
Setelah kembali ke kamar ibunya, Mirabel langsung mengajak Nyonya Mira untuk segera pulang. Segera kembali ke rumah Victor, maksudnya.
Ia sudah merasa benar-benar sial, sekarang!
Bahkan kalimat Ben dan wanita tadi, terus terngiang di telinganya. Hingga kadang, kesadaran Mirabel terganggu. Ia jadi banyak melamun karena hal itu.
Pada akhirnya pun, yang lain mengkikuti. Tuan Benneth beserta Eric, Victor dan keluarga kecilnya. Juga Baz yang selalu seorang diri. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, sebelum jam makan siang.
Ingin mengajak pasangan itu pun rasanya, akan sia-sia. Mereka semua yang orang dewasa pasti tahu, bagaimana lelahnya, setelah kerja rodi membangun jalan ke surga duniawi.
Paling-paling hanya Bervan saja, yang bertanya kemana bibi kesayangannya itu pergi. Karena ia tidak melihat batang hidungnya sama sekali, sejak semalam.
“Mama!” Anak kecil itu menarik-narik ujung pakaian ibunya. Lalu bertanya saat Bella sudah menoleh kepadanya. “Kemana Bibi? Kenapa Bibi tidak pulang bersama kita?”
Mata anak kecil itu mengerjap polos dengan penuh harap. Sangat ingin mereka pulang bersama dengan seluruh anggota keluarga yang lengkap. Terutama Rose, yang merupakan bibi kesayangannya.
Mereka semua sudah siap memang, di lobi depan resort. Mobil-mobil yang akan mengantar mereka pulang juga sudah berbaris di sana. Dengan mesin menyala, siap siaga, apabila mereka akan berangkat kapan saja.
“Bibi ada di sini, Sayang!”
Padahal mulut Bella sudah terbuka, sembari menghirup udara melalui mulutnya. Belum sempat ia mengeluarkan suara, seseorang sudah menjawab pertanyaan Bervan, putranya, dari arah samping.
Heh! Dia lagi!
Si bocah yang masih berpegangan pada ujung baju ibunya itu lantas mengerling sinis pada wanita yang baru saja menghampiri mereka. Lagi-lagi wanita badut itu mengaku-ngaku sebagai bibinya!
Bervan tidak suka! Juga tidak akan memberikan wajah ramahnya sama sekali pada wanita yang selalu menyatakan diri, bahwa dia adalah bibinya.
“Aku sudah bilang! Aku tidak punya bibi lagi, selain Bibi Rose!” Kemudian anak laki-laki itu maju satu langkah. Ia pun menelengkan kepalanya sedikit. “Jika kau cerdas, pasti kau akan mengerti apa yang aku katakan! Jadi, jangan mengaku-ngaku sebagai bibiku lagi!” Bervan menegakkan kepalanya kembali.
Sungguh pun, sebenarnya Victor dan Bella ingin tertawa mendengar pernyataan putra mereka ini. Mereka saling berpandangan sambil melipat, mengeratkan bibir mereka rapat-rapat. Agar tak ada tawa atau pun kekehan kecil yang lolos dari sana.
Pun sama halnya dengan Eric. Sebenarnya ia juga ingin tertawa, namun karena pria setengah baya di sampingnya ini hanya diam saja, maka ia pun memilih bungkam. Hanya sekali memalingkan wajahnya, untuk menetralisir ekspresi.
Bagaimana tidak lucu?! Anak kecil itu berbicara seolah-olah dia adalah pria dewasa yang tengah memperingatkan seseorang. Bahkan gayanya pun demikian dewasanya.
Hingga membuat wajah Mirabel menjadi merah padam, seperti ia sedang kebakaran jenggot, karena lagi-lagi dipermalukan di hadapan banyak orang.
Dan lebih parahnya, saat ini ia dipermalukan oleh seorang anak kecil pula!
Jika tidak mengingat mereka sedang berada dimana, mungkin, ia sudah akan menceburkan anak kecil ini ke dalam kolam.
“Ingat! Jangan membuat masalah lagi!” bisik Nyonya Mira sambil merapatkan giginya. Sambil menarik pula tangan putrinya itu dari sana. Menjauh dari hadapan Bervan.
