Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Benar-benar Mirip



“Sebenarnya…, kau adalah…, putra kandungku, Ben!”


“Apa?”


“APAAA?”


Ketika Ben yang terkejut hanya mendesah. Namun ternyata Rose yang lebih terkejut lagi, setelah indera pendengarannya menangkap fakta tersebut. Mulutnya sampai berseru kencang.


“Ben…, putra Anda?” Wanita berambut pirang itu pun ingin memastikan.


Ini sungguh tidak dapat dipercaya!


“Ya! Dia putraku!”


“Jadi…, kenyataan yang harus Ben tahu, bahwa dia adalah putra Anda? Dan, bukan karena Della sedang mengandung anak dari Ben?!”


Apa? Ben pun sungguh terperangah dengan kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya.


Jadi, karena hal ini, wajah Rose berubah menjadi begitu galak?


Ya, ampun! Ben, dengan hati-hati agar punggungnya tak terasa nyeri, menepuk jidatnya pelan.


Ada-ada saja pikiran wanita itu!


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena mereka adalah saudara kembar!” tegas Felipe.


“Saudara kembar?” Rose kembali membeo dengan tatapan tidak percaya.


“Lagipula…, bagaimana aku bisa hamil, jika selama ini saja, dia tidak pernah mau menyentuhku, sama sekali!” sambar Della dengan penuh emosi.


“Diam!” Felipe pun segera menegurnya. “Ini bukan waktunya kau untuk bicara!” Sungguh pun, suara yang keluar dari mulut laki-laki berumur itu, terdengar sangat kejam. Seperti bukan bicara pada putrinya sendiri.


Della Moran August, yang biasanya sombong dan angkuhnya bukan main. Seketika membungkam mulut, begitu mendapat teguran dari sang ayah.


Tidak hanya itu, Rose dan Ben juga bisa melihat ada bekas merah masih samar terlihat di pipi Della. Yang mereka yakini adalah sebuah bekas tamparan.


Siapa yang berani menamparnya? Sudah tentu, pasti adalah ayahnya sendiri.


Rose tersenyum puas dalam hati setelah mendengar pengakuan Della. Bagus! Ternyata, Ben memang hanya miliknya seorang.


“Tunggu dulu, Rose! Bagaimana bisa kau berpikiran begitu buruk tentangku?! Kau pikir, aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, heh?!” Ben pun melayangkan protesnya.


“Hey! Waktu itu aku hilang ingatan, kan?! Lalu, siapa yang bisa menjamin bahwa kau tidak akan menyentuh wanita. Sedangkan saat bersamaku saja….” Rose pun sadar akan arah ucapannya. Wanita itu lantas segera membekap mulutnya dengan kuat.


Ben tergugu. Padahal, ia tidak masalah sama sekali, apabila Rose mengatakannya sekali pun. Bahwa dia tidak pernah bisa menahan diri, ketika sedang bersama dengan kekasihnya itu.


Pria itu, lantas menurunkan tangan yang menutup sebagian wajah menawan sang kekasih. Kemudian, mencubit pipinya dengan gemas.


Demi apa! Della sungguh masih merasakan sisa-sisa cemburu membakar dada, ketika menyaksikan kedekatan Ben dan Rose. Yang, sama sekali tidak pernah ia alami selama bersama dengan Daniel.


Melihat nonanya menahan geram, Emilio lantas bertindak impulsif dengan menggenggam tangan Della. Namun, tanpa menoleh ke arahnya.


Della memandang tangan yang sedang menyemlimutinya dengan kehangatan.


Benar! Nyatanya, dari pengalamannya ini, dia memang tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Bahwa, sebagaimana keras dirinya berusaha memiliki Ben dan memanipulasinya, pada akhirnya, jiwa dan raga Ben sendiri telah menolaknya mentah-mentah.


Lantas, wanita itu membiarkan saja tangannya digenggam. Dan belum mau membalasnya.


“Ohoho…, kalian mesra sekali rupanya!” komentar Felipe sambil tertawa.


Seketika, dengan kompaknya, pasangan kekasih itu memandang ke arah Felipe lagi. Namun, sudah mengubah ekspresi mereka menjadi serius lagi.


Sungguh pun, perubahan itu terjadi dalam hitungan sepersekian detik! Dan hal itu, membuat pria tua itu semakin melebarkan senyumannya.


“Tunggu dulu!” Diletakkan sang putri ke pangkuan kekasihnya.


Kemudian, ia maju dan memijakkan kakinya ke lantai. Sehingga, wanita itu jadi setengah berdiri. Lalu melipat tangannya di depan.


“Anda…, mengatakan hal itu…, pasti karena Della ingin kami ampuni, kan?” tanya Rose dengan tatapan menyelidik.


“Supaya dia terlepas dari kesalahannya, begitu?” Felipe menambahkan spekulasi Rose dengan tersenyum.


“Apa lagi?” Rose pun mengedikkan kedua bahu dengan tak acuh. “Bagaimana kami bisa percaya pada orang dengan kekuasaan tak terbatas yang penuh dengan manipulasi?!” sindirnya kemudian.


Felipe sudah membuka mulut, hendak bicara lagi. Namun, ia merasakan lengan kemejanya yang terlipat ditarik-tarik oleh seseorang. Lelaki itu pun segera berpaling. Dilihatnya, sosok Berly sudah ada di sampingnya.


“Ibu bilang…, tidak baik jika bicara sambil berdiri!” tutur anak gadis itu sambil menunjuk-nunjuk kursi yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya.


