Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Beruang Grizzly



Begitu Rose keluar dari pintu yang tadi dituju oleh kakaknya, yang ia dapati hanyalah lorong kosong. Tangannya masih berpegangan pada kenop pintu ketika ia menoleh ke kiri. Lalu dengan ragu, ia melepaskan pegangannya itu sambil menoleh ke arah kanan.


“Baz!” teriaknya langsung, saat mendapati punggung seseorang yang ia kenal.


Mudah-mudahan ia tidak salah orang!


Sosok itu berjalan sangat cepat. Namun untunglah, suaranya yang melengking masih dapat membuat orang itu menghentikan langkahnya.


Dia menoleh. “Rose?!” Alis Baz menukik setelah itu.


Ah, untunglah Rose benar! Dia tidak salah memanggil orang!


Mungkin jika orang itu bukan Baz, Rose akan dengan cepat masuk ke dalam lagi. Pasti malu sekali! Masalahnya, saat ini, di lorong itu, hanya ada Rose dan orang yang ia panggil saja.


Karena benar, makanya Rose langsung menjinjing bagian rok pada gaunnya agak tinggi, sehingga ia leluasa berlari. Ke arah Baz, sambil terhuyung-huyung hampir jatuh, sebab sepatu hak yang ia kenakan melebihi standar tinggi yang biasa ia kenakan.


“Awas! Hati-hati!”


Karena tidak dapat mengerem dengan benar, Rose pun mesti ditangkap oleh Baz terlebih dahulu supaya bisa menghentikan langkahnya.


Pria itu memegangi kedua lengan Rose yang baru saja melangkah seperti orang yang sedang bersepatu roda. Hmm… bisakah momen ini bertahan lebih lama lagi?! Baz masih ingin memandangi wajah cantik ini. Sampai ia puas, jika bisa!


“Terima kasih!” Rose tersenyum singkat. Diturunkan gaunnya kembali sambil mencoba berdiri tegak. Kembali ia tersenyum, namun agak kaku sambil melirik ke arah pegangan tangan Baz yang tak mau lepas.


“Oh, ekhem… ekhem…!” Lantas pria itu berdehem dengan keras kala menyadari tindakan bodohnya. Baz pun melepaskan lengan Rose. Meskipun inginnya, wanita itu terus berpegangan padanya.


Jadikanlah dia sandaran, pegangan hidup! Ingin sekali Baz berkata demikian pada wanita yang langsung ia sukai sejak mereka pertama kali bertemu.


Tapi sayangnya tidak mungkin, kan! Wanita itu sudah menyerahkan hatinya, dan telah dimiliki hatinya itu oleh orang lain.


Baz jadi berandai-andai. Jika saja… jika saja ia bisa mengetahui kenyataan tentang kematian ayahnya lebih awal lagi!


Tapi mungkin… dengan begitu, belum tentu ia bisa bertemu dengan Rose!


Heh! Takdir memang sudah menentukan mereka untuk tidak bersama! Dan Baz harus menerima hal itu, dengan lapang dada.


“Baz!” tegur Rose pada lelaki yang mendadak terdiam dan malah melamun. Ironisnya adalah, di masa-masa genting seperti ini! Maka dari itu, ia menyadarkannya dengan tidak sabar.


“Ya, maaf!” Akhirnya pria itu benar-benar pulih kesadarannya. “Ehm, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Baz untuk mengalihkan fokusnya sendiri.


“Kau juga… apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau melihat Ben?” tanya Rose balik.


“Ben! Aku belum menemukannya!” jawab Baz dengan nada tak berdaya.


Alis Rose mengerut bersamaan dengan wajahnya. Wanita itu minta diberi penjelasan lebih rinci. Apa maksud dari belum ditemukan?


Baz tak menunggu Rose membuka suaranya untuk bertanya. Ia langsung menjelaskan segala hal yang dilihat dengan kedua matanya sendiri.


Sejak di dalam aula, ketika ia melihat Ben berpamitan kepada mereka dengan sikap aneh. Juga saat Mirabel ternyata mengikuti orang itu.


Baz juga tidak melewatkan hal yang satu ini. Di mana ketika ia hendak mencari Ben, dirinya malah menemukan Mirabel yang sudah tidak sadarkan diri, sedang dibawa oleh seorang pria tua gendut.


“Lalu, kau tidak menyelamatkannya?!” angguk Baz menjawab pertanyaan Rose.


“Kau jahat sekali!” tawa Rose kemudian, sambil membayangkan apa yang akan terjadi pada saudara tirinya itu.


Kekehan gelinya langsung surut, setelah menyadari bahwa hal ini semakin aneh dan mengarah pada spekulasi yang ia pikirkan. Segala sesuatunya makin mengarah ke sana. Pada wanita bernama Della itu.


Bagaimana bisa Mirabel berakhir di tangan seorang pria gendut? Apalagi dalam keadaan tidak sadar?


Jika memang itu adalah ulah kekasihnya, Ben pasti akan langsung kembali ke pesta dan segera menemuinya.


Karena apabila Ben dalam keadaan sehat, bugar dan sadar, tuan seramnya itu tidak akan meninggalkannya sampai selama ini. Tidak akan rela kekasihnya itu membiarkan dirinya berkeliaran sendirian.


“Ben tidak akan meninggalkan aku sendirian, meskipun hal itu adalah sesuatu yang penting. Dia pasti akan menitipkan aku pada seseorang yang ia percayai.”


