
Tintt~!
Seseorang dan yang lainnya baru saja menempelkan kartu pass pada sebuah kamar. Dari arah luar.
Clek~!
Dan tak lama, pintu kayu jati itu pun bisa dibuka oleh salah satunya.
“Apakah Mirabelku ada di dalam?” tanya Nyonya Mira dengan tidak sabar. Suaranya terdengar bergetar karena rasa penasaran juga khawatir yang belum terobati.
Kicauan burung berlatar debur ombak merdu pada dini hari itu, seolah tidak juga membuat hatinya yang resah menjadi tenang.
Sekarang sudah pukul 4 subuh. Dan mereka baru bisa menemukan keberadaan Mirabel yang sejak semalam menghilang.
Nampak kacau wajah dan penampakan Nyonya Mira saat ini. Wajah yang menua itu kusut dan meninggalkan beberapa jejak air mata yang sudah mengering.
Eyeliner dan mascara yang luntur bekas menyeka air mata, masih nampak di pinggiran kelopak matanya.
Nyonya Mira tidak berhenti menangis semalaman, sebab putrinya tak jua ditemukan. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada putri satu-satunya itu, di tempat yang asing bagi mereka ini.
Tuan Benneth dan Eric ikut serta, menemani sejak semalam hingga saat ini. Mereka sedikit mengiba pada keadaan Nyonya Mira yang menyedihkan. Namun untuk berempati, rasanya sangat sulit, mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan.
Perasaan marah dan kecewa yang disebabkan oleh ibu dan anak itu, sudah cukup untuk membuat hati mereka mati rasa terhadap pasangan Nyonya Mira dan Mirabel.
Victor pun selalu ada bersama mereka. Sebagai tuan rumah, ia bertanggung jawab atas menghilangnya saudara tirinya itu. Maka, sampai dini hari ini, ia pun ikut menemani dan mencari.
Hingga, sepenggal rekaman CCTV mereka temukan, Mirabel tengah dibawa oleh seorang pria tua gendut ke dalam sebuah kamar, masih di resort itu. Jadi, sebagai pemilik resort tersebut, Victor mengambil wewenang untuk meminta kartu pass agar pintu kamar itu bisa dibuka dari luar.
“Tunggu dulu!” seru seseorang dari kejauhan.
Semua orang menoleh, termasuk Victor yang baru saja membuka pintu kamar itu, dan masih memegang handle pintunya. Tuan Benneth, Eric dan Nyonya Mira, berdiri di belakang.
“Apakah aku terlambat?” tanya Baz dengan senyum kaku.
Baz menggulirkan bola matanya dari kanan ke kiri, menatapi setiap manusia di depannya berikut ekspresi mereka masing-masing.
Ehh, apa dia terlalu ceria, ketika mendatangi kumpulan aura suram itu? Kenapa rasanya jadi canggung begini, ya?
Oh, Baz lupa! Sebab mereka belum mengetahui cerita yang sebenarnya, bagaimana wanita permen ular itu bisa berakhir di sini.
Sungguh, ia ingin tertawa jika mengingatnya! Andai saja Rose ada di sini…
Ahh, kenapa dia jadi mengingat hal itu lagi?! Baz mengerutkan bibir sambil berusaha melupakan. Sesuatu yang sudah membuat dirinya begitu kacau seumur hidup.
Bahkan ketika adiknya sendiri, Bella, melakukan hal yang sama. Berkorban untuk seseorang yang dia cinta. Dia tidak sekacau atau semarah ini.
Heh, baiklah! Sepertinya Baz memang harus kembali kepada kenyataan. Bahwa segala sesuatunya tidak bisa ia kendalikan sesuai dengan keinginannya sendiri.
Termasuk Victor. Baz belum sempat berbicara dengan iparnya itu. Setelah dengan berat hati ia meninggalkan Rose dengan kekasihnya yang aneh itu. Pikirannya terlalu kacau, sehingga Baz memilih untuk menyegarkan diri di sekitar pantai.
Sampai tak terasa waktu sudah mencapai subuh, saat mentari mulai mengintip di ufuk timur. Baz baru menyadari, jika ia sudah menikmati waktu begitu lama, hanya untuk mengurai perasaan sakit di dalam hatinya ini.
Victor lantas menurunkan kelopaknya, menyipitkan mata saat menatap tajam ke arah Baz. Pria yang sudah menikah itu pun menipiskan bibir seraya menggelengkan kepala.
Kenapa orang itu begitu terlambat? Di saat orang-orang begitu sibuk mencari ke sana kemari, wanita si pembuat masalah. Kemana sebenarnya kakak iparnya itu pergi?
“Aku ingin segera melihat Mirabel, apakah benar dia ada di dalam!” gumam Nyonya Mira seraya menyalip, mendahului orang-orang yang malah terdiam.
