MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Balas Dendam



Prothos menghentikan mobilnya di parkiran sebuah gedung, tempat dimana mantan pacar Widia dan sahabatnya mengadakan acara pernikahan.


"Dengarkan kata-kataku, bu guru." pinta Prothos menatap Widia. "Kau harus ingat ketiga ini. Pertama, kau tidak boleh menangis saat disana. Kedua, cobalah untuk tersenyum. Dan yang ketiga, ingatlah, aku adalah pacar barumu."


"Apa?" tanya Widia melihat Prothos.


"Maksudku, kenalkan aku sebagai pacar barumu. Aku akan berpura-pura menjadi pacarmu."


"Tapi kau muridku."


"Mana ada orang ke pernikahan mantannya bersama muridnya?"


"Aku!!" jawab Widia. "Ma... maksudku... bagaimana kalau ada yang kenal denganmu?" tanya Widia.


"Aku rasa kemungkinannya kecil, karena ini ada di kota sebelah." jawab Prothos. "Kau sudah siap?"


"Tunggu sebentar!!" seru Widia merogoh tas miliknya.


Widia mengambil kacamata yang beberapa hari ini dia kenakan untuk menutupi matanya yang bengkak karena menangis, lalu memakaikannya pada Prothos.


"Cocok juga..." ucap Prothos bercermin. "Apa aku terlihat lebih dewasa kalau pakai kacamata ini?" tanya Prothos.


"Bukan begitu, aku hanya tidak mau wanita lain melihat wajah pacarku." ucap Widia.


Prothos terkejut mendengar perkataan gurunya, karena baru kali ini wanita yang berjalan dengannya tidak mau wanita lain menatapnya.


"Maksudku, walau kau bukan pacarku... ah sudahlah..." ujar Widia yang sadar kalau dia salah bicara tadi.


"Tapi aku rasa, aku semakin tampan pakai kacamata ini." senyum Prothos mengalihkan pembicaraan.


"Sudahlah, ayo turun!!" ajak Widia mengalihkan pandangannya dari senyum Prothos.


...***...


Athos dan Aramis masuk ke dalam rumah dengan perasaan cemas akan ayah mereka. Waktu menunjukkan pukul lima sore.


"Jam berapa sekarang?" tanya ayah yang berdiri di lantai dua. "Kalian sudah puas main-mainnya? Dimana kembaran kalian?"


"Kami tidak tahu." jawab Aramis.


"Hubungi dia dan suruh pulang sekarang juga!!" seru ayah terlihat marah.


"Handphone-nya rusak, kami tidak bisa menghubunginya." ucap Athos yang masih berdiri di depan pintu masuk bersama Aramis.


"Anak itu benar-benar semaunya!!" gumam ayah sangat marah. "Masuklah ke kamar kalian dan belajar sekarang juga!!"


Athos dan Aramis mengikuti perintah ayah. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing, namun bukan untuk belajar.


"Paman Leo..." panggil Anna. "Maafkan aku karena meminta Ars menemaniku membeli perabotan rumah."


"Sudah, tidak masalah." ucap ayah tanpa marah. "Aku hanya ingin mereka lulus saja."


Anna berjalan ke atas mendekati ayah.


"Paman, aku akan membantu Ars belajar. Dia akan lulus. Paman tenang saja." ujar Anna.


Anna masuk ke kamar Aramis tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aramis hanya memakai celana pendek dan tidak memakai baju sedang bermain game komputer di meja belajarnya.


"Ayahmu menyuruhmu belajar, tapi kau malah main game!!" seru Anna memukul kepala Aramis dengan buku. "Belajarlah, kau harus lulus walau dengan nilai pas-pasan!!"


Anna mematikan komputer Aramis. Namun Aramis malah naik ke tempat tidur dan berbaring.


"Pakai bajumu!! Ayo kita belajar!!" ujar Anna melempar kaos ke Aramis.


Aramis memakai kaosnya dengan berat hati namun dia malah keluar kamar dan berjalan ke dapur, Anna mengikutinya dari belakang.


Aramis mengambil segelas air putih dan meminumnya habis, lalu melintasi Anna yang berdiri melihatnya dengan kesal.


Kesabaran Anna sudah habis, gadis itu menendang Aramis hingga Aramis tersungkur di tangga.


"Kau ini apa-apaan?" geram Aramis kesal mencoba menarik Anna, namun gadis itu membantingnya ke lantai.


"Kau tidak boleh tidak menghiraukan perkataanku!!" seru Anna kesal. "Aku paling tidak suka seseorang menganggapku tidak ada!!"


Dari ruang tamu, ayah dan paman Ronald yang baru pulang, hanya menggelengkan kepala melihat dua orang itu.


...***...


Widia berjalan memasuki gedung pernikahan dengan di dampingi Prothos. Matanya langsung tertuju pada pasangan yang berdiri melihat kehadirannya. Pengantin wanita yang adalah sahabat Widia berbisik pada pasangannya.


Prothos menggandeng gurunya.


