Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kesenangan hidup



“Kalian atur segalanya dengan baik! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya!”


Della Moran August, wanita itu berbicara dengan nada dingin dan pandangan tak acuh pada seorang asisten wanita.


“Baik, Nona!” Asisten wanita itu mengangguk patuh.


Digigiti Della jari kukunya sambil menatap ke arah lain. Angannya sedang membayangkan, bagaimana ketika jari-jarinya ini menyentuh tubuh atletis Ben. Kadang dia menjepit juga mengigit bibirnya dengan sensual, saat apa yang dia bayangkan terasa nyata.


Ada juga pemuda yang biasa selalu menjadi pengawalnya.  Pemuda itu bernama Emilio Carim. Seseorang yang tugasnya merangkap antara menjadi pengawal pribadi, sekaligus pemuas nafsu bosnya itu.


Emilio adalah duet ranjang Della yang paling awet hingga saat ini. Karena biasanya, Della hanya akan bermain satu kali atau beberapa kali saja, dengan para pria yang dia inginkan.


Mungkin…keduanya sama-sama memberikan kepuasan pada diri satu sama lain. Sehingga hubungan mereka bisa spesial, tidak seperti yang lain.


Mendengar perintah Della itu, Emilio nampak tidak senang. Apalagi ekspresi menginginkan di wajah cantik itu. Seperti menjadi bahan bakar yang siap membuat Emilio semakin kesal. Namun ia sembunyikan sedalam mungkin pada iris mata cokelatnya.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Nona!” Setelah menunduk sesaat, ia mundur beberapa langkah, lalu beranjak dari kamar hotel yang mewah itu.


Emilio memandangi kepergian asisten wanita itu sekilas. Ia pun masih berusaha mengontrol emosi di wajahnya. Jangan sampai Nona Della mengetahui bagaimana perasaannya saat ini!


“Ada apa, Emilio? Wajahmu terlihat aneh!” cetus Della seraya mengalihkan pandangannya.


Dan sekarang, dia kembali pada posisi duduk yang paling dia suka. Melipat tangan di depan dada, sambil memangku salah satu kaki. Punggungnya ia letakkan pada sandaran sofa. Sehingga ia bisa leluasa menatapi lawan bicaranya secara keseluruhan.


Bola mata Emilio bergoyang sebentar. Apakah terlalu kentara? Apakah terlihat jika ia sedang menyembunyikan perasaan tidak sukanya?


“Ah, aku hanya merasa, Nona sedang sangat senang hari ini,” ucap Emilio lalu dengan tenang. Akhirnya ia menemukan sebuah alasan.


“Benar! Aku sangat senang, Emilio! Akhirnya… sebentar lagi, aku akan bertemu lagi dengannya!” sahut Della sambil memandang ke samping. Pada kaca lebar kamar hotel itu, ia membayangkan wajah Ben waktu mereka pertama kali bertemu, di bandara.


Ya! Itu adalah pertemuan pertama mereka. Sebuah pertemuan yang langsung membuat Della tergerak hatinya, menjadi penasaran dan berdebar secara bersamaan.


Della pun bertekad, menjadikan Ben miliknya. Tak peduli apa pun itu. Pria itu harus menjadi miliknya.


Untunglah, Della langsung tersenyum ketika menanggapinya. Emilio pun bisa mengembuskan napas lega. Dia sudah berusaha keras mempertahankan posisinya hingga saat ini. Emilio tidak mau Nona Della membuangnya karena sedikit saja kesalahan yang dia buat.


Sebab, bosnya itu tidak suka laki-laki yang rewel dan banyak menuntut. Lakukan saja yang diperintahkannya! Jangan meminta hal yang lebih, apalagi soal perasaan. Karena Nona Della tidak memilikinya sama sekali.


Emilio tahu, jika Nona Della tidak pernah menaruh hatinya pada siapa pun laki-laki yang tidur dengannya. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk kesenangan dan kepuasan batin semata.


Jika ada yang cerewet, meminta ini dan itu setelah melayani Nona Della, maka bosnya itu tidak segan untuk menyingkirkan hidupnya dari dunia ini. Ia pun tahu, jika Nona Della… tidak berperasaan sama sekali!


Maka dari itu, ia mencoba menjadi apa yang Nona Della mau. Sehingga ia bisa tetap bertahan… di sisi wanita yang ia kagumi.


“Kemarilah, Emilio!” perintah Della dengan sekali lirik.


Seperti robot, pria itu menuruti perintah tuannya. Ia berjalan pelan ke arah Della berada.


“Ya, Nona?” tanyanya sopan.


Ia tidak akan memulai, jika Nona Della tidak memulai terlebih dahulu. Ia tidak akan mendekat, jika Nona Della tidak mendekatinya atau memerintahkannya lebih dulu. Itu adalah aturan main antara dirinya dan juga bosnya itu.