Baz jadi ikut melangkah, mendekat ke arah tiga pria lainnya. Seolah Victor, Tuan Benneth dan Eric tengah menunggunya untuk masuk ke dalam.
Ketika jarak Baz semakin dekat, tiga pria itu juga dirinya segera mendengar sebuah teriakan.
“Aakhhh…!”
Tuan Benneth dan Eric pun menjadi khawatir, mereka segera melangkah ke dalam. Begitu juga dengan Victor, ia ingin segera menyusul, tapi Baz malah menahan tangannya.
“Aku baru saja akan bicara-” Baz menggantung ucapannya seraya memanjangkan leher, mengintip ke arah dalam.
“Apa?” Alis Victor bertaut, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung.
Dia berdiam, mematung karena tangannya masih di tahan. Hanya kepalanya saja yang bergerak mengikuti gerak Baz yang melihat ke dalam lalu kembali menatap dirinya lagi.
“…jangan terlalu kaget setelah kalian masuk ke dalam!” tutur Baz misterius.
“A-“
“Ayo, kita lihat apa yang terjadi di dalam sana! Aku sudah sangat penasaran!”
Sebelum benar-benar berkata apa pun, Victor sudah dirangkul iparnya itu, lalu digiring ke dalam kamar dengan langkah terseret. Ada sejuta tanya yang ingin ia lontarkan dalam kebingungan ini.
“Mirabel, apa yang terjadi?” desah Nyonya Mira gemetar sambil membekap mulutnya. Yang masih merasa semua ini tidak nyata.
Lalu, Tuan Benneth dan Eric, berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya. Mulut mereka setengah terbuka, masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata.
“Hh…!” Victor pun terkejut dengan hal yang baru saja ia lihat. Ia dan Baz baru saja menghentikan langkah mereka di sisi lain, di depan ranjang kamar itu.
Pak~!
“Aku, kan, sudah bilang, kau tidak perlu terkejut seperti ini!” bisik Baz seraya menepuk pelan bahu adik iparnya.
“Kalau begitu, jelaskan padaku!” Victor meliriknya sinis.
“Nanti, aku pasti akan menjelaskannya padamu. Karena hal ini berhubungan dengan… Rose!” Ketika Victor malah makin tajam menatap dirinya, Baz pun melanjutkan. “Hey, santai kawan! Lebih baik kita bereskan masalah di sini dulu!”
Karena Victor masih meliriknya tajam, maka dia berbicara lagi. “Iya, aku tahu! Aku berhutang penjelasan padamu!”
Baz pun mengedikkan dagunya ke depan, supaya mereka mengalihkan perhatian ke masalah yang ada di kamar itu saat ini.
Indera pendengarannya terusik karena suara berisik dari beberapa orang yang menerobos masuk ke kamar yang ia tempati saat ini, tanpa sepengetahuannya.
“Siapa kalian?” tanya pria gendut itu dengan suara serak, sambil mengucek matanya yang masih buram.
“Kau yang siapa? Heh!” Tapi yang ia dapati malah teriakan dari seseorang di sampingnya.
Saking kencang teriakan itu, si pria gendut menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia meringis, tidak tahan dengan suara yang memekak telinga itu.
Sambil menurunkan tangan, ia mendudukkan diri. Selimut putih polos itu ia benarkan posisinya, agar tetap menutupi bagian pinggangnya ke bawah.
“Hey, Sayang! Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau terlihat sangat marah?” Ia ingin menyentuh wajah Mirabel namun wanita itu segera menampiknya.
“Singkirkan tangan kotormu dari putriku!” teriak Nyonya Mira marah.
“Oh, Anda ibu dari Sayangku ini?” Pria gendut itu malah tersenyum dengan kurang ajar dan tidak tahu diri.
“Tutup mulutmu!”
“Tutup mulutmu!”
Ibu dan anak itu berteriak lagi, bersamaan.
“Mama!” rintih Mirabel dengan isak tangisnya. Kedua tangannya masih ia gunakan untuk mempertahankan selimut di dada, untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tuan Benneth dingin.
“Oh, kami hanya menghabiskan malam yang indah bersama, Tuan!” jawab si pria gendut seraya mengulurkan tangan ke bawah, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Apa maksudmu?!” pekik Mirabel. Ia langsung menoleh ke samping dengan tatapan marah.
Yang Mirabel ingat, seharusnya ia menghabiskan malam yang begitu indah dengan tuan itu aka kekasih dari saudara tirinya. Tapi kenapa malah berakhir begini?! Ia benar-benar tidak dapat mengingatnya sama sekali!
Masih untung jika orang yang bersama dengannya saat ini adalah pria tampan meski tidak kaya. Ia masih akan merelakannya. Tapi ini… kenapa harus laki-laki jelek, gendut, dan bahkan sudah… tua.
Astaga! Mirabel memandang sebentar ke arah tubuhnya yang polos, dengan tatapan jijik.
