
Melody berlari keluar kelas secepatnya. Dia menuju kelas Aramis untuk memberitahukan kepergian Lion yang tiba-tiba pada kakaknya itu. Namun Aramis tidak ada di kelasnya.
Melody ingin Lion tidak pergi, dan menurutnya hanya Aramis yang bisa menahan kepergian Lion.
"Ada apa, Melo?" tanya Anna saat Melody terlihat melihat ke sekitar berdiri di depan kelas Aramis.
"Kakak tahu di mana Kak Ars?" ujar Melody sambil mencoba menghubungi Aramis dengan handphone-nya.
"Itu dia." tunjuk Anna saat melihat Aramis muncul dari arah belakang gedung sekolah.
Melody berlari menghampiri Aramis secepatnya dan Anna mengikutinya dari belakang.
"Ada apa? Kenapa kau menangis Melo?" tanya Aramis bingung saat melihat wajah Melody yang basah karena airmatanya.
"Baru saja Lion meneleponku, dia bilang dia akan tinggal bersama orang tuanya. Dia juga sudah dalam perjalanan." jawab Melody tergesa-gesa. "Ayo kak, kita hentikan si bodoh itu."
"Benarkah?"
Melody bersama Aramis langsung meninggalkan sekolah mereka menuju bandara untuk menghentikan Lion. Perjalanan terasa begitu sangat lambat bagi Melody. Dia tidak mau terlambat sampai dan Lion sudah pergi.
"Ivan, kau tahu Lion berencana pergi?" tanya Aramis menelepon saat di mobil dalam perjalanan.
"Apa? Dia tidak bilang apapun padaku." jawab Ivan di ujung telepon.
"Saat ini mungkin dia dalam perjalanan ke bandara atau sudah di bandara. Cepatlah kesana dan tahan sampai aku datang. Lokasimu lebih dekat ke bandara dari pada aku." seru Aramis.
"Baiklah." jawab Ivan. "Aku juga akan memberi kabar ke yang lainnya, semoga saja dia belum pergi."
Hampir empat puluh menit Melody dan Aramis menempuh perjalanan ke bandara, akhirnya mereka sampai. Mereka berdua langsung berlari masuk ke dalam terminal keberangkatan ke luar negeri.
Bandara tampak tak terlalu ramai dari luar, namun ketika Melody masuk, puluhan pria berseragam SMA berkumpul di sana. Melody melihat setengah dari orang-orang itu adalah orang-orang yang memukuli Prothos kemarin. Dan mereka juga masih terus saja berdatangan.
Melody memperlambat langkahnya ketika melihat Lion sudah berjalan masuk untuk check-in. Aramis yang berada di depan Melody dan sudah melihat Lion, mempercepat langkahnya.
"Aku tidak bisa menasehatinya." ujar Ivan yang melihat kedatangan Aramis.
"Sejak kapan anak itu bisa dinasehati? Kau hanya perlu menyeretnya!!" jawab Aramis saat melewati Ivan dan langsung berlari ke Lion.
Tanpa basa-basi Aramis langsung menarik baju Lion dari belakang. Semua mata memperhatikan mereka karena koper Lion terjatuh dan membuat suara gaduh.
Aramis benar-benar menyeret sahabatnya itu dan membawanya ke arah kerumunan teman-teman Lion yang jumlahnya sekitar lima puluh orang lebih, dimana Melody berdiri di dekat mereka semua.
"Apa-apaan kau, Ars?" tanya Lion meronta.
Tiba-tiba Aramis memukul wajah Lion. Membuat mereka jadi bahan perhatian. Bahkan beberapa petugas keamanan datang.
"Tidak apa-apa, kami bukan sedang berkelahi." seru Aramis tersenyum pada petugas keamanan yang langsung pergi.
Aramis menatap Lion dengan kesal.
"Kau ini bodoh atau apa?" tanya Aramis kedua tangannya ada di pinggangnya. "Kau mau kabur?"
Lion diam saja dengan mata yang menatap Aramis.
"Jangan jadi pecundang, kau mau kabur kan?"
"Bukan kabur! Aku hanya merasa tidak enak padanya kalau aku masih bersenang-senang setelah semua yang terjadi." jawab Lion. "Makanya, lebih baik aku menghentikan semuanya."
"Itu semua bukan salahmu, Lion." seru salah satu dari gerombolan pria berseragam SMA. Melody tahu kalau dia salah satu orang yang memegangi Prothos waktu itu. "Kematian Mario bukan salahmu."
"Ya Lion, itu kesalahannya sendiri." tambah Ivan. "Kau juga tahu kalau dia mengkhianatimu."
Lion menoleh pada Ivan.
Melody menoleh pada Niko, teman Lion yang satu itu baru saja datang bersama teman-temannya yang jumlahnya belasan. Namun penampilan Niko terlihat berbeda dengan teman Lion yang lainnya. Semua orang pasti akan langsung melihat padanya karena penampilannya itu sangat nyentrik di antara kumpulan para teman Lion yang jumlahnya sangat banyak itu.
"Kau dengar semua itu?" tatap Aramis yang berdiri tepat di hadapan Lion. "Mereka semua datang untuk menghentikanmu."
"Tidak, aku sudah buat keputusan yang salah karena mendengarkan kemarahanku waktu itu." ujar Lion. "Seburuk apapun Mario tetap temanku, dan seharusnya aku memaafkannya tanpa harus dia meminta maaf padaku. Tapi karena kemarahanku aku tidak melakukannya, dan malah memutus pertemanan kami."
Melody hanya diam saja, dia menyimak semuanya dari jarak yang cukup jauh hingga Lion tak tahu keberadaannya.
"Bahkan saat itu aku menantang Mario dengan berkata sejauh mana dia mampu melangkah setelah aku memutus pertemanan kami. Dan ternyata secepat itu." ucap Lion. "Jadi biarkan aku pergi. Aku harus menghukum diriku karena melakukan kesalahan dan membuat Mario meninggal."
"Apa dengan begitu Mario akan hidup lagi?" tanya Aramis.
"Setidaknya rasa bersalahku berkurang." jawab Lion.
"Tidak Lion, jangan karena satu orang yang mengkhianatimu, kau meninggalkan kami semua." seru seseorang yang berada di dekat Melody berdiri.
Lion menoleh melihat ke orang itu, namun tatapannya terhenti pada Melody. Mereka berdua saling tatap, namun Lion kembali menatap Aramis.
"Kenapa kau mengajaknya kesini, Ars?" tanya Lion agak berbisik.
Semua mata langsung menatap Melody. Melody jadi merasa kalau seharusnya dia tidak berada disana.
Melody langsung melangkah pergi menghindari tatapan semua pria itu. Namun tidak berapa lama berjalan kembali dan mendekat pada Lion. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Melody menahan rasa malunya karena banyak sekali mata yang melihat padanya saat ini. Dia tidak terbiasa akan hal itu. Namun dia harus menghentikan Lion pergi.
"Tadi kau bilang, kau memutus pertemananmu karena kemarahanmu. Kau marah padanya itu berarti hal yang membuatmu marah lebih penting dari temanmu itu, bukan? Jika sekarang kau menyesal dengan kemarahanmu waktu itu, apa itu sama artinya hal itu tidak penting lagi untukmu?" tanya Melody menatap Lion.
Lion hanya diam tak menjawab Melody.
"Dari pada kau menyalahkan dirimu dan menghukum dirimu karena seseorang yang sudah mengkhianatimu, bukankah lebih baik seharusnya kau menerima kenyataan kalau kau sudah dikhianati olehnya agar semuanya terasa lebih mudah?"
Tak satupun dari mereka mengeluarkan suaranya. Mereka semua menatap Melody saat ini.
"Aku tidak mengerti dengan banyak hal yang terjadi pada kalian semua disini. Tapi yang aku tahu hanya orang bodoh yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri ketika tak ada satupun orang yang menyalahkannya. Jika dengan menghukum dirimu bisa membuatmu merasa lebih baik, maka lakukan saja. Bahkan karena keegoisanmu kau tidak bisa melihat betapa tulus mereka semua datang hanya untuk menghentikanmu. Aku jadi tidak heran kenapa temanmu itu mengkhianatimu." tatap dingin Melody. "Bodoh!"
Setelah itu Melody berjalan keluar dari sana.
Walau sulit Melody ingin menerima kepergian Lion. Dia tidak ingin memikirkannya lagi. Dia langsung berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Tidak berapa lama Aramis datang dan membuka pintu mobil dari kejauhan. Melody langsung masuk ke dalam mobil dan duduk menunggu Aramis masuk.
Melody diam saja ketika Aramis masuk. Begitupun dengan Aramis. Dia duduk di kursi setir, menghidupkan mesin mobil namun tidak langsung menjalankan mobilnya.
Melody melihat para pria berseragam dari SMA manapun yang adalah teman-temannya Lion sudah membubarkan diri. Jumlahnya sangat banyak dan tadi terus saja berdatangan ketika pembicaraan sedang berlangsung.
"Kenapa tidak jalan?" tanya Melody menatap Aramis yang hanya duduk memperhatikan spion ke belakang. "Kak Ars, cepat ja-."
Dug!
Suara pintu belakang terbuka.
"Kalian semua harus mengganti harga tiketnya!!" gumam Lion yang melempar kopernya ke kursi belakang.
Melody terkejut dan menoleh padanya.
"Kata-katamu sangat menyakitkan, Melon." seru Lion yang duduk di kursi belakang Aramis.
Aramis hanya tertawa kecil melihat sahabatnya melalui spion di depannya.