Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Harus banyak belajar



“Apa itu?” tanya Rose tepat begitu Ben membuka mata.


Ben membuka genggaman tangannya sembari berjalan ke dalam kamar. Seperti anak ayam, Rose mengekorinya sambil memanjangkan leher, sangat


penasaran dengan benda yang tadi Relly berikan.


“Sebaiknya kita makan dulu!” Ben urai senyumnya sambil menyimpan USB merah itu ke dalam kantung celananya.


“Ben!” Rose merajuk dengan wajah memelas. Tangan kekasihnya digoyang-goyangkan mencoba merayu, supaya diberitahu.


“Kita makan dulu!” Pria itu tersenyum sekali. Ramah tapi tegas, sehingga Rose hanya bisa menurut saja. Ini memang nasibnya memiliki kekasih yang galaknya setengah mati. Mana mungkin Rose berani melawannya!


“Ya, ya, baiklah!” Sambil mengerucut bibirnya, Rose


mendudukkan diri di pinggir tempat tidur.


“Kau mau makan apa?” Ben sedang melihat-lihat menu apa saja yang Relly bawa. Sambil memikirkan apa yang akan ia makan, pria itu juga menawari kekasihnya.


“Apa saja!” Dijawab dengan nada merajuk seperti tadi.


Ben tersenyum kecil melihat tingkah anak kucingnya yang menggemaskan ini. “Nanti, aku pasti akan memberitahumu. Tapi sekarang kita makan dulu, ya!”


Krucuk… krucuk…


Tawa riang lolos dari bibir seksi pria itu. Sedang Rose,


memilih untuk memalingkan wajahnya menahan malu.


“Sepertinya perutmu lebih bisa diajak bicara!”


“Jangan tertawa lagi! Ayo makan!” Mendengus wanita itu seraya mengambil piring dari troli. Dibuang sudah, rasa malunya tadi.


“Kau tidak makan?” Rose bingung karena kekasihnya itu tidak juga mengambil piring dan makanan yang tersedia.


Ben menggeleng lemah sambil menipiskan bibir. “Suapi aku!”


“Hish! Kau ini manja sekali!” Tak berdaya, Rose pun


menyodorkan satu sendok penuh ke mulut tuan seramnya itu.


“Bukannya kita harus belajar?” Sambil  mengunyah makanan yang Rose suapkan ke mulutnya.


“Belajar apa?” Rose juga menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Belajar makan sepiring berdua!”


“Ben!” Ana menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu. Pria ini! Ada-ada saja!


“Benar, Rose! Kita memang harus banyak belajar, kan?!” Pria itu mengulum senyum ketika selesai mengunyah makanan di mulut.


“Belajar apa lagi, Ben?” Rose mengangkat kepalanya, agak penasaran dengan gombalan apa lagi yang akan pria itu ucapkan.


“Belajar… sehidup semati berdua!” Ditatapnya serius wajah Rose.


“Heh! Memangnya siapa yang mau mati bersama denganmu?!”


‘Kena kau!’ Senang hati Rose melihat wajah Ben yang sekarang cemberut.


“Mulutmu ini, ya! Sejak kapan kau jadi pandai menggombal?” Rose menusuk-nusuk pipi Ben dengan gemasnya. “Seperti bukan dirimu sekali, tahu!”


“Ayo makan lagi!” Ben menerima suapan itu dengan kesal.


“Aku tidak ingin sehidup semati denganmu. Yang aku inginkan, kita terus hidup bersama sampai umur kita menua nanti. Makanya aku ingin menjadi kuat. Supaya, ketika kau dalam bahaya, aku bisa melindungimu. Dan bukannya diam saja melihat kau sekarat, lalu setengah mati sedih karena kehilanganmu.”


“Aku ingin kita bisa saling melindungi. Aku ingin kita hidup bersama selamanya, Ben! Sampai bisa melihat anak dan cucu kita tumbuh besar nanti!” Mata Rose menerawang langit-langit kamarnya sambil tersenyum lebar.


“Jika kau terluka, aku akan mengobatimu! Lalu jika kau terluka, kau yang akan mengobatiku!” kata Rose di dalam pelukan itu.


“Aku tidak akan membiarkanmu terluka!” Sorot mata Ben menatap lurus dan dalam. Lebih baik dirinya saja yang terluka!


