
Setelah lari pagi Prothos pergi ke apartemen Widia. Semalam dia sudah memikirkannya. Dia akan bilang sekali lagi pada gurunya tersebut kalau dia benar-benar menyukainya. Itu bukan suatu candaan, ataupun lelucon.
Kalau perlu dia akan mengatakannya berulang-ulang kali, agar Widia tahu kalau dia sangat bersungguh-sungguh dengan pernyataan tersebut.
Prothos menekan bel namun lama tidak dibukakan. Dia menggedor pintunya dan tetap tak ada jawaban. Prothos menekan tombol enam angka terakhir nomer handphone Widia pada kunci pintu. Awalnya dia ragu karena Widia pasti sudah menggantinya karena terakhir kali dia masuk ke apartemen-nya setelah membuka pintu dengan kode itu.
Akan tetapi ternyata Widia tidak menggantinya. Pintu terbuka namun siapa sangka, di saat bersamaan Widia hendak membuka pintunya.
Widia jadi terkejut dan mematung melihat kehadiran anak muridnya yang semalam dia tampar.
"Selamat pagi, bu guru." ucap Prothos. "Maaf aku datang tiba-tiba, tadinya aku kira bu guru sudah mengganti kodenya namun ternyata belum. Aku minta maaf."
Widia hanya membeku melihat kehadiran Prothos. Dia bingung harus bersikap seperti apa pada anak muridnya itu.
"Aku datang kalau aku ingin memperjelas ucapanku semalam. Apa yang aku katakan adalah benar, itu bukan lelucon dan aku tidak sedang mengerjaimu. Aku tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu, bu guru."
Widia tidak bisa tidur semalam, dia memikirkan perkataan Prothos, anak muridnya. Dia terus berpikir jika Prothos sungguh menyukainya, apa yang harus dia lakukan pada muridnya itu. Dia sudah memikirkannya, dan sudah mendapat jawaban akan hal itu.
Widia tersenyum, membuat Prothos terlihat bernapas lega.
"Duduklah dulu." perintah Widia.
Prothos duduk di kursi di meja bulat sedangkan Widia membuatkan teh hangat untuk Prothos. Prothos terus menatap Widia yang sama sekali tidak melirik ke arahnya.
"Minumlah dulu." ucap Widia memberikan teh hangat tersebut pada Prothos.
Widia memperhatikan Prothos yang meminum tehnya dan tidak berkata apapun sampai Prothos menatapnya.
"Prothos, dengarlah kata-kataku." Ujar Widia yang berdiri bersandar pada tembok. "Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, seperti sebelumnya kau selalu melakukan semuanya dengan spontan tanpa alasan yang jelas. Di usiamu saat ini perilaku impulsif memang sering terjadi. Jadi sebagai seorang guru, aku akan menasehatimu..."
Prothos menatap Widia dingin karena tahu maksud gurunya tersebut.
"Sebaiknya kau mulai mencoba untuk mengontrol dirimu sendiri agar tidak bicara atau melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas." lanjut Widia bicara sangat hati-hati. "Atau kau bisa menemui temanku, dia seorang psikolog." tambah Widia mendekati Prothos dan meletakan kartu nama seseorang di atas meja di hadapan Prothos.
"Tanpa alasan yang jelas?" tanya Prothos heran pada gurunya. "Aku bilang, aku menyukai bu guru, apa itu alasan yang tidak jelas?" Nada bicara Prothos mulai kesal.
"Itu benar. Aku gurumu dan aku jauh lebih tua darimu. Apa menyukaiku adalah sesuatu yang jelas?" tatap Widia.
"Apa menyukai seseorang ada batasan usia?" Prothos balik bertanya dengan semakin kesal. "Aku mengatakan hal ini setelah memikirkannya ribuan kali. Apa itu disebut spontan? Aku tidak sedang impulsif, bu guru!! Aku memikirkannya siang dan malam, dan aku rasa aku benar-benar mencintaimu."
Widia tertawa mendengarnya. Dia terkekeh mendengar perkataan Prothos. Bukan karena merasa lucu, tapi karena dia tidak ingin mengakui perasaan Prothos padanya.
