Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Duet klasik pengalaman pertama



“Lakukanlah! Aku mencintaimu, Ben!”


Mata Pria itu masih terbelalak lebar saat Rose selesai bicara. Tubuhnya yang dingin dan sejuk seakan menjadi penawar bagi tubuh Ben yang sedang sangat kepanasan.


Rasanya, Ben ingin sekali menekuk jari-jari tangan yang masih bertahan di sana. Lalu menggerusnya, mengeruk kenyamanan dan keindahan itu dengan begitu rakus.


Benar, Ben melakukannya. Ia menekuk jari-jemarinya, namun kemudian, ia kepalkan lalu menarik tangannya itu dari dada Rose. Yang sudah membusung dan berdebar dengan gila.


Ditolehkan Ben kepalanya ke samping. Ia membuang pandangan, tak ingin melihat, menatap wanita yang hanya dengan menatapnya saja, sebenarnya ia sudah akan semakin gila. Saat ini.


“Pergilah, Rose! Aku tidak bisa melakukannya!”  desah Ben berat. Dengan segala upaya untuk menolak hal terindah yang sudah Rose tawarkan padanya.


Meskipun tawaran itu sangat menggiurkan. Tapi Ben tidak mau merusak momen pertamanya dengan Rose dalam kondisi seperti ini. Ia sudah meyakini, jika nanti, diperjalannya, Ben akan menjadi monster yang begitu rakus. Seolah-olah ia tidak mendapat mangsa selama ribuan tahun.


Dan, Ben tidak menginginkan hal itu. Ia tidak mau kehilangan momen indah yang bisa ia bangun, ketika dalam kondisi sadar. Dan saling mencinta, ketika mereka pertama kali menyatu.


“Hh…” Rose pun jadi ikut membuang wajahnya sebentar. Sambil mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dalam sekejap. “Ck!” Dia pun berdecak.


Padahal ia sudah sangat berlapang dada dengan mau menyerahkan dirinya sendiri. Tanpa paksaan.


Padahal ia sudah mau mengingkari janji yang sudah ia buat sendiri, dengan tidak melakukannya sebelum ia menjadi kuat.


Namun kenapa kekasihnya ini sungguh keras kepala?!


Lalu, apakah dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri tanpa bantuan siapa pun? Rose pun mendadak menjadi kesal.


“Jika kau tidak mau melakukannya denganku, kalau begitu…” Wanita itu berdiri, lalu berpaling membelakangi Ben. Rose pun melanjutkan bicaranya lagi sebelum pergi. “Kalau begitu, aku akan memanggilkan wanita lain untuk mengobati rasa sakitmu!”


Grep~!


“Rose!” Dengan cepat Ben menoleh seraya menangkap pergelangan tangan kekasihnya itu.


Ia sungguh tidak menyangka Rose akan mengatakan hal seperti tadi. Memberikan dirinya kepada wanita lain? Apa maksudnya?


“Lepaskan, Ben!” pinta Rose dengan nada jengkel. Sengaja, tangannya menggeliat dalam cekalan tangan Ben, agar ia bisa melepaskan diri.


Rose terluka, ia kecewa. Wanita itu tidak menyangka, Ben malah menolaknya mentah-mentah. Padahal ia sudah begitu berinisiatif memberikan dirinya sendiri kepada pria itu.


Ada sisi harga dirinya yang terluka. Ada pula, sisi lain dirinya yang kecewa. Sisi wanita dewasa yang tak pernah terjamah siapa pun sebelumnya. Dan sedikit banyak, Rose sudah mengharapkan hal itu terjadi.


Rose tidak munafik, jika ada sebagian dari dirinya yang menginginkan penyatuan cinta mereka.


Ben menatap dalam pada Rose yang berdiri menjulang dan sedang kesal. Mulutnya terbuka setengah, tidak menyangka dengan reaksi yang wanita itu berikan.


Siapa sangka jika wanita yang begitu ia damba akan menatapnya dengan sekecewa ini?!


