
Nanti malam, pukul sembilan malam ini, mereka akan bertemu
kembali. Di lapangan tembak, tempat semula perdebatan tadi terjadi.
Sudah ada keputusan seperti itu pun, pihak kontra tetap saja
menyindir Rose yang ketakutan makanya memberikan sedikit waktu kepada mereka.
Namun Rose menyahuti, jika mereka sangat yakin dengan apa yang mereka pikirkan,
harusnya mencari buktinya pun akan sangat gampang, kan!
Semua yang kontra terhadapnya, yang menentang kehadirannya
di sana, tidak berpikir panjang lagi untuk menerima tantangan itu. Mereka
merasa siap untuk membawa bukti yang Rose minta ke hadapannya.
Meski waktu yang Rose berikan tidak banyak, dengan angkuhnya
mereka semua merasa mampu menemukan apa yang wanita itu pinta dengan mudah. Dan
Rose membiarkannya saja. Dia tidak perlu melakukan apa pun, karena dia merasa
tidak bersalah. Biarkan mereka menemukan hal apa pun. Rose akan menantinya.
Sekarang, ketika mentari sudah mulai memberikan sinarnya
perlahan-lahan pada bumi, Rose nampak nyaman membaringkan diri di sisi
kekasihnya. Ben yang masih belum terbangun juga. Padahal sudah berjam-jam pria
itu tak sadarkan diri.
Di tempat tidur yang tidak cukup luas itu, Rose memiringkan
tubuhnya. Melintangkan tangan di atas dada bidang pria itu. Ditempelkan pula
pipinya ke lengan kekar Ben. Rose memeluknya dari samping dengan amat erat,
dengan begitu posesif.
“Ben, kapan kau bangun?” tanyanya dengan sebelah pipi yang
menggelembung, karena terhimpit otot lengan kekasihnya.
Seakan takut kehilangan, Rose mendekap tubuh pria itu semakin
erat. Belum bangunnya Ben sampai saat ini, mengusik sedikit kekhawatirannya.
Tetap saja, takut terjadi sesuatu pada diri kekasihnya itu.
Digelengkan kepala Rose di sana, sambil melekat erat pada
lengan kekar itu. Rasanya tidak mungkin juga, sih! Rasanya pukulan Relly tidak
terlalu keras. Sehingga dapat membahayakan nyawa tuan seramnya itu. Rose tahu
seberapa hebat dan kuat lelaki itu.
“Harusnya mereka tahu tentang masa laluku, Ben!” racaunya
sambil menggulirkan netra ke segala arah. Seperti tengah mencari-cari memori
masa lalu.
Wanita itu menjepit bibirnya kuat, saat lintasan memori
pahit itu berputar di dalam benaknya. Rose yang hampir dijadikan istri oleh
seorang tua bangka, dan hampir diperkosa olehnya. Tidak hanya itu, kekerasan
pun ia dapati dari pria paruh baya itu.
Serta… kejadian penculikan ketika dia belum lama bertemu
dengan kakaknya. Andai saja Ben datang lebih lama lagi, entah apa yang akan
terjadi padanya. Mungkin kejadian yang nyaris terjadi tempo hari, akan menjadi
kenyataan pahit bagi Rose kala itu.
Kristal bening mulai menumpuk di pelupuk mata. Menggenang
dan siap membanjiri wajah serta apa pun di bawah mata. Rose melampiaskan
kembali luka dan sedihnya. Dipejamkannya kelopak mata dengan erat sampai bulir
bening itu jatuh, melintasi pipi hingga menganak sungai di lengan kekar Ben.
“Terima kasih, Ben! Karena telah hadir dan menyinari
hidupku,” imbuhnya dengan bibir gemetar. Ditahan Rose isak tangisnya sekuat
tenaga. Dia tidak ingin mengganggu Ben yang sedang tertidur, yang sedang tak
sadarkan diri di sisinya.
Jika saat itu Ben tidak datang dan menyelamatkan hidupnya
dalam keterpurukan, Rose tidak mungkin bisa menahan semua hinaan itu. Hinaan
yang menjadi sumber hancur dan kacau jiwanya. Sebab kenangan pahit itu sudah
membuatnya merasa kotor dan hina.
Kejadian yang menimbulkan trauma itu, dapat disembuhkan,
dapat diobati oleh Ben. Pria itu bisa mengangkat dirinya yang terjatuh ke dasar
jurang paling dalam. Karena bahkan, kepada kakaknya pun dia tidak berani
menceritakan semua hal hitam di dalam hidupnya. Dia tidak ingin membebani
kakaknya yang sedang sakit keras kala itu.
Sungguh pun, saat itu sangat berat ia rasa!
Ben membawa dirinya, membuktikan kepada dirinya sampai dia
benar-benar sadar, bahwa Rose bukanlah seperti apa yang dia pikirkan. Dia tidak
hina dan kotor, dia masih suci dan bersih. Ben benar-benar membuktikan dengan
membuka matanya lebar-lebar.
Rose yang tadi mereka lihat sudah tidak ada. Yang kokoh bak
batu karang, suram seperti malam mencekam. Sosok yang tadi sudah meluruh bersama
air mata yang menganak sungai di wajah serta di lengan kekar Ben.
Sekarang Rose hanya sedang menjadi wanita biasa yang rapuh.