Ya! Biasanya Relly yang mendapatkan tugas untuk menjaga Rose. Lalu kemudian, Rose akan kabur untuk mengikuti jejak kekasihnya. Ia pun terlalu khawatir jika Ben pergi menyusul bahaya sendirian.


“Apa maksudnya?” tanya Baz tidak paham. Karena ia benar-benar tidak mengerti maksud dari kalimat yang Rose ucapkan.


Wanita itu sedang berpikir atau sedang pamer, sebenarnya?! Pria itu pun sedikit menggerutu di dalam hati.


Jika dalam keadaan seperti ini, ia jadi merindukan Relly! Hanya asisten bodoh itu yang akan setia menemani di saat pasangan kekasih ini memamerkan diri. Huh~!


“Hh…!” Ditipiskan Rose bibirnya kala melihat wajah muram dan jelek milik temannya itu.


Ya, teman! Mereka memang memutuskan untuk berteman sejak mereka pertama kali bertemu.


“Berarti Ben sedang tidak sadarkan diri!” Rose memberikan kesimpulannya dengan wajah serius dan yakin. Ia sangat mengenal kebiasaan kekasihnya itu.


“Ch! Bagaimana mungkin, beruang grizzly jantan itu bisa pingsan?! Dia itu terlalu besar dan kuat… oke, baiklah! Aku akan berhenti bicara sekarang!” Baz menyeleting mulutnya yang sudah sembarangan bicara.


Pasalnya, dirinya sudah dipelototi oleh kekasih orang yang ia sebut sebagai ‘beruang grizzly’.


“Aku juga tidak tahu bagaimana pastinya. Yang jelas, menurut prediksiku saat ini, Ben pasti sedang tidak sadarkan diri. Dan seseorang berusaha membawanya pergi!” Rose pun kembali pada mode serius.


Meski dalam hati ia membenarkan gambaran yang Baz ungkapkan. Sepertinya, agak mirip! Hihi…


“Tapi-” Digigiti Baz bibir bawahnya sambi berpikir dengan keras. “Mungkinkah-?”


“Harusnya kalian mendengarkan aku waktu itu! Wanita itu, siapa namanya? Della! Ya, Della! Dia memang mengincar Ben sejak awal. Dan sekarang, dia sedang berusaha mendapatkn kekasihku!” sembur Rose dengan cepat.


“Jadi…?” Baz mulai paham namun ia belum menemukan solusi.


“Jadi… kita… harus segera ke sana!” Bola mata Rose bergerak ke samping. Begitu juga dengan Baz yang mengikuti arah pandang Rose.


Di sana, pada arah yang sedang dipandangi Ros dan Baz, mendadak memang terdengar bunyi-bunyian orang yang sedang berkelahi. Sumber suara tersebut berasal dari ujung lorong, sekali berbelok dari posisi mereka saat ini.


“Ya!” angguk Baz cepat.


Lalu, berlarilah mereka ke arah suara itu.


Bagh~! Bugh~! Bagh~! Bugh~!


“Baz tunggu sebentar!” pekik Rose yang langkahnya tertinggal di belakang.


“Ada apa?” Baz menjawab seraya menghentikan lajunya.


“Kakiku-“


“Hah? Kakimu kenapa?” Dengan cepat menghampiri Rose lagi, padahal wanita itu belum selesai berbicara.


Wajah Baz pun langsung berubah sangat khawatir. Takut sekali dia, jika sampai terjadi sesuatu pada wanita yang masih disukainya itu.


“Tangkap!” Tanpa basa-basi Rose langsung melemparkan sepasang stiletto yang baru saja dilepasnya. Baz yang belum mencapai dirinya pun, refleks menangkap sepatu hak tinggi itu dengan gagap dan tidak siap.


“Hk…!” Mendaratlah sepasang sepatu Rose pada dekapan Baz.


Beruntunglah haknya yang runcing itu tidak mengenai wajah atau tangannya. Baz dapat menangkap stiletto-nya dengan tangkas, meski agak terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Ia pun menatap Rose dengan kebingungan.


“Tolong pegangi sepatuku! Aku tidak bisa berjalan cepat jika mengenakan itu!” seru Rose sambil lalu.


Sambil menjinjing bagian rok pada gaunnya, wanita berambut pirang itu berlari melewati Baz dengan bertelanjang kaki.


Saat ini, dirasakan Rose kakinya yang terasa nyaman dan ringan. Meskipun lantai yang ia pijak jadi terasa dingin di kulit telapak kakinya. Yang penting, sekarang, ia sudah bisa melangkah dengan cepat dan leluasa.


“Ayo, Baz! Mau sampai kapan kau berada di situ?” teriak Rose yang sudah mulai menjauh. Pekik suara itu pun menyadarkan lamunannya kembali.


Tawa kecil menyusul seraya menatapi sepatu hak tinggi di tangannya. Oh, sungguh! Wanita ini memang ada-ada saja!


Baz pun menggeleng sambil memutar tubuh dan berusaha menyusul Rose di depan.


“Tunggu aku!” Ia melangkah cepat. Dan sepasang sepatu perak pun berayun di tangan kirinya.


Bersambung…


Untung Baz suka,,, apalagi kalo dilempar pake hatinya, mau bgt deh pasti dia,,


Eeaaa,,, hehe


Kira-kira yang berantem siapa ya?