
Athos memasuki sebuah tempat yang dipenuhi dengan hingar bingar keramaian. Suara musik yang terdengar sangat memekakkan telinga, lampu-lampu warna-warni yang membuat penglihatan tidak jelas dan bau asap rokok bercampur dengan bau alkohol yang membuat susah bernapas.
Pemuda itu mendatangi sebuah klub malam untuk menemui seseorang. Dia langsung mencari orang tersebut. Dia tidak peduli dengan beberapa wanita yang datang merayunya ataupun menggerayanginya. Bahkan beberapa pria juga ada yang mencoba merayunya. Athos tak mempedulikan mereka. Pandangannya terus mencari sosok yang ingin ditemuinya.
Akhirnya dia menemukan pria itu. Seorang wanita sedang duduk di pangkuannya dan mereka sedang bercumbu di sebuah sofa. Athos langsung duduk di sofa di hadapannya. Hanya menatap apa yang dilakukan pria itu tanpa berkata apapun untuk memberi tahu kehadirannya.
Pria itu merasa seseorang sedang memperhatikannya sehingga dia menggeser kepalanya karena wanita yang berada di pangkuannya menutupi pandangannya dari Athos. Pria itu terhentak melihat Athos berada di sana.
Athos hanya meluncurkan senyumnya pada Dion yang terlihat sangat takut dengan kehadiran dirinya, hingga Dion mendorong wanita yang baru saja bermesraan dengannya itu agar menyingkir dari pangkuannya.
Tak ada yang dilakukan Athos, pemuda itu hanya duduk santai disana sambil menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah Dion. Memang itu tujuan Athos datang kesana, dia hanya ingin meneror pria itu.
"Kenapa kau disini?" Geram Dion dengan suara keras hingga mengalahkan suara musiknya.
Athos menuangkan segelas minuman beralkohol dengan santainya, saat beberapa bouncer atau penjaga klub datang. Dia meminumnya lalu segera berjalan pergi sebelum para bouncer bertindak karena kehadiran Athos mengganggu tamu VIP klub malam tersebut.
Dion masih terlihat ketakutan walau Athos sudah berjalan meninggalkannya. Pria itu memang seorang pecundang.
Athos menyunggingkan senyumnya melihat pecundang itu ketakutan saat berjalan meninggalkan tempat itu. Lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sialan, sekarang perutku terasa terbakar." Keluh Athos yang tidak pernah meminum minuman beralkohol sebelumnya.
...***...
Pagi-pagi sekali Aramis masuk ke rumah Anna. Dia berniat menemui Anna sebelum dirinya berangkat ke sekolah. Namun ketika dia masuk Anna sudah rapi dengan menggunakan seragamnya dan sedang memakan sereal di meja dapur dengan berdiri.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Anna melihat Aramis dari dapur.
"Kau akan pergi sekolah hari ini? Kenapa tidak beristirahat saja hari ini?" Aramis balik bertanya sambil berjalan menghampiri Anna di dapur.
"Hari ini masih ada rapat OSIS lanjutan untuk membahas peraturan sekolah di tahun ajaran baru. Hanya tersisa dua bulanan sebelum memasuki ajaran baru."
Aramis kesal mendengarnya. Dia ingin agar Anna beristirahat setelah kemarin pingsan dan membuatnya khawatir setengah mati. Anna tahu kalau pemuda itu merasa kesal padanya walau hanya menatapnya saja.
"Aku punya tanggungjawab yang harus aku laksanakan Ars. Aku juga sudah sehat sekarang." Ujar Anna berhenti memakan sereal-nya dan menatap Aramis dari balik meja dapur. "Semalam Lion mengirimiku ini." Anna menunjukan video ketika Aramis memeluk Niko untuk berterimakasih.
"Bocah itu membuatku malu." Gumam Aramis.
Anna terkekeh mendengar gumamannya sambil memasukan handphone-nya ke saku celana olahraga yang dipakainya.
"Aku akan berangkat sekarang." Ucap Anna mengelap bibirnya dengan tisu setelah selesai menghabiskan sereal.
"Ini masih terlalu pagi." Aramis melirik jam tangannya yang masih menunjukan jam setengah enam pagi. "Kau tidak berangkat bersama kami?"
"Aku harus menyiapkan bahan rapat OSIS dulu bersama yang lainnya untuk pembahasan rapat OSIS bersama kepala sekolah nanti." Jawab Anna keluar dari dapur dan berjalan melewati Aramis.
Aramis memegang tangan Anna sehingga gadis itu berhenti dan menoleh menatapnya.
"Aku akan pergi ke sekolah bersamamu." Ucap Aramis.
...***...
