
Tiga tahun berlalu, dan roda kehidupan tetap harus berjalan. Setiap manusia mesti melakukan tugas dan tanggung jawabnya, meski sebuah takdir sedang ia jalani.
Tidak peduli apapun itu, perut tetap harus diisi, kemampuan tetap harus diasah, pun kita yang mesti terus bernapas.
Begitu juga dengan seseorang, ia tetap menjalani takdirnya dengan tabah dan ikhlas. Sambil terus mengasah diri.
Pada siang hari ini, sinarnya sang surya makin membuat wujud seorang manusia makin berkilauan. Bermandikan cahaya terang, kecantikannya makin menyilaukan.
Rose, baru saja selesai berbelanja di sebuah supermarket. Tubuhnya, kini kian berisi dan montok. Makin seksi dan membuat air liur menetes, untuk disaksikan mata telanjang seorang pria.
Sambil mendorong troli belanjanya, bokong beserta pinggangnya, bergerak gemulai ke kanan kiri, seirama dengan derap langkah kakinya yang panjang.
Celana kulit hitam ketat, makin memperjelas betapa tebal dan mantap daging yang berada di dalamnya. Pun dengan tank top putih kebesaran, hingga bagian tengah dadanya mengintip ke luar.
Jaket kulit yang melengkapi pun, menambah kesan garang dan seksi, tubuh yang dibalutnya.
Kala ia hampir sampai di dekat mobilnya, Rose menyusurkan kaca mata yang semula bertengger di hidung, sampai ke atas. Ke kepalanya menggantikan bando, guna menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah.
Tint~!
Alarm mobil ia nyalakan. Serta membuka kunci mobil yang akan dinaikinya.
Lalu, dibuka Rose pintu bagasi belakang dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain, masih memegangi troli belanja.
Ketika ia bersiap untuk memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil, maka Rose perlu menundukkan tubuh hingga bokongnya menjadi sedikit menonjol ke belakang.
Sungguh pun, pemandangan ini menggunggah selera para mata keranjang yang tengah berkeliaran. Air liur mereka menetes bak serigala kelaparan. Bahkan mereka perlu mengusapnya secara terang-terangan, demi menunjukkan betapa kelaparannya mereka saat ini.
Satu dua barang yang cukup besar, sudah Rose masukkan. Pada saat akan memasukkan sebuah tas belanja, sebuah kantong tepung terigu seukuran satu kilogram ia pertahankan di tangan. Lantaran, indera pendengarannya menangkap sebuah suara langkah mendekat.
Hal ini cukup mencurigakan baginya, sebab orang di belakang melangkah dengan cukup pelan dan waspada. Sampai, bunyi langkahnya hampir tak terdengar.
Heh! Rose tersenyum sinis. Yang pasti, orang itu mempunyai niatan buruk padanya.
Maka, wanita itu memutuskan untuk sengaja, merundukkan tubuhnya makin rendah, sembari meletakkan tepung tadi di pinggir bagasi. Rose berpura-pura membenarkan tali sepatu angkle boots miliknya. Sambil menilik, sedang apa oknum yang berada di belakangnya saat ini.
Pada posisi itu, dilihat Rose seorang pria dengan tatapan mesum, tengah menyorotkan mata kurang ajarnya pada sepasang bokong montok yang ia miliki.
Pria itu, bolak-balik mengusap wajahnya yang penuh nafsu, serta mulutnya yang tak berhenti mengeluarkan saliva menjijikkan.
Masih di posisi yang sama, Rose mengangkat kepala, memerhatikan sekitar area parkir, di mana ternyata dalam keadaan sepi.
Heh! Pantas saja, dia begitu berani! Cibir Rose dalam hati.
Lihat saja, apa yang akan dia lakukan pada pria kurang
ajar itu!
Rose pun bangun dari posisinya, kemudian berdiri tegak lagi. Berpura-pura hendak mengambil tas belanja lainnya di troli lagi, sambil sengaja kakinya menyenggol bungkusan tepung terigu yang tadi ia letakkan di pinggir bagasi mobil.
“Ahh... jatuh~!” Membuat suara manja yang dibuat-buat. Suara lemah lembut yang menjijikkan telinga.
Sejujurnya, Rose muak mendengar suaranya sendiri.