Bibir Mirabel mencebik, saat terpaksa harus mengikuti tarikan tangan ibunya. Lalu, dengan sengaja ia melotot pada anak kecil itu.
Tapi, bukannya takut, Bervan malah memelototinya balik. Kemudian menjulurkan lidah padanya sambil berkacak pinggang. Ekspresi dan gayanya begitu meledek.
“Heh…” Embusan napas kasar terdengar, Mirabel nampak semakin kesal.
Bella yang memperhatikan hal itu, lantas menoleh, pada arah tatapan Mirabel yang tertuju pada putranya. Namun dilihat Bella, Bervan hanya sedang berdiri saja.
Anak kecil itu sedang memandang lurus ke depan, sambil menggerak-gerakkan sebelah kakinya. Merasa ditatap, Bervan pun mengalihkan pandangan. Ia tatap ibunya itu seraya tersenyum. Manis, amat manis seperti gulali.
Lalu, apa yang aneh? Pikir Bella sambil mengernyitkan alis.
Kembali ia menatap Mirabel yang masih berwajah kesal. Dan bahkan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Masih ke arah yang sama, ke arah putranya.
Bella pun melihat ke arah Bervan lagi. Dan putranya itu juga masih sama seperti tadi. Masih berdiri tenang di sisinya.
Alis Bella makin menukik dalam. Ada yang aneh, pikirnya.
Yang tidak diketahui Bella adalah, setiap kali ia alihkan pandangan dari Bervan, putranya itu pasti akan meledek Mirabel lagi, lagi dan lagi.
Dan setiap kali ibunya itu melihat ke arahnya, Bervan akan bersikap layaknya anak baik lagi. Diam dan tenang.
“Ayo, kita berangkat sekarang!”
Ajakan suaminya pun kembali menegakkan simetris alis Bella. Ia jadi tidak memikirkan hal itu lagi.
Rombongan itu lalu mulai memasuki mobil. Hanya satu orang yang masih bergeming sambil menatap jauh ke dalam.
Baz!
Tatapan pria itu membentang jauh, menelusuri sampai ke seluk beluk resort itu. Langkahnya terasa berat untuk pergi. Ia ingin melihat Rose sebelum pergi. Masih berharap jika tidak ada yang terjadi antara wanita itu dan kekasihnya.
“Kak!” panggil Bella dari arah kursi penumpang. “Ayo!” ajaknya kemudian, ketika laki-laki itu masih terdiam.
Bella menyadari, jika sepertinya, kakaknya itu masih belum bisa sepenuhnya melepaskan Rose dari dalam hatinya.
“Ya!” jawab Baz singkat. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang sama dengan adiknya itu. Ia duduk di kursi depan, di samping supir.
Ketika mobil mulai bergerak, Victor berucap dari belakang. “Sepertinya kau harus segera move on dari adikku!”
“Hng…?” Baz langsung menoleh dengan ekspresi kebingungan.
Apa maksud ucapan adik iparnya itu?
Sedang Bella pura-pura berbicara pada Bervan. Padahal ia sedang menunduk sambil mengulum senyum.
Sikap kakaknya itu memang kadang terlalu kentara di mata orang lain. Ia bahkan belum pernah membicarakan hal ini kepada Victor. Tapi suaminya itu sudah bisa menebak isi hati dan pikiran kakaknya.
Dan yang baru saja berbicara, kini mengalihkan pandangan ke luar jendela. Victor juga tak punya niat untuk menanggapi kernyitan bingung kakak iparnya itu.
Jangan pikir, dia tidak tahu apa-apa selama ini!
Victor hanya daim sambil memperhatikan, apakah benar penilaiannya ini atau tidak. Ia sudah merasakan hal ini sejak lama. Dari hal sepele, dari cara Baz menatap adiknya, tatapan itu nampak berbeda.
Ia tahu bahwa Baz adalah pria baik. Andai saja, Rose tidak memiliki siapa pun di sisinya. Mungkin ia akan setuju saja jika perasaan mereka ternyata sama.
