
Tap! Tap! Tap!
“Dan karena Rose…” Suara bariton, berat dan dalam,
berkolaborasi dengan suara tapak kaki yang menghentak lantai. Membuat semua
kepala menoleh ke sana.
“Dan karena dia, juga, yang menghentikan aku. Bukan kalian!”
Sosok itu pun berhenti ketika baru masuk satu langkah ke dalam.
Dengan pendar cahaya lampu dari luar, menciptakan siluet
lelaki kekar bertopi koboi itu menjadi lebih dramatis ketika tampil untuk
pertama kalinya, di sana.
Ditatapi semua orang dengan tatapan khas raja iblis
miliknya. Aura tirani yang kejam lantas menguar, menusuk mereka yang mencoba
menekan dan menyakiti Rose, satu persatu.
Orang-orang itu, mereka yang tiada hentinya menekan dan menyudutkan
Rose, beramai-ramai mengepalkan tangan dengan erat di samping badan. Mengunci
rasa gugup dan tertekan mereka, akibat orang yang paling mereka takuti dan
mereka segani datang.
Hadir di sana dan membuat atmosfir yang ada semakin terasa
mencekam. Adanya Ben di sana adalah definisi tercekik yang sesungguhnya.
Bahkan, jika mereka memiliki pandangan yang lain sekali pun. Seakan tertahan di
tenggorokan, tak mampu mereka utarakan.
Rahang Rose jatuh, mulutnya separuh terbuka. Ada napas yang
tertahan pula di sana. Dia mengerjapkan matanya pelan, beberapa kali. Sampai
yakin jika apa yang ia lihat adalah nyata.
“Tuan Ben!” jerit Relly dari belakang. Dengan histeris dan
kencang, Anggie pun sampai menoleh kepadanya.
Dan dengan itu pula, keyakinan Rose makin bulat di mata.
Pandangannya tidak kabur, dia tidak sedang berhalusinasi sekarang. Itu benar
adalah sosok yang amat ia rindukan seharian ini. Orang yang sebelumnya
berbaring di tempat tidurnya.
“Beennnn!!” Disingkirkan microphone di depannya dengan
kasar. Rose tak mengizinkan hal apa pun menghalangi jalannya menuju kekasihnya.
“Eit….” Stand microphone itu hampir saja jatuh ke lantai
jika saja Relly tidak cekatan menangkapnya. Dibelai dengan penuh kasih sayang,
bagian microphone-nya ketika sudah ia biarkan berdiri tegak kembali. “Jangan
jatuh lagi, ya!”
Dua kubu yang kini tengah berhadapan pun memundurkan diri
satu langkah ke belakang. Secara serempak, seperti ombak sudah mencapai pantai
dan kembali lagi ke lautan. Seolah mereka tanpa sadar memberikan jalan kepada
Rose untuk menuju bos besar mereka.
Rose berlari, membawa langkah kakinya secepat mungkin untuk
sampai lalu mendekap tubuh kekasihnya itu. Ia ingin melakukan satu hal lagi
untuk memastikan bahwa sosok itu adalah benar-benar, benar nyata.
Dengan merengkuhnya, dengan memeluknya erat-erat, ia jadi
bisa memastikan tubuh itu adalah sebuah realita dan bukan sekadar halusinasi
karena terlalu merindukan pria itu.
Keinginannya terlalu besar untuk segera sampai di sana,
sampai ia tak memedulikan lagi bulir kristal bening yang jatuh dari pelupuk
mata dan terbawa angin. Air matanya bahkan tidak sempat mengalir di pipi,
saking kencangnya dia berlari.
Grep…
“Ben!” Sosok itu, tubuh itu, langsung ia sergap, segera ia
dekap dengan sangat erat.
Dipejamkan Rose matanya ketika merasakan tubuh hangat dan
nyaman milik pria itu. Wajahnya menyamping, menempel ke dada bidang Ben sambil
merasakan detak jantung pria itu berdentam di dalam sana.
Rose juga merasakan tarikan napas Ben, embusannya juga,
bertiup di atas kepala. Lengkap sudah pembuktiannya. Apa yang ia dapati saat
ini adalah nyata. Ini benar-benar nyata.