Iris abunya melirik sebentar ke sebelah kiri, di mana pria mesum itu berada. Lantas, ketika mendapati ia akan melakukan pergerakan, barulah Rose merunduk untuk mengambil kantong terigu tersebut.
Yang kembali, ia memamerkan bokongnya lagi.
Pria itu mendekat sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya pun sudah gatal, ingin merasakan kekenyalan sepasang bukit yang menonjol di bagian belakang tubuh seorang wanita.
Pria itu, sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya sudah benar-benar gatal ingin merasakan betapa padat dan berisi bagian tubuh yang menggoda itu.
Ia pun mendekat seraya menjulurkan tangannya. Ke sana, ke bagian bokong Rose yang tengah memamerkan diri.
Bugh~!
Namun, belum sempat ia mendapatkan apa yang dia inginkan. Wajahnya sudah terhantam sesuatu. Dan bahkan pandangannya, menjadi kabur. Ia tak dapat melihat apapun dengan jelas, sekarang.
Ternyata, Rose melempar tepung terigu itu ke wajah si pria mesum melalui ruang kosong di antara kedua kaki. Pada saat ia masih merundukkan tubuhnya.
“Hey, apa yang kau lakukan!” pekik si pria tidak terima. Sambil berusaha menyeka wajah dan mata, agar pandangannya menjadi jelas kembali.
“Heh! Menurutmu, apa yang baru saja aku lakukan?” cibir Rose dengan gaya menantang.
Berbeda sekali dengan suara manis manja, yang tadi ia keluarkan, kala dengan sengaja menjatuhkan salah satu barang belanjaannya.
“Kurang ajar!” erang pria itu, sambil berusaha menyeka kembali wajah yang sepenuhnya menjadi putih.
Sebab, kantong terigu itu sudah sengaja Rose sobek dengan kukunya yang tajam. Agar, ketika menghantam sesuatu, isinya segera berhamburan.
Sungguh pun, penampilannya saat ini sudah seperti badut karnaval. Hanya saja, kurang pewarna merah pada bagian bibir dan hidungnya.
“Justru, harusnya kau berterima kasih, karena aku sudah menutup pandangan kurang ajarmu, padaku!” sahut Rose balik dengan berani.
Sudah kepalang malu, pun saat ini tidak ada orang sama sekali di area parkir ini. Pria itu pikir, Rose hanyalah seorang wanita biasa. Maka dari itu, ia akan memanfaatkan situasinya. Ia pun sudah terlanjur bernafsu pada wanita satu ini.
Pria itu maju dengan seringai serta tatapan kurang ajar. Lidahnya bahkan, membasahi bibirnya yang mengering karena nafsu setan.
“Jika, Nona mau meminta maaf padaku, maka, aku akan melupakan kejadian tadi,” ucapnya dengan tidak tahu malu.
Bahkan, dengan penampilan konyolnya saat ini?!
Heh! Sungguh pun, rasanya Rose ingin langsung menghabisi orang ini saja.
Sedetik ia menyipitkan mata, sedetik kemudian Rose mengubah ekspresinya. Diubah Rose mimik wajahnya menjadi ketakutan. Pun, sembari ia memundurkan langkahnya. Sampai ia berhasil merasakan pinggiran bagasi yang kokoh, tepat, berada di belakangnya.
“K- kalau begitu, bagaimana caranya agar Tuan mau memaafkan aku? Sungguh, tadi itu, aku tidak sengaja, Tuan!” Seratus delapan puluh derajat, Rose langsung mengubah ekspresi mengesalkan tadi, dengan wajah rapuh penuh ketakutan, saat ini. Dari nadanya pun, seolah Rose benar-benar tidak berdaya sebagai seorang wanita.
Dan...betapa, pria manapun pasti akan terperdaya oleh sosoknya yang sekarang. Mengira, jika wanita itu hanyalah sosok rapuh, lugu dan polos yang mampu mereka manfaatkan.
“Lakukan apapun... dengan tubuhmu!” bisik pria itu dengan nada kurang ajar. Ia semakin merasa di atas angin, rupanya.
Mata Rose mendelik besar saat mendengar hal itu.
Ch! Ia pun berdecak pelan dan hampir tak terdengar. Namun lantas, Rose mengubah ekspresinya kembali, kala orang itu menjauhkan tubuhnya lagi.
