
Benar memang! Jika Anggie sudah bisa menerima kehadiran Relly di sisinya. Namun, jejak Zayn belum terhapus sepenuhnya, di dalam hati.
Anggie pun wanita dewasa, yang mempunyai akan pikiran dan hati. Tentu saja, ia mengetahui, perilaku manis dan penuh kasih yang Relly tunjukkan padanya, tidak semata-mata karena mereka rekan.
Wanita seksi itu dapat merasakan getaran yang berbeda, setiap kali ujung kulit Relly menyentuhnya. Bahkan, jika itu hanya sebuah rangkulan atau pun pegangan tangan.
Ada cinta dan ketulusan yang Relly salurkan melalui setiap pori-porinya. Tanpa menuntut, tanpa minta dibalas. Anggie sadar akan hal itu.
Akan tetapi, bayang-bayang Zayn, belum sepenuhnya hilang. Orang itu sudah mengisi sebagian hidupnya, dalam waktu yang cukup lama. Bertahun-tahun, berdiam dan tersimpan di dalam lubuk hati.
Meski, sedikit demi sedikit mulai pudar, tergantikan oleh sosok Relly. Sebab, ada hal yang tidak bisa Zayn berikan sebagai seorang pasangan.
Yaitu, kebutuhannya yang juga merupakan seorang wanita dewasa. Yang ternyata, Anggie pun membutuhkannya.
Hanya mungkin, telah ia pendam dan kunci di alam bawah sadarnya. Sehingga, seolah-olah, ia tidak membutuhkan laki-laki, sama sekali.
Padahal, setiap kali bersama dengan Relly, genggaman tangannya, rangkulan lembut di bahu, pelukan hangat di momen yang tepat. Hal itu, seperti memuaskan sesuatu di dalam batinnya. Melegakan dahaganya, jiwa raga seorang perempuan, yang butuh kasih sayang dari seorang lelaki.
Seperti kali ini, ketika sudah selesai dengan semua urusan, pria itu akan mengantar Anggie ke kamarnya. Yang sebenarnya, mereka itu masih berada di dalam satu lingkup markas.
Relly selalu menggenggam tangan Anggie. Menyimpan jari-jari lentiknya di dalam sebuah kehangatan, di mana Anggie sudah sangat terbiasa.
“Nah, kita sudah sampai!” seru Relly saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Anggie. Yang dulu, juga ditempati oleh Zayn.
Masih belum dirubah. Karena Anggie masih merasa kehilangan. Dia mencintai dalam waktu lama, maka dari itu, butuh waktu juga untuknya melupakan.
“Masuklah! Ini sudah malam, kau harus langsung beristirahat, oke!” Diusap pucuk kepala Anggie. Sementara wanita itu menatapnya begitu dalam.
Relly menyadarinya, hanya saja, ia menghindari tatapan itu. Seoalah-olah ia tidak tahu, dan tetap memamerkan senyum lebarnya. Seperti biasa.
Anggie mengambil tangan yang masih berada di atas kepalanya. Bukan untuk menyingkirkan tangan itu, namun untuk menggenggamnya. Sedang yang satu pun, masih digenggam Relly.
Karena pergerakan itu, senyum di bibir Relly pun menghilang. Pudar perlahan, bersamaan dengan dirinya yang membalas tatapan dalam itu.
Saling menyelami apa yang ada di dalam sana, juga yang tersimpan di dalam sanubari mereka. Relly dan Anggie saling bersitatap dalam waktu lama.
Bergeming di tempat dengan tubuh memaku. Getaran dan gejolak yang selama ini sudah berusaha Relly pendam pun memberontak.
Tanpa sadar, tubuhnya condong ke depan, wajahnya pun ikut bersamaan. Kelopak mata Anggie yang tak bergerak, bola mata yang tetap mengunci pada netra miliknya, membuat Relly berpikir, seakan Anggie tengah menantang dirinya, untuk membuktikan keseriusan terhadap apa yang hendak ia lakukan.
Mereka memang handal dalam menyembunyikan ekspresi. Jadi, saat ini, Anggie hanya memaku wajahnya di ekspresi datar, sambil terus menatap Relly. Dia tahu apa yang akan Relly lakukan. Ia sendiri pun sedang menyiapkan diri.
Apakah, ia sudah bisa menerima kehadiran Relly atau pun belum?!
Dipikir Relly, Anggie akan menerima pembuktian perasaannya. Maka, ketika sudah sangat dekat jarak wajah mereka. Pria itu pun memejamkan mata.
