
Rose mematung ketika mendengar hal itu. Jantungnya serasa dipompa dengan kuat, terasa berdebar dengan sangat kencang.
‘Ap- apa yang barusan aku dengar?’ Dia yakin telinganya masih berfungsi dengan benar. Rose yakin karena dia merasa belum tuli sama sekali.
“Apa kalian tahu jika sebenarnya nona Rose itu adalah pengkhianat di dalam kelompok kita?” Segerombolan orang berbisik di belakang Rose, setelah mereka melewatinya.
Hati Rose langsung berdenyut mendengar hal itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa itu adalah dirinya? Dari mana mereka mendapatkan kabar mengenai hal itu.
“Benarkah?! Memang benar, masalah di gudang logistik terjadi tepat setelah nona Rose datang!”
“Apakah kau yakin nona Rose adalah pengkhianatnya? Dia itu, kan, kekasihnya Tuan Ben!”
“Siapa yang tahu tujuan dia mendekati Tuan Ben?! Dunia ini begitu picik, bisa jadi dia memiliki tujuannya sendiri dengan mendekati Tuan Ben!”
“Benar juga!”
“Jangan-jangan dia adalah salah satu anggota dari salah satu musuh kita!”
“Bisa jadi!”
“Aku tak menyangka, wajahnya yang cantik dan polos itu ternyata mengandung racun!”
“Jika memang benar dia adalah orangnya, Tuan Ben sekali pun pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Tuan Ben paling benci pengkhianatan.”
Netra Rose yang abu membulat besar. Guncangan besar ia dapatkan setelah mendengar hal ini. Bukan karena dia adalah pengkhianatnya. Tapi Rose jadi memikirkan perasaan Ben jika mengetahui bahwa benar-benar salah satu anak buahnya merupakan pengkhianat itu.
Rose tidak memikirkan dirinya sendiri saja saat ini. Tentang dia yang dituduh dan difitnah seperti ini, Rose tidak begitu khawatir karena dia memang tidak bersalah sama sekali. Dia hanya perlu membuktikannya nanti. Namun di lain sisi, dia memikirkan Ben. Memikirkan bagaimana kekasihnya itu bisa menerima hal ini.
‘USB itu!’ Rose jadi mengingat benda merah yang Relly berikan kala itu pada Ben. Pasti mereka sudah mendapatkan sesuatu. Bodohnya dirinya sampai tidak mengingat hal penting seperti ini!
“Mungkin saja, kan, nona Rose itu sebenarnya sama saja dengan wanita di luaran sana! Mungkin saja dia sedang membodohi kita dengan wajahnya yang polos!”
“Heh! Ternyata dia wanita semacam itu! Padahal ku pikir dia adalah wanita baik-baik.”
“Aku jadi penasaran, bagaimana caranya dia merayu Tuan Ben di ranjang?!”
“Benar, rasa-rasanya aku ingin mencicipinya juga! Jika nanti Tuan Ben bosan, aku akan coba memintanya untukku!”
“Dan aku selanjutnya!”
‘Kurang ajar!’ Rasanya Rose ingin sekali menjejali mulut keempat orang itu dengan kotoran sapi. Supaya mereka tahu bahwa mulut mereka lebih kotor dari itu.
Tawa keempat orang itu perlahan menjauhi Rose yang sejak tadi tak bergerak sedikit pun. Wajah Rose dibuat merah padam mendengar hal itu. Mulut mereka harus diberi pelajaran suatu saat nanti!
“Tapi siapa?” Siapa yang sudah menyebarkan berita tentang dirinya seperti ini?! Rose mendesah sambil mengeraskan rahangnya, ketika memandangi punggung keempat orang tadi yang sekarang sudah berubah menjadi titik-titik kecil.
“Mungkin setelah mandi, aku bisa berpikir jernih!” Rose pun membawa langkahnya kembali menuju arah yang semestinya ia tuju. Menyegarkan diri adalah jalan yang ia pilih, sambil memikirkan cara untuk mencari tahu siapa biang keladi dari hal ini.
Memberitahu Ben? Tidak perlu ia rasa. Biarkan saja untuk saat ini kekasihnya itu tidak perlu mengetahuinya. Lagi pula sudah cukup banyak masalah yang perlu ia urus.
Selama orang-orang yang menuduhnya hanya menggunakan mulut mereka saja, Rose akan tetap diam. Mulut mereka tak akan mengusik kehidupannya sama sekali. Tapi… jika mereka mulai kurang ajar, Rose tak akan tinggal diam. Mungkin saja, dia akan menggunakan tangan kekasihnya itu untuk mengurus mereka.
‘Tidak apa-apa, kan, sekali-sekali aku memanfaatkan kekasihku yang seram itu!’ Dia sekarang melangkah dengan wajah riang.
***
Pria eksentrik dengan topi koboinya tengah duduk di singgasananya seperti biasa. Kemeja bunga-bunganya selalu tak selaras dengan wajahnya yang terlihat horor dan menyeramkan.