“Siapa yang tahu kau akan bertahan sampai kapan?! Dan aku tidak akan membiarkanmu menahan sakit ini sendirian. Mengerti?!” tegas Rose bernada kesal.


“Jadi, tolong… lepaskan aku sekarang!” imbuhnya sambil menghentak tangannya yang masih dicekal.


Marah, kecewa dan sedih. Ada api membara pada netra abu wanita itu. Dan rasanya, Rose sudah ingin menangis dengan perasaan campur aduk yang kini ia rasakan.


Baiklah! Mungkin dia harus rela menyerahkan kekasihnya kepada wanita lain. Dengan tangannya sendiri.


“Aarrghhh…~!” pekiknya kaget ketika tiba-tiba tubuhnya melayang di udara.


Brug~!


Lalu mendarat di atas tempat tidur lapang itu, di bawah kungkungan kedua tangan Ben yang memenjarakan.


Kejadiannya begitu cepat. Sangat cepat gerakan Ben ketika menarik kedua tangannya, hingga kini, ia bisa berakhir di bawah tubuh gagah kekasihnya itu.


Kelopak mata Rose mengedip ringan. Menatap lurus pada pria di atasnya, tanpa mengeluarkan suara. Ia tidak mau berbicara terlebih dahulu. Hanya menghayati indahnya mata yang dibalut kabut gairah itu.


“Aku tidak menginginkan wanita lain. Tidak akan pernah! Jadi jangan pernah, coba-coba mendorongku pada wanita lain lagi!” bicara pria itu dengan setiap desah panas yang mulai membakar tubuh Rose.


Tekanan pada setiap kalimat yang terlontar, adalah sebuah keseriusan. Adalah sebuah janji, ikrar yang Ben buat untuk seumur hidupnya. Dan hal itu berlaku untuk dirinya, juga Rose sendiri.


“Tapi-“


“Sstthh!” Ben menutup bibir yang hendak berbicara itu dengan jari telunjuknya yang besar.


“Aku yang dalam kondisi sadar saja sudah merasa gila setiap kali sedang bersamamu. Apalagi dalam kondisi seperti ini, heh… “ jeda pria itu dengan desah napas berat. “Aku pasti akan menggila, Rose, jika dalam keadaan seperti ini.”


“Aku takut, karena kegilaanku ini, aku akan menyakitimu!”


“Ben~!” Rose lantas mendorong tubuh pria itu sampai mereka kini menduduk bersama.


Ben hanya mengikuti saja gesture tubuh Rose. Hingga ia merapat kembali ke kepala ranjang, lalu kekasihnya itu duduk di pangkuannya.


Rose membuka kedua tungkainya. Bergantian, memenjara Ben dengan tubuh rampingnya. Lantas ia tangkup kedua sisi wajah tegas itu.


“Bukankah, lebih baik kita menanggung rasa sakit bersama? Dari pada harus sakit sendiri-sendiri? Karena setelah itu kita bisa saling mengobati, Ben!”


Cup~!


Sebuah kecupan mendarat pada bibir penuh lelaki itu. Rose memejamkan mata, menekan bibir hingga hidungnya pun ikut menekan bibir dan hidung milik Ben.


“Rose!” desah Ben dengan napas yang semakin berat. Ia semakin frustasi karena kekasihnya itu sudah menyalakan pemicu akan gairah yang sejak tadi tertahan.


Dan wanita itu malah makin merapatkan tubuhnya. Maju dan semakin menempel dengan tak melepaskan wajahnya di kedua sisi.


Rasa frustasi dan jiwa yang hendak menggila seakan sedang memberontak di dalam raganya. Ben menahan napas kala Rose malah sengaja meletakkan tangannya, di atas paha mulus yang terbuka, karena belahan gaunnya.


“Rose!” erang Ben seraya memejamkan mata. Tanpa sadar pula, tangan itu menggeruskan jari-jarinya pada paha Rose yang terbuka itu.


