Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Sekali lagi



Nanti malam, pukul sembilan malam ini, mereka akan bertemu


kembali. Di lapangan tembak, tempat semula perdebatan tadi terjadi.


Sudah ada keputusan seperti itu pun, pihak kontra tetap saja


menyindir Rose yang ketakutan makanya memberikan sedikit waktu kepada mereka.


Namun Rose menyahuti, jika mereka sangat yakin dengan apa yang mereka pikirkan,


harusnya mencari buktinya pun akan sangat gampang, kan!


Semua yang kontra terhadapnya, yang menentang kehadirannya


di sana, tidak berpikir panjang lagi untuk menerima tantangan itu. Mereka


merasa siap untuk membawa bukti yang Rose minta ke hadapannya.


Meski waktu yang Rose berikan tidak banyak, dengan angkuhnya


mereka semua merasa mampu menemukan apa yang wanita itu pinta dengan mudah. Dan


Rose membiarkannya saja. Dia tidak perlu melakukan apa pun, karena dia merasa


tidak bersalah. Biarkan mereka menemukan hal apa pun. Rose akan menantinya.


Sekarang, ketika mentari sudah mulai memberikan sinarnya


perlahan-lahan pada bumi, Rose nampak nyaman membaringkan diri di sisi


kekasihnya. Ben yang masih belum terbangun juga. Padahal sudah berjam-jam pria


itu tak sadarkan diri.


Di tempat tidur yang tidak cukup luas itu, Rose memiringkan


tubuhnya. Melintangkan tangan di atas dada bidang pria itu. Ditempelkan pula


pipinya ke lengan kekar Ben. Rose memeluknya dari samping dengan amat erat,


dengan begitu posesif.


“Ben, kapan kau bangun?” tanyanya dengan sebelah pipi yang


menggelembung, karena terhimpit otot lengan kekasihnya.


Seakan takut kehilangan, Rose mendekap tubuh pria itu semakin


erat. Belum bangunnya Ben sampai saat ini, mengusik sedikit kekhawatirannya.


Tetap saja, takut terjadi sesuatu pada diri kekasihnya itu.


Digelengkan kepala Rose di sana, sambil melekat erat pada


lengan kekar itu. Rasanya tidak mungkin juga, sih! Rasanya pukulan Relly tidak


terlalu keras. Sehingga dapat membahayakan nyawa tuan seramnya itu. Rose tahu


seberapa hebat dan kuat lelaki itu.


“Harusnya mereka tahu tentang masa laluku, Ben!” racaunya


sambil menggulirkan netra ke segala arah. Seperti tengah mencari-cari memori


masa lalu.


Wanita itu menjepit bibirnya kuat, saat lintasan memori


pahit itu berputar di dalam benaknya. Rose yang hampir dijadikan istri oleh


seorang tua bangka, dan hampir diperkosa olehnya. Tidak hanya itu, kekerasan


pun ia dapati dari pria paruh baya itu.


Serta… kejadian penculikan ketika dia belum lama bertemu


dengan kakaknya. Andai saja Ben datang lebih lama lagi, entah apa yang akan


terjadi padanya. Mungkin kejadian yang nyaris terjadi tempo hari, akan menjadi


kenyataan pahit bagi Rose kala itu.


Kristal bening mulai menumpuk di pelupuk mata. Menggenang


dan siap membanjiri wajah serta apa pun di bawah mata. Rose melampiaskan


kembali luka dan sedihnya. Dipejamkannya kelopak mata dengan erat sampai bulir


bening itu jatuh, melintasi pipi hingga menganak sungai di lengan kekar Ben.


“Terima kasih, Ben! Karena telah hadir dan menyinari


hidupku,” imbuhnya dengan bibir gemetar. Ditahan Rose isak tangisnya sekuat


tenaga. Dia tidak ingin mengganggu Ben yang sedang tertidur, yang sedang tak


sadarkan diri di sisinya.


Jika saat itu Ben tidak datang dan menyelamatkan hidupnya


dalam keterpurukan, Rose tidak mungkin bisa menahan semua hinaan itu. Hinaan


yang menjadi sumber hancur dan kacau jiwanya. Sebab kenangan pahit itu sudah


membuatnya merasa kotor dan hina.


Kejadian yang menimbulkan trauma itu, dapat disembuhkan,


dapat diobati oleh Ben. Pria itu bisa mengangkat dirinya yang terjatuh ke dasar


jurang paling dalam. Karena bahkan, kepada kakaknya pun dia tidak berani


menceritakan semua hal hitam di dalam hidupnya. Dia tidak ingin membebani


kakaknya yang sedang sakit keras kala itu.


Sungguh pun, saat itu sangat berat ia rasa!


Ben membawa dirinya, membuktikan kepada dirinya sampai dia


benar-benar sadar, bahwa Rose bukanlah seperti apa yang dia pikirkan. Dia tidak


hina dan kotor, dia masih suci dan bersih. Ben benar-benar membuktikan dengan


membuka matanya lebar-lebar.


Rose yang tadi mereka lihat sudah tidak ada. Yang kokoh bak


batu karang, suram seperti malam mencekam. Sosok yang tadi sudah meluruh bersama


air mata yang menganak sungai di wajah serta di lengan kekar Ben.


Sekarang Rose hanya sedang menjadi wanita biasa yang rapuh.


