Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pergi ke neraka



hai manteman, ini satu bab, tapi aku buat panjang ya,, 


selamat membaca


Zayn benar-benar tersulut oleh ucapan yang disengajakan itu, oleh Ben.


Jadi, dia sudah benar-benar, tidak berarti apa-apa di matanya?


Heh! Bagus!


Kalau begitu, ia jadi tak sungkan lagi, untuk melakukan hal yang memang, sudah semestinya, ia lakukan sejak lama!


Tadinya, betapa pun kerasnya ia berusaha untuk membalaskan dendamnya, Zayn masih memikirkan bagaimana hubungan mereka terjalin, seperti keluarga selama ini.


Bagaimana mereka tumbuh dan menjadi hebat bersama-sama, bertiga bersama Relly.


Zayn masih mempertimbangkan hal itu, untuk langsung, membinasakan Ben dari muka bumi ini. Hingga, kesabarannya itu malah membuahkan hasil yang makin menyakiti hati.


Ia malah harus kehilangan lagi, orang tua satu-satunya, orang tua yang hanya tinggal ayahnya seorang itu. Zayn menjadi yatim piatu, sekarang.


Sudah tidak segan, ia pun sudah tidak meragukan apa-apa, sekarang. Tidak ada yang dapat menghalanginya lagi. Terlebih, dengan bagaimana Ben berbicara tadi!


Karena terlampau emosi, juga karena tak dapat mengendalikan emosinya sendiri, maka Zayn segera mengusir dua orang itu dari hadapannya.


Zayn meneriakinya. Ia meneriaki mereka berdua. Ben dan Rose.


Ia sudah tak sudi lagi, untuk melihat dua orang ini, dengan matanya. Rasanya, sudah haram bagi Zayn!


Ben tak ragu, ia pun tak mempermasalahkan. Kemudian, ia menarik tangan Rose, mengajak kekasihnya itu, untuk segera pergi dari sana.


“Ben! Apa tidak masalah, kita pergi seperti ini?” tanya Rose, kala tangannya terus digenggam erat. Sambil tertarik langkah kekasihnya.


Ia memegangi lengan kekar, yang saat ini, terasa sekali, setiap urat syarafnya sedang menegang.


Rose mengerti, Ben sama. Pria itu juga sedang mengontrol emosinya saat ini.


Ia pun tahu, bagaimana tidak sabarannya Ben. Jadi saat ini, merupakan usaha yang sangat keras bagi pria itu, untuk tidak menangani sikap kurang ajar Zayn terhadapnya.


Pun, dengan semua hal yang telah dilakukannya. Secara tidak langsung, Zayn telah  mengakuinya sendiri. Bahwa dia adalah pengkhianatnya.


Pemimpin mana yang tidak marah dan kecewa, mengetahui hal itu?! Jiwa mana yang tak terluka, mengetahui keluarganya sendiri, telah mengkhianatinya?!


“Hem…” Ben mencoba tersenyum. Meskipun kaku jadinya. “Tidak apa-apa!”


“Malah lebih bagus! Karena kita, tidak perlu berlama-lama di sini,” imbuhnya seraya mengusap pipi lembut dan kenyal milik Rose.


Kemudian ia menatap ke depan lagi. Menatap lurus dengan pandangan dalam, menusuk sampai di kejauhan.


Napas Ben memburu, dikejar emosi juga kecewa yang tak berwujud, namun terasa amat besar.


Sungguh, pun! Rasanya, ia sudah ingin menempatkan senjatanya, langsung ke kepalanya. Lalu menarik pelatuk, dan menembuskan beberapa timah panas, ke dalam otak Zayn yang bodoh itu.


“Tapi, Ben!” Rose memeluk lengan itu lagi. Ia ingin bertanya dengan hati-hati, di momen yang menegangkan ini. “Kenapa kau tidak menjelaskan pada Zayn? Tentang ayahnya, yang juga sudah berkhianat pada kalian.”


“Untuk apa, Rose? Hah-“ Ia perlu mendengus sebentar, untuk melepaskan kekesalannya. “Jika pun aku mengatakan kebenarannya, lalu, apa dia mau dengar?”


“Otaknya saat ini hanya diisi oleh kebencian. Orang yang seperti itu, tidak akan mau, menerima penyangkalan apa pun mengenai apa yang sedang dilakukannya.”


“Orang yang sedang membenci, hanya akan menerima sebuah masukan, ajakan untuk semakin membenci, juga untuk merealisasikan kebenciannya.”


“Hanya itu, yang dapat Zayn terima saat ini!” Kembali, Ben melepaskan napas lelahnya.