Ia mulai tidak tahan dengan setiap godaan yang Rose lakukan padanya. Dapat dirasakan Ben, juniornya sudah menegang dengan sangat kencang di bawah sana. Dan mungkin Rose juga dapat merasakan hal itu.


Cup~!


Rose kembali mengecupnya. Tidak sekali, namun kali ini beberapa kali dan semakin dalam kecupan Rose padanya. Bibir wanita itu pun bergerak semakin liar, meski amatir padanya.


Ben melepaskan peraduan bibir mereka yang semakin memanas. Dipegangi kedua bahu wanita itu. Bahkan ia sampai mengeratkan pegangannya, sambil menahan gairah yang menyala.


“Rose! Sekarang aku tidak akan ragu lagi!” Ia mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk sebentar.


“Lakukanlah, Ben! Aku menunggumu!”


Benar, dia sudah menunggunya! Rose sudah menunggu laki-laki itu tidak keras kepala lagi. Rose sudah menunggu agar kekasihnya itu melepaskan saja semua gejolak yang tengah membara, membakar seluruh jiwa hingga hampir gila.


Cup~!


Rose kembali menangkup wajah Ben dan menciumnya lagi. Lalu wajah mereka berbagi jarak, karena Ben kembali mendorongnya. Rose mengerutkan alis bingung.


“Maafkan aku, jika nanti aku menyakitimu!” ucap Ben tulus dengan mata sayu dan berlimpah gairah.


“Kau tidak akan menyakitiku!” balas Rose tersenyum sendu.


Rose pejamkan matanya kala jemari Ben mulai menyusuri tangan sampai ke bahu. Dengan lembut dan pelan, sehingga menimbulkan rasa geli dan merinding pada tengkuknya.


Pada posisi mereka, Rose yang masih berada di atas pangkuan Ben, masih betah memejamkan mata. Jari-jari kasar dan kapalan itu menggerus kulitnya, sehingga menimbulkan gelenyar hebat ke sekujur tubuh.


Pria itu setengah memeluknya saat jemari tangannya berakhir pada resleting gaun Rose di punggung.


Lalu, dengan sangat lambat. Dan mungkin Ben sengaja melakukannya untuk membakar sesuatu di dalam diri Rose, agar mereka nanti bisa melakukan permainan dengan imbang. Karena mereka begitu saling menginginkan.


“Hk…!” Punggung itu pun menegang, mengendur dan menegang lagi sampai Rose tidak tahan, dan menggigiti bibir bawahnya.


Sepasang benda sintal dan kenyal seolah bergembira, karena baru saja dilepaskan, dari belenggu gaun maroon ketat yang memenjarakannya.


“Hhehh….~!” Napas Ben semakin berat dan memburu menatap ke sana. Semakin kering pula tenggorokannya ia rasa.


Glup~!


Jakunnya bergerak naik turun, ia menelan ludahnya sendiri dengan kesusahan. Seperti sedang berada di gurun pasir tak berujung, dan kini ia sedang sangat kehausan.


Ben haus sentuhan. Ia pun haus untuk menyentuh sampai dipenuhi kepuasan.


Sungguh pun, Rose merasakan detak jantungnya ini semakin berpacu dan seolah akan keluar dari arenanya. Ini benar-benar gila! Ini adalah perasaan paling gila yang pernah ia rasakan selama hidupnya.


Ada rasa malu, karena sebentar lagi tubuhnya akan tereskpos oleh kekasihnya itu. Sedikit ragu masih pula bersarang, hingga ia memiliki setitik niat untuk melarikan diri dari sana. Namun, sebagian besar yang menguasai Rose saat ini adalah, gairah.


Rose menerima, membalas sentuhan bibir Ben di bibirnya. Bergerak dan bekerja sama dengan kooperatif untuk saling membakar diri masing-masing. Meski, Ben sebenarnya sudah hampir kebakaran sendiri. Karena zat afrodisiak yang sudah bersarang di tubuhnya.