Namun, saat ini, kenyataan sedang tidak berpihak pada kakak iparnya itu. Sebab Rose, sudah memiliki kebahagiaannya sendiri.
Dan sayangnya, bukan dengan Victor, melainkan dengan Ben, teman lamanya. Bagi Victor, dengan siapa pun Rose memilih jalan hidupnya, yang terpenting adalah, adiknya itu dapat meraih kebahagiaan untuknya.
***
Di sisi lain, Ben baru saja menyelesaikan makan paginya yang kesiangan. Lelaki itu merapel sarapannya menjadi makan siang.
Sambil menunggu wanitanya bangun dari lelapnya yang berkepanjangan, Ben memilih untuk mengisi perutnya lebih dulu. Karena sepertinya, Rose tidak akan bangun dalam waktu dekat.
Setelah mengusir Mirabel dari kamarnya, ia lalu memesan dua set makan siang untuk diantarkan ke kamar. Tak sudi ia menerima apa pun dari wanita licik itu, setelah apa yang terjadi padanya tadi malam.
Ben tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak akan lengah lagi ketika berhadapan dengan saudara tiri kekasihnya itu.
Tek~!
Bunyi piring beserta sendok garpu di atasnya, yang diletakkan di atas meja pun membuat mata wanita yang berada di atas tempat tidur mengerjap.
Sebenarnya, sejak Ben mulai mendentingkan sendok dan garpunya ke piring, Rose pun mulai mengumpulkan kesadarannya kembali. Hanya saja, matanya masih terasa berat untuk sekadar sedikit memisahkan sepasang kelopaknya.
“Hooaammm…” Wanita itu melenguh, menguap dengan keras. Ia auto mendudukkan diri seraya merentangkan tangannya ke atas. Meregangkan otot-ototnya yang terasa amat kaku, dan beberapa bagian tubuhnya juga terasa pegal.
Ia tidak sadar, jika selimut yang membalut tubuhnya, kembali melorot ke bawah. Mendarat di pinggang, lalu menampakkan polos tubuh bagian atasnya.
Tentu saja, suara itu langsung dapat mengusik indera pendengarannya. Ben lantas menoleh, saat ia sedang menyeka pinggiran mulutnya, dari sisa-sisa makanan.
Serbet yang ia gunakan turun, lantas menerbitkan lengkung lebar di bibirnya. Ben menyeringai saat serbet di tangannya menghilang. Ia lempar ke atas meja begitu saja.
Mata dan bibirnya mengerjap berulang kali, karena ia mulai merasa kelaparan lagi. Bukan perutnya, tapi sesuatu yang lain di bawah perutnya.
“Woaahh!!” Sambil menggeleng kecil, pria itu nampak kembali terpesona oleh keindahan yang Rose sajikan secara gratis. Tentunya secara tidak sengaja pula.
Wanita itu belum sadar sepertinya, jika saat ini, ia sedang membangunkan si beruang grizzly yang tadi diam.
Sekarang dia penasaran, karena melihat ke luar teras kamar resort, langit sudah nampak cerah dan terang benderang.
Ketika kelopak matanya sudah dapat terbuka lebar dan ia pun sudah dapat melihat dengan jelas, didapatinya Ben sudah berjalan dengan jarak begitu dekat dari tempat tidur yang ia tempati.
“Kau maunya jam berapa?” Pria itu menjawab dengan ******* sensual.
Tepat ketika lutut Ben menyentuh ujung ranjang, barulah Rose menyadari arti tatapan ganas dan panas itu. Sebab kekasihnya itu berulang kali menggulirkan bola matanya ke wajah lalu turun ke bawah secara bergantian.
“Hk…” Dilihatnya tubuh polosnya kini terpampang nyata. Lantas ia menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai ke leher. Guna menutupi seluruh tubuhnya itu.
Bahkan, ketika itu terjadi, Ben sudah mulai merangkak, ingin mengurungnya lagi.
“Ben!” serunya saat lelaki itu telah berhasil sampai ke lututnya.
Kaki Rose sudah tak dapat bergerak karena Ben setengah menindih juga membuat kedua tangannya sebagai jeruji untuk memenjarakannya.