“Cium aku!” perintahnya dengan nada arogan. Ia berpikir, setelah mendapatkan kesempatan pertama, maka, dia akan melaksanakan aksi selanjutnya. Bokong yang sedari tadi menjadi incarannya pun bisa ia dapatkan.
“Tapi, Tuan-!” Rose pura-pura meragu.
“Oh, ayolah! Aku sudah sangat tidak sabar!” Lantas, ia mengolesi bibirnya, dengan air liur menjijikkannya lagi.
Dalam hati Rose menggeram, menahan emosi. Sungguh, lihat saja nanti!
Dengan wajah ragu, tapi Rose sengaja memancing libido si pria mesum. Menyusurkan ujung jarinya ke lengan dengan perlahan. Lalu, ketika kedua tangan sudah sampai di wajah mengerikan itu, Rose langsung menangkapnya dengan erat.
Pria mesum itu sudah menyeringai. Ia merasa sudah akan menang di atas segalanya. Akan tetapi-
Kepalanya malah dibenturkan dengan keras, pada pinggiran bagasi mobil di belakang Rose.
Wanita itu, memegangi kepalanya, bukan untuk menciumnya. Melainkan, untuk memantapkan, hantaman yang akan ia lakukan. Melalui sisi samping kepalanya.
Mendadak, kepala pria itu terasa berputar. Seperti banyak burung bangau mengelilingi atas kepalanya.
Ia pun menggeleng dengan keras untuk kembali tersadar. Dan menjadi kesal setengah mati, karena telah merasa dipermainkan.
“Dasar Brengsek! Kau berani mempermainkan aku rupanya?!” seru si pria lantang, meski kepalanya masih terasa berputar.
Ia maju, hendak melayangkan pukulan ke arah Rose. Tapi Rose dengan mudah menghindar. Satu, dua, tiga, tak ada yang berhasil sampai pria itu menjadi geram. Sebab, Rose kian menertawakannya.
Merasa terinjak harga dirinya, pria yang penampakannya masih seperti badut itu, lantas mengeluarkan sesuatu dari kantong celana. Sebilah pisau lipat berukuran sepuluh sentimeter, ia acungkan ke hadapan Rose. Dengan seringai, karena ia berpikir akan menang, bersama sebuah senjata di tangan.
Tsh! Nyatanya, Rose kembali berdecak seraya mencibir. Sungguh seorang pengecut! Berani melawan wanita, dan bahkan sekarang memakai senjata.
Cuhh~!
Rose meludah ke samping untuk menghina aksi si pria mesum tadi. Benar-benar seorang pengecut!
Dan makin nyalang tatapan pria itu, murka karena harga dirinya semakin terluka oleh sikap Rose.
“Seharusnya kau mengenakan rok, bukan celana!”
Hinaan serta cibiran itu, membuat si pria menjadi tidak sabar. Lantas, ia pun mulai menyerang dengan pisau lipat itu.
Menghunuskannya tanpa ragu, ke arah depan. Berharap mengenai wanita yang sudah menghinanya habis-habisan.
Tapi tidak kena! Dan kembali tidak kena, karena Rose amat lihai menghindar. Tubuhnya begitu elastis dan fleksibel untuk bergerak menyamping menghindari serangan.
Heh! Amatir! Cibir Rose dalam hati. Dan hal ini terlihat jelas sekali. Karena tidak ada basic bela diri pada diri pria itu.
Kuda-kudanya lemah dan tidak stabil setiap kali melangkah maju dan menyerang. Tangan yang menghunus pun goyang dan tidak memiliki kekuatan.
Hanya ada emosi di sana. Dan, seandainya pun terkena. Lukanya pasti tidak akan begitu dalam dan parah. Tapi Rose tidak akan, tidak bisa pria itu melukainya.
Hingga kesabaran Rose habis. Waktunya untuk main-main pun sudah usai. Serta, ada banyak insan yang menunggunya.
Rose menghindar, dengan memiringkan tubuhnya ke kiri, lantas tangannya menangkap pergelangan yang mencoba menundukkan pisau lipat itu kepadanya.
Dicengkeram Rose pergelangan tangan itu dengan kuat. Ia merematnya, sampai setiap otot di tangan melemah dan pisau itu pun terjatuh ke tanah dengan sendirinya.
“Aww... Aww...” rintih pria itu karena merasa, tangannya sebentar lagi akan patah.
Sampai, pria itu berpikir, jika wanita yang ia hadapi ini, sebenarnya adalah monster, bukan manusia.