Wanita biasa yang mudah terluka hanya dengan sedikit nada tinggi dan beberapa
patah kata saja. Wanita itu kini tengah berkeluh kesah, menyatakan sembilu
hatinya melalui air mata serta dekapan erat.
Untuk beberapa saat, ia ingin membiarkan dirinya seperti
membebani. Sampai hatinya benar-benar lega. Karena setelah ini, ia tidak
diizinkan untuk menjadi lemah kembali.
Ini adalah permulaan. Hal yang mengajarkannya untuk menjadi
lebih kuat lagi. Tidak hanya secara fisik, tapi mentalnya pun harus siap
menerima banyak tekanan seperti ini. Menjadi kuat dan pantas untuk Ben
memanglah berat. Wanita itu pun mengakui
itu.
Tangis sendu sembilu, yang nadanya teredam namun iramanya
tetap menyayat hati, Rose hentikan tanpa ia sadari. Wanita itu kelelahan
menangis sampai tertidur.
Mungkin karena tak terbiasa tidak tidur semalaman. Mungkin
juga karena pikiran dan hatinya begitu lelah menghadapi tekanan seperti ini.
Mungkin juga alam bawah sadar yang menariknya dari semua sakit hati, supaya dia
bisa mengistirahatkan diri.
Dengkuran halus terdengar dari wajah yang masih basah akan air
mata. Namun sesekali… wanita itu seakan masih menangis bahkan di dalam mimpi.
Seakan keluhnya atas kesedihan, kepedihan ini belum juga usai.
Sinar mentari yang mulai meninggi, mengiringi dua insan yang
terlelap dan pergi sebentar dari dunia nyata. Hangat dan terangnya menelusup
masuk melalui celah ventilasi kamar itu. Tapi rasanya hal itu tidak berpengaruh
sama sekali. Malah makin membuat keduanya makin dalam jatuh ke alam mimpi.
Tidak! Ben, pria menyeramkan itu… jari telunjuknya terlihat
bergerak tipis. Bersamaan dengan itu juga, alisnya berkedut. Sedikit berkerut
untuk beberapa saat. Kelopak matanya pun bergerak dengan meresahkan.
Namun semua hal itu… Rose tidak menyadarinya. Sebuah
kemajuan yang tidak disadari oleh siapa pun. Sampai akhirnya wajah itu tenang
kembali… seperti sebelumnya. Seakan Ben masih betah berlama-lama bersama alam
bawah sadarnya.
Biasanya Ben tak kuasa melihat air mata menggenang di pipi
mulus wanita tercintanya itu. Mungkin tangisan Rose yang membangkitkan sedikit
kesadarannya. Sebab, pria itu tidak akan mengizinkan Rose menangisi hal-hal
seperti itu lagi.
Meninggalkan dua insan yang lelah dengan perasaan mereka
masing-masing. Semua anggota Harimau Putih nampak sibuk, bahkan jika mereka
tidak tidur semalam pun. Berlaku bagi yang terluka karena kejadian semalam.
Dua kubu saling mencari. Mencari bukti yang mereka inginkan
masing-masing. Yang kontra apa lagi. Gencar sekali berdiskusi dan melakukan
pencarian terhadap bukti yang memberatkan Rose nanti.
Sedang yang mendukung Rose, berusaha mencari hal sebagai upaya menunjukkan Nona Rose yang
tidak bersalah sama sekali.
Tak! Tak! Tak!
Derap langkah Anggie nyaring terdengar. Hak runcing angkle boots yang tadi menghajar kaki
Relly, kini dihentakkan ke lantai dengan begitu percaya diri. Di sisinya, Relly
berjalan sambil memainkan ponsel di tangan. Kepalanya terus menunduk ketika
berjalan.
“Bisa-bisanya… di saat seperti ini kau malah bermain game
online!” celetuk Anggie seraya menyikut pria di sampingnya.
“Hey… hey… hey!” Karena tidak siap, hampir saja telepon
genggamnya itu lepas dari tangan. Karena sudah berlompatan beberapa kali di
tangannya. Mungkin akan mendarat ke lantai dengan keras. Untunglah, masih
sempat tertangkap lagi oleh Relly.
Sudah begitu, tadi sedang seru-serunya! Permainannya jadi
terganggu, kan, karena ulah si wanita seksi.
“Aku sedang menunggu panggilan dari seseorang!” kilahnya
tidak mau disalahkan. Sambil keluar dari menu permainan tadi.
“Heh! Alasan!” cibir Anggie tidak percaya.
“Yang ada… kau malah akan mendiamkan telepon masuk karena
terlalu asyik bermain!”
Relly meringis mendengar tebakan Anggie. Nyatanya hal itu
pasti benar, akan ia lakukan nanti. Pria itu tertawa kecil sedikit merasa
bersalah.
Kring… kring… kring…
“Ada telepon masuk! Sebentar!” Relly langsung pergi menjauh.
“Halo! Iya, Tuan!” suaranya sempat terdengar sedikit seperti gumaman.
Dipicingkan Anggie matanya menatap kepergian rekannya itu.
Siapa gerangan yang meneleponnya? Sampai Anggie sendiri tidak boleh
mendengarkan.
“Apa aku boleh curiga?” tanyanya sendiri dengan wajah
polosnya.
Bersambung…