"Maaf Melody, ibu hanya ingin bertanya bagaimana keadaan kakakmu?" Tanya Widia. Nada bicaranya ragu karena dia takut Melody akan berpikiran aneh padanya karena menanyakan salah satu kakaknya, namun rasa cemasnya pada kekasihnya itu membuatnya lebih ingin mengetahui kabar Prothos. "Maksud ibu, kakakmu—"
Saat yang bersamaan Prothos melintas tidak jauh ketika baru saja keluar kelasnya menuju gudang. Prothos tidak melihat pada Widia ataupun Melody, tetapi Widia melihatnya, dan Melody memperhatikan bagaimana Widia berhenti bicara saat melihat Prothos, kakaknya.
"Kakakku ada tiga, maksud ibu yang mana?" Tanya Melody membuat Widia menoleh kembali padanya dengan sedikit kaget. "Kak Oto?"
"Ah tidak, tidak jadi." Jawab Widia bingung.
Melody merasa aneh pada wali kelasnya itu. Walaupun Widia tidak jadi menanyakannya, tetapi Melody tahu kalau yang ditanya adalah kakaknya Prothos. Ucapannya terhenti setelah melihat Prothos, berarti memang benar kalau gurunya itu ingin menanyakan keadaan kakaknya Prothos yang kemarin tidak masuk sekolah karena sakit. Ini kedua kalinya Widia bertanya padanya mengenai Prothos yang sakit.
Prothos yang hendak masuk ke gudang berhenti ketika melihat Wilda berdiri di depan pintu gudang dari kejauhan, dia berbalik hendak kembali ke kelas. Dia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang sama. Ketika dia berbalik arah, Widia berjalan hendak ke ruang guru.
Prothos berniat mendekatinya, namun ketika dia hampir sampai, Widia menundukkan kepala dan berjalan begitu saja mencoba menghindar dari kekasihnya itu. Wilda yang menyadari keberadaan Prothos yang tidak jauh dari tempatnya berdiri setelah Widia melintas di depannya langsung bergegas menghampiri Prothos yang masih tertegun setelah dihindari oleh kekasihnya.
"Aku senang kau sudah masuk sekolah lagi, kak." ucap Wilda pada Prothos.
Prothos tak menggubrisnya, dia segera berjalan meninggalkan gadis itu. Dari kejauhan Melody melihat apa yang terjadi pada kakaknya itu. Dia menjadi sangat bingung dengan apa yang dilihatnya.
...***...
Lion yang sedang menjalani masa suspensinya mencoba menikmati waktunya sendirian. Lion berada di taman hiburan menaiki semua wahana ekstrim hanya seorang diri. Dia berteriak menikmati sensasi yang ditimbulkan membuat adrenalin nya terpacu. Berkali-kali dia menaiki wahana halilintar hingga tak ada lagi teriakan yang keluar dari dirinya.
Dengan menghela napas Lion turun dari wahana itu, dan melihat wahana kincir angin. Dia segera memasuki salah satu gondola kincir angin dan duduk terdiam di sana memperhatikan langit yang sangat terik siang ini.
"Dia sangat ketakutan waktu itu." Ucap Lion yang mengingat Melody sewaktu mereka berdua menaiki wahana yang sekarang dia naiki sendiri. "Niko pasti akan menjaganya dengan baik."
Lion menutup matanya mencoba tidur untuk menenangkan dirinya. Saat ini dia merasa sangat lelah, walau dia sudah tidur dengan cukup entah kenapa dia masih merasa sangat lelah akhir-akhir ini.
Drrrrttt drrrttt
Lion mengambil handphone di saku celananya dan menjawab tanpa membuka matanya.
"Lion, motormu sudah ditemukan."
"Benarkah?" Lion terkejut hingga membuka matanya.
Lion segera mendatangi kantor polisi setelah seorang polisi menghubunginya. Polisi tersebut merupakan temannya yang sejak kemarin diminta bantuan Lion untuk menemukan motornya yang dicuri orang.
Setelah mengambil motornya tersebut, Lion segera membawanya ke bengkel langganannya untuk diperiksa segala sesuatunya. Kondisi motornya sangat tidak bagus karena beberapa bagian dari motor tersebut sudah dilepas untuk dijual.
"Megan, maafkan aku ya, karena kecerobohanku kau harus mengalami hal menyakitkan seperti ini." Ucap Lion mengelus motor kesayangannya walau saat ini motor berwarna putih itu tampak kotor karena sudah lama tak dicuci. "Aku tidak akan membiarkan seseorang mengambilmu lagi dari sekarang."
"Semua sparepart harus dipesan dulu, ini akan memakan waktu lama, Lion." Ujar Hansen seorang montir pemilik bengkel teman Lion.
"Tidak masalah yang penting Megan harus secantik sebelumnya." Jawab Lion. "Aku akan menunggu selama apapun."
...@cacing_al.aska...