Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Masih tersisa satu



Dor!


Hingga sebuah tembakan terjadi dan Ben tak dapat mencegahnya.


Dor!


Tidak satu tembakan yang dilesatkan oleh wanita itu. Bahkan dua butir timah panas diluncurkan ke arah sasaran yang sudah ia bidik.


“Kena!”


Sambil menurunkan tangannya yang memegang pistol, Rose menyeringai untuk memamerkan kepuasan yang ia rasakan saat ini.


Bagaimana tidak puas? Hey, bagaimana pun juga dia itu masih amatiran! Masih lebih buruk dari amatiran bahkan, karena sebelumnya ia belum menggunakan senjata api sama sekali.


Kedua penyusup itu masing-masing terkena tembakan Rose. Yang satu tertembak di lengan kirinya. Dan yang sudah terlanjur terluka kaki kanannya, barusan Rose sasar ke bagian kaki kirinya. Yang mengakibatkan dia


ambruk ke tanah karena tak mampu berjalan lagi. Di kedua kakinya, darah mengucur deras.


“Tangkap mereka!” Titah Ben dengan suara lantang ketika melihat hal itu. Ini adalah kesempatan yang tak boleh mereka lewatkan.


Penyusup-penyusup kurang ajar itu harus segera dibereskan. Tapi sebelum itu, mereka harus mengetahui dulu motif dan dalam di balik punggung mereka.


“Ayo! Aku akan menggendongmu!” ucap penyusup yang terluka lengannya. Dia tidak ingin meninggalkan rekannya sendirian.


“Tidak bisa! Kau harus segera menyelematkan diri. Mereka terlalu banyak. Kita tidak akan bisa melarikan diri jika bersama.” Dia menyadari keadaannya saat ini yang tidak bisa berjalan. Sedangkan dilihatnya, pasukan Ben mulai menyerbu mereka berdua.


“Menyerahlah! Kalian sudah dikepung!” teriak salah satu anak buah Ben, yang merupakan pemimpin kelompok pertama yang menyerbu dua penyusup itu.


“Kalian tak akan bisa pergi kemana pun!” sahut salah satu rekannya yang datang bersama dengan Ben.


Derap langkah para anak buah Ben membuat dua penyusup itu panik dan khawatir. Keduanya saling pandang sambil berpikir untuk memutuskan langkah apa yang harus mereka ambil.


“Pergilah! Lagi pula tugasmu belum selesai!” Penyusup yang tak berdaya melambaikan tangan untuk mengusirnya.


“Tapi-“ Dilihat dari kerutan di alis yang satunya, nampak berat dia untuk mengambil keputusan ini. Meski wajah mereka tak terlihat karena menggunakan masker hitam. Dan walau kepala mereka sengaja ditutupi dengan


hoodie hitam yang mereka kenakan.


“Pergi! Pergi!!” bentak yang terduduk di tanah pada rekannya itu.


Meskipun berat dan ragu, pada akhirnya penyusup yang satu itu berlari dari sana, sambil memegangi lengannya yang terluka.


Benar apa yang rekannya itu katakan, tugasnya memang belum selesai. Dan dia tidak bisa menyerah sampai di sini saja.


Penyusup yang lengannya terluka melesat bagaikan angin. Berlari zig zag dari pohon ke pohon lalu menghilang bagaikan hantu. Cerdik sekali dia mencari titik tersembunyi yang tak dapat diketahui anak buah Ben satu pun. Seolah dia sangat menguasai tempat ini.


Dor!


Dor!


Dor!


Meski beberapa tembakan memberondongnya pun tak dapat menghentikan lajunya yang seperti kuda terbang.


“Kalian, kejar yang satunya!”   Beberapa anak buah Ben pun diperintahkan untuk menyebar. Tidak cukup satu, tapi keduanya harus mereka dapatkan.


Satu saja tidak cukup untuk mereka mintai keterangan. Jika yang satunya keras kepala, maka mereka bisa menginterogasi yang satunya lagi. Siapa tahu, salah satu di antara mereka bisa ditekan mentalnya dan mau bicara.


Bukan hanya Ben yang memperkirakan hal ini, tapi juga anak buahnya yang lain berpikir jika mereka berdua ini bukan orang sembarangan. Hal itu dibuktikan dengan mereka yang bisa sampai menyusup ke markas yang dijaga ketat. Dan bahkan bisa sampai melukai pemimpin mereka sendiri.


Sekitar tujuh orang bergerak mengikuti jejak darah yang tercecer di tanah.


“Ini!” Rose kembalikan pistol yang tadi ia gunakan pada si empunya.


“Kau ini, benar-benar, ya!” Diembuskan napas berat sebagai ganti Ben yang jadi tidak bisa memarahinya…  sekarang.


Tapi nanti, sepertinya kekasihnya itu harus menerima hukuman ganda darinya. Sebab, masalah yang dia perbuat tidak hanya satu hal saja, tapi dua dan tiga. Seperti barusan yang dengan lancangnya, Rose ambil pistolnya dan menembak kedua penyusup itu tanpa izin.


Tidakkah dia tahu bahwa itu adalah tindakan yang berbahaya?!


Bagaimana jika tembakan itu tidak mengenai sasaran yang diinginkannya lalui mengenai orang yang tidak bersalah?!  Atau bagaimana jika Rose tidak kuat menahan hentakkan ketika pistol itu mengeluarkan timah panasnya?! Takutnya malahan akan berbalik arah dan bisa mengenainya!


