, dengan tulus juga terdengar putus asa. ‘Bangunlah, Ben! Aku mencintaimu!’


Tepat, setelah kalimat yang Rose ucapkan berakhir, jantung Ben berdetak lagi. Tangan yang Rose genggam pun memberikan respon. Jemarinya bergerak untuk beberapa saat, lalu mempererat pegangan tangan mereka.


‘Ben!’ Wanita itu pun mendesah lega, bersama kristal bening bahagia.


Meski, Ben masih belum membuka matanya. Paling tidak, semua orang sudah bisa merasakan sedikit kelegaan. Karena, masih terdapat harapan, bagi pria itu.


‘Daniel!’ Berly yang belum mengerti juga akhirnya bisa tersenyum, sambil berusaha untuk berhenti menangis.


Tak lama, Baz mengajak sang putri keluar dari ruangan itu. Dan, membiarkan Rose tetap di sana. Pria itu mengerti, pasti Rose butuh waktu, untuk tetap bersama pria yang masih terbaring lemah.


Hingga setiap detik berlalu,


Pada masa di mana jarum jam sudah berputar, selama kurang lebih dua jam lamanya. Sejak saat itu, sejak jantung Ben kembali berdetak. Dan, malam pun sudah datang membalut hari, dengan kegelapan.


Rose masih tetap di sisi Ben, yang belum juga kembali, ke dunia nyata.


Karena, begitu banyaknya luka di punggung, maka tim medis pun memindahkan posisi laki-laki itu, dengan tengkurap. Agar, luka-luka itu, tidak semakin tertimpa, bobot tubuh Ben sendiri.


Dengan air mata yang tak berhenti mengalir, Rose membelai wajah yang berposisi menyamping itu.


“Bangunlah, Ben! Apakah kau tidak mau bertemu denganku lagi…, juga anakmu?” tanyanya dengan wajah kacau.


Ada jejak air mata yang sudah mengering. Dan membuat wajahnya, menjadi agak kaku. Lalu, ada juga  jejak basah, di mana cairan bening berharga itu, masih meluruh hingga saat ini.


“Ekhm….” Terdengar suara lenguhan dari arah ranjang.


Rose yang masih sibuk dengan kesedihannya, tak mendengar hal ini. Ia masih menundukkan kepala, dengan tangan yang saling berpaut, ia tempelkan pada keningnya sendiri. Sambil membiarkan air matanya terus mengalir, walau tidak dalam debit yang cukup deras, seperti pertama kali.


Ia tidak menyadari, apabila, ada sepasang kelopak, yang tengah mengerjap, berusaha menyesuaikan cahaya pada kornea matanya.


“Erghh….” Tubuhnya pun terasa pegal dan tidak nyaman, karena posisi tidurnya saat ini.


Namun, bibirnya segera membuat lengkung indah, begitu menyadari, siapa gerangan, yang sedang berada di sisinya, saat ini. Ben tersenyum lemah.


Jemarinya, ia usahakan untuk menggapai lengan wanita yang terduduk di sisinya, bermaksud menurunkannya, untuk melihat wajah itu. Namun, ia masih terlalu lemah. Sehingga, hanya ujung jemarinya saja, yang berhasil menyentuh lengan itu.


“Ekh!” Rose terkaget-kaget karenanya. Tangan yang menutupi wajah pun, auto ia turunkan. Sentuhan kecil itu, membuatnya benar-benar merasa terkejut.


Dan…, lebih terkejut lagi, kala ia mendapati, wajah seseorang di atas ranjang itu, tengah tersenyum kepadanya.


Ditolehkan kepalanya ke samping, kanan-kiri, lalu ke belakang. Tidak ada siapapun di sana, selain dirinya. Maka, wanita itu bertanya, demi meyakinkan. “Kau tersenyum padaku?” tunjuknya pada diri sendiri.


“Memangnya, ada siapa lagi, di ruangan ini, selain dirimu!” balas Ben dengan suara pelan dan lemah. Mata hitam legam itu, mengerjap pelan saat lengkung di bibir tak ia turunkan, sama sekali.


“Ben! Kau tersenyum padaku?” tanya Rose kembali, dengan begitu antusias. Kelopak mata yang masih sembab dan basah itu pun terbuka lebar.


“Hem…,” angguk pria itu.


“Oh, Tuhan! Mengapa mimpinya indah sekali?!” Rose lantas menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mengucapkan syukurnya, dengan wajah tertutup. “Terima kasih, Tuhan, karena telah membiarkan aku melihatnya tersenyum, lagi, padaku.” Agaknya, wanita itu ingin menangis lagi.


Tapi tidak jadi, karena sebuah suara menyadarkan diri dari situasi yang ada saat ini.


“Kau…, tidak sedang bermimpi, Rose!” Sayu mata itu menatap kekasih, yang mendadak, menurunkan tangan yang menutupi wajah.


“Ben?” panggil wanita itu kemudian. Rose ingin tahu, apakah, ini benar-benar, bukan hanya sekadar mimpi.


Ketika, matanya melihat pria itu, masih tersenyum, meski ia sudah mengucek mata dengan keras, maka, ia berseru dengan kencang. “BEN!!!” Lalu menutup mulutnya, karena sadar, sudah berteriak barusan.


“Iya, Rose! Ini aku!” angguk Ben lagi. Senyum itu pun semakin terkembang dengan indahnya.


“BEENNN!!!” Tidak peduli jika, ia kembali mengeluarkan suara yang begitu keras, Rose langsung memeluk tubuh, yang masih berposisi tengkurap itu.


“Aw, aw, aww!” rintih Ben, sebab salah satu lukanya, sempat terkena dan sedikit tertindih lengan si wanita.


“Oh, iya! Maaf, aku lupa!” ringis Rose, yang lantas membenarkan caranya memeluk.


“Ben!” serunya lagi penuh haru, sambil merangkul leher pria itu, dan membenamkan wajah Ben di dadanya.


Rose menangis lagi. Kembali menitihkan air mata berharganya lagi. Namun, ini bukan demi kesedihan yang tadi ia rasa. Sekarang, untuk rasa haru dan rasa bahagia, yang mendadak datang, menyelimuti jiwa raga.


Bersambung…


Ini,, kira-kira Babang Ben udah ingat apa belum ya?!! Ayo, tebak… xixixi


Sekadar info, cerita ini mendekati akhir ya manteman…


Selanjutnya, baca juga cerita aku di apk Fizzo ya, judulnya ENEMY SCANDAL


Di sana, gratis juga kok,, hehe


Jangan lupa dukung karya ku di sana juga ya, dengan cara masuk ke rak buku kalian dan baca juga cerita seru di sana.. terima kasih semua


Keep strong and healthy ya