
Keesokan harinya, hari sabtu tiba.
Sehabis sarapan, Melody segera bergegas masuk ke dalam kamarnya kembali. Dia membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian yang akan di kenakannya hari ini saat pergi ke taman hiburan.
Dia terus membuka-buka isi lemarinya memperhatikan setiap pakaian di dalam cermin. Sebuah baju terusan berwarna putih yang sudah lama tidak dia pakai terlihat bagus di depan cermin. Baju tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Athos tahun lalu. Athos yang hobi menjahit membuatnya sendiri untuk adiknya tercinta itu.
"Melo, kau sedang apa?" tanya Prothos masuk ke dalam kamar Melody.
Melody langsung merasa bingung dengan kehadiran kakaknya tersebut. Dia tidak tahu harus berkata apa kalau Prothos bertanya alasan dia memilih pakaian.
"Kak Oto, aku hanya sedang memilih-milih pakaian yang sudah tidak terpakai untuk mengeluarkannya dari lemari. Hanya itu alasan aku mengeluarkan semua pakaian ini dari lemari." ucap Melody menyembunyikan kecemasannya kalau Prothos tidak percaya dengan ucapannya.
"Iya, kakak tahu." jawab Prothos duduk di kursi meja belajar. "Baju yang kau pegang itu bagus. Sudah lama kakak tidak melihatmu memakainya."
"Aku juga merasa kalau baju ini bagus kak." senyum Melody sambil memperlihatkan pakaian yang di pegangnya. "Karena itu aku akan memakainya."
"Memangnya Melo mau kemana?"
Pertanyaan Prothos membuat Melody bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin bilang kalau Lion mengajaknya pergi ke taman hiburan berdua. Baginya itu membuatnya sangat malu.
"Maksudku aku akan memakainya ketika ada acara." jawab Melody tidak menatap Prothos.
"Kalian bertiga kapan akan berangkat ke cabang café yang akan buka minggu depan? Bukannya kemarin kalian bertiga bilang akan datang pagi-pagi? Sekarang sudah jam delapan."
"Nanti jam sembilan, Ars saja belum bangun." jawab Prothos. "Ars baru pulang jam lima tadi, pasti dia habis menonton pertandingan sepak bola bersama Lion."
"Apa? Menonton sepak bola bersama Lion?" tanya Melody.
Gadis itu langsung berjalan mendekati jendela untuk melihat kamar Lion.
Kalau begitu dia pasti belum bangun juga, bagaimana ini? Tanyanya dengan bingung dalam hati.
"Melo, kenapa salah satu kancing bajunya tidak ada?" ujar Prothos memperhatikan baju terusan yang di bawa Melody. "Mungkin karena itu kau tidak memakainya selama ini."
"Kalau begitu aku harus meminta kak Ato memasangkannya." kata Melody sambil bergegas keluar kamar membawa baju yang hendak di pakaianya ke taman hiburan.
Di bawah Athos sedang membersihkan dapur setelah sarapan.
"Ada apa Melo?" tanya Athos menoleh pada adiknya yang baru saja datang.
"Kak Ato, tolong bantu aku memasang kancing baju ini." ujar Melody.
Athos membersihkan tangannya lalu berjalan mendekati Melody.
"Sini biar kakak kerjakan, kau ingin memakainya ya?"
"Ti...tidak..." jawab Melody berbohong.
"Hari ini ikut ke café bersama kakak tidak?"
"Maaf kak, ada yang harus aku kerjakan."
"Baiklah kalau begitu, tapi sepertinya Lion belum bangun." ujar Athos. "Kakak meneleponnya untuk memintanya ikut bersama kami tapi tidak di angkat-angkat. Pasti dia belum bangun seperti Ars." lanjut Athos sambil berjalan membuka laci bupet dan mengambil peralatan menjahit. "Melo, bisa bantu bangunkan Ars? Satu jam lagi kami harus berangkat."
Melody bergegas menuju kamarnya untuk mengambil jaket-jaket milik Lion yang ada di lemari pakaiannya. Setelah itu pergi ke kamar Aramis.
Ketika dia membuka pintu kamar Aramis, kakaknya itu masih tidur dengan pulas.
"Kak Ars, bangun!! Kau harus segera ke cabang café yang akