Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Cerai?



“Oh~! Itu adalah Nona Ana, putri dari Tuan Danu. Pemimpin Harimau Putih sebelum calon suamimu. Lalu di sebelahnya, adalahh suaminya, Tuan Ken. Salah satu orang yang paling disegani di negara ini.” Victor pun menerangkan sambil kembali berbisik.


Oh, Nona Ana, namanya! Sebut Rose dalam hati sembari menganggukkan kepala.


“Dia cantik sekali, ya, Kak?!” bisik si adik lagi.


“Kau tahu, dia punya hati lebih cantik lagi! Kebaikan hatinya menurun dari sifat mendiang Tuan Danu!”


Bagaimana tidak baik?! Tuan seramnya bisa sampai di titik ini, pasti karena dukungan dan support dari ayah dan anak yang baik itu.


Calon pengantin wanita pun mengangguk lagi, sembari menarik garis bibir. Pantas, kalau kekasihnya dulu tergila-gila padanya. Ternyata, selain cantik dia juga baik.


Akan tetapi, Rose tidak perlu berpikir negatif sama sekali. Sebab, sang kekasih pun sudah menjelaskan apabila kini, sudah tidak ada nama wanita itu lagi di dalam hatinya.


Tuan seramnya bilang, nama Rose telah tersemat di seluruh relung hati. Oh, sungguh! Hati wanita mana yang tidak langsung meleleh dibuatnya.


Katanya tidak bisa menggombal, tapi ternyata, dia adalah seorang profesional! Hem!


Kemudian, di barisan paling depan di sisi itu, Bella nampak melambaikan tangan pada Rose sembari menggendong Ellia. Di sebelahnya, ada Paman Alex. Terlihat sedang menahan haru.


Akhirnya, sampailah Rose di depan altar. Di hadapan Ben, calon suami yang kembali memasang wajah datar. Tapi Rose tahu, bahwa sebenarnya saat ini, Ben tengah menahan banyak ekspresi.


“Kawan! Aku serahkan adik perempuanku, padamu!” Tangan yang melingkari lengannya Victor lepas dan ia berikan pada sang mempelai pria.


“Terima kasih, Kakak ipar!” desah Ben.


“Aku belum jadi kakak iparmu!” dengkus Victor sembari berlalu-berbalik demi bergabung dengan satu keluarga.


“Kalau mau tersenyum, tersenyum saja, Sayang!” Mempelai wanita pun menggoda dengan berbisik.


“Ch!” Ben memutar bola mata seraya berdecak. Demi menahan agar tak banyak senyum yang nampak. “Kau cantik sekali!” bisiknya lalu, tepat di pipi wanitanya.


Membuat pipi Rose seketika merona dan memerah. Calon pengantin wanita tersipu.


Keduanya pun menghadap ke depan, ke arah lepas pantai dan luasnya lautan. Yang akan menjadi saksi, saat keduanya mengikrarkan janji suci yang akan mereka jalani seumur hidup, selamanya.


Beberapa kain yang sengaja dihiaskan pada tian-tiang di sekitar altar pun berkibar disapa angin pantai yang sejuk dan membelai.


Maka, debur ombak, yang menjadi musik pengiring bagi ikrar suci yang akan diucapkan. Menciptakan melodi romantis pada venue terbuka itu.


Lalu, setiap bunga-bunga cantik yang didekor di beberapa titik, ikut bergoyang mengikuti irama harmonis yang diciptakan angin dan ombak yang berderu.


Setelah diberkati dan saling mengucap janji, Ben dan Rose lantas saling berhadapan. Pasangan itu siap memakaikan cincin pada satu sama lain.


“Rose!” panggil Ben mesra, lalu tersenyum.


Mempelai wanita itu tersipu mendengar nada menggelikan yang tak biasa diperdengarkan tuan seramnya di hadapan semua orang.


Semua saksi yang juga mendengarnya pun bersorak. Mereka terasa asing dengan cara bicara seorang Benny Callary yang kaku dan dingin.


Terutama bagi beberapa perwakilan Harimau Putih yang datang. Di mana yang mereka tahu, bos besar mereka itu adalah sebuah penggambaran tirani yang agung.


Pria dengan tuksedo putih yang kemejanya dibuka satu kancing itu pun membenarkan sebentar topi koboinya yang diterpa angin. Kemudian, ia keluarkan sebuah kotak berwarna putih dari dalam saku kemeja di bagian dada.


Sebuah cincin berlian bermata satu langsung nampak begitu penutupnya dibuka oleh si lelaki. Bening dan langsung memantulkan cahaya mentari yang menyinari.


