Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pintu rahasia



Ben jadi mengingat ketika pertama kali dia dengan sabar membujuk Rose untuk melupakan masa lalunya yang buruk sehingga menimbulkan trauma. Kadang dia tertawa sendiri mengingat hal itu. Ternyata dia bisa melakukannya. Apalagi pada seorang wanita.


Kala itu Rose diculik oleh anak buah seseorang yang sebenarnya telah salah paham terhadap diri kakaknya, Victor. Dulu Victor merupakan anggota Harimau Putih juga, rekan Ben kala dirinya belum menjadi ketua geng mafia ini.


Lelaki itu memiliki kesalahpahaman dengan orang yang bernama Baz Peterson. Sehingga Baz Peterson menargetkan Rose sebagai aksi balas dendamnya. Karena dia tahu bahwa Rose adalah adik perempuan Victor.


Victor yang tak berdaya sebab penyakit parahnya pun meminta bantuan Ben untuk menjaga adik kesayangannya itu.


Ketika diculik, Rose yang notabene memiliki trauma masa lalu pun hampir diperkosa oleh bajingan-bajingan itu. Beruntung Ben datang tepat waktu, sehingga hal buruk itu tidak sempat terjadi.


Pengalaman dijual oleh ibu tirinya kepada pria tua bangka untuk melunasi hutangnya dan hampir diperkosa oleh orang itu, adalah penyebab Rose memiliki traumanya. Dan traumanya itu dipicu kembali kala itu.


Rose yang bergetar hebat, Ben mau menenangkannya dengan begitu sabar. Hingga banyak tindakan impulsif pun terjadi. Sungguh saat itu bukan dirinya sama sekali! Ben menyadari hal itu. Dan mungkin, dari kenangan masa itu lah dia mulia jatuh cinta pada wanita yang kisah hidupnya menyentuh relung hatinya yang terdalam.


Kembali ke masa kini, setelah mengucapkan kalimatnya, Ben memang langsung terdiam. Dia sedang mengenang masa lalu itu. Tak sadar jika Rose sudah melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajahnya.


“Ben! Ben! Hei... Ben! Ben!”


“Kalau begitu aku pergi saja!” Rose berbalik untuk pergi lagi. Tadinya dia sudah tidak kesal mendengar penuturan jujur dari kekasihnya itu. Tapi lalu diacuhkan begini, Rose jadi kesal lagi. Dia pun kembali menyeret kopernya ke arah pintu.


“Tunggu! Maafkan aku! Barusan aku terlalu banyak memikirkanmu sampai melamun! Maafkan aku, ya?” Dengan cepat Ben sadar ketika bayangan Rose mulai bergeser dari hadapan pandangan matanya. Dia segera menangkap pergelangan tangan Rose, dan membuatnya terduduk untuk yang kedua kalinya.


“Bohong! Paling-paling kau sedang memikirkan wanita-wanita yang biasa kau bawa ke sini, kan! Jika aku yang ke seratus, berarti kau sedang memikirkan sembilan puluh sembilan wanita di dalam pikiranmu saat ini!” cetus Rose kesal sambil menaikkan dagunya.


“Rose!” seru Ben agak kencang.


Tadi dia memang sesabar itu membujuk kekasihnya. Tapi mendengar hal ini, dia menjadi sedikit emosi. Dia berpikir jika Rose sudah percaya padanya. Meskipun itu benar adalah masa lalunya, tapi Ben bisa bersumpah jika mereka semua ada hanya karena kebutuhan biologisnya saja. Bagaimana pun juga dia adalah pria normal.


Ben belum mempersiapkan diri untuk menjelaskan hal itu lebih rinci kepada Rose, sebab ia merasa tidak pantas. Ia ingin mengubur semua masa lalunya itu dan memulai masa kininya dengan Rose. Maka dari itu Ben tidak ingin mengungkit hal itu lagi. Setidaknya tidak sekarang. Karena Ben tidak ingin hal itu akan berpengaruh pada hubungan mereka yang masih berkembang.


“Kenapa? Kau marah? Jika marah berarti yang Anggie katakan memang benar!” Melihat lelaki itu diam, dada Rose makin menggebu-gebu oleh amarah. Diamnya Ben seperti mengiyakan kenyataan itu.