Pria itu pun merebahkan tubuhnya tanpa melepas ciuman mereka. Kembali ke posisi awal ketika Ben berhasil menariknya dari posisi berdiri, ketika Rose merajuk tadi.


“Maaf, Rose! Aku tidak bisa menahannya lagi!” ucapnya seraya menarik turun gaun yang masih terpasang longgar pada tubuh Rose.


“Jangan meminta maaf terus, Ben! Lakukan saja!” kekeh Rose sebentar sambil pasrah dirinya dilucuti hingga hampir polos.


Membola bola mata hitam pria itu saat menyaksikan keindahan yang belum pernah ia lihat, yang Rose miliki. Molek tubuh kekasihnya, yang selama ini selalu menggoda, bahkan jika dia sedang tertutup rapat sekali pun.


Sambil terus memandangi hal yang semakin memicu api yang membara di dalam jiwa. Ben pun melucuti pakaiannya satu persatu.


Menyeimbangkan diri dengan Rose yang sudah memasrahkan diri, dengan wajah malu-malu. Wanita itu menutupi wajahnya dengan lengan kanan.


Ben mengambil tangan itu, lalu menurunkannya. “Tatap aku, Rose!”


Cup~!


Dengan tubuh yang sama polos, Rose kembali menerima kegilaan di bibir dan sekitar mulutnya. Tangan pria itu juga mulai bergerilya ke seluruh tubuhnya yang polos.


“Aku akan melakukannya, Sayang!” Ben mengumumkan, agar Rose menyiapkan diri. Lantas pria itu pun menyatukan cinta mereka, dengan sedikit memaksa.


“Ssts…!” desis Rose  menahan nyeri.


“Kau bisa menahannya?” angguk Rose kemudian, seraya menahan perih di bagian inti tubuhnya.


“Sebentar lagi tidak akan sakit lagi. Percayalah!” angguk Rose lagi untuk menjawabnya. Ia belum bisa berkata apa-apa saat ini, karena terlalu fokus pada sesuatu yang sedang menguasai inti dirinya.


“Aku mencintaimu, Rose!” ucap pria itu seraya mengelus pipi kekasihnya dengan ibu jari, dari kanan ke kiri.


“Aku pun mencintaimu, Ben!” balas Rose dengan senyuman.


Lantas Ben menciumnya lagi. Mengalihkan perhatian Rose pada hal menyakitkan di tempat lain, dengan perasaan gila ketika mereka memadukan madu yang mereka punya, di bibir masing-masing.


Semenjak saat itu, yang terdengar hanya alunan melodi dari penyatuan dua tubuh yang saling mencinta. Dua manusia yang tengah bercengkerama dengan desah panjang, kadang juga pendek-pendek sampai tubuh terengah-engah.


Padahal saat itu angin pantai tengah bertiup lumayan kencang. Tapi tidak juga dapat mendinginkan api gairah yang sudah sangat membakar pada tubuh keduanya.


Peluh-peluh berjatuhan kala gerakan pinggang Ben yang memompa semakin aktif dan cepat. Juga pada tubuh Rose yang terus bergoyang terbawa dayungan kekasihnya.


Mabuk kepayang, itu adalah tujuan akhir Ben yang belum juga ia capai. Meski mereka sudah melewati beberapa waktu sampai Rose mencapai pada pintu surga dunia.


Ben belum puas, tidak akan puas rasanya sampai ia benar-benar melahap habis wanita yang begitu lama ia puja ini. Walaupun tempat tidur sudah berantakan. Pria itu terus menggerus tubuh Rose dengan hebat.


Seisi kamar resort itu, yang bernuansa cokelat menyejukkan, harus rela mendengar setiap alunan dan nyanyian harmonis dari kedua mulut yang saling memanggil nama dengan nada asing dan menggairahkan.