Dan… bersamaan itu pula, Anggie melepaskan pegangan tangan mereka. Lantas… memeluknya.
Anggie mendekap pria itu dengan erat seraya memejamkan matanya.
Hh…. Dengusan terdengar ketika Relly menarik kurva di bibir. Ia tersenyum tak berdaya. Ternyata, Anggie belum bisa menerimanya.
Pria itu pasrah, namun dia tidak akan menyerah begitu saja. Relly telah berjanji untuk bersabar, sampai Anggie mau menerima dengan sendirinya.
“Relly!” panggil Anggie tak melepas pelukan itu.
“Hmm…!” jawab Relly, bergumam seraya membuka mata. Tangannya lantas membalas pelukan Anggie, mengusap lembut punggung wanita itu.
“Kau mau membantuku?”
“Tidak mau!” jawab Relly cepat. Meski pria itu tidak serius dengan jawabannya. Ia hanya sedang menggoda si wanita.
Bugh~!
Satu pukulan pun ia dapatkan di dadanya, sebagai bentuk protes Anggie. Pria ini, selalu saja bercanda!
“Ugh….” Lantas Relly mengaduh, sambil tersenyum lebar. “Membantu apa?” tanyanya kemudian dengan nada amat lembut. Tangannya pun mengusap punggung itu lagi.
“Tolong bantu aku, menghapus jejaknya di dalam hatiku! Kau mau, kan, membantuku?” Anggie menempelkan sebagian wajahnya di dada bidang Relly. Ingin merasakan detak jantung si pria, bagaimana berdebarnya Relly ketika sedang bersama dengan dirinya.
Relly perlu mengerjapkan matanya beberapa kali. Sambil mencerna, sambil menelaah ucapan Anggie barusan. Apakah dia tidak salah dengar?
“Bantu apa?” Dia pun membeo untuk memastikan.
“Menghapus bayangan Zayn di dalam hatiku,” jawab Anggie seraya mengangkat kepalanya, menatap wajah si pria.
Mereka kini saling bertatapan.
“Te- tentu saja!” Pria itu terlalu terkejut dan terpana akan pertanyaan yang Anggie lontarkan. Sehingga membuat debaran jantungnya menjadi kacau, dan ia pun tidak bisa menjawab dengan tegas dan lantang.
Tentu saja ia bisa!
Cup~!
Sedetik kemudian, bibirnya mendapatkan sebuah kecupan. Cukup lama, bahkan ia belum sempat memejamkan mata.
Dan dilihatnya, Anggie yang tengah memejamkan mata, memberinya sebuah ketulusan melalui pertemuan bibir mereka.
Relly masih belum benar-benar tersadar, kala wanita itu sudah menjauhkan diri dari wajahnya. Pria itu masih benar-benar syok.
“Itu adalah utang lama, yang belum sempat aku bayar!” seru Anggie dan wanita itu buru-buru menjauh.
Melepaskan pegangannya pada dada Relly, Anggie ingin segera masuk ke dalam kamar.
Namun… tangannya yang tertinggal di belakang, segera diraih Relly. Ditarik hingga wanita itu berbalik.
“Utangmu belum lunas, Anggie!” Sebelah tangannya lagi, langsung meraih tengkuk wanita itu. Dan ketika tubuh mereka sudah bersatu, Relly pun menyatukan bibirnya juga.
Karena bagi Relly, yang tadi itu, hanya bayar di mukanya saja. Tidak cukup untuk membayar utang lama yang sudah ia tahan dan tak pernah ia tagih, sampai detik ini.
Ia ingin, menikmati perpaduan indah ini dengan lebih agresif juga serakah.
Sebab apa? Sebab Relly sudah menahan diri dalam waktu yang cukup lama. Untuk seorang dirinya, yang sama seperti Ben. Seorang pria yang bisa kapan saja memilih wanita untuk dimilikinya.
Hanya untuk Anggie, Relly pun sudah berusaha keras untuk menahan diri. Ia tinggalkan rutinitas lamanya, ketika sudah memantapkan hatinya untuk mengejar wanita seksi itu.
Anggie pun membalas pergerakan bibir Relly pada bibirnya. Nyatanya, sesuatu di dalam diri wanita itu pun sangat merindu akan sentuhan yang lebih intim, dari seorang lelaki.
Rasa haus dan dahaga yang tak bisa diobati oleh Zayn, kini sedang dan bisa ia dapatkan terus dan terus dari Relly.
Mereka kini bersatu, bibir mereka bahkan terus memagut tanpa henti. Bersama debaran dan gejolak di dada yang kian membuncah.
