
“Ayo! Aku akan menunjukkan kamar yang akan kau tempati!” ajak Ben setelah puas menikmati madu di bibirnya. Hem... rasanya tak pernah bosan!@
Lelaki itu mengangkat tubuh Rose sehingga berdiri. Kemudian membimbingnya ke luar ruangan dengan tangan di genggaman. Rose pun menurut mengikuti.
Yang mereka datangi adalah sebuah pintu yang letaknya berada di sebelah kanan ruangan milik Ben. Sambil terbawa langkah langkah panjang lelaki itu, Rose beberapa kali menoleh ke belakang. Meyakinkan diri bahwa memang pintu yang akan dibuka oleh Ben adalah tepat di sebelah ruangan pribadi kekasihnya.
Rose berpikir jika Ben terlalu berlebihan. Bahkan pria itu tidak membiarkannya jauh dari pandangan sedikit pun. Rose takut, anak buahnya akan merasa tidak nyaman. Karena sudah terlalu memanjakannya. Rose tidak ingin terjadi masalah antara Ben dan anak-anak buahnya yang disebabkan oleh dirinya, pendatang baru ini. Ia akan merasa sangat tidak enak hati jika sampai hal itu terjadi.
“Ayo masuk!” ajak Ben dan kembali menariknya ke arah dalam.
“Ini kamarmu! Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak.” Ben membuka suaranya yang terdengar meragu.
Pria bertopi koboi yang biasanya angkuh dan acuh itu kini tengah menggaruk kepala di bagian belakangnya dengan ekspresi bimbang. Takut-takut Rose akan tidak senang dengan apa yang sudah ia persiapkan ini. Sebab pria bertopi koboi itu baru kali ini merasa tidak yakin pada apa yang dia lakukan.
Wanita itu maju beberapa langkah di depan Ben. Netra Rose yang abu bergulir di tempat, menyapu seluruh pemandangan di dalam ruang persegi panjang yang tidak terlalu besar itu. Kemudian sudut bibirnya mengukir sebuah senyuman sambil ia berbalik menghadap ke arah Ben. Matanya berkedip ringan.
Cup
“Terima kasih! Aku suka! Sangat suka! Sangat, sangat suka!” Lalu ia hadiahkan sebuah kecupan manis di pipi kekasihnya. Rose rengkuh tubuh tegap lelaki itu kemudian memeluknya erat.
“Tapi... “ sambut Ben ragu seraya merengkuh balik tubuh wanitanya. Wajahnya masih terlihat khawatir.
Dia mempersiapkan kamar ini berdasarkan pemikirannya saja. Dia tidak bertanya pada Rose sama sekali, sebab niatnya ingin memberikan sebuah kejutan pada wanita cantik itu.
Namun hal itu juga pasti ada titik kelemahannya, takutnya Rose tidak senang dengan apa yang sudah ia persiapkan ini. Karena ia berniat tidak ingin membuat kekasihnya itu kecewa.
“Kau tahu?!” Rose melepaskan pelukannya lalu duduk di atas tempat tidur single yang masih tertata rapi. Diambilnya sebuah bantal sembarangan untuk ia dekap di dadanya.
“Aku seperti masih berada di rumah kakak!” seru wanita itu sambil memandang Ben girang. Rose benar-benar merasa senang. Dipamerkan gigi-gigi putihnya itu tak berhenti. Sambil duduk, ia goyang-goyangkan kedua kakinya riang.
Ini persis seperti kamar yang ia tempati saat tinggal di rumah Victor, kakaknya. Tempat tidur kecilnya, sprei yang ia biasa pakai dengan motif boneka beruang, juga setiap detial kecil seperti nakas, lampu tidur dan yang lainnya. Mereka terlihat mirip seperti yang berada di rumah kakaknya. Seperti kekasihnya itu benar-benar memiliki niat untuk menyenangkan hati.