Dinaikkan Rose kepalanya, memandang wajah tampan dan tegas
Ben sambil melonggarkan dekapannya. “Ben!” lirihnya sambil menatap dalam ke
“Ben! Kau sudah sadar! Syukurlah kau sudah sadar! Rasanya
lega sekali karena kau sudah sadar! Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau
tidak sadar juga malam ini!” racaunya sambil menempelkan kembali wajahnya ke
dada bidang Ben beberapa kali.
Suara gemetar, antusias dan penuh rasa syukur, berpadu
dengan perasaan gugup yang Rose miliki. Rasanya tidak percaya, tidak
membayangkan, dan tidak terpikirkan sekali, orang yang ia tunggu kesadarannya
sejak tadi, tiba-tiba muncul di sini. Ada dahaga yang terobati, sehingga ia
mengembuskan napasnya amat panjang.
“Heh….” dengkus Ben bersama senyum kecilnya. Ia biarkan Rose
melakukan apa pun yang diinginkannya. Ben tahu, seberapa besar khawatir wanita
itu dan kini tengah melepaskannya.
Sampai dirasa wanita itu cukup tenang, barulah ia
menelusupkan tangannya di dalam dekapan erat itu. Kedua tangannya naik hingga
mencapai ceruk leher jenjang Rose. Ia raih, lalu ia dekatkan kepala itu, untuk
ia kecup puncaknya.
Dengan perasaan yang mendalam, sampai ia pejamkan matanya.
Ben juga rindu. Rasanya seperti sudah setahun tidak bertemu, padahal ia hanya
tak melihat wajah kekasihnya itu satu hari saja.
“Ben!” Seakan belum cukup Rose menyebutkan nama itu, ia
terus memanggilnya. Meski matanya juga terpejam menerima tulusnya cinta yang pria
itu berikan kepadanya.
Relly dan Anggie, juga semua orang yang berada di ruangan
itu tercekat dan henyak dalam diam. Semuanya mengheningkan cipta untuk diri
mereka masing-masing. Yang masih membujang dan tidak kekasih di sisi.
Seperti aura cinta yang keluar dari keduanya mampu
menghipnotis, menyedot perhatian sampai membuat yang lainnya iri. Mulut mereka
dibungkam oleh kebisuan. Tidak satu orang pun diizinkan untuk mengganggu momen
haru itu. Hanya ada satu yang kurang ajar…
“Relly!” pekik Anggie kaget, namun dengan berbisik. Dia pun
tidak ingin mengganggu momen bos besar mereka.
Hanya saja… lelaki itu dengan kurang ajarnya, mendadak
memeluknya tanpa aba-aba. Relly merengkuhnya, mendekapnya dari samping.
Sehingga saat ini wanita seksi itu mengomel dengan tatapannya yang galak.
Pria ini memang pandai merusak suasana! Karena tidak
dilepaskan juga, Anggie perlu untuk memukul tangan kurang ajar itu. Tidak
keras, karena dia tidak ingin membuat keributan.
Namun Relly tidak juga menanggapi. Relly seolah malah
sengaja tetap memalingkan wajah ke depan. Tidak peduli dengan perlawanan apa
pun yang Anggie berikan. Ketika wanita seksi itu pada akhirnya pasrah, Relly
tersenyum menang samar-samar.
Baiklah! Anggie mengalah. Toh, tidak ada yang memerhatikan
mereka juga. Karena semua mata sedang tertuju ke sana. Ke arah Rose dan bos
besar mereka.
Yang baru pertama kali melihat adegan romantis pria kekar
itu pasti tidak akan menyangka. Bos mereka yang tenar dengan angkuh, kasar dan
tidak peduli terhadap wanita, nyatanya bisa melelehkan tatapan matanya. Hanya
untuk wanita itu. Wanita yang telah mereka tuduh dan hina.
Perasaan ketakutan pun mulai merebak ke seluruh jiwa yang
merasa pernah mengecam Rose dengan begitu kejam. Napas mereka yang putus-putus,
pertanda jika kekhawatiran dan ketakutan mulai masuk menguasai raga.
Apa yang terjadi tadi malam, sungguh menakutkan! Itu
berarti, bos besar mereka sungguh-sungguh dengan kemarahannya. Tinggal menunggu
kapan giliran Tuan Ben mengamuk dengan sadar. Hanya saja… mereka berharap hal
itu tidak akan pernah terjadi. Jangan sampai!
“Kalian pikir ini dimana? Hah!” Terdengar suara seseorang
lagi dari balik punggung Ben. Bersama beberapa derap langkah bertempo pelan.
Bersambung…