Lantas, Anggie yang melepaskan diri lebih dulu. Ia melarikan diri, dari kejaran bibir Relly yang tiada henti.
Tidak ingin berlama-lama diam di situ, Anggie pun buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Selagi Relly masih terbawa angan.
Brak~!
Ketika pintu itu ditutup dengan keras. Barulah, pria itu membuka mata. Dengan bibir yang masih terbuka, bersama napas yang masih terengah-engah.
Hh…. Lantas, ia pun tersenyum penuh ironi. Di kala sesuatu di dalam dirinya bangkit, ia malah ditinggalkan.
“Tapi...,”
Plak~!
Relly menampar dirinya sendiri. Pipi sebelah kanannya pun, kini memerah. Sepertinya, itu merupakan, tamparan yang cukup keras.
“Tadi itu bukan mimpi, kan?” Ia pun mencoba mengingat kejadian barusan, sambil mengingat-ingat dengan menyentuh bibirnya.
Ternyata, tadi itu bukan mimpi! Bibirnya masih terasa lembab dan basah. Bahkan, ia masih bisa merasakan sisa rasa manis dari bibir Anggie, di bibirnya.
“Aaarghh….”
“Aaarghhhh….”
Setelah mengerjap, Relly berteriak dua kali.
Demi apa? Tentu saja demi melepaskan kembang api yang siap meledak di dalam dadanya.
Ia begitu gembira, begitu senang akan kemajuan ini. Kemajuan hubungan dirinya dan juga Anggie. Yang sebenarnya berjalan lambat, karena Relly sendiri tidak mau memaksakan perasaannya.
Beberapa anak buah yang sedang berjaga dan berjalan di sekitar sana pun menghampiri. Mereka terkejut mendengar suara jeritan seseorang. Dan cukup keras.
Semenjak kejadian penyusup serta pengkhianatan Zayn, tingkat keamanan markas memang diperketat. Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, lagi.
“Apa apa, Tuan?” tanya salah satu di antaranya.
“Siapa yang berteriak, tadi?” Pertanyaan selanjutnya pun menyusul.
“Apakah ada penyusup lagi, Tuan?” Dan pertanyaan lagi.
Sementara Relly belum siap untuk menanggapi mereka semua. Dirinya masih diliputi oleh euphoria akan hasil yang ia dapatkan tadi, dari Anggie.
Malahan, ia berteriak lagi. “Aaarghh….!”
“Tuan! Tuan kenapa, Tuan?” salah satu anak buah sampai mengguncang-guncang tubuh Relly karena khawatir.
Pasalnya, Relly tidak mengucapkan sepatah kata pun dan malah berteriak dengan keras, lagi.
“Apakah Tuan sakit?”
“Apa perlu kami panggilkan dokter?”
“Atau, Tuan ingin kami bawa ke rumah sakit?”
“Di bagian mananya yang sakit, Tuan?”
Nampaknya, mereka semua khawatit terhadap atasan mereka itu. Hanya saja, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Rumah sakit?” Relly mulai mengalihkan pandangan pada para anak buahnya. Mereka pun mengangguk dengan kompak. Dengan wajah polos dan lugu.
“Benar! Bawa aku ke rumah sakit jiwa! Karena sepertinya, sebentar lagi aku akan gila! Ah, aku merasa sudah gila, bahkan!” sambung Relly kemudian, dengan wajah kegirangan sendiri.
“Heh…! Ternyata Tuan Relly sedang kumat lagi!”
“Padahal kita sudah berpikir serius dan khawatir jika dia benar-benar sakit!”
“Heh, ternyata! Ternyata dia benar-benar sakit!’
“Tahu begitu, tadi kita tidak perlu menghampirinya, kan?!”
“Iya, betul!”
“Atau sebaiknya, kita bawa saja ke rumah sakit jiwa?”
“Hush! Jangan ngawur!”
“Habisnya, kau lihat sendiri saja! Dia masih tertawa sendirian. Apa namanya jika bukan gila?!”
Pada akhirnya, mereka semua meninggalkan Relly sambil menggerutu. Padahal mereka sudah sangat serius menanggapi situasi yang ada.
Namun… ternyata, oh, ternyata, Tuan Relly tetaplah Tuan Relly! Konyol dan menyebalkan!
Di balik pintu kamar, Anggie pun ikut tertawa. Relly memang seperti itu, selalu bisa membuat orang lain kesal. Sementara saat ini, dadanya masih terasa amat berdebar.
Bersambung…