“Terima kasih, Ben! Terima kasih karena kau sudah memikirkan sampai sejauh ini. Padahal aku akan menerima saja bagaimana pun kamar yang tersedia di sini. Kau tahu bukan, kalau aku tidak semerepotkan itu?!" lanjutnya lagi seraya menarik tangan Ben untuk duduk di sebelahnya. Rose mengeluarkan suara merdu dan tatapan mata yang penuh dengan roma ketulusan. Dia amat bersyukur akan kebaikan kekasihnya itu.
Pria bertopi koboi itu sebenarnya ingin sekali bersorak dengan kencang saking kegirangan. Tapi dia tidak mungkin melakukannya saat ini, di depan pujaan hatinya pula. Dia tidak mungkin mempermalukan dirinya sendiri, bukan!
“Kau datang ke sini saja sudah merepotkan!” Ben tak lupa menggoda wanita itu. Ia ingin melihat wanita itu kesal. Rindu rasanya melihat wanita itu cerewet dan menyebalkan lagi!
“Apa kau bilang? Jadi kau sebenarnya keberatan aku datang ke sini, kan? Wah... wah... sekarang topengmu sudah terbuka, Tuan! Ternyata seperti ini, ya, kulit asli wajahmu!” Rose membuang bantal di pelukannya seketika. Tersulut emosi, lalu dia berdiri dengan wajah marah.
“Tahu begini, aku menolak lamaranmu saja waktu itu!” Melotot matanya hampir saja keluar.
Yang membuat Rose semakin marah adalah, wajah Ben malah terlihat sangat menikmati kemarahannya saat ini. Membuat api di dadanya semakin menggebu-gebu ia rasa.
“Lebih baik aku pulang!” Rose tidak tahan, lalu menarik kopernya kembali ke arah luar.
Sudah menyebalkan, ditambah lagi emosinya yang tadi karena perkara wanita yang dia bawa ke sini belum sepenuhnya hilang. Jadi Rose bertambah marah saja sekarang. Rasanya sungguh menyesal sudah memutuskan datang ke sini!
Senyum yang diam-diam Ben sembunyikan, langsung sirna melihat reaksi Rose yang di luar dugaan. Ben lantas menarik pergelangan tangan Rose, sehingga wanita itu terduduk kembali, di tempatnya semula.
“Aku bercanda! Begitu saja marah!” Di sela kepanikannya melihat kemarahan Rose yang melebihi ekspektasinya, Ben tersenyum lebar seraya mencubit gemas hidung kekasihnya itu. Mengapa mudah sekali memprovokasinya?! Ini benar-benar di luar dugaan!
Apakah semua wanita seperti ini? Mudah sekali terpancing emosi? Ben merasa seperti mendapat karma. Dia yang biasanya hanya memiliki sedikit kesabaran, dalam hal apa pun. Sekarang mesti mengulur limit kesabarannya untuk membujuk wanitanya yang setiap kali merajuk.
Hah! Baiklah! Hanya demi wanitanya saja dia mengalah! Hanya untuk Rose dia mengulur kesabarannya.
“Jika kau pulang, lalu bagaimana dengan nasib masa depan kita, Sayang? Apakah kau akan mengingkari janji yang telah kau buat sendiri, hem?” Ben membujuk Rose dengan nada yang begitu lembut. Dia belai pipi Rose yang sedang menggembung itu.
“Jadi sekarang ini juga salahku?” Rose menyampaikan kekesalannya sampai menelengkan kepalanya ke kiri.
“Baiklah, baiklah! Aku tidak akan menggodamu lagi!” Ben menggenggam jari-jemari lentik milik Rose, lalu menatapnya dengan sungguh-sungguh.
"Maafkan aku, hem! Tadi aku berniat hanya menggodamu saja. Mana mungkin aku serius dengan ucapanku itu! Tentu saja aku tidak keberatan sama sekali kau berada di sini. Malahan aku senang, karena aku bisa mengawasimu dari dekat. Sudah, ya, jangan marah lagi!” Bujuk rayu Ben lakukan.
Hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali kepada seseorang. Hanya untuk Rose, hanya kepada Rose dia mau melakukannya.