
Sementara di sisi lain,
Masih di markas Harimau Putih, tiga orang kini berkumpul di ruangan Relly. Ruangan yang sekaligus merangkap sebagai kamar pribadinya.
Sama seperti Ben. Hanya saja, ruangan yang ia punya, tidak sebesar dan seluas milik pemimpinnya itu. Namun, dengan sumber daya dan teknologi yang cukup, Relly selalu betah berlama-lama, jika sedang mengerjakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Pria itu merupakan seorang ahli komputer! Juga seorang pembajak. Namun, tidak ia gunakan secara semena-mena kemampuannya itu.
Beruntunglah, Relly berada di dalam naungan Harimau Putih. Sebuah geng mafia yang mempunyai tabiat bajingan seperti geng mafia pada umumnya. Di sini, dia diajarkan untuk tetap bersikap manusiawi dan sewajarnya.
Ada beberapa layar komputer memang terpampang di salah satu sudut ruangan itu. Sementara, benda favoritnya adalah, benda persegi berwarna perak yang kini sedang dipangkunya.
Sebuah laptop dengan merek kenamaan, yang sudah ia modifikasi sesuai dengan kebutuhannya.
Relly dan Baz duduk berdampingan, sambil serius memperhatikan layar. Sementara satu orang lainnya, tengah meringkuk membelakangi mereka, di sofa panjang di seberang meja.
Tadi, sejak awal mereka masuk ke dalam ruangan itu, Anggie sudah memberondong Relly dengan sejuta pertanyaan yang dia punya.
Tentang apa?
Tentu saja, ini mengenai Zayn! Sosok yang sebelumnya menghilang. Namun tiba-tiba datang, namun tidak mengabarinya. Sama sekali.
Setelah mengembuskan napas berat beberapa kali, akhirnya Relly mau menceritakan, menjelaskan serta menjabarkan apa yang sudah Zayn lakukan terhadap kelompok mereka. Selama ini.
Juga, penyebab yang melatarbelakangi, wanita maskulin itu melakukan hal ini. Relly mengatakan segalanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi sama sekali.
Sambil berbicara, tangannya tak berhenti bergerak mencari tahu apa yang tengah Zayn rencanakan, saat ini.
Terkejut?
Jelas!
Namun, nampaknya, Anggie lebih kepada terpukul, perasaannya saat ini. Wanita seksi itu, saat ini tengah menyembunyikan tangisnya. Sambil berposisi tidur meringkuk dan membelakangi dua pria di belakangnya.
Tangisnya ia redam dengan sehelai sapu tangan yang Relly berikan. Ia bekap mulutnya dengan sapu tangan satin berwarna putih itu.
Hanya saja, bahunya yang naik turun dan bunyi sesegukan yang samar terdengar… tak dapat membohongi mata semua orang, bahwa dirinya memang sedang menangis, sekarang.
Kenapa?
Kenapa Zayn melakukan semua ini?
Terlebih lagi, pada kelompok yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri?
Baiklah, jika itu adalah masalah pribadi?
Tapi, bisakah itu hanya diselesaikan dengan dua pribadi masing-masing saja?
Apa perlu sampai mengorbankan satu kesatuan yang sudah solid ini?
Dan bahkan, orang yang tidak bersalah sama sekali! Rose jadi ikut terseret dalam lingkaran setan ini. Dalam lingkar dendam dan pembalasan yang tidak masuk akal, baginya.
Anggie pun makin menangis. Meratapi, bahwa, betapa bodohnya dia selama ini!
Tidak tahu, jika orang yang selalu berada di sisinya itu, ternyata, memiliki luka di hati yang amat dalam.
Jika saja, jika saja dia sudah mengetahui hal ini sejak lama. Mungkin Anggie bisa memberi pengertian kepada kekasihnya itu.
Anggie menangis sedih. Pilu dalam luka dan kecewa yang Zayn torehkan tanpa sadar.
Sebuah pengkhianatan yang entah bagaimana cara membayarnya. Zayn sudah tercebur sangat dalam, saat ini.
Entahlah! Anggie pun merasa payah sekali untuk dapat menolongnya. Untuk dapat mementaskan kekasihnya itu, dalam jurang kebodohan yang tak akan berakhir benar, sama sekali.
Hanya ada penyesalan! Pasti! Diakhirnya!
Sudah satu jam berlalu,
Saat dua pria terus saja sibuk di depan layar laptop milik Relly. Nampak pula, keduanya sesekali mendiskusikan beberapa hal. Dan mereka membiarkan Anggie menikmati perasaan dan kenyataan yang baru saja ia dengar.
Mereka mengerti, perempuan tidak semudah itu untuk menerima kenyataan pahit. Namun mereka akan sekuat karang jika sudah mulai bangkit.
Jadi, Relly dan Baz membiarkan Anggie puas, lalu menyembuhkan perasaannya sendiri.
“Gawat!” Relly melonjak dari tempat duduknya.
Laptop di tangannya pun sampai ia letakkan di meja dengan kasar.
“Apa-apaan sih, kau ini!” Baz juga jadi ikut terkejut karena tindakan tiba-tiba Relly.
Sementara Anggie, langsung mengubah posisi miringnya, menjadi menghadap mereka berdua.
“Ada apa?” tanya wanita itu serak dengan mata sembabnya. Terang saja, karena ia baru saja menyelesaikan tangisannya. Lalu berdamai dengan dirinya sendiri.
Pak~!