“Jika aku menjelaskan tentang Johan kepadanya, yang ada, Zayn malah akan semakin membenci, akan semakin menggila dengan kebenciannya. Belum tentu, dia akan menerima kenyataan yang ada.”


“Otaknya sedang bodoh, sekarang!”


“Lho, kenapa?” tanya Rose cepat, sebelum Ben melanjutkan pembicaraannya.


“Karena saat ini, otaknya itu, sedang dikuasai oleh kebencian, dan kebencian. Hanya itu yang ada di dalam otaknya saat ini.”


“Secara tidak sadar, pikirannya menolak untuk menerima hal apa pun terkait hal yang berkebalikan, dari apa yang diketahuinya.”


Dianggukkan Rose kepala berulang kali, kala Ben menjelaskan. Wanita itu lantas tersenyum. Ingat, jika saat ini, kekasihnya itu, sedang menjelaskan kepadanya, dengan sabar.


Heh! Tak apa! Paling tidak, sejenak, Ben dapat melupakan kalutnya terhadap mantan anak buahnya itu.


Sambil berjalan ke arah luar villa, keduanya banyak berbincang. Rose mengatakan tentang bagaimana tadi dia khawatir, jika Zayn akan meracuni mereka, melalui makanan dan minuman yang disediakan.


Ben tertawa, dia merasa lucu dengan pemikiran kekasihnya. Pasti karena terlalu banyak menonton film.


Tapi Ben menjelaskan, jika, Zayn bukan orang yang seperti itu. Meskipun membenci, ia tidak akan melakukan hal kekanakan dan remeh, macam itu.


Tindakan yang akan Zayn lakukan memang belum terbaca. Namun, Ben yakin, usaha orang itu, pasti tidak akan dengan cara receh dan mudah terbaca, seperti itu.


Dan sampai saat ini, Ben juga Rose, masih belum mengetahui perihal Johan yang sudah tiada. Serta, betapa frustasinya Zayn, akibat kemarahan yang dia punya.


Andai mereka tahu, bahwa, wanita maskulin itu, sudah, menyiapkan hal paling kotor, yang sudah ia rencakan dengan matang. Bersama si wanita mengerikan.


***


Waktu berlalu, jarum jam berputar untuk sekian lama, hingga pada akhirnya, halaman villa yang tidak begitu luas itu, sudah kosong kembali.


Sebab, mobil sport putih yang tadi datang, sudah pergi, meninggalkan kesunyian lagi di sana. Sudah sejak lama, mungkin, sudah hampir setengah jam.


Tapi tak berapa lama, beberapa SUV hitam, kembali mengisi halaman yang sunyi itu. Ada empat mobil yang kemudian memarkirkan diri, dengan tertib.


Dak~!


“Mereka tidak ada di sini!” seru Anggie seraya membuka pintu mobil di sisinya.


Benar saja! Karena ketika mereka datang, tidak didapatinya, mobil putih yang tadi Ben kendarai.


Relly dan Baz pun menyusul, keluar dari mobil. Berbarengan dengan anggota yang lain, mereka juga keluar dari mobil yang mereka kendarai sebelumnya.


Semuanya pun melakukan hal yang sama. Mengedarkan pandangan, untuk mencari bayang-bayang pemimpin mereka.


Meski rasanya nihil!


Misalnya pun, sudah pergi, tapi, mereka tidak berpapasan sama sekali, dengan mobil yang biasa Ben kendarai itu.


Sebab, jalan menuju ke sini tidak pernah ramai. Sekali pun. Jadi, andai memang Ben melewati rute itu lagi, mereka pasti akan bertemu di tengah jalan.


Lalu, semua orang pun diburu oleh rasa penasaran, juga kebingungan ini.


“Wah, wah, wah! Aku kedatangan banyak tamu rupanya!” sapa seseorang dari arah teras. Hingga, semua atensi pun jatuh padanya.


Benar! Itu adalah Zayn yang baru saja berniat meninggalkan villa.


Pada akhirnya, ia berhasil menguasai dirinya lagi. Toh, rencana yang sudah ia buat pun, sudah dijalankan dengan rapi.


Dia hanya perlu untuk menunggu hasil.


Memikirkan hal itu, Zayn pun bisa kembali bangkit lagi, dari kemarahannya sendiri. Lalu, ia berniat pergi. Untuk melihat, dengan mata kepalanya sendiri, hasil yang perlu ia dapatkan.


Yaitu, binasanya Ben dari muka bumi ini.


Tapi siapa sangka, ketika keluar, ia malah mendapati tamu yang begitu banyak di halaman villa itu.


Anggie, wanita seksi itu mematung di tempatnya. Ada sesuatu yang membuatnya jadi terpaku, terpana oleh sebuah kenyataan yang ada.


Anggie bertanya-tanya dalam hati.