Cincin tersebut memiliki pasangan, satu lagi dengan ukuran lebih besar. Hanya saja mata satunya kecil dan berada di dalam lempengan cincin. Bahkan, hampir tak terlihat.


Pada lingkaran bagian dalam kedua cincin tersebut, nama mereka diukir dengan indahnya di sana. Ben dan Rose.


Satu sama lain kemudian saling memakaikan cincin. Lalu, berpelukan melepas lega dari perasaan gugup dan tegang.


“Ayah!” Victor sedikit terkejut dengan kehadiran ayahnya yang tanpa suara.


“Maaf, Ayah terlambat!” sesal Tuan Benneth dengan wajah sedih.


“Tidak masalah! Yang penting Ayah datang!” Suami dari Bella itu belum bisa melenyapkan gaya acuh tak acuhnya pada sang ayah.


“Hem…. Ayah tidak menyangka jika sidang perceraian Ayah akan sama tanggalnya dengan hari pernikahan Rose.”


“Cerai?” Victor auto menolehkan kepala.


“Benar! Ayah memutuskan untuk menceraikan wanita itu,” ungkap Tuan Benneth.


“Hemh!” Victor bergumam sebab tidak tahu apa yang harus berkata apa. “Selamat! Ekh-!” Ia pun segera menutup mulutnya yang keceplosan.


“Tidak apa-apa! Terima kasih!”


Victor tak menanggapi dan menghadap ke depan lagi. Namun, tanpa ia sadari, sebenarnya ia dan sang ayah sedang kompak tersenyum diam-diam.


Nampaknya, ini adalah keputusan yang tepat! Sebut Tuan Benneth dalam hati.


Ia jadi bisa mendekatkan diri pada kedua anaknya lagi. Di samping itu, ia telah membuka mata bahwa selama ini istri dan anak tirinya itu hanya berniat memanfaatkannya saja. Tanpa memiliki perasaan tulus kepadanya.


Kembali pada pasangan insan di atas altar.


Setelah jari manis keduanya tersemat cincin pengikat hubungan baru mereka. Ben dan Rose lantas diberikan sebuah mic, karena dipersilahkan untuk mengungkapkan beberapa patah kata cinta.


“Rose Callary!” sebut Ben dengan nada dalam. “Kau sudah mencuri nama belakangku tanpa izin, ya?!”


Mendengar hal itu, sontak saja semua orang tertawa. Sebab memang, sebelum mereka resmi bersatu Rose sudah menggunakan nama itu terlebih dahulu.


“Aku sudah minta izin! Kau saja yang tidak dengar!” sahut Rose sembari mengulum senyum.


Tawa pun kembali bergema pada venue terbuka itu. Mereka tentu tahu sejarahnya. Ketika Rose kehilangan Ben dan memakai nama itu, supaya tetap bisa merasakan kehadiran Ben di sisinya.


Ben membenarkan topi koboi kebangsaannya lagi sembari mendengkuskan satu senyuman. Heh!


“Kalau begitu, aku minta maaf karena tidak mendengar!” Semua orang langsung terdiam. Mereka dapat segera merasakan wajah dan suara Ben yang kini berubah serius.


Begitu juga dengan Rose. Mempelai wanita yang sekarang tengah menelan ludah dengan susah, sambil menahan degub jantung yang terasa hampir meledak.


Diraih Ben tangan kanan Rose yang masih terbungkus sarung tangan putih dan bertahta cincin pernikahan mereka pada jari manisnya. Lalu ia genggam.


Sembari melayangkan tatapan penuh cinta yang mendalam, Ben tempatkan microphone ke dekat mulut.


“Rose Callary!” panggilnya lagi. Dengan kedipan pelan.


Inginnya ia juga ikut serius, terbawa atmosfer yang mendadak berubah. Tetapi, merasakan setiap ujung jemari kokoh pria yang kini sudah jadi suaminya, Rose sungguh ingin sekali tertawa.


Mempelai wanita itu mengulum senyum. Lalu membuyarkan konsentrasi Ben yang sudah menghafal sederet kalimat cinta untuk wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


“Hish! Jangan tertawa!” protes Ben yang lalu membalikkan badan sembari menutup setengah wajah.


Tak ayal, kejadian ini pun memecah hening dan meledakkan gelak tawa di antara semua orang yang hadir.


Siapa sangka, sosok Benny Callary yang mereka kenal, bisa terlihat gugup luar biasa seperti itu!


Bersambung...