Sungguh, barusan itu Ben bahkan menggeram karena menahan kesal!


Ben menilai, jika wanitanya ini memiliki bakat alam. Dia yang belum pernah menggunakan senjata sama sekali saja bisa sampai mengenai objek bergerak. Yang biasanya sulit bahkan untuk seorang pemula. Dan untuk yang satu ini, Ben sendiri yang akan melatih kekasihnya itu.


“Benarkah? Yeaayyy!!” Rose berseru sangat senang, lalu memeluknya tanpa sadar.


“Ssstt!”


Tanpa sengaja Rose mengenai bagian lengan Ben yang terkena tembakan. Hingga pria itu pun mendesis di wajahnya yang datar.


“Uuppsss… maaf, maaf!” Rose auto turun, tidak jadi memeluk erat kekasihnya itu.


Tapi dia masih sempat untuk bertepuk tangan sendiri saking girangnya. Ini adalah momen yang sudah ia nantikan sejak menginjakkan kaki di sana. Di markas sebuah mafia, apalagi tujuan utamanya jika bukan untuk belajar  menembak?!


Tadi saja, Rose membayangkan sebuh adegan di film yang pernah ditontonnya. Lalu dia berkonsentrasi penuh dan mengencangkan pegangannya pada pistol yang dia pegang. Semua yang dia lakukan benar-benar berdasarkan apa yang Rose lihat dari film itu.


Denyut jantungnya memompa dengan cepat, aliran darahnya begitu deras menyaluri setiap pembuluh darahnya. Adrenalinnya memuncak ketika dia hendak melesatkan peluru pertama, lalu menyusul peluru kedua.


Sampai tembakannya mengenai sasaran yang dia inginkan, rasanya Rose sangat senang, sangat puas di dalam hatinya. Walau pun itu bukan titik yang di mau ketika menembak yang kedua kali. Sebab, inginnya tembakan itu mengenai tepat ke dada penyusup itu.


Yah… namanya juga amatiran! Jadi harap dimaklumi saja!


“Biar aku membantumu!”


Ben baru saja hendak melangkah menuju anak buahnya yang tengah berkerumun, lalu Rose dengan inisiatif mengulurkan tangan untuk memapahnya. Membantunya berjalan menuju ke sana.


Tepat ketika Ben sampai pada anak buahnya yang melingkari penyusup yang tertinggal, Relly datang menggunakan sebuah motor atv dan beberapa mobil jeep mengekori di belakangnya.


Kerennya tampilan pria itu ketika menunggangi kendaraan beroda empat itu. Angin semilir menerbangkan rambutnya ke belakang, hingga wajahnya yang agak rupawan itu nampak jelas. Tubuh gagahnya juga meliuk-liuk


mengikuti gerak motor atv yang tengah dikendarainya.


“Tuan!!!”


Lalu musnah sudah semua gambaran itu ketika dia menghentikan kendarannya, turun, kemudian merengek pada bosnya yang mengalami luka tembak. Dia setengah berlari pun sambil memasang wajah khawatir yang dibuat-buat.


“Tuan baik-baik saja?” Dia sudah ingin memeriksa lengan bosnya yang terluka, tapi Rose segera mencegahnya. Ditahan dadanya untuk bisa melangkah lebih dekat lagi dengan satu tangan.


“Berhenti di situ! Kau tahu, kau bisa membuat Ben semakin terluka!” omel Rose dengan protektifnya.


“Ya, ampun! Nona Rose!” lengking suaranya yang hendak protes membuat semua orang yang berada di sana menjadi jengah. Mereka saling pandang sambil memutar bola mata.


Tuan Relly mulai lagi!


“Aku, kan, hanya sedang mengkhawatirkan Tuan Ben saja. Sebagai asisten setianya, sudah merupakan tugasku untuk mengurusnya!”


“Hish!” Rose mendesis menahan sabar. Sedangkan Ben enggan meladeni asisten bodohnya itu.


“Sudah ada aku di sini, jadi kau tidak diperlukan lagi!” ucap Rose tak peduli Relly akan sakit hati atau tidak.


“Nona!” Relly meratap dengan sedih merasa jika Nona Rose sama sekali tidak memakai hati ketika berbicara. Padahal, kan, selama  ini dialah yang selalu ada di sisi Tuan Ben.


“Tuan!” Dia merajuk pada Ben, berharap bosnya itu akan membelanya.


Tapi Ben malah mengacuhkannya dengan membuang muka. Dan Relly makin merasa dirinya habis manis sepah dibuang oleh bosnya itu. Sekarang dia pun meringkuk sedih.


“Masih ada satu lagi yang melarikan diri, lebih baik kau tambahkan orang lagi untuk meringkusnya!” Akhirnya Ben mau menoleh padanya. “Atau kau sendiri yang mencari orang itu. Dapatkan dia dalam keadaan


hidup-hidup!”


Sudah berani menyusup ke markasnya, sudah berani melukainya, sudah berani pula berniat melukai kekasihnya! Jangan harap Ben akan berbelas kasihan.


Digulirkan tatapan Ben yang mematikan setelah menyuarakan perintahnya. Geramnya, murkanya belum tersalurkan. Rasanya dia ingin menyayat-nyayat orang itu dengan tangannya sendiri.


Bersambung…


Dukung terus karya aku ini ya manteman,, kasih like, vote sama komentar kalian, oke


supaya aku semangat terooosss,, hehe


Keep stong and healthy semuanya