Bagaimana tidak mempercayai?! Sosok yang dilihatnya saat ini, bukan seperti Zayn yang ia kenal. Bukan sosok kekasih yang biasa memiliki tatapan hangat padanya.


Bahkan tadi, barusan, Zayn hanya menatapnya sekilas. Lalu, di mata kekasihnya itu, Anggie hanya dapat menangkap kedinginan saja di sana. Juga perasaan kejam dan bengis di bola mata itu.


Dia seperti, sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi di mata kekasihnya itu.


Berkas di tangannya pun tanpa sadar, ia remat dengan begitu erat. Sampai kusut, agaknya. Gulungan itu pun menipis, di tengah, di tempat dimana Anggie menggenggamnya.


Dilihatnya, Zayn melangkah dari teras, menuju ke arah mereka. Namun, Anggie merasa, semakin orang itu datang mendekat, semakin pula jauh, jarak yang mereka punya.


“Oh manisnya! Pasti kalian datang ke sini, untuk menjemput pemimpin kalian dan juga kekasihnya, bukan?” tanya Zayn ketika sudah menghentikan langkahnya.


“Tentu saja! Dimana Tuan Ben dan Nona Rose?” sahut Relly lantang.


Saat ini, ia sedang berdiri tegap dan menantang, di depan mobil yang tadi ia kendarai. Ada Baz di sisinya, juga tengah melayangkan tatapan tajam terhadap Zayn.


Sementara, tak jauh dari sisi mereka, Anggie mematung dengan kecamuknya perasaan yang dia punya.


“Tunggu sebentar!” Zayn bertingkah, seolah dia sedang mencari, disaku jaketnya, kemudian di saku celananya.


Bahkan, ia mengeluarkan bagian dalam kantung jaket dan celananya, keluar. Untuk membuktikan, bahwa itu benar-benar kosong. Dan memang, ia tidak menyimpan keduanya sama sekali, saat ini.


“Tidak ada, kan? Aku tidak menyimpannya. Aku juga tidak tahu mereka kemana.” Zayn mengangkat kedua tangan, menengadahkan telapak tangan, sampai setinggi bahu. Sambil menggeleng kecil juga mengedikkan kedua bahunya. Berwajah polos, seolah dia memang tidak tahu apa-apa.


“Ah… mungkin saat ini… mereka sudah pergi ke surga!” katanya lagi seraya mengangkat kedua alis, dengan wajah berbinar begitu bahagia.


Ketika mengatakan hal ini, seperti ada kepuasan tersendiri yang merayap, hingga membuat kedua matanya terbelalak lebar dengan penuh rasa senang.


Plak~!


“Apa yang kau lakukan?” bentaknya langsung, pada Anggie yang mendadak, menghampiri, lalu melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi kanannya.


Tidak hanya membentak, Zayn juga memelototinya. Seakan mereka memang tidak saling mengenal sama sekali. Seolah keduanya adalah orang asing bagi satu sama lain.


Zayn hendak membalaskan, tamparan keras yang barusan ia terima. Namun belum sampai mendarat di pipi mulus Anggie, sebuah tangan berotot sudah menahannya. Dengan kuat.


Itu Relly yang kemudian menggeser tubuhnya, demi menyatakan eksistensinya saat ini.


Tidak ada yang boleh menyakiti Anggie lagi! Sudah cukup ia melihat wanita yang ia sukai itu terluka karena hal ini.


“Tanganmu sudah tidak pantas, bahkan hanya untuk menyentuh ujung rambutnya!” Relly memberi peringatan dengan rahang yang mengetat.


Keberadaannya pun menggeser posisi Anggie, menjadi berada di balik punggungnya. Karena tanpa sadar, ia sudah membuat wanita seksi itu mundur selangkah, ke belakang.


Relly masih mencengkeram tangan Zayn dengan kuat, di atas. Pasti sangat kuat, karena Zayn sendiri merasakan, tangannya sedang diremukkan.


Lantas, pria itu menghempaskan tangan Zayn dengan begitu kasar. Setelah, ia merasa cukup dengan peringatan, yang ia buat dengan ucapan juga tatapan mata yang kian menajam.


Zayn sempat memegangi bagian tangannya yang baru saja dicengkeram. Benar-benar terasa nyeri, dan ia yakin jika saat ini, sudah meninggalkan bekas merah di sana.


Tatapan dingin pun ia layangkan, pada orang nomor dua dalam kelompok Harimau Putih. Lalu, pada Anggie sekilas.


“Apa maksud ucapanmu, tadi?” Baz tak ketinggalan. Ia ikut maju, menghampiri ketiganya. “Kemana Ben dan Rose?” Pria itu bertanya pada suhu dirinya yang paling rendah.