"Ingat tiga hal tadi." bisik Prothos dengan sebuah senyuman pada Widia.


Widia mencoba berjalan sebaik mungkin walau kakinya lemas. Namun keberadaan Prothos memberikan kekuatan untuknya.


Akhirnya mereka sampai mendekati pasangan yang sedang menikah. Beberapa pasangan yang merupakan teman Widia juga ada di sana, berbincang dengan pasangan pengantin.


"Kau datang Widia." tanya salah seorang wanita yang adalah temannya.


Widia hanya tersenyum menjawabnya.


"Aku mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Mohon maaf, karena baru tadi pagi aku menerima undangan kalian, aku belum sempat membeli hadiah. Setelah acara, tolong kirim alamat dimana kalian tinggal, aku akan mengirimkannya." senyum Widia.


Melihat gurunya, Prothos tersenyum.


"Kenalkan, aku Prothos." ujar Prothos menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan mereka, termasuk pasangan pengantin.


"Astaga, tampan sekali." ucap wanita lainnya membuat pasangannya melotot padanya.


"Apa dia..."


"Dia pacarku." senyum Widia menjawab sahabatnya yang sudah mengkhianatinya.


Terlihat perubahan ekspresi tidak menyenangkan dari wanita tersebut, serta mantan Widia tersenyum tidak senang.


"Apa kau ingin minum?" tanya Prothos merangkul Widia dan agak berbisik sehingga wajahnya terlalu dekat dengan wajah gurunya tersebut.


Widia mencoba menahan rasa kagetnya, dan tersenyum menjawabnya.


Prothos pergi meninggalkan Widia bersama dengan orang-orang yang mengkhianatinya.


"Pacarmu keren sekali, Widia." ujar wanita lainnya. "Dia seperti seorang aktor. Aku iri sekali, padahal seminggu yang lalu kau baru putus dengan Sonny." lanjut wanita itu namun menutup mulutnya karena sadar dia salah bicara.


"Mendapatkan pacar baru seminggu setelah putus tidak lebih cepat dari seminggu langsung menikah setelah putus." sindir Widia.


Perkataan Widia membuat mantan sahabatnya menunjukan kekesalan di raut wajahnya, sedangkan mantan kekasihnya yang bernama Sonny memasang air wajah yang malu.


"Tapi karena itu aku jadi dapat pacar baru setampan dan sebaik pacarku sekarang." senyum Widia.


"Ini minumannya, sayang." ujar Prothos yang kembali membawa minuman.


Prothos memberikan minumannya pada Widia dan membawakan tas pesta yang baru dibelinya tadi untuk Widia. Hal itu membuat tatapan-tatapan iri bermunculan.


"Baiklah, sekali lagi selamat ya, semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu berbahagia." senyum Widia setelah itu merangkul lengan Prothos.


"Selamat berbahagia." ucap Prothos. "Kami akan menikmati pestanya." senyum Prothos.


Setelah itu mereka berjalan menjauh meninggalkan sepasang pengantin yang terlihat kesal dan malu.


"Ayo kita pulang sekarang." bisik Widia.


"Tidak. Kita akan menikmati pestanya. Kalau kita langsung pulang mereka akan curiga." jawab Prothos. "Aku ambilkan makanan untukmu."


Sepeninggalan Prothos, Widia melirik ke mantan kekasihnya yang terus melihat ke arahnya, dan mantan sahabatnya juga masih terlihat kesal dengan kedatangannya.


Prothos dan Widia mencicipi hidangan pesta dengan sesekali membuat gestur seperti sepasang kekasih sungguhan.


"Mereka masih saja melihat ke arah kita." bisik Prothos. "Bu guru, aku minta ijin melakukannya."


Sebelum Widia bertanya melakukan apa, Prothos lebih dulu merangkul pinggangnya dan memberikan kecupan ke dahi kirinya.


"Aku mohon maafkan aku." ucap Prothos masih merangkul Widia.


"Widia..." panggil salah seorang dari dua wanita yang datang menghampiri.


"Selly, kau datang bersama Rara." ujar Widia senang.


"Kami menghubungimu terus, aku pikir kau tidak akan datang." jawab Selly.


"Sebenarnya aku tidak tega memberimu undangan itu. Maaf ya Widia." tambah Rara.


"Aku kira kau tidak datang... tapi siapa dia? Astaga, dia ganteng sekali." ucap Selly.


"Aku pacar Widia." jawab Prothos menjulurkan tangannya, bersalaman.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah punya pacar lagi Widia?" tatap Rara pada Widia.


"Tadinya kami ingin menghiburmu hari ini dan tidak datang ke pesta para pengkhianat ini, tapi kalau tahu kau sudah punya pacar itu bagus." tambah Selly. "Pacar barumu tampan sekali."


"Tidak... tidak... kalian salah lihat. Dia biasa saja!!" ujar Widia menarik Prothos ke belakangnya.


Prothos hanya tersenyum melihat tingkah gurunya tersebut.