Mereka hanyut dalam perasaan yang begitu mendalam itu untuk beberapa saat. Membayangkan bagaimana masa depan mereka nanti ketika begitu


banyak bahaya yang menghadang. Lalu keduanya akan mencoba untuk bisa saling menjaga.


Keduanya berjanji dengan hati masing-masing, jika mereka akan melindungi satu sama lain.


“Ben, aku masih lapar!” Diingat masih ada piring di tangan yang sedang membalas pelukan kekasihnya itu. Dia, kan, juga baru makan beberapa suap saja! Sedangkan perutnya sudah berdemo untuk diberi asupan lebih.


Ben tertawa kecil seraya menjauhkan diri. “Aku lupa jika kekasihku ini baru saja bekerja keras!” Diacak rambut pirang Rose dengan gemas.


Agak merasa bersalah juga dia, karena semua sesi latihan itu dia yang membuat daftarnya. Walaupun sebenarnya dia memiliki tujuannya sendiri dengan hal itu.


“Ah, iya benar!” Rose lalu melotot dengan wajah galak. “Apa maksudmu membuat daftar sebanyak itu? Kau berencana melatih atau membunuhku?! Heh!”


“Ugh!” Ben menerima suapan yang Rose berikan dengan kesal. Hampir saja makanan itu keluar lagi dari mulutnya. Tapi laki-laki itu tetap tertawa setelahnya.


“Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud begitu! Padahal aku juga sudah berpesan pada mereka untuk membiarkanmu, jika kau minta untuk menyerah.”


Rose malah semakin kesal mendengar hal itu. Anggie dan Zayn memang sengaja mengerjainya!


“Lalu apa maksudmu?” Rose bertanya dengan galak. Dinaikkan dagunya sambil menatap tajam pria itu.


“Sebenarnya… aku ingin kau menyerah!” Ragu-ragu Ben mengucapkannya, maka dari itu dia berucap dengan nada lemah.


“Ben! Tapi aku, kan-“


“Iya, aku tahu!” Ben langsung memotongnya karena tak ingin Rose semakin salah paham dengan maksud ucapannya tadi.


“Sebelumnya aku terbawa emosi dan keegoisanku sendiri karena kesal kepadamu kemarin. Aku merasa kau tidak bisa menerima masa laluku. Dan lagi, kehidupan yang biasa aku jalani di sini tidak seperti kehidupan banyak orang. Di sini kotor dan penuh trik, juga akan banyak darah yang mengalir.”


“Dengan masa laluku yang seperti itu saja kau tidak bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan tangan ini yang sudah banyak memakan korban?! Aku lebih takut lagi kau tidak bisa menerima sisi diriku yang ini.


Yang mungkin menurut orang lain tidak berperikemanusiaan.” Sambil melihat kedua telapak tangannya dengan tatapan sendu.


“Ku pikir, lebih baik kau berada di sana bersama Victor.  Aku tak ingin kau ikut masuk dalam duniaku yang kotor dan penuh darah ini. Biarkan aku di sini dan kau di sana, dan hubungan  kita berjalan seperti


sebelumnya.”


“Kau sudah selesai bicara?” tanya Rose dengan sabar.


Ben menggeleng. “Sebentar lagi.”


“Tapi… setelah aku ku pikirkan lagi. Rasanya semua itu tidak adil bagimu. Melihat tekadmu, keras kepalanya dirimu sampai rela menolak lamaranku, aku mengerti, bahwa kau berjuang untuk menerima diriku dan semua duniaku. Tekad kuatmu untuk masuk dan belajar di sini, akhirnya mengingatkan aku.”


“Wanita yang biasanya ceroboh ini saja sampai mau berusaha untuk menjadi lebih kuat demi aku. Jadi apa lagi yang perlu aku takutkan?!” Sekarang dia sudah bisa menguraikan senyum di bibirnya kala menatap Rose.


“Mulai sekarang, aku tidak akan ragu lagi. Aku akan terus menggenggam tanganmu, walau apa pun yang terjadi!” Lalu digenggam tangan lembut


kekasihnya itu.


Mereka saling bertukar pandang dalam nuansa romantis itu. Namun, yang tidak Ben ketahui adalah, bahwa wanita yang berada di hadapannya ini sedang merutuki dirinya dalam hati.


Bersambung…


Ikutin terus ceritanya ya manteman


Jangan lupa like, vote sama komentar kalian ya,, dijamin aku makin semangat nulisnya 😉