MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pertandingan Karate



Prothos masuk ke halaman rumahnya saat setelah berlari pagi. Dia melihat Athos keluar dari rumah membawa tas besar di punggungnya.


"Kau mau memancing?" tanya Prothos.


"Aku mengajak Tasya berlibur." jawab Athos memasukan tasnya ke dalam mobil paman Ronald.


"Berlibur versimu memancing?" ujar Prothos. "Ya ampun, Tasya akan mati kebosanan nanti."


"Asal bersamaku, aku rasa dia tidak akan bosan." senyum Athos.


"Lalu kau bolos sekolah?" tatap Prothos. "Bukannya nanti ada pemilihan kandidat OSIS?"


"Sudah aku serahkan ke guru yang bertanggungjawab." ujar Athos masuk ke dalam mobil. "Kau hanya perlu lindungi aku dari ayah dan paman karena memakai mobilnya diam-diam, mengerti?"


Setelah berkata demikian Athos menghidupkan mobilnya dan keluar rumah.


"Sepertinya dia benar-benar stres. Pertama kalinya dia bolos sekolah demi seorang gadis." gumam Prothos melihat kembarannya pergi.


...***...


Di sekolah, pertandingan antara Aramis dengan David lebih menggemparkan dibanding pemilihan kandidat OSIS. Semua murid membicarakannya dan tidak sabar hingga jam pelajaran usai.


"Anna, siapa yang akan kau pilih? Aramis atau David yang akan menang?" tanya seorang temannya di kelas.


"Ahh, aku rasa siapa ya?" Anna balik bertanya sambil berpikir. "Entahlah, siapapun yang menang tidak akan berefek apapun padaku."


"Apa kau tahu kenapa David menantang Aramis?" tatap temannya itu pada Anna. "Apa karena seorang wanita atau hal lainnya?"


"Anna." panggil salah seorang temannya yang lain yang baru masuk ke kelas. "Kau terpilih menjadi kandidat OSIS selanjutnya. Pengumumannya sudah ada di mading dan website sekolah."


"Benarkah?" tanya temannya yang lain. "Lalu siapa saja dua orang lainnya?"


"Anna, selamat ya kau terpilih jadi kandidat OSIS." ucap Felix yang menghampiri Anna yang duduk di tempatnya. "Mari kita bersaing secara adil." tambah Felix dengan senyum yang mengembang setelah itu pergi.


"Astaga, kalian berdua terpilih menjadi kandidat? Dalam kelas ini akan terbagi menjadi dua kubu kalau begitu."


"Benar juga ya. Jumat pemilihan OSIS


dan sekaligus pelantikannya." tambah yang lainnya


...***...


Athos dan Tasya duduk di kursi memancing di ujung atas jembatan kayu yang menanjung ke laut. Athos sudah memasang alat pancingannya dan ember belum juga terisi oleh ikan. Padahal mereka sudah dua jam lebih di sana.


"Apa kau bosan?" tanya Athos menatap ke kiri pada Tasya yang di sampingnya.


Tasya menggeleng dengan senyum, dan merangkul lengan Athos.


"Asalkan bersama denganmu, aku tidak akan pernah bosan." jawab Tasya menidurkan kepalanya ke pundak Athos. "Sejak kapan kau suka memancing?"


"Ayah yang suka memancing, aku hanya menirunya." jawab Athos. "Dulu ayah pernah bilang padaku, saat aku menginginkan sesuatu dan sulit mendapatkannya, pergilah memancing maka aku akan mengerti arti kesabaran."


"Ayah memang keren, aku tidak heran kenapa kau menjadi keren seperti ini." senyum Tasya melihat Athos yang dirangkulnya. "Tapi memangnya apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Tasya melihat Athos.


Athos hanya tersenyum menjawab pertanyaan Tasya.


...***...


Jam pelajaran usai, hampir semua murid menuju aula olahraga untuk menyaksikan pertandingan Aramis dan David. Bahkan pertandingan tersebut dijadikan ajang taruhan bagi para murid.


Aramis memasuki tempat pertandingan dengan sarung tangan dan ban pinggang berwarna merah, sedangkan David berwarna biru. Wasit pertandingan adalah pelatih karate di sekolah mereka.


Anna menyaksikan bersama teman sekelasnya berdiri tidak jauh dari area pertandingan, sedangkan Melody bersama Lion duduk di kursi penonton. Prothos sepulang sekolah harus langsung ke café untuk bertanggungjawab disaat Athos tidak ada.


Aramis dan David saling berhadapan, wasit memberi aba-aba pertandingan dimulai. David langsung menyerang Aramis dengan tendangan-tendangan namun Aramis dengan mudah menangkisnya.


Seluruh penonton bersorak-sorai, mereka meneriakan jagoannya masing-masing. Walau Aramis terkenal sebagai orang yang kuat akan tetapi reputasi David yang adalah ketua klub karate membuatnya populer di kalangan murid wanita lainnya. Di tambah banyaknya kejuaraan yang telah dimenangkannya.