Rose hendak memundurkan tubuhnya, namun ketika bergerak, nyeri dan perih ia rasakan di bagian inti, di tengah tungkai kakinya.
“Sstss…~!” Meringis wanita itu menahan sakit. Namun ia tetap berhasil sedikit mundur dari tempat duduknya semula.
“Hh… hh… “ Pria itu malah tertawa kecil melihat dirinya kesakitan begitu. Bibir Rose langsung mencebik kesal karenanya.
Ben merasa jadi pria tidak tahu diri, jika pagi hari ini ia ingin melakukannya lagi. Semalam saja sudah cukup untuk membuat wanita itu sampat terkapar tak berdaya. Ditambah, ini adalah pengalaman pertama bagi Rose.
Jadi, bagian inti kekasihnya itu masih membutuhkan waktu untuk beristirahat, dari gempuran hebat yang bermula perih sampai merasakan yang paling nikmat.
Bukan menertawakan ringisan polos yang merasa sakit di sana. Tapi Ben tengah menertawakan dirinya sendiri, yang serakah ini.
Rose begitu waspada melihat ekspresi aneh kekasihnya itu. Dan ia pun tetap mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutup sampai ke dada paling atas.
Matanya membola kala Ben tetap mendekatinya. Lalu menerkamnya bak mangsa. Lalu, tatapan itu pun turun, karena Ben bukannya hendak memangsanya lagi, tapi pria itu hanya memasukkannya ke dalam sebuah pelukan hangat.
Keduanya saling merebahkan diri, saling memeluk dalam kenyamanan. Ben bahkan memeluknya dengan begitu erat, sembari beberapa kali ia mendaratkan kecupan singkat di dahinya.
“Ben!” panggil Rose saat pria itu tak berhenti juga dari aksinya.
“Hmm…” Ben hanya bergumam saat matanya terpejam seraya terus memeluk wanita kesayangannya itu.
Ia hanya sedang menikmati momen indah ini. Sambil terus berharap, akan ada momen-momen indah seperti ini lagi. Meskipun begitu, ia akan tetap berusaha membuatnya.
“Rose! Hh… hh…” Kembali, pria itu terkekeh kecil mengingat betapa gigihnya ia berusaha menciptakan hal tersebut.
“Kau tertawa terus! Apa kau sedang bahagia sekarang?” tanya Rose sambil mendongakkan kepalanya yang menempel di dada Ben, ke atas.
“Hh… hh… “ Ben tertawa lagi.
“Lihat! Kau tertawa lagi!”
“Pertanyaanmu lucu sekali, Rose!” Pria itu menundukkan pandangan. Ia menatap dalam netra abu kekasihnya itu.
“Jelas! Tentu saja aku sedang sangat bahagia sekarang! Kau adalah sumber kebahagiaanku!” lanjut Ben seraya tersenyum tulus. Diusap pipi Rose yang lembut dan halus.
“Aku juga lupa… untuk mengatakan terima kasih kepadamu!” susulnya lagi sebelum Rose mulai berbicara.
Lantas, alis wanita itu menukik dalam. “Terima kasih untuk apa?”
“Terima kasih karena kau telah memberikan hal terindah dalam hidupmu, kepadaku! Dan sepertinya… aku harus berterima kasih juga pada sifat pembangkangmu.” Mereka tertawa bersama sesaat. Lalu Ben melanjutkan. “Terima kasih karena kau sudah bersikeras berada di sisiku, semalam.”
“Jangan berterima kasih! Traktir saja aku kue yang enak!” keluh Rose sembari menahan senyum di depan dada pria itu.
Ia begitu malu untuk menatap Ben lagi, setelah diingatkan kejadian semalam. Jika dipikir-pikir, sikap impulsif yang ia lakukan semalam, sudah seperti wanita penggoda saja.
Mudah-mudahan tuan seramnya itu tidak akan menggodanya setelah ini!
“Tapi…” Ben menjepit dagu Rose dengan dua jarinya, lalu menaikkan wajah wanita itu sehingga mereka saling berpandangan. “…kau belajar dari mana cara menggoda pria seperti tadi malam? Tingkahmu itu sudah seperti wanita penggoda yang berpengalaman!” tatap Ben serius pada kekasihnya.