Wanita biasa yang mudah terluka hanya dengan sedikit nada tinggi dan beberapa


patah kata saja. Wanita itu kini tengah berkeluh kesah, menyatakan sembilu


hatinya melalui air mata serta dekapan erat.


Untuk beberapa saat, ia ingin membiarkan dirinya seperti


membebani. Sampai hatinya benar-benar lega. Karena setelah ini, ia tidak


diizinkan untuk menjadi lemah kembali.


Ini adalah permulaan. Hal yang mengajarkannya untuk menjadi


lebih kuat lagi. Tidak hanya secara fisik, tapi mentalnya pun harus siap


menerima banyak tekanan seperti ini. Menjadi kuat dan pantas untuk Ben


memanglah berat.  Wanita itu pun mengakui


itu.


Tangis sendu sembilu, yang nadanya teredam namun iramanya


tetap menyayat hati, Rose hentikan tanpa ia sadari. Wanita itu kelelahan


menangis sampai tertidur.


Mungkin karena tak terbiasa tidak tidur semalaman. Mungkin


juga karena pikiran dan hatinya begitu lelah menghadapi tekanan seperti ini.


Mungkin juga alam bawah sadar yang menariknya dari semua sakit hati, supaya dia


bisa mengistirahatkan diri.


Dengkuran halus terdengar dari wajah yang masih basah akan air


mata. Namun sesekali… wanita itu seakan masih menangis bahkan di dalam mimpi.


Seakan keluhnya atas kesedihan, kepedihan ini belum juga usai.


Sinar mentari yang mulai meninggi, mengiringi dua insan yang


terlelap dan pergi sebentar dari dunia nyata. Hangat dan terangnya menelusup


masuk melalui celah ventilasi kamar itu. Tapi rasanya hal itu tidak berpengaruh


sama sekali. Malah makin membuat keduanya makin dalam jatuh ke alam mimpi.


Tidak! Ben, pria menyeramkan itu… jari telunjuknya terlihat


bergerak tipis. Bersamaan dengan itu juga, alisnya berkedut. Sedikit berkerut


untuk beberapa saat. Kelopak matanya pun bergerak dengan meresahkan.


Namun semua hal itu… Rose tidak menyadarinya. Sebuah


kemajuan yang tidak disadari oleh siapa pun. Sampai akhirnya wajah itu tenang


kembali… seperti sebelumnya. Seakan Ben masih betah berlama-lama bersama alam


bawah sadarnya.


Biasanya Ben tak kuasa melihat air mata menggenang di pipi


mulus wanita tercintanya itu. Mungkin tangisan Rose yang membangkitkan sedikit


kesadarannya. Sebab, pria itu tidak akan mengizinkan Rose menangisi hal-hal


seperti itu lagi.


Meninggalkan dua insan yang lelah dengan perasaan mereka


masing-masing. Semua anggota Harimau Putih nampak sibuk, bahkan jika mereka


tidak tidur semalam pun. Berlaku bagi yang terluka karena kejadian semalam.


Dua kubu saling mencari. Mencari bukti yang mereka inginkan


masing-masing. Yang kontra apa lagi. Gencar sekali berdiskusi dan melakukan


pencarian terhadap bukti yang memberatkan Rose nanti.


Sedang yang mendukung Rose, berusaha mencari  hal sebagai upaya menunjukkan Nona Rose yang


tidak bersalah sama sekali.


Tak! Tak! Tak!


Derap langkah Anggie nyaring terdengar. Hak  runcing angkle boots yang tadi menghajar kaki


Relly, kini dihentakkan ke lantai dengan begitu percaya diri. Di sisinya, Relly


berjalan sambil memainkan ponsel di tangan. Kepalanya terus menunduk ketika


berjalan.


“Bisa-bisanya… di saat seperti ini kau malah bermain game


online!” celetuk Anggie seraya menyikut pria di sampingnya.


“Hey… hey… hey!” Karena tidak siap, hampir saja telepon


genggamnya itu lepas dari tangan. Karena sudah berlompatan beberapa kali di


tangannya. Mungkin akan mendarat ke lantai dengan keras. Untunglah, masih


sempat tertangkap lagi oleh Relly.


Sudah begitu, tadi sedang seru-serunya! Permainannya jadi


terganggu, kan, karena ulah si wanita seksi.


“Aku sedang menunggu panggilan dari seseorang!” kilahnya


tidak mau disalahkan. Sambil keluar dari menu permainan tadi.


“Heh! Alasan!” cibir Anggie tidak percaya.


“Yang ada… kau malah akan mendiamkan telepon masuk karena


terlalu asyik bermain!”


Relly meringis mendengar tebakan Anggie. Nyatanya hal itu


pasti benar, akan ia lakukan nanti. Pria itu tertawa kecil sedikit merasa


bersalah.


Kring… kring… kring…


“Ada telepon masuk! Sebentar!” Relly langsung pergi menjauh.


“Halo! Iya, Tuan!” suaranya sempat terdengar sedikit seperti gumaman.


Dipicingkan Anggie matanya menatap kepergian rekannya itu.


Siapa gerangan yang meneleponnya? Sampai Anggie sendiri tidak boleh


mendengarkan.


“Apa aku boleh curiga?” tanyanya sendiri dengan wajah


polosnya.


Bersambung…