Dia wanita, tapi kekuatan tangannya luar biasa. Pergelangannya terasa hampir remuk sebentar lagi. Bahkan, sampai membuat otot dan sendi di sekujur tubuh menjadi lemas.
“Aww... Ampun, Nona! Ampun! Tolong lepaskan aku!” pinta pria itu dengan memelas. Posisinya pun sudah setengah melutut, sambil merasakan sakit luar biasa di tangan.
“Lepaskan? Heh!” Tawa Rose mencibir dan meremehkan.
Sedangkan, tangan yang ia cekal adalah tangan yang mempunyai niat buruk terhadap dirinya.
“Itu hal yang sangat mudah! Tapi... kau harus ingat-!” tatap Rose tajam. Seraya menyipitkan mata dengan suara rendah dan dalam.
Wanita itu pun mendekatkan wajahnya ke wajah si pria.
Jika, tadi dia sangat menantikan hal ini. Maka, saat ini, pria itu ingin sekali segera menjauh dari wajah, yang sudah menyiratkan seorang tirani.
“Jika, sampai aku melihatmu melakukan hal tidak senonoh lagi, pada seorang wanita, atau... kau melakukan hal buruk lainnya... tidak hanya tangan, tapi aku bisa mematahkan bagian tubuhmu yang lainnya.”
Krek~!
Pada akhir kalimatnya, bunyi suara tulang remuk terdengar. Bersama, dengan suara teriakan kesakitan dari si pria. “Aakhh!”
Dijauhkan Rose wajahnya, seraya mengendurkan cekalan tangan pria itu. Sedikitnya, pria itu bisa mengambil napas pada oksigen yang terasa menipis ini. Juga, untuknya bertahan dari rasa sakit dan nyeri yang tiada tara.
Tangannya, seperti baru saja diremukkan oleh seorang algojo wanita.
“Siapa namamu?” tanya Rose kemudian.
“Gery, Nona! Gery!” jawabnya dengan ketakutan.
“Gery, aku akan mengingat nama juga wajahmu!” Wajah yang tadi sudah mundur, sekarang maju lagi untuk membisikkan sebuah peringatan.
“Kau harus juga harus mengingat, nama dan wajahku!”
“Mem- memangnya siapa nama Nona?” tanya pria itu takut-takut.
“Rose Callary!” serunya tegas sembari menghempas tangan yang sedari tadi ia cengkeram. Sampai tubuh pria itu pun menjauh.
“Rose Callary?” gumam pria yang bernama Gery tadi sambil memeluk tangannya yang sakit. Rasanya, sebentar lagi mau patah.
Alisnya mengernyit, ia seperti pernah mendengar nama itu.
Brak~!
Bunyi pintu bagasi ditutup dengan keras pun menyudahi pikirannya yang berkeliaran jauh. Rose sudah selesai memasukkan barang-barang belanjaannya. Dan sedang melangkah ke arah pintu kemudi.
“Ahh, Rose Callary!” Wajahnya cerah sebentar karena ia sudah berhasil mengingatnya. Lalu, berubah ketakutan seketika.
Brak~!
Suara pintu tertutup yang kedua, membuat wajah badut penuh dengan terigu itu, mengkerut, ketakutan seperti baru saja melihat hantu.
“Dia adalah....”
Bruumm ~!
Wajah yang sudah dipenuhi terigu itu pun tidak cukup kotor, sampai debu jalanan akibat mobil Rose melaju mengotori wajahnya kembali.
Benar!
Rose mengganti namanya. Mengambil nama belakang Ben, agar ia merasa tetap bersatu dengan kekasih yang selalu tersimpan di hati.
Dan... nama itu kini terkenal sebagai pembela kebenaran dan penindas ketidakadilan bagi kaum jelata maupun wanita.
Juga, salah satu yang terkuat dalam kelompok Harimau Putih.
Semua orang mengenalnya, sebagai kekasih Benny Callary yang masih menghilang. Menggantikan pria itu, sebagai versi wanita, dari tirani yang mengerikan.
Dan beruntunglah, pria bernama Gery itu, karena tangannya, tidak benar-benar dipatahkan. Karena biasanya, Rose tidak akan segan-segan, memberikan hukuman, bagi para manusia laknat dan tidak tahu diri, seperti dirinya.
Bersambung...