"Diamlah!! Jangan mengatakan mencintai seseorang semudah itu!!" seru Widia tidak bisa menahan emosinya lagi. "Karena mencintai seseorang tidak semudah mengatakannya. Kau harus siap menanggung akibat dari rasa itu."
"Itupun sudah aku pikirkan." jawab Prothos bangkit berdiri. "Aku rasa aku mampu menanggung semuanya. Akibat dari perasaanku yang mencintaimu, semua akan terasa lebih mudah dari pada harus mendengar ketidakpercayaanmu."
Setelah berkata demikian Prothos berjalan keluar.
Widia membanting dirinya ke tempat tidur dan menghela napas.
"Andai saja kau bukan muridku." ucap Widia.
...***...
"Ada apa? Apa kau tidak akan ikut menjenguk Anna?" tanya Athos berdiri menatap Prothos.
"Sejak kemarin kepalaku terus sakit." jawab Prothos melihat langit-langit kamarnya.
"Kau sudah minum obat? Setelah lari pagi kau kemana tadi? Semalam kau juga tiba-tiba pergi entah kemana dan pulang tengah malam. Saat sakit kepala seharusnya kau tidak lari pagi atau pun pergi keluyuran." ujar Athos.
"Ato..." panggil Prothos duduk di sisi tempat tidurnya. "Ada yang bilang padaku kalau aku impulsif. Apa menurutmu seperti itu?" tatap Prothos.
"Dibanding Ars, kau lebih berpikir dahulu sebelum bertindak." jawab Athos. "Kau juga lebih baik dalam menahan emosi dan selalu mengontrol dirimu. Aku rasa orang itu salah."
Athos menatap Prothos yang tampak memikirkannya.
"Minumlah obat, dan setelah itu kita ke rumah sakit." ucap Athos berjalan menuju pintu. "Oto, apapun itu aku mendukungmu." tambah Athos setelah itu keluar.
...***...
Anna memperhatikan Aramis yang tertidur dengan kepala di sisi tempat tidur. Sejak semalam Aramis tidak tidur dan terus menjaganya. Setelah Anna menyuruhnya tidur, dia langsung tertidur di posisi itu.
Dengan tangan kirinya, Anna menyentuh rambut Aramis dan tersenyum melihat wajahnya. Anna menggeser dirinya dan mencium pipi Aramis yang tertidur.
Tiba-tiba tirai terbuka dan membuat Anna terkejut.
"Bagaimana kabarmu, Anna?" tanya Tasya yang muncul.
Setelahnya Athos, Prothos, Lion dan Melody datang. Aramis masih belum bergeming dari tidurnya.
"Kalian datang." ucap Anna sedikit malu kalau saja Tasya melihatnya yang mencium Aramis.
"Ars, bangun lah!! Kau ini menjaga orang sakit, kenapa malah tidur?" seru Prothos menendang kursi yang di duduki Aramis.
Aramis membuka matanya dan terkejut melihat Anna.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aramis belum sepenuhnya tersadar.
"Apa yang kau katakan? Kau pasti mengigau ya?" ujar Lion yang berdiri di seberang Aramis.
"Kalian sudah datang?" ucap Aramis mengusap wajahnya dengan telapak tangannya agar kesadarannya penuh. "Kalian bawa makanan? Aku lapar."
"Jangan-jangan kakak belum sarapan ya?" tanya Melody pada Aramis. "Ini sudah hampir jam makan siang padahal."
"Makanlah Ars, ini kami membawa makanan untuk kalian berdua." Athos menyodorkan bungkusan pada Aramis yang langsung menerimanya.
"Pasti kau tidak tega meninggalkan Anna walau hanya untuk sarapan ya, Ars?" goda Tasya dengan senyum. "Kalian berdua manis sekali. Aku jadi iri."
"Apa yang kau katakan? Aku hanya malas kalau harus berjalan keluar dari ruangan ini." jawab Aramis dengan malu. "Dia juga tidak ingin aku tinggal."
"Apa?" tanya Anna. "Aku tidak bilang apapun."
"Astaga, sepertinya kehadiran kita malah membuat mereka bertengkar." ujar Prothos. "Padahal aku yakin, sebelum kami datang, kalian berdua pasti bermesraan."
"Diam kau!!" seru Aramis dan Anna berbarengan.