Berbeda dengan Aramis, meski terkenal kuat dan menguasai banyak ilmu bela diri namun sekalipun Aramis tidak pernah mengikuti kejuaraan apapun. Walaupun dia juga sama tampannya dengan kedua Musketeers lainnya, namun dengan sifatnya yang gampang tersulut emosi dan mempunyai tatapan galak, banyak wanita takut padanya.


Pertandingan sangat sengit, kedudukan seimbang. David lebih dulu banyak menyerang dan Aramis hanya menepis atau menghindar dan menggunakan serangan balik. Aramis menggunakan tendangan kaki kiri berputarnya dan mengenai wajah bagian kanan David, membuatnya lebih unggul dari David.


Aramis yang mendengarnya teralihkan pandangannya pada Anna, dan tidak fokus pada pertandingan.


"Ah iya..." jawab Anna agak menengadahkan kepalanya.


Seorang teman memberinya tisu, dan digunakan Anna untuk membersihkan darahnya.


"Sebaiknya aku cuci ke toilet..." ucapan Anna terhenti ketika dia melangkah dan kehilangan keseimbangannya, lalu terjatuh.


"Anna!! Anna!! Kau baik-baik saja?"


Aramis yang mendengar panggilan teman Anna menghentikan pertandingannya. Berjalan ke arah Anna sambil melepas sarung tangannya lalu berlari menggapai tubuh Anna yang terbaring dan menggendongnya, membawanya ke UKS. Dia tidak mempedulikan pertandingannya lagi.


"Aku tidak apa-apa." ucap Anna pada Aramis yang duduk di samping tempat tidur dirinya berbaring, di ruang UKS. "Kau parah sekali Ars, kau meninggalkan pertandingan begitu saja."


"Diamlah! siapa yang peduli dengan pertandingannya?" gumam Aramis kesal. "Seharusnya kau duduk di kursi penonton dan tidak berdiri disana!!"


"Kau masih saja berteriak padaku."


Tiba-tiba David datang. Anna menatap kehadiran David.


"Ars, tolong ambilkan aku minum, aku haus sekali." pinta Anna.


"Oke." jawab Aramis beranjak dan berjalan keluar.


"Sepertinya aku belum meminta maaf secara resmi padamu karena membatalkan janjiku di detik terakhir kemarin." ucap Anna menatap David yang hanya berdiri. "Maafkan aku, Dave."


"Aku tahu itu bukan kesalahanmu, dia pasti yang melarangmu!!"


"Tidak, itu semua keputusanku untuk menurutinya." jawab Anna. "Aku harap kau mengerti."


David menatap Anna dalam-dalam, dan menyadari kalau dirinya memang salah mendekati gadis itu, gadis yang sejak awal milik orang lain.


"Aku mengerti sekarang." ucap David dengan hati yang sakit. "Kalau begitu aku keluar dulu."


Anna mengangguk.


David berjalan keluar ruangan UKS, Aramis berdiri di sana menunggunya. David menatap Aramis dengan tatapan kekalahan.


"Kau mengerti sekarang?" tatap Aramis.


"Ya, aku rasa aku sudah kalah sebelum bertanding... bahkan, aku sudah kalah sejak awal darimu." jawab David.


"Kenyataan memang menyakitkan." gurau Aramis memegang pundak kanan David dengan tangan kanannya. "Dengarkan nasehat kakak kelasmu yang baik hati ini, carilah gadis lain." bisik Aramis berjalan hendak masuk ke ruang UKS.


"Ars..." panggil David. "Kapan-kapan, ayo kita bertanding lagi. Kali ini pertarungan jalanan."


"Tidak masalah. Kapanpun kau mau." senyum Aramis skeptis.


Aramis langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan. Anna menatapnya dengan heran.


"Ada apa?"


"Dimana air minumnya?" tanya Anna.


"Apa?"


"Astaga, kau ini!! Aku hanya minta diambilkan minum saja kenapa tidak diambilkan?" seru Anna kesal.


"Maaf, tadi aku bertemu adik kelas yang butuh saran dari kakak kelas yang baik hati ini." ujar Aramis duduk kembali di kursi. "Aku jadi lupa."


...***...


David keluar dari WC setelah mengganti pakaiannya lalu mencuci tangan di wastafel. Lion masuk ke toilet mencuci tangannya juga di wastafel sebelah David. Mereka hanya berdua.


"Sepertinya kau memilih lawan yang salah." ucap Lion. "Tidak, lebih tepatnya, caramu yang salah."


David menoleh pada Lion. "Apa maksudmu?"


"Jangan melawan mereka ketika mereka marah karena semua perlawananmu hanya sia-sia." ucap Lion menoleh pada David, setelah itu mengambil tisu, mengelap tangannya dan keluar.