“Ahh…, terima kasih, Sayang! Kau pintar sekali!” Felipe pun memberikan sebuah usapan lembut dari ujung kepala sampai setengah wajah mungil Berly.


Si anak kecil lantas berjalan kembali menuju ayah dan ibunya. Naik ke atas ranjang lagi, lalu menduduk di pangkuan sang ayah. Seperti semula.


Meskipun sedang terlibat dalam suasana serius, Rose tak lupa memberi pujian pada putrinya. “Pintar!” desah si wanita bersurai cokelat keemasan seraya membelai pipi Berly dengan lembut.


Ben pun menatap putrinya dengan tatapan bangga. Kemudian pada Rose. Ia benar-benar bangga, bahwa Rose memang telah berhasil mendidik putri mereka menjadi sosok yang begitu baik, pintar, mandiri dan beretika.


“Jadi begini…, bisakah aku bercerita sekarang?” Felipe pun mendudukkan diri pada kursi yang Berly sediakan.


Haru dan bangga juga mengguyur sanubarinya. Sebab, diperlakukan dengan begitu manis oleh cucunya sendiri. Hal yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidup.


Sebelum buka mulut, ia menoleh sebentar pada Emilio, seolah memberi isyarat.


Emilio mengerti. Ia lekas melepaskan genggaman tangannya pada Della. Kemudian berjalan mendekati Ben. Lantas, menyerahkan sebuah surat yang terlipat rapi.


Tak menunggu lama,  Ben segera membukanya dan membaca isi surat tersebut.


“Itu adalah hasil tes DNA yang aku lakukan tanpa sepengetahuan siapapun,” terang Felipe.


Di sana, Ben membaca hasil dari laporan tersebut, yang menyatakan bahwa ia dan Felipe 99% memiliki hubungan ayah dan anak.


“Dulu sekali…, aku pernah memiliki seorang istri. Yang tak lain adalah ibu dari kau dan Della. Kau juga pasti tahu, bahwa kehidupan kita yang seperti ini, selalu diikuti oleh bahaya.


“Karena terlalu mencintainya, maka aku membatasi ruang lingkup dan kebebasan istriku. Senyumnya selalu terang setiap hari, jadi ku pikir dia baik-baik saja. Tapi ternyata, dia tidak bahagia sama sekali.


“Pernikahan kami bahagia, hingga akhirnya dia melahirkan sepasang anak kembar untuk kami. Sayangnya, sesaat setelah melahirkan, istriku menghilang bersama dengan anak laki-lakiku.”


Felipe berhenti bercerita, kala dirasakannya setetes cairan bening meleleh dan membasahi pipi. Dia lantas menyekanya dengan ujung jemari.


“Ben!” Pria itu menatap anak lelakinya lagi. “Saat kau masih menjadi Daniel, lalu hubungan kita menjadi dekat, aku mulai merasakan beberapa kemiripanmu dan ibumu. Serta, paras cantik dan sifatnya yang tidak sabaran. Kau dan Della…, sama-sama memilikinya.” Felipe memandang kedua putra dan putrinya secara bergantian.


Ben terdiam. Dia belum ingin berkomentar atas kenyataan yang Felipe bawa. Setidaknya, ada yang terhubung dari cerita itu, bahwa ia telah berada di panti asuhan sejak bayi. Ibunya, entah pergi ke mana.


Tidak ada yang tahu. Semua pengurus panti asuhan mengatakan bahwa mereka hanya menemukan Ben di depan pintu panti. Ketika masih bayi.


Segalanya bisa terjadi. Kemungkinan apapun bisa terpikirkan. Masa lalunya yang kosong, terlalu mudah untuk dimanipulasi oleh seseorang. Maka dari itu, Ben tidak dapat percaya dengan begitu mudah terhadap ucapan orang di hadapan.


“Ibuku pergi…, atau kau yang membuang kami?” tanya Ben dengan nada tajam.


“Aku tidak memaksamu untuk percaya! Kau bisa mencari tahu sendiri, jika kau menginginkannya. Kebenaran tentang diriku yang merupakan ayahmu, juga bisa kau cari tahu dengan tanganmu sendiri. Agar kau tidak berpikir, bahwa aku telah memanipulasi keadaan.”


Felipe sangat mengerti apa yang Ben pikirkan saat ini. Dirinya yang sebagai penguasa, memang terkadang melakukan hal itu. Namun, dalam hal ini, Felipe sama sekali tidak mengarang. Ini memang adalah sebuah kenyataan, bahwa Ben adalah putranya.


Laki-laki itu lantas mengambil dompet dari saku di belakang celana. Membuka benda yang terlipat dua itu, lantas mengambil selembar foto usang dari sana. Ia pun menyerahkannya pada Rose.


“Itu adalah fotoku, saat masih muda!” ungkapnya seraya menduduk kembali.


Rose memperhatikan foto tersebut dengan saksama. Lalu, melihat ke arah wajah sang kekasih, dan melihat ke arah foto itu lagi. Foto Felipe muda dengan seorang wanita cantik yang sedang mengenakan gaun pengantin.


“Ben-!” seru Rose dengan suara tercekat.


Mereka memang benar-benar mirip.


Melihat raut wajah sang kekasih, Ben segera menyambar foto tersebut. Seperti Rose, dia juga memperhatikan lembaran foto usang itu dengan saksama.


“Ini…, ibuku?”


Bersambung…