Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kartu Truff



“Halo, Tuan! Saya Benny Callary, kekasih putri Anda, dan juga… calon suaminya!” Dengan sengaja Ben memberikan penekanan pada ujung kalimatnya, sambil melirik pada dua wanita yang sengaja ia lewati.


Begitu Mirabel, dengan tidak tahu dirinya memperkenalkan diri, ia langsung menggeser tubuhnya kembali. Tentu saja, sambil menggiring Rose supaya mengikuti langkahnya.


Pria itu pun tahu, wanitanya enggan sekali berinteraksi dengan dua wanita ular itu. Dan sekarang ia akan menghafalkan dua wajah itu. Wajah yang sudah memberikan masa lalu tidak menyenangkan kepada kekasihnya.


Ben akan membuat perhitungan sendiri, pada kedua siluman itu!


Diulurkan tangannya menunggu dijabat oleh Tuan Benneth. Sekarang ia sedang memperkenalkan diri secara resmi. Bagaimana pun juga, dia adalah orang tua satu-satunya, yang hanya Rose miliki. Jadi dia akan memberikan kesan baik terhadap orang itu.


Dan sebagai bayaran karena Tuan Benneth sudah menelantarkan putrinya kala itu, maka, setelah ini, dia yang akan menjaga dan melindungi putrinya. Itu adalah bayaran yang paling setimpal, yang harus diterima oleh seseorang.


Seorang ayah yang tidak menjaga putrinya dengan baik!


“Halo, Tuan Benny-“


“Panggil saja aku Ben, Tuan! Aku jauh lebih muda darimu. Tidak perlu terlalu kaku!” potong Ben di wajah datarnya.


Meski ia mencoba untuk ramah, namun tetap saja tak bisa menerbitkan satu senyum indah pun di bibirnya. Terkecuali untuk orang-orang tertentu saja.


Oh, Ben! Mirabel mencoba mengingat dan merekam nama itu di dalam benaknya.


Mendengar namanya saja, ia bisa langsung merasakan betapa keren dan gagahnya pria itu. Belum lagi wajah dewasa Ben yang tampan, pikirannya yang berangan ke sana kemari. Oh, seandainya dia bisa memiliki pria itu!


Akan ia ingat dengan baik. Pria yang memiliki pesona tersendiri, yang belum pernah ia temui pada pria mana pun, yang pernah ditemuinya.


Tanpa sepengetahuan ibunya, Mirabel menggigit bibir bawahnya dengan tatapan penuh ambisi. Jika Rose saja bisa mendapatkannya, masa, dia tidak bisa!


Dan hal ini tertangkap oleh mata Baz. Sambil menggendong Bervan, dia memandang jijik pada wanita itu. Sepertinya, ia harus segera memberikan peringatan kepada semua orang. Terutama pada Ben dan Rose. Tentang rencana busuk yang ia tangkap pada sepasang mata ular itu.


“Halo, Ben! Aku Dennish Benneth, ayah dari Rose, kekasihmu.  Dan uuhm… “ Pria paruh baya itu menurunkan pandangan matanya yang berubah sendu, sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. “Tentunya… calon istrimu!”


Senyum dan tatapan Tuan Benneth sama sendunya. Bahkan, Rose sudah memutuskan untuk menempuh hidup baru dengan lelaki pilihannya. Tanpa ia ketahui, jika putri bungsunya itu sudah sebesar ini. Sudah akan meninggalkannya pergi. Sebelum dia berusaha membahagiakannya.


Miris sekali! Hati Tuan Benneth saat ini, bagai sebilah balok yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian.


Ada bagian hatinya yang senang, haru dan bahagia. Ada pula bagian lain, yang kecewa, sedih dan menyesal. Bukan kecewa pada mereka yang tidak mengabarkan apa-apa padanya. Tapi karena dirinya sendiri yang tidak bisa


berbuat apa-apa.


Bahkan kepada putranya juga. Putra sulung yang ia tidak tahu, ternyata mengidap penyakit berbahaya. Dan dia sebagai ayah, baru mengetahui ketika anak sulungnya itu bahkan sudah sembuh dan sedang menjalankan


terapi.


Sungguh tidak bergunanya dia sebagai ayah! Penyesalan memang datang belakangan, dan itu yang ia rasakan saat ini. Ia belum bisa membahagiakan putrinya, tapi putrinya itu sudah akan dibahagiakan oleh orang lain.


“Oh, ya! Perkenalkan, ini Eric. Dia yang sudah memberitahu kami tentang Victor dan Rose. Dan dengan baik hati, sudah mau mengantar kami sampai di sini!” Tuan Benneth lantas merubah pandangannya, kala ia mengingat belum memperkenalkan orang yang telah berbaik hati pada mereka.