Ben tengah sibuk dengan beberapa berkas di mejanya. Memeriksa beberapa hal terkait isu pengkhianatan dan juga masalah gudang logistik yang belum terpecahkan. Jujur saja, dia mengalami rugi besar karena hal itu. Senjatanya yang raib bukanlah dalam jumlah yang sedikit.
Beberapa hari ini dia dibuat pusing dengan semua hal itu. Hanya saja dia berusaha untuk terlihat santai di depan orang lain. Agar semua orang tidak tahu dengan apa yang sedang ia tanggung. Dan supaya orang yang merupakan pengkhianat itu merasa kesal, karena masalah yang ia buat tidak berpengaruh sama sekali pada dirinya.
Rose sekali pun tidak dibiarkannya untuk ikut terlibat. Pikirnya lebih baik kekasihnya itu focus berlatih saja. Fokus saja dengan apa yang menjadi tujuannya. Biarkan hal lain dia yang memikirkannya. Semua masalah ini pasti ada solusinya. Ben hanya belum mendapatkannya saja.
Ketenangannya selesai. Diusik suara gaduh dari luar pintunya. Siapa lagi jika bukan Relly yang sedang berteriak dengan keras. Entah suaranya yang panik dibuat-buat, atau memang ada masalah baru yang sedang ia bawa, untuk diinformasikan kepadanya.
“Masuk!” seru Ben dari dalam seraya memutar bola matanya malas.
“Ah!” Dia lupa jika ruangannya ini kedap suara. Jadi asistennya yang bodoh itu tidak mungkin dengar.
Ben pun menekan tombol pada sebuah remot kecil yang terdapat di atas mejanya. Pintu ruangan itu lantas terbuka sendiri tanpa perlu usaha darinya.
Relly yang tak siap pun hampir saja terjungkal ke depan. Tadinya dia masih terus berteriak memanggil nama bosnya sambil menggedor pintu itu dengan keras. Tadi ketika dia hendak mengetuk lagi, pintu itu malahan
bergerak sendiri. Loloslah ke depan bersama dengan tubuhnya. Untung saja dia tidak terjatuh. Bibirnya pun tak perlu mencium lantai.
“Jangan mengetuk keras-keras! Tanganmu itu menyakiti pintuku!” seru Ben dingin dari kursi kerjanya yang besar dan nyaman.
“Tuan! Di saat genting seperti ini, apakah masih perlu mengkhawatirkan keadaan pintu itu!” ucap Relly seraya mencibir ke arah pintu.
“Ck!” Ia yakin jika asistennya ini selalu berlebihan dalam segala sesuatu.
Ben kehilangan selera setelah mendengar suara sumbang Relly. Ia bangun dari duduknya, lalu melangkah dia menuju sofa. Sambil mendudukkan diri, Ben mengeluarkan pistolnya dari saku celana.
“Tuan, sekarang benar-benar dalam keadaan genting! Tuan masih bisa-bisanya santai begini?!” Relly merajuk sambil berjalan mendekatinya.
“Bicara yang benar, atau ku tembak mulutmu!” Ditunjuk wajah Relly dengan pistol di tangannya itu. Plus dengan wajah horor yang sepertinya adalah bawaannya sejak lahir, sudah pasti membuat Relly seketika membungkam
mulutnya.
“Katakan, ada apa!” Ben menatap lurus ke depan. Enggan ia menatap Relly si bodoh itu.
Awas saja jika bukan hal yang benar-benar penting menurut ucapannya tadi! Relly harus siap menerima timah panas bersarang di salah satu bagian tubuhnya.
“Beredar gosip di antara rekan kita!” seru Relly dengan antusias.
“Memangnya kau tidak memberi mereka pekerjaan, sampai mereka bisa punya waktu untuk bergosip! Heh!” Ben menoleh sedikit pada Relly yang berdiri di belakang sandaran punggungnya.
Hish! Relly meraup wajahnya dengan kasar. Kenapa harus dia lagi yang disalahkan di sini?! Padahal dia juga baru saja mendengarnya tadi.
“Mereka tentu saja memiliki pekerjaan, Tuan! Saya juga tidak tahu dari mana mereka mendapatkan kabar seperti itu!”
“Kabar apa?” Entah penting atau tidak, Ben harus mendengarkannya terlebih dahulu. Apa-apa saja mengenai anak buahnya, dia harus mengetahuinya untuk menentukan apakah ia harus diam saja, atau menanganinya secara langsung. Sebab, bagaimana pun juga Ben merupakan pimpinan yang peduli pada semua anak buahnya.
“Beredar kabar, jika nona Rose adalah pengkianat di dalam kelompok kita, Tuan!” Relly sengaja merendahkan suaranya, dan memperjelasnya agar bosnya itu tidak salah dengar.
Dor!
“Tuan!”
Bersambung…
Siapa yang menembak dan siapa yang ditembak?
Penasaran khaann…
Maaf ya baru update sekarang, semalem kelupaan hehe
Yuk,,, yuk,,,
Jangan sampai kelupaan kasih like, vote sama komentar kalian
ya manteman
Keep strong and health semuanya