MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Sebait Melody Kesedihan



Widia keluar kelas saat jam istirahat hendak kembali ke ruang guru. Namun, perhatiannya teralihkan pada Prothos yang sedang berjalan menuju gudang namun seorang murid perempuan menghadangnya. Widia lihat bagaimana Prothos tersenyum pada gadis itu. Mereka berbicara cukup lama hingga akhirnya gadis itu pergi setelah Prothos tersenyum dengannya lagi.


Sesampainya di meja kerjanya, Widia terus memikirkan hal yang dilihatnya itu. Itu sangat mengganggu pikirannya. Prothos yang selalu tersenyum pada gadis lain, membuat Widia tidak suka. Namun dia berusaha untuk tidak memikirkannya karena dia tahu Prothos hanya bersikap ramah pada gadis-gadis itu.


Bell masuk berbunyi, Widia hendak menuju kelasnya mengajar selanjutnya. Ketika dia melewati gudang, Prothos membuka pintu dan menariknya masuk.


"Kenapa kau masih disini? Bel masuk sudah berbunyi dari tadi." seru Widia. "Cepat kembali ke kelasmu!!"


Prothos tersenyum mendengar ocehan kekasihnya.


"Aku menunggumu." jawab Prothos.


"Kau ini, kita sudah sepakat untuk tidak bertemu di sekolah." pekik Widia kesal. "Cepat kembali ke kelasmu!!"


Widia berbalik dan hendak membuka pintu, Tiba-tiba Prothos memeluknya dari belakang.


"Bu guru cerewet sekali." bisik Prothos. "Aku merindukanmu, Widia."


Widia melepaskan lengan Prothos yang memeluk pinggangnya dan berbalik.


"Jangan seperti ini, kita ada di sekolah."


Prothos tidak memedulikan perkataan Widia dan langsung mencium gurunya tersebut.


"Ini sangat seru kan? Aku rasa aku mulai menikmati situasi seperti ini." ucap Prothos tersenyum. "Adrenalinku jadi terpacu setiap kali ingin menemuimu."


"Kau ini bicara apa." ujar Widia kesal. "Jangan melakukan hal-hal seperti itu lagi saat kita di sekolah." tambah Widia setelah itu langsung pergi keluar.


...***...


Widia memasuki kelas dimana dia mengajar selanjutnya. Kelas sepuluh empat dimana dia merupakan wali kelas tersebut. Melody berada di kelas tersebut.


"Dimana Lionel? Dia tidak masuk?" tanya Widia melihat kursi kosong di samping Melody. "Melody, kau tahu dia kemana?"


"Tidak, bu." jawab Melody.


Melody melihat keluar jendela sekolah. Dia memikirkan Lion yang kemarin terlihat berbeda. Melody tidak mengira kalau perbedaan Lion kemarin membuatnya sampai tidak masuk sekolah hari ini.


Melody mengambil handphone-nya dan bersembunyi untuk mengirim pesan pada Lion.


Bu Widia menanyakanmu.


...***...


Melody diantar Aramis ke tempat kursus sebelum dia ke café. Kedua kakak kembar Melody yang lain harus mengurusi cabang café karena besok lusa adalah pembukaannya.


"Lion, tidak sekolah. Apa kau tahu dia kemana, kak?" tanya Melody. "Wali kelasku menanyakannya."


"Suruh wali kelasmu tanya langsung ke Lion." jawab Aramis.


Sebenarnya Melody tahu kakaknya yang satu itu berbeda dengan kedua kakaknya yang lain. Dia pasti tidak akan menjawabnya dan perkiraannya benar.


"Kau juga punya nomor handphone-nya kan? Kenapa tidak langsung menghubunginya? Aku bukan juru bicara anak itu."


Melody hanya bisa menahan rasa kesalnya pada kakak ketiganya itu.


Tanpa kata-kata lagi Melody langsung turun dari mobil ketika Aramis menghentikan mobilnya di depan tampat kursusnya. Monik yang baru juga sampai melambaikan tangan pada Melody.


"Melo!!" seru Aramis membuka kaca jendela mobilnya. "Pulanglah naik taksi nanti."


Setelah berkata begitu Aramis langsung pergi.


"Siapa dia? Apa salah satu dari kakak kembarmu, Melody?" tanya Monik yang melihat Aramis. "Kenapa tidak mirip dengan kak Oto? Ah, tatapannya tajam sekali, dia sangat keren, Mel. Kalau dia punya nomer handphone kan?"


Melody melihat Monik aneh. Dia tidak habis pikir karena Monik mudah sekali menyukai seorang pria.


"Aku minta boleh 'kan?"


"Kau tidak akan kuat dengan sifat kakakku yang itu." jawab Melody sambil berjalan. "Dia juga sudah punya pacar."


Melody menghentikan langkahnya dan menatap Monik saat mendengar nama Lion.


"Dia duduk di sebuah coffe shop bersama seorang wanita. Sekitar sepuluh menit yang lalu." lanjut Monik. "Apa dia pacarnya? Tapi ada yang aneh."