Huh! Baru saja ia menyebutkannya dalam hati! Pria itu benar-benar meledeknya, kan?!
Yang jelas, Rose enggan menjawab pertanyaan memalukan itu. Karena ia pun tidak tahu dari mana asal keberaniannya tadi malam. Ia hanya mencoba bertindak sesuai dengan nalurinya saja, ketika api gairah pun turut membakar tubuhnya.
Tapi, apa mungkin dia mengatakan hal ini kepada kekasihnya itu? Tidak! Yang ada ia hanya akan semakin diledek saja. Rose sangat tahu!
Jadi ia memilih untuk melarikan diri.
Rose menekuk punggungnya, turun ke bawah dengan cepat, sampai akhirnya ia bisa lolos dari dekapan kekasihnya itu.
“Eh… heh…” Namun wanita itu mesti susah payah untuk menarik selimut yang sebagian tertimpa tubuh besar Ben. Niatnya selimut itu akan ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang dan polos.
“Aku mau membersihkan diri! Hk… awas… awas…!” erangnya sambil terus berusaha menarik-narik selimut putih itu.
Heh! Seringai kecil muncul di bibir Ben. Wanita itu mau melarikan diri, rupanya!
“Hey~!” pekik Rose kaget, ketika tubuhnya mendadak diangkat oleh kekasihnya. Malah, pria itu lalu melangkah sambil membawanya di gendongan.
“Kau mau membawaku kemana, Ben?” protes Rose sedikit panik.
“Kau bilang ingin membersihkan diri, kan? Kalau begitu, kita lakukan bersama! Kau membersihkan tubuhku, dan aku membersihkan tubuhmu!”
“Ben!” Rose memekik lagi atas ide gila yang pria itu serukan. “Aku tidak mau! Aku bisa melakukannya sendiri!”
“Kau bisa sendiri?” angguk Rose cepat. Ben menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu kamar mandi. “Kalau begitu, cobalah!” Lantas ia menurunkan Rose dari gendongannya.
“Eh… eh!” Ternyata lututnya begitu lemas untuk sekadar berdiri, menopang tubuhnya sendiri. Lalu, bagaimana untuk berjalan?!
Ia hampir saja oleng ke samping, jika saja Ben tidak segera menggapainya. Pria itu lagi-lagi meledeknya, bahkan dengan senyuman, sekarang.
“Bisa?” tanya Ben itu benar-benar terkesan meledek. Meski sebenarnya ia pun tidak bisa.
Tidak sanggup rasanya Rose melangkahkah kakinya walau satu pijakan saja. Juga, pinggangnya ini, sekarang rasanya sudah seperti… mau patah.
Rose menggeleng sambil cemberut. Menyatakan kekalahannya sendiri dengan berat hati.
“Kalau begitu, kita sepakat!” Lalu Ben menggendongnya lagi. Mendudukkannya di dalam bath tube, sambil pria itu membuka pakaiannya sendiri.
Mandi bersama dilakukan. Sebelum itu, Rose sudah mengecam Ben supaya tidak melakukan hal yang lain lagi, selain benar-benar mandi.
Pria itu menepati, walau sesekali menggoda dengan beberapa sentuhan sensitif yang memabukkan.
Kruk~! Kruk~!
Khidmat mandi bersama itu pun diganggu oleh nyaring suara dari perut seseorang.
“Ha… ha… ha…!” Ben terbahak. Sedang Rose kini menahan malu, sambil memalingkan wajahnya ke samping.
Cup~!
Pria itu mencium pipi Rose yang basah sebentar.
“Aku lupa belum memberimu makan!” Ben tertawa lagi.
“Memberi makan! Memangnya aku ini peliharaanmu?!” protes Rose sambil mengerucutkan bibir.
“Ya, bisa dikatakan begitu!” sahut pria itu dengan santainya, sambil terkekeh.
“Ben!!!” kesal Rose.
Dia ini, kan, kekasihnya! Wanita yang paling ia cintai! Bukan hewan peliharannya! Huh!
Bersambung…