“Tenang saja, Nyonya dan Tuan-tuan, saya akan bertanggung jawab padanya. Meskipun dia tidak sudah tidak perawan!” seru si pria tambun itu dengan entengnya.
Sambil ia memakai celana dari dalam selimut. Kemudian berdiri saat hanya tubuh atasnya saja yang terbuka, dan melanjutkan memakai sisa pakaiannya.
“Tidak perawan?!” gumam Eric pelan. Matanya sempat membulat sebentar. Ia tidak menyangka, wanita yang selalu berlagak sok suci di depannya, ternyata sudah… Eric sungguh tidak menyangka hal ini.
Begitu juga dengan Tuan Benneth yang dilanda oleh perasaan kecewa. Heh! Ternyata, dia sudah dikelabui sampai sejauh ini. Putri sambung yang biasa bertindak lugu dan polos, nyatanya tidak sepolos itu.
Nyonya Mira langsung menghambur ke arah putrinya yang masih menangis sesegukan, di atas tempat tidur. Dilihatnya, beberapa tanda di tubuh putrinya, yang ia yakini ditinggalkan oleh pria gendut kurang ajar itu.
Hanya Victor dan Baz yang sejak tadi terdiam, tak mengatakan apa pun. Dan Baz malah tersenyum sinis bersama kepuasan di matanya.
“Ini… sebagai pertanggung jawabanku saat ini!” Pria gendut itu mengulurkan sejumlah uang kepada Mirabel. “Jika terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab, Sayang!”
“Aku bukan pelacur!” Mirabel menampar uang di tangan pria itu, hingga setiap lembarnya berterbangan ke lantai.
Heh! Munafik! Sudut bibir pria gendut itu terangkat naik dengan sinis. Ia yakin, ibu dan anak itu pasti menginginkannya.
Siapa yang tidak suka uang di dunia ini?! Apalagi, jika melihat tampang ibu dan anak itu, si pria gendut dapat menilai, betapa haus uang wajah mereka itu.
Ia sudah rapi memakai pakaiannya kembali, sementara Mirabel masih menangis di pelukan ibunya. Si pria gendut menilik jam tangannya, kemudian menghela napas pelan.
“Aku harus pergi sekarang! Hubungi aku jika kau memerlukan pertanggung jawabanku, Honey!” Diletakkannya sebuah kartu nama di atas nakas di samping ranjang.
“Aku tidak butuh pertanggung jawabanmu!” Kembali, Mirabel berteriak marah.
“Mungkin saja kau berubah pikiran, nanti!” Pria itu lalu berjalan ke arah pintu, sambil mengenakan jas hitamnya. Ia tersenyum ramah pada Baz dan Victor ketika melewati mereka.
“Mama! Bagaimana ini bisa terjadi, Mama?” rengek Mirabel saat si pria gendut itu pergi.
“Mama mana tahu, Sayang! Memangnya kau tidak mengingat apa pun? Hem…” tanya Nyonya Mira sambil membelai rambut putrinya. Berusaha menenangkan Mirabel yang masih menangis di dalam pelukan.
Menangisnya Mirabel karena dia kesal, bukan karena sedih karena harus berakhir dengan pria yang bukan diinginkannya. Ia kesal karena rencananya jadi gagal berantakan.
Ia memandangi orang-orang di sekitarnya. Lalu mendesah diam-diam. Untunglah! Sepertinya tidak ada yang mengetahui apa yang sudah ia rencanakan semalam.
“Sebaiknya, kita membiarkan dia berpakaian dulu!” putus Eric. Akhirnya pria itu membuka suara.
“Ya, kau benar! Ayo, kita keluar dulu!” ajak Tuan Benneth dengan wajah gamang. Ajakan yang ia tujukan pada putranya juga, namun ia ragu untuk menatapnya.
“Ayo, kita keluar!” ajak Baz seraya memutar tubuh Victor yang masih kaku, memandangi Mirabel dengan tatapan tajam dan tak dapat diterka.
Pikirannya berkecamuk memikirkan hal yang tadi iparnya itu sebutkan. Jika ini berhubungan dengan Rose, maka saudara tirinya itu pasti sudah merencanakan sesuatu yang buruk kepada adiknya!
Mungkinkah, hal yang mereka lihat tadi, harusnya dialami oleh Rose?!
Sungguh pun, Victor tidak dapat membayangkannya! Apabila hal itu sampai terjadi, maka ia tidak akan tinggal diam seperti ini!
Pasti sudah ia hajar orang-orang yang sudah berani melakukan hal buruk pada adik tersayangnya itu.
“Kau!” lirik Victor tajam pada Baz sambil mereka berjalan ke luar.
“Hng?” tatap Baz bingung.
“Sekarang, kau jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!” titah Victor dingin, sampai membuat Baz menggigil sendiri dibuatnya.
Bersambung…