MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Kesalahpahaman



Sepeninggalan Niko, Melody langsung bergegas kembali ke kamarnya. Dia terus berdiri di depan jendela kamar menatap ke arah kamar Lion.


Rasa penasarannya mengenai apa yang dibicarakan Niko dengan kakaknya, Athos, tenggelam dengan rasa penasaran apa yang ingin ditanyakan Niko pada Lion. Apa sesuatu hal yang ingin ditanyakan Niko menyangkut dirinya atau tidak?


Setelah dia merasakan kerinduan yang sangat besar pada Lion di dirinya, dia memutuskan ingin mencintai Niko agar rasa rindunya pada Lion yang membuatnya tersiksa itu hilang. Tapi untuk menghilangkan rasa rindu itu lebih sulit untuknya karena Melody adalah gadis yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Sampai dia menyadari kalau dirinya mencintai Lion saja, baru dia rasakan belakangan ini sebelum mereka berpisah, padahal sejak kecil mereka selalu bersama-sama.


Lalu apakah dia mampu mencintai Niko sebelum mereka menikah dua tahun lagi? Jika memikirkannya membuat dirinya menjadi sangat bersedih. Dia tidak ingin menikah dengan Niko, tapi Melody merasa harus melakukannya. Niko adalah pria baik bernasib malang, karena itu dia memutuskan untuk menikah dengan Niko.


Akan tetapi itu semua tidak mudah untuk gadis muda itu, dia baru merasakan cinta pada seseorang sehingga membuat hatinya sangat tersiksa setiap kali memikirkannya. Melody terus menitihkan air mata memandang kamar Lion di seberang sana. Dia sangat merindukan Lion saat ini, hingga rasanya ingin meluapkannya dengan berteriak sekeras-kerasnya agar Lion mendengarnya. Supaya Lion tahu bagaimana perasaannya yang tersiksa dengan keputusannya yang ingin Melody dekat dengan Niko.


"Lion, kau sangat keterlaluan padaku, kau membuatku mencintaimu dan setelahnya kau menyerahkan aku pada temanmu. Aku membencimu tapi aku juga merindukanmu, bodoh." Ucap Melody menghapus airmatanya dengan kedua tangannya.


Di saat yang bersamaan Niko membuka tirai kamar Lion, dan melihat Melody yang sedang menangis. Namun karena Melody sedang menghapus air matanya dengan kedua tangannya dia tidak menyadari jika Niko melihatnya. Melody kembali menatap ke kamar Lion saat Lion menutup tirainya lagi.


...***...


Lion menikmati ramennya dengan sangat lahap. Niko yang duduk di hadapannya hanya memesan minuman dan tidak memesan ramen karena sudah makan siang di rumah Melody tadi.


Niko masih memikirkan semuanya. Perkataan Tasya mengenai kencan Lion dan Melody, perubahan sikap Lion yang semakin aneh dan apa yang dilihatnya barusan saat membuka tirai kamar Lion, Melody menangis sambil berdiri menatap ke kamar Lion. Semua itu mengganggu pikirannya saat ini.


"Kau dengar aku tidak?" Seruan Lion menyadarkan lamunan Niko.


"Kenapa?"


"Kau melamun?" Tanya Lion dengan mulut yang penuh. "Kau ini, aku ngomong panjang lebar tapi kau tidak dengar."


"Kau bilang apa?"


"Ramen ini sangat enak, kau harus mencobanya. Kau akan ketagihan jika sudah mencobanya." Ucap Lion. "Kalian berdua memang sama, kau tahu? Melon juga tidak suka ramen, dia tidak pernah menghabiskan ramennya. Tapi itu membuatku untung, aku jadi bisa menghabiskannya. Kalian berdua memang cocok."


"Kau sering kesini dengan Melody?" Tanya Niko.


"Aku rasa iya." Jawab Lion.


"Lion, sebenarnya ada apa denganmu dan Melody?"


Lion yang hendak menyeruput mie ramennya terdiam sesaat, namun melanjutkan kembali agar Niko tidak curiga dengan sikapnya.


"Maksudmu apa?" Lion bicara dengan tidak jelas karena mulutnya di penuhi oleh makanan. Lion mengambil handphone-nya dan melakukan sesuatu lalu meletakannya di atas meja sampingnya dengan posisi tertutup.


"Aku ingin tahu sebenarnya hubunganmu dengan Melody seperti apa?"


"Tidak seperti apapun." Jawab Lion. "Selama ini kakak-kakaknya memintaku untuk antar jemput, menemaninya dan ini itu. Aku hanya melakukan semua yang diminta mereka padaku. Memang ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya lagi?"