“Kau mengerti, kan, maksudku?” tanya Della sambil merentangkan tangannya ke atas. Meski tatapannya masih nampak angkuh. Namun, hanya pria itu yang tahu, ada kabut gairah di sana.


Tentu saja, Emilio langsung tahu apa maksudnya.


“Dengan senang hati, Nona!” Dia pun menjawab sembari mengangkat Della ke dalam gendongannya. Pria itu tersenyum senang, karena memang hal ini yang selalu dia harapkan.


Skin to skin! Kemudian, heart to heart! Ia berharap lebih di dalam hati.


Seperti sudah ada chemistry tersendiri, di antara dua sejoli yang merupakan teman duet di ranjang. Mereka lantas saling menautkan bibir sambil melepas gairah perlahan.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya wanita itu lagi dengan bibir yang bergerak sensual berpadu sikap angkuhnya.


“Tentu saja, Nona! Aku harus membuat Nona puas!” Dan Emilio menjawab tepat di atas bibir Della yang terbuka. Mengembuskan napas-napas panas, guna membakar gairah yang mulai bangkit di antara mereka berdua.


“Hha…! Aku selalu menyukaimu, Emilio!” tawa kecil lolos dari bibir ranum berwarna merah itu.


Lantas Della pun mengalungkan tangannya pada leher pemuda itu, lalu mengecup bibirnya. Emilio membalas dengan gerakan yang lebih agresif. Sudah tugasnya, untuk menjadi pemantik gairah Della yang selalu menggebu-gebu, sebagai seorang wanita.


Emilio membawa Della ke atas tempat tidur bersprei putih itu. Membaringkannya di sana dengan pelan. Tanpa melepaskan tautan bibir, yang terus gencar, bergerak semakin liar di setiap bagiannya.


Pemuda itu terus mengecup dan memesrai bibir Della sambil berposisi di atasnya. Setengah menindih, agar nonanya tidak merasa sesak. Kedua lututnya menopang, di kanan kiri tungkai Della yang sedikit mengangkang, mengejan menahan geraman dan *******. Karena tangan Emilio tak berhenti menyentuh titik-titik sensitifnya dengan gencar.


Tak berapa lama, Della mendorong tubuh laki-laki itu seraya bangun dan menduduk. Meski setengah tubuhnya masih terpenjara di antara tungkai Emilio yang tebuka. Della melepaskan setelah jas yang pria itu kenakan. Kemudian melemparkannya ke lantai.


Terus ia lucuti setiap pakaian yang menempel pada tubuh pengawalnya itu, dengan tanpa melepaskan tatapan berkabut mereka, yang mengunci. Della sangat menikmati serangakaian pemandangan ini. Melihati tubuh gagah, kokoh, padat dan liat muncul dari balik setelan rapi dan kaku, yang biasa membalutnya.


Setelah hanya pants hitam ketat yang tersisa, Emilio berinisiatif menghentikan aksinya. Lantas ia mencondongkan tubuhnya, menangkup wajah Della lalu mengecupnya pelan.


“Sekarang giliran Nona!” desah pria itu di telinga Della. Kemudian menyentuh setiap daerah sensitif di sekitar leher dan tengkuknya. Mencumbu dengan bibirnya sambil melepaskan piyama kimono putih yang membalut paling luar. Kemudian ia turunkan tali gaun malam yang tipis itu, hingga keseluruhannya terjatuh.


“Emilio!” desah Della kala bawah tengkuk dan belakang punggungnya dikecup.


Tidak seperti malam-malam yang biasanya. Malam itu Emilio bergerak lebih agresif. Mengejar keinginannya untuk memiliki Della seutuhnya. Dengan perasaan cemburu yang menggila, karena rasa penasaran dan suka Nona Della terhadap lelaki lain, selain dirinya.


Sayangnya, Della tidak merasakan hal itu. Yang ia rasa dan nikmati adalah setiap pemberian Emilio yang luar biasa. Dan semakin gila Emilio bergerak, semakin Della menyukainya.


Benar! Memang bagi Della, semua itu hanya merupakan kesenangan hidupnya saja. Jika tidak ada Emilio pun, ia bisa membayar laki-laki bagaimana pun yang ia mau. Untuk memuaskan nafsunya yang tidak berkesudahan.


Bersambung…


Nah… napas dulu manteman… atau buru-buru deh ke kamar mandi, takut kelepasan!


dan maap maap ya, buat yang belum punya pasangan.. hehe


bacanya jangan sambil dibayangin ya,,, hohoho


bab selanjutnya Ben sama Rose ketemu pelakor,, siapa yg penasaran??