“Tentang Victor dan Rose?” Ben membeo dengan nada diperlambat, seolah-olah dia bertanya.


“A-aku tanpa sengaja mengetahui keadaan Kak Victor setelah waktu itu bertemu Rose di kapal.” Buru-buru Eric menjelaskan. Meski sebenarnya itu hanya alibi yang ia buat.


Bagaimana pun juga, selaku orang tua dari keduanya, Tuan Benneth berhak tahu keadaan anak-anaknya.  Daripada terus mengurus dua manusia yang hanya jadi benalu dalam hidupnya.


Karena setelah kejadian Rose menghilang tanpa kabar, ia segera mencari tahu. Dan banyak hal yang sudah ia kantongi sebagai kartu truff untuk mengusir kedua wanita siluman itu.


Hanya menunggu waktu yang tepat untuk ia memberikan semua yang dia tahu kepada Tuan Benneth. Agar ayah dari Rose itu mau membuka mata dan mengusir mereka dari hidup semua orang.


Rasanya gugup sekali berhadapan langsung dengan pria gagah itu. Ketika di rumah sakit, saat trauma Rose kambuh kala itu, Eric sempat melihat Ben dari kejauhan.


Hanya melihat pria itu dari luar kamar rawat saja, ia sudah merasa tertekan. Apalagi sekarang?! Seperti ada aura dan hawa tak kasat mata yang menekan dirinya, sehingga ia tak bisa bersikap biasa.


“Ah, ya! Kapal?!” Ben pura-pura baru mengingatnya dan mengikuti sandiwara yang Eric buat.


Jangan pikir orang itu bisa berbohong di depannya! Ben yakin, pasti orang itu melakukan banyak usaha untuk mengetahui setiap detail tentang kekasihnya.


“Jadi… kaulah orang yang sudah menyelamatkan Rose, ya? Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih, karena kau sudah mau menyelamatkan ca-lon is-tri-ku!” Objek yang Ben maksud, dia ucap dengan penuh penekanan.


Supaya apa? Supaya laki-laki itu cukup sadar diri dengan posisinya saat ini. Dia tidak boleh mengharapkan lebih pada wanitanya, meski dia sudah pernah berjasa besar dalam hidup Rose.


Tapi dari kejauhan, Baz mencibir. Dasar pamer! Semua orang sudah tahu jika Rose adalah miliknya. Jadi ia rasa, tidak perlu sampai menggembar-gemborkannya di sana-sini. Heh! Dasar orang aneh!


Eric nampak ragu melihat uluran tangan Ben. Ia bolak balik menatap tangan dan si empunya. Napasnya terasa berat kala memandang iris mata hitam Ben yang menajam, kontras dengan wajahnya yang santai. Alam bawah


sadarnya pun langsung menyadari jika pria di hadapannya ini adalah pria berbahaya.


Melihat kegugupan dan keraguan Eric, Rose merasa perlu menengahi situasi. Dipeluk Rose lengan kekasihnya itu, erat sampai menempel ke tubuhnya. Ia lakukan agar pria itu tidak cemburu sebelum dia akan melakukan apa pun nanti.


“Oh, ya, Eric! Aku juga belum berterima kasih padamu!” ucap Rose sambil tersenyum tulus.


“Waktu itu kami menunggumu kembali. Karena kami belum mengucapkan terima kasih dengan benar kepadamu,” imbuh Rose sambil menepuk Ben. Mengode kekasihnya agar memberikan wajah yang lebih ramah.


Bagaimana teman sekolahnya itu mau menerima uluran tangan Ben, jika tuan seramnya saja sedang memasang wajah datar yang sudah horor dari sananya.


Ck! Tuan seramnya itu, benar-benar!


“Y-ya, sama-sama! Tidak perlu sungkan, Tuan!” Pada akhirnya, Eric mau menjabat tangan Ben setelah ragu sebentar lagi.


Rose tahu jika dirinya diperhatikan. Makanya dia melirik tajam pada Ben, yang sedang memasang wajah galak padanya.


Apa?! Tatap nyalang Rose pada kekasihnya itu.


“Menyelamatkan Rose? Di kapal? Sebenarnya apa yang terjadi pada putriku?” pertanyaan Tuan Benneth menyelesaikan drama sepasang kekasih itu. Dan mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk Nyonya Mira dan Mirabel.


Bersambung…


Telat  ya bapaknya!! Hari gini baru nanya,, kemaren-kemaren kemana aja,,


Haduh,, pusing pala baby