
Krucuk... krucuk...
Perutnya yang berdendang kelaparan pun membangunkan lelap tidurnya. Perlahan Rose memisahkan kelopak mata yang semula menempel erat.
“Hmmp!” Dia ingin merentangkan tangannya, meregangkan otot-ototnya seperti biasa. Tapi... kok tidak bisa, ya?!
Begitu dia mengerjap beberapa kali, pandangan matanya pun tidak kabur lagi. Tapi kenapa pandangannya masih gelap?
“Ahh!” Ternyata yang dihadapi netranya adalah dada bidang dan... keras, milik Ben.
Rose menengadahkan kepalanya yang dipenjara pelukan pria itu.
“Dia juga tertidur?” gumam Rose pelan saat didengarnya suara dengkuran halus dari mulut kekasihnya.
Tapi sejak kapan? Kenapa dia tidak tahu? Kapan orang ini masuk dan menyelinap ke tempat tidurnya?
Hey, tempat tidur? Eh! Rose langsung menoleh ke bawah. Memperhatikan apakah ada yang berkurang dari apa yang ia pakai sebelumnya.
Kaosnya utuh, cek!
Celananya juga utuh, cek!
“Hah!” Diembuskan napas lega dari mulutnya yang terbuka. Berarti tidak terjadi apa-apa ketika dia sudah tidak terjaga tadi.
Krucuk... krucuk...
“Ugh! Aku lapar!” gerutunya sambil mengerucutkan bibir.
Tubuh kekasihnya itu kuat sekali. Bahkan di dalam tidurnya pun, ia sulit untuk melepaskan diri. Kedua tangan Ben sudah seperti jeruji besi di penjara, baginya.
“Kau lapar?” Suara serak seseorang bangun tidur datang dari atas kepalanya. Rose pun menengadah lagi.
“Kau sudah bangun? Ah, maaf! Aku jadi membangunkanmu, ya!” Dia meringis karena merasa bersalah. Tak tega sebenarnya dia sampai membangunkan tuan seramnya begini.
Dia tahu jika Ben belum mengistirahatkan matanya sejak kemarin. Makanya dia bermaksud membiarkan lelaki itu tetap tidur, sedangkan dirinya keluar, mencari makanan. Cacing-cacing di perutnya sudah berisik sekali ia dengar.
Ben tersenyum di gerak kelopaknya yang masih lemah. “Tidak apa-apa. Aku juga ingin makan.”
Hah! Rose melepaskan tarikan napasnya dengan cepat. Ya, Tuhan! Mengapa kekasihnya ini tampan sekali!
Rose terperangah. Mulutnya setengah terbuka, lalu mengatup-ngatup seperti ikan koi.
Cup!
Karena tak tahan dengan ketampanan kekasihnya, Rose langsung saja menyambar bibir itu dengan kecupan singkat.
“Apa yang kau lakukan?” Ben tergugu sambil berusaha menarik seluruh kesadarannya.
“Menciummu!” jawab Rose jujur tapi wajahnya malu-malu.
“Habisnya, kau tampan sekali! Aku jadi gemas. Hih!” Dicubit kedua pipi Ben. Saking gemasnya sampai Rose merapatkan gigi.
“Haha... kau bilang itu mencium?” Ben mengangkat kepalanya kala ia tertawa. Dan Rose mengangguk begitu saja.
“Ini baru mencium, namanya!” Dengan segera laki-laki itu menempatkan bibirnya pada bibir Rose. Menikmati madu di bibir wanita itu untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya mereka bertukar candu.
“Ck! Kau ini!” Rose memukul dada keras di hadapannya itu sambil tersipu. Ia melipat bibirnya yang lembap sambil tersenyum terus.
Ben menipiskan bibirnya, sudah beberapa lama mereka menjalin kasih, Rose semakin dan semakin menggemaskan begini. Dan ia harap akan terus sampai mereka tua nanti.
Ya! Dia akan meminta pada Rose, untuk terus mempertahankan wajah menggemaskan ini sampai umur mereka terus bertambah nanti. Ugh, menyenangkan sekali membayangkannya!
“Katanya kau lapar?” Rose spontan mengangguk mengingat hal ini.
“Ya sudah, ayo kita bangun! Aku akan meminta Relly mengantarkan makan siang untuk kita.”
“Sepertinya sudah terlalu sore untuk dikatakan makan siang!” Ben tertawa mendengarnya. Ia melihat jam di atas nakas, memang benar, ini sudah jam empat sore. Tanpa mereka sadari.
“Ya sudah, ayo bangun!” Ben sudah merentangkan tangannya. Melepaskan pelukan yang sementara tadi memenjarakan kekasihnya itu.
Rose hanya mengangguk tapi tidak bergerak sedikit pun.
“Ayo!” ajaknya lagi pada wanita itu.
Rose mengangguk lagi tapi tetap mematung tubuhnya. Netranya masih menatap lekat ke arah wajahnya.
Ben menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu kemudian berbisik. “Jika kau tidak bangun sekarang, bisa dipastikan... aku akan melahapmu sebagai ganti makan siang!”
“Jangan macam-macam, Ben!” Berdiri di samping tempat tidurnya, Rose menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mimik wajahnya nampak agak panik.
Bagaimana tidak panik?! Masih terngiang kejadian tadi ketika dia barus saja selesai mandi. Mereka hampir saja terbuai oleh nikmatnya godaan setan. Beruntung Ben masih bisa mengendalikan diri!