...***...


Saat pulang kursus, Monik mengajak Melody ke tempat coffee shop dimana dia melihat Lion. Melody minta Monik mengajaknya ke tempat ini.


Ketika sampai, Lion tidak ada disana. Ya terang saja, waktu kursus mereka sekitar 90 menit, jadi pastinya Lion sudah tidak ada lagi di coffee shop tersebut. Namun, Melody datang ke tempat itu bukan untuk mencari Lion.


"Mel, wanita itu yang tadi aku lihat duduk bersama Lion di meja yang ada di pojok sana." bisik Monik saat masuk ke coffee shop, dan melihat ke arah pramusaji yang menyambut kehadiran mereka.


Melody dan Monik duduk di salah satu meja. Dan wanita yang dilihat Monik bersama dengan Lion menghampiri mereka memberikan buku menu.


Ketika mendekat, Melody membaca name tag yang tertempel di baju wanita itu, Mona.


"Vanilla latte 1, dan kau Mel?" tanya Monik.


"Apa ada selain kopi? Aku dilarang keras minum kopi." jawab Melody pada Monik.


"Maaf, disini semua menu mengandung kopi. Tapi jika mau nanti tidak akan aku masukan kopinya. Pilihlah menu apa saja tapi harganya tetap tidak berubah karena itu cari menu termurah saja." jawab Mona. "Bagaimana kalau kopi susu biasa? Nanti akan aku buatkan susu saja."


"Baiklah." jawab Melody.


Setelah itu Mona pergi.


"Hah, menjadi satu-satunya wanita dan yang paling muda di keluarga pasti sangat menyusahkanmu ya? Tapi kalau punya tiga kakak kembar yang tampan, itu pasti sangat membahagiakan." gumam Monik.


Mona menyimak percakapan Monik. Wanita itu berhenti dan segera menoleh ke Melody, memperhatikannya. Lalu setelah itu kembali menghampiri meja Melody dan Monik.


"Maaf, apa kau adik dari ketiga Musketeers?" tanya Mona pada Melody. "Apa namamu Melody?"


"Kau kenal dengan dia?" tanya Monik pada Mona.


"Sejak kepergian adikku kemarin, aku terus mendengar namamu." jawab Mona menatap Melody setelah itu pergi.


Monik bertanya pada Melody apa maksudnya, namun Melody pun tidak mengerti maksud dari ucapan pramusaji tersebut. Melody terus berpikir namun dia sama sekali tidak mengerti.


"Karena aku yang minta ditemani, biar aku yang traktir." ucap Melody setelah menghabiskan minuman mereka.


"Baiklah. Kita pulang sekarang saja. Sudah hampir jam delapan." ujar Monik menyeruput habis minumannya.


Melody pergi ke meja kasir untuk membayar, dimana Mona berada disana. Melody mau bertanya mengenai perkataan Mona tadi tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.


"Apa susunya enak?" tanya Mona setelah Melody memberinya uang untuk membayar.


Melody mengangguk.


"Atas nama adikku, aku minta maaf karena itu semua terjadi padamu." ujar Mona.


"Apa?"


"Pundakmu terluka karena adikku. Dia yang menyebabkan kau dan ketiga kakakmu dalam masalah kemarin." terang Mona. "Adikku itu memang anak nakal, padahal selama ini Lion sangat baik padanya. Kalau tidak ada Lion pasti sudah lama mereka menghajarnya, tapi dia lebih memilih balas dendam pada salah satu kakakmu hanya karena seorang wanita. Padahal wanita itu terus-terusan menipunya."


Melody mencoba memahami perkataan Mona, semuanya terdengar seperti pecahan-pecahan kepingan puzzle yang belum tersusun baginya.


"Katakan padanya itu semua bukan salahnya. Si bodoh Mario yang memilih jalan yang salah dan melupakan pertemanan mereka. Kau harus menghibur Lion saat ini." ujar Mona dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. "Kau sangat beruntung mempunyai seseorang seperti Lion."


"Maaf." ucap Melody. "Kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan adikmu?"


"Mario?" tanya Mona. "Dia meninggal setelah seseorang menabraknya kemarin."


Melody berjalan keluar tempat itu dengan semua pikiran di kepalanya. Dia mencoba menyusun kepingan puzzle saat ini.


Melody teringat dengan perkataan Lion kemarin mengenai dirinya yang membunuh seseorang. Semua terjawab sekarang. Itu alasan kenapa Lion bertingkah aneh kemarin. Dia benar-benar menyalahkan dirinya atas kematian Mario, orang yang menyakiti Melody. Namun, Melody masih tidak mengerti kenapa Lion menganggap dirinya yang membunuh Mario?


Sesampainya di rumah, Melody berdiri di jendela kamarnya. Kamar Lion masih gelap, dan motornya juga tidak ada. Saat ini Lion belum pulang. Pesan darinya juga belum dibaca Lion.