"Waktu itu kau terlihat marah pada Mario karena sudah menyakitinya hingga tanpa pikir panjang kau memutuskan pertemanan dengan Mario." Ujar Niko.


"Aku melakukannya karena rasa kecewaku pada Mario, bukan karena apa yang dilakukan Mario padanya." Jawab Lion dengan sangat serius.


"Benarkah seperti itu? Jika begitu kenapa kau tidak jadi pergi setelah mendengar perkataannya?" Tanya Niko lagi dengan dingin. "Apa kau masih menyesali keputusanmu pada Mario?"


"Tidak." Jawab Lion. "Sejak awal aku hanya merasa bersalah pada Mario."


"Apa kau mengingat perkataannya saat dia menghentikanmu waktu di bandara? Jika hal yang membuatmu marah adalah sesuatu yang penting saat itu tapi setelahnya kau menyesal, apa itu berarti sesuatu yang penting itu sudah tidak penting lagi sekarang?" Ujar Niko. "Mendengar jawabanmu barusan membuatku tahu kalau hal itu masih menjadi penting untukmu."


"Niko, sebenarnya apa maksud pertanyaanmu?" Tatap Lion mulai merasa terpojok dengan perkataan Niko.


"Aku dengar kalau kau dengannya berkencan tepat sebelum aku pindah."


"Niko, itu bukan kencan. Oto memberikan tiket ke taman hiburan padaku agar aku mengajak adiknya itu kesana. Aku melakukannya seperti halnya saat mereka memintaku mengantar atau menjemputnya. Kau bisa menanyakannya pada Oto tentang tiket itu. Bahkan kau juga bisa menanyakannya pada calon istrimu itu apakah itu kencan atau bukan."


Perkataan Lion terdengar sangat meyakinkan oleh Niko. Niko pun berniat akan menanyakannya juga pada Melody untuk kebenarannya namun rasanya Niko masih berprasangka kalau Lion tidak mengatakannya dengan jujur.


"Lalu kenapa sekarang hubunganmu dengannya terlihat tidak seperti dulu? Bukannya kau dengannya sangat dekat? Bahkan kau bilang kau sering ke tempat ini bersamanya."


"Kami dekat tapi kedekatan kami tidak seperti yang kau kira. Aku rasa aku harus menjauhinya saat kau ingin mendekatinya agar kau tidak berpikir yang tidak-tidak tentang kami." Ujar Lion. "Aku tidak ingin kau salah paham, tapi kenapa sekarang kau malah salah paham karena aku dengannya tidak sedekat dulu? Sebenarnya maumu apa, Niko?"


"Aku ingin kau jujur padaku, apa kau menyukai Melody atau tidak? Atau apa kau pernah menyukainya atau tidak? Bagaimana perasaanmu padanya selama ini? Dan apakah kau tau bagaimana perasaannya padamu?"


"Itu semua tidak penting. Kau fokus saja pada rencanamu yang ingin menikah dengannya." Jawab Lion dengan mimik wajah yang menegang karena menahan emosionalnya. "YA sdelal eto iz-za moyey klyatvy vsegda i vezde podchinyat'sya tvoim zhelaniyam."


Niko tertawa mendengar jawaban Lion yang dalam bahasa Rusia. Dengan segera Niko menatap Lion dengan sangat tajam dan ekspresi wajah yang serius. Sama tegangnya dengan Lion.


"YA rad, chto ty do sikh por pomnish' tu klyatvu." Ucap Niko.


"Baiklah, aku rasa sudah tidak ada kesalahpahaman lagi, benarkan Niko?" Tanya Lion merubah ekspresinya dalam sekejap. "Aku akan selalu mendukungmu, kau harus tahu itu." Senyum Lion setelah itu meminum minumannya.


"Aku yakin kau akan mendukungku, kita sudah seperti saudara." Jawab Niko tersenyum. "Tapi kau tidak perlu menjauh darinya, aku jadi terlihat sangat jahat pada kalian berdua. Bagaimanapun kau dan calon istriku berteman sejak dulu."


"Ya, baiklah kalau kau tidak keberatan." Ucap Lion tersenyum palsu sambil mengambil handphone-nya, dan memasukan kembali ke saku celananya setelah mematikan rekaman percakapan tersebut.


"Lion, aku menyayangimu seperti saudara, kau mengerti?"


"Diamlah, aku sudah tahu itu." Jawab Lion. "Kau tidak perlu mengulanginya terus menerus setiap kali kita bertemu. Kau cukup mentraktirku saja sekarang."


Niko tertawa mendengar keluhan Lion, sedangkan Lion melirik Kesal Niko dengan menyipitkan matanya.


...@cacing_al.aska...