Tentu saja, Ben! Memang berkat lelaki itu. Karena, seandainya Ben tak berhenti, maka dia pun tak akan berhenti juga. Sebab, Ben terlalu lihai untuk membuatnya terlena oleh setiap sentuhannya.
Eh! Berpikir apa, sih, dia sebenarnya!
“Yang jangan macam-macam itu kau, bukan aku!” Ben sudah mendudukkan diri.
“Maksudnya?” Rose bingung sampai memiringkan kepalanya.
Tak!
Ben berdiri, menyentil dahi Rose, lalu berbicara di depan wajahnya. “Jika sampai kau pamer penampilan seperti tadi lagi... maka jangan salahkan aku jika tidak menahan diri!”
“Hey....” Rasanya dia ingin sekali meneriaki tuan seramnya itu dengan keras.
Kenapa ini salahnya? Kenapa ini salahnya lagi, sih? Jika tuan seramnya tidak bisa menahan diri, apa itu masih termasuk kesalahannya juga?!
Rose benar-benar ingin meneriakinya, tapi pria itu sudah pergi melalui pintu rahasia.
“Huh, dasar curang!” Pikirnya, cepat sekali orang itu pergi. Sudah seperti jin, saja!
Tak berapa lama Ben kembali, meskipun masih dengan pakaian yang sama, tapi sekarang di kepalanya bertahta tapi kebangsaannya. Penampilannya yang sekarang, barulah seperti Ben yang banyak orang kenal. Bukan seperti Ben yang tadi yang hanya dirinya mengetahui.
Selang beberapa waktu juga, Relly datang dengan wajah kusut berantakan. Sambil mendorong troli berisi berbagai makanan untuk mereka berdua.
“Permisi... room service datang!” teriak Relly dari luar pintu kamar Rose.
“Kedengarannya dia kesal!” Rose menatap Ben yang seolah tak peduli. Pria bertopi koboi itu lantas membukakan pintu untuk asistennya itu.
“Kau, kan, membawa makanan, bukannya ingin membersihkan kamar!” seru Rose pada Relly yang sedang berjalan masuk.
Dapat dilihat rambut pria itu berantakan, tak tertata rapi seperti biasanya. Kemeja yang ia kenakan sudah keluar sebelah, tanpa jaket yang membalutnya lagi. Serta kantung mata yang masih menghitam dan kulit wajah yang mengering.
Rose sempat berpikir jika yang masuk ke kamarnya ini adalah zombie, bukannya asisten kekasihnya yang bernama Relly.
DIberhentikan troli yang ia dorong di sembarang tempat, lalu dia berbalik untuk menjawab. Dinaikkan dagunya dan tak ragu untuk berwajah kesal. “Saya bisa melakukan apa saja! Room service sekalian juga bisa!”
“Heng?” Rose mengerutkan alisnya, nampak berpikir karena kebingungan. Sebenarnya kenapa dia? Kenapa sekarang seperti sedang memarahinya?
“Banyak omong!” Ben menarik kerah kemeja Relly dari belakang. Mengusir asistennya itu sudah seperti ingin mengusir anak kucing menjijikkan.
“Tuan, benar-benar tega! Setelah mengusik tidur saya yang baru sebentar, sekarang Tuan malah membuang saya begitu saja.” Meronta pun tak berguna, maka dia pasrah saja dijinjing keluar oleh bosnya yang kejam itu.
Padahal bosnya juga tahu jika dia kurang istirahat, tapi masih saja tega memerintahkan dirinya untuk hal sepele seperti makanan. Bisa, kan, bosnya itu memerintahkan hal seperti ini pada anak buahnya yang lain? Kenapa harus dirinya lagi, dirinya lagi?!
Ben berdiri di ambang pintu sambil menjulurkan tangannya ke depan untuk menghempas Relly keluar. Wajah Relly pun murung ketika dia dibuang begitu saja seperti sampah!
Diliriknya Rose tengah terpesona oleh setiap hidangan yang Relly bawa. Pria itu tersenyum samar.
“Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?” Wajah tenang Ben berubah menjadi agak serius.
Lengkung bibir Relly yang menukik ke bawah pun langsung dibuat datar kembali. Sekarang dia memasang wajah serius sama seperti bosnya.
“Ah, ya!” Relly merogoh kantung depan kemejanya. “Ini, Tuan! Mungkin Tuan masih mengenalnya.” kata Relly dengan ekspresi misterius.
Ben tak lantas menjawab, dipandangi USB yang bernaung di atas telapak tangannya untuk beberapa saat. Kemudian dia menggenggamnya. “Kau boleh pergi sekarang! Aku akan membiarkanmu tidur sampai jam 10 malam. 6 jam, cukup, kan?!”
Relly cepat melihat jam tangannya, bibirnya buka tutup menghitung berapa lama waktu tidurnya setelah ini. 6 jam? Mana mungkin cukup? Sedangkan dia saja belum tidur sejak kemarin. Tapi tidak apa-apa, dari pada tidak sama sekali, pikirnya. “Kalau begitu, saya pergi sekarang!”
Ben pun memejamkan mata saat merasakan embusan angin kencang sebab melesatnya Relly pergi.
“Apa itu?” tanya Rose tepat ketika dia membuka mata.
Bersambung...
Kira-kira itu apa ya???
Kalo penasaran, ikutin terus ceritanya ya
Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian supaya aku lebih semangat lagi update nya 😉
Keep strong and healthy ya semuanya 😊