Dipukul Baz, kepala Relly, karena pria itu kesal.
“Ini benar-benar gawat! Aku tidak bohong!” Relly yang masih bersandar dan memojokkan dirinya ke sandaran sofa pun mengelus puncak kepalanya yang sakit.
“Katakan saja! Tidak perlu over acting seperti itu!” omel Baz lagi. Setengah bibirnya mencibir, masih kesal.
Tidak pemimpinnya, asistennya, lalu anggotanya juga, sama-sama orang aneh! Gerutu Baz dalam hati.
“Lihat! Aku menemukan data kematian Tuan Johan!” kata Relly sambil menunjuk layar benda persegi yang kini ia pangku kembali.
Tidak hanya Baz, tentu saja hal ini menarik atensi Anggie juga. Wanita seksi itu memutuskan untuk bangun dari posisinya. Menduduk lalu memaksakan berdiri, ia pun melangkah ke arah Relly. Meski kepalanya terasa pening, akibat terlalu lama menangis.
Anggie pun menduduk pada sandaran sofa di sebelah Relly. Merundukkan tubuhnya untuk menilik informasi apa yang terdapat pada layar pipih itu.
Bola mata Anggie lantas membulat. Itu benar!
Johan Pramana meninggal beberapa minggu yang lalu. Setelah mengalami koma. Anggie membaca informasi itu dalam hati.
Juga, beberapa riwayat panggilan luar negeri terpampang di depan matanya. Relly pun sudah menjelaskan mengenai wanita bernama Della Moran August yang kini tengah bekerja sama dengannya.
Nomor yang tertera pun selalu nomor yang sama. Dengan kode negara, darimana wanita itu berasal. Selalu sama. Maka, kecurigaan mereka pun semakin mencuat.
“Dia pasti semakin menyalahkan Ben, karena telah menjadikan dirinya seorang yatim piatu!” seru Baz tak lama.
Membuat Anggie dan Relly yang sedang tercenung pun mengangkat pandangan ke arahnya. Relly mengangguk samar, setuju dengan spekulasi tersebut.
“Tidak mungkin!” sambut Anggie dengan segala penyangkalan di wajah. Meski dalam hati, mulai merayap kemungkinan terburuk yang akan terjadi, setelah ini.
Rasanya, sebagian dirinya, masih belum bisa, masih sulit menerima kenyataan ini. Begitu saja. Dengan mudah. Rasanya susah sekali. Sebab, ini berkaitan dengan orang terdekatnya sendiri. Dan lagi, ulah yang Zayn perbuat adalah hal paling tabu, yang tidak boleh mereka lakukan terhadap kelompok mereka sendiri.
Anggie, sepertinya, perangnya belum selesai di dalam hati. Jika ia belum menyaksikannya sendiri. Ulah Zayn secara langsung.
“Apa sampai detik ini… kau masih mempercayainya? Orang itu? Setelah semua yang dia lakukan?” tanya Baz sinis. Seolah menyindir dengan cara bicara dan juga tatapan yang pedas dan tegas.
Pria itu memang tidak memiliki ampun terhadap sebuah pengkhianatan.
Di satu sisi, Relly mengggeleng, memperingati Baz untuk tidak semakin memperburuk suasana hati Anggie. Di sisi lain, ia menggenggam tangan si wanita seksi untuk memberikan sebuah ketenangan.
Bahkan, sambil tetap menatap lurus pada Baz, Relly mengeluskan ibu jarinya pada punggung tangan Anggie yang halus.
“Heh!” Dibuang Baz napas kesalnya ke samping. Lalu, ia memberi aba-aba pada Relly, tanpa memedulikan lagi sepasang bola mata yang telah mengkristal.
“Kerahkan anak buahmu untuk menyusul Ben dan Rose! Dimana pun, bahkan yang sedang bertugas di luar. Kita juga harus segera menyusul mereka. Sejak awal, instingku mengatakan jika ada yang tidak beres dengan hal ini,” katanya kemudian berdiri, lantas pergi dari sana.
“Relly!” rintih wanita itu setelah menatap kepergian Baz yang seolah tidak suka dengannya. Anggie meremat genggaman tangan Relly. Meminta sebuah kepastian.
Apakah benar-benar, ia tidak dapat memercayai Zayn lagi?
“Sebentar!” Dilepaskan Relly pegangan tanganya pada jemari lentik milik Anggie. Ia bergegas ke meja kerjanya, yang berada di sudut ruangan, bersama beberapa layar komputer yang berjejeran.
Tak sampai satu menit, Relly bergerak dengan gesit, setelah mengambil sesuatu di laci meja kerjanya. Nampak sebuah berkas berada di dalam genggaman.
“Saat di perjalanan, kau bisa membacanya nanti! Kita sudah tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi,” ujar Relly seraya menyodorkan setumpuk berkas ke tangan Anggie.
Wanita itu menerimanya. Ia memandanginya lama. Entah pula, mendengar ucapan Relly atau tidak. Pikirannya hanya bertanya-tanya, apa isinya di dalam sana.
“Ayo! Kita harus bergegas sekarang!” Ditarik Relly tangan Anggie
Dan si wanita seksi sempat terkejut sebab ditarik begitu saja, sementara dia belum siap. Ia pun sempat memekik kaget. Aakh~!
Hanya karena kaget. Bukan karena kesal. Sebab sepertinya, Anggie mulai terbiasa dengan setiap sentuhan-sentuhan kecil yang Relly berikan.
Bersambung…