Tapi sebenarnya, Ben hanya kecewa pada dirinya sendiri. Dia tidak marah sama sekali terhadap Rose. Dia marah pada dirinya sendiri. Sebab barusan sudah hilang kendali. Padahal baru saja dia ingat jika hanya kepada Rose, dia mau mengurai limit kesabarannya yang terbatas.


“Keluar! Aku tidak ingin melihat wajahmu dulu!” kata Rose dingin seraya berdiri membelakangi Ben yang terpaku.


“Baiklah! Kita bicara lagi nanti!” Ben berdiri, menatap punggung kekasihnya dengan sedih. Mungkin sebaiknya memang begini, dia perlu memberikan waktu untuk Rose bernafas.


Sekarang dia bertanya dalam hati, apakah semua wanita mudah emosi begini?!


Ben menghela nafas ketika Rose tidak menyahuti. Sepertinya Rose benar-benar kecewa padanya. Sambil tertunduk lesu, dia membawa langkah kakinya menuju suatu arah.


“Bu- bukannya kau mau keluar?” tanya Rose dipaksakan ketika Ben bukannya berjalan ke arah pintu, tapi malahan menuju lemari pakaian yang tersedia di sana. Dilihatnya Ben mematung dengan ekspresi sedih saat menoleh kepadanya.


“Aku memang akan keluar!” jawab Ben kaku tak menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Dia lalu memutar kenop pintu lemari yang letaknya paling ujung. Dan... terbuka. Rose bisa melihat penampakan sebagian ruangan yang tadi ia kunjungi. Terasa sangat familiar. Itu adalah-


“Aku akan kembali ke ruanganku! Nanti akan ada yang mengantarkan keperluan lainnya untukmu.” Ben pun menghilang di balik pintu. Meninggalkan Rose yang masih ternganga di tempatnya berdiri.


“Ap- apa-apaan itu barusan?! Jadi kamarku bisa langsung tembus ke ruangannya?"


"Ya Tuhan! Dia benar-benar sudah mempersiapkan segalanya!” Rose memijit keningnya dengan perasaan tidak percaya sambil memandangi pintu rahasia itu. Tuan seramnya itu sungguh berlebihan, bukan! Hampir saja rahangnya copot saking dia terkejutnya.


Rose yang penasaran pun melupakan perasaan kesalnya dulu sementara. Dia penasaran dengan pintu yang tadi Ben buka. Takutnya yang tadi dia lihat hanyalah ilusi saja. Maka dari itu Rose berpikir untuk memastikannya sendiri. Siapa tahu jika saking kesalnya maka dia jadi berimajinasi, kan?!


Pela-pelan dia berjalan mendekat setelah mengunci arah yang akan ia tuju. Tangannya yang ragu-ragu pun membuka kenop pintu yang sedari tadi diam setelah Ben buka.


Kriet


Pintu terbuka pelan. Sengaja, Rose tak ingin menimbulkan suara. Jika pun harus bersuara, maka ia akan membuat suara itu sekecil mungkin.


Anggap saja jika dia sedang mengendap-ngendap atau apalah. Yang jelas dia tidak ingin sampai Ben mengetahuinya. Bisa besar kepala pria itu jika mengetahui dia membuka pintu ini. Rose tak ingin Ben berpikir bahwa Rose sudah memaafkannya. Padahal, kan, dia sekarang hanya sedang penasaran saja!


Rose mengeluarkan hanya kepalanya saja dari balik pintu rahasia itu. Belum sedetik dia membuka pintu, matanya langsung terbelalak.


Brak


Hingga tanpa sadar, dia menutup pintu itu dengan keras.


"Ya, ampun! Rasanya jantungku mau copot." Rose memegangi dadanya yang bergerak cepat naik turun.


"Bodoh! Tingkahku barusan seperti seorang penguntit, kan?! Sudah pasti dia sedang menertawakan aku di sana!" Pada akhirnya dia pun kesal sendiri dengan inisiatif yang diambilnya.


Dan benar saja,


Di ruangan sebelah, Ben tengah menyeka air mata yang mendadak keluar bersama dengan suara gelak tawanya.


"Wanita itu benar-benar menggemaskan! Pantas saja aku selalu ingin menciumnya!" Ben menggeleng lagi masih tak berhenti tertawa.