Rose pun jadi lupa akan rasa sakitnya yang ia rasa di awal pertempuran. Duet klasik ini menjadi yang pertama baginya. Meskipun ia merasa hampir gila karena tidak kuat menahan serangan Ben yang membabi buta. Tapi juga, ia hampir gila karena perasaan itu membuatnya memiliki rasa senang yang berlebihan.


Keduanya terus menyatu. Dalam waktu lama, hingga beberapa kali pencapaian mereka di puncaknya. Ben masih gagah untuk memulai lagi dan lagi. Seperti ia tidak memiliki kepuasan sampai melihat wanita itu terkapar tak berdaya.


***


Sedang di sisi lain resort tersebut.


Di salah satu kamar yang paling mewah rupanya. Della Moran August, wanita itu bahkan sudah menyiapkan kamar dengan hiasan paling romantis, semenjak pintu kamar itu.


Lilin-lilin aromaterapi berbaris memanjang di kanan kiri membuat jalan sampai ke ranjang. Dan sepanjang jalan itu, ditaburi kelopak bunga mawar.


Tempat tidur berbalut sprei putih polos itu juga sudah penuh dengan kelopak mawar merah. Ditemani lilin aromaterapi pada setiap nakas di sisi ranjang.


Della dengan bathrobe yang ia kenakan, sedang duduk di sofa panjang tak jauh dari tempat tidur. Seperti biasa, ia duduk dengan gaya khasnya. Duduk bersandar, sambil memangku kaki juga melipat tangan di depan.


Tatapannya tajam, juga sulit dijelaskan. Di hadapannya, terdapat sebotol anggur merah juga sepasang gelas bertangkai, yang niatnya akan ia nikmati dengan pria incarannya. Siapa lagi jika bukan Ben!


Dia pun menggunakan bathrobe untuk membalut tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Della sudah mempersiapkan segalanya untuk malam ini.


Untuk menikmati indah tubuh pria itu juga malam dan nuansa sejuk angin pantai. Della sudah merencakan segalanya dengan matang.


Dan…


Prang~!


Bukan lagi gelas yang ia buang ke lantai. Tapi botol anggur yang masih terisi penuh itu ia lempar sekuat tenaga ke lantai kayu.


Pecah, belingnya berserakan, berantakan, isinya berceceran di lantai. Beberapa lilin pun mati karena terkena isinya yang berbentuk cairan. Kelopak mawar merah di lantai semakin berwarna hitam pekar, bercampur warna anggur itu.


“Aaargghhh…~!” teriak wanita itu frustasi. Ia marah, sangat marah. Murka karena semua rencananya gagal.


Baru saja, ia mendengar kabar dari Emilio jika dua orang yang tadinya sudah berhasil membawa Ben, gagal dalam misi mereka.


Bahkan keduanya di hadang oleh dua orang. Yang Della yakini dari penjelasan mereka, salah satunya pasti adalah Rose, kekasih pria itu.


“Aargh… sial! Sial!”


Dret~!


Ditendang Della meja di hadapannya dengan wajah murka yang mengerikan untuk sekadar diintip apalagi dilihat. Jangan ada yang berani-berani melihat wajah seram itu! Mereka pasti akan bernasib buruk.


Ini adalah kali pertama dalam hidupnya, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dengan mudah. Maka dari itu, Della jadi semarah ini.


“EMILIO!! EMILIO!!”


Dan ia tahu, saat ini, satu-satunya obat frustasinya adalah pengawal pribadinya itu. Della akan melampiaskan kemarahannya ini pada pria muda itu. Dengan cara yang mereka tahu.


Bersambung…


Maaf manteman,, tadi abis pergi aku,, baru pulang ba’da isya trus lanjutin nulis lagi


Sekalian aku buat 2200 kata lebih ya, supaya ga ada lagi yang penasaran sama bersatunya Ben dan Rose,,, wkwkwk


Ayo, yang mau ke kamar mandi, silahkan! Jangan ditahan ya.. xixixi