Berhadapan langsung dengan seorang pengkhianat, sungguh, membuat Baz tidak sabar untuk menghabisinya langsung.


Tak peduli, jika sebenarnya Zayn adalah seorang wanita.


Pengkhianat tetap saja pengkhianat. Tidak peduli apa pun gendernya.


“Ch! Lucu sekali! Kalian pikir, aku adalah pengasuh mereka? Jadi aku bisa tahu kemana mereka pergi?” Zayn sempat berdecak, dengan laga tidak percaya.


Jika dilihat dari waktunya, sebentar lagi, mungkin adalah waktu yang sudah ditentukan. Bagaimana pun juga, ia harus mengulur waktu mereka semua.


Jika sampai, ia meloloskan semua orang ini, lalu pergi menyusul Ben dan mobilnya. Dapat dipastikan, rencana mereka bisa gagal.


Jadi, Zayn pikir, ia harus bisa menahan mereka, selama mungkin.


“Berpencar! Temukan Tuan Ben dan Nona Rose!” titah Relly pada anak buahnya.


Ada sekitar selusin lebih, anggota Harimau Putih yang ia bawa. Ia perintahkan mereka, untuk mencari ke seliling villa itu.


Siapa tahu saja, Zayn telah memperdaya lalu menyekap keduanya di sana!


Yah, tak ada yang tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang gila ini!


Lantas, mereka yang sudah berdiri siaga, di samping kanan kiri mobil pun mengikuti perintah sang wakil pemimpin. Semua orang langsung bergerak ke semua  penjuru.


Meski tanpa aba-aba yang jelas, mereka bergerak secara efektif dan efisien.


“Haha…” Zayn tertawa dengan cemoohnya. “Kalian tidak akan menemukan apa pun di sini! Lagipula… bukannya sudah bilang tadi… mereka mungkin, sudah pergi ke surga!”


“Ups, salah! Ke neraka maksudnya-“ tambahnya dengan gaya yang makin mengesalkan. Benar-benar, tengah menguji kesabaran Relly, Anggie, dan juga Baz.


Seperti apa yang mereka semua pikirkan, Zayn pun mempunyai kesimpulan yang sama. Pasti Ben tidak berpapasan dengan mereka.


Meski, entah kemana pun perginya pasangan kekasih itu, yang jelas, hal itu malah berdampak baik baginya.


Waktu yang ditentukan sebentar lagi akan datang. Jadi, tidak akan mudah bagi mereka semua untuk menyusul Ben.


Pun, jika hal itu sampai terjadi, ketika ada yang berhasil menyusulnya pun, mungkin keadaannya sudah terlambat.


Zayn tersenyum dalam diamnya. Tertawa bangga di dalam hati.


Bugh~!


Tadi Anggie menamparnya. Sekarang Baz yang melayangkan satu bogem mentah, ke pipi yang bahkan masih memerah.


Wajahnya terbuang, tubuhnya pun sampai terhuyung ke samping. Merasakan efek dari hantaman keras, yang Baz layangkan pada wajahnya.


Dirasakan Zayn sudut bibirnya pecah. Amis tembaga pun ia rasa dengan ujung lidahnya. Ada darah yang merembes dari sana.


Sial! Rutuknya kesal.


Lalu, belum sempat ia berdiri tegak kembali, kerah jaketnya sudah disambar oleh Baz. Pria yang memukulnya tadi.


Anggie merasa iba dengan apa yang Zayn terima. Tapi, ia bisa berbuat apa, pada seseorang yang bersalah, namun merasa amat benar dengan kesalahannya itu.


“Katakan! Apa yang kau rencanakan pada mereka berdua?” geram Baz seray menarik kerah jaket yang Zayn kenakan.


Saking kuatnya tenaga pria itu, tubuh Zayn yang ramping pun jadi sedikit terangkat karenanya.


Bagaimana tidak begitu marah dan murka?! Apa yang Zayn ucapkan menyangkut nyawa seseorang yang ingin ia jaga. Hal ini bersangkutan dengan Rose yang masih ia cinta, dalam diamnya.


Maka dari itu, Baz tidak dapat membiarkan sesuatu yang buruk, sampai menimpa kepada wanita itu.


“Kalian inginnya, mereka mati dengan cara yang bagaimana?” Seperti tak ada takutnya sama sekali. Zayn malah mengeluarkan pertanyaan yang provokatif. Pun, dengan tatapan yang menantang.


“Kau-“


Baz yang hilang Kendal, hampir saja memukulnya lagi, jika saja, Anggie tidak menahannya.


“Biarkan, aku bicara dengannya, Tuan!” pinta Anggie pada Baz, namun sambil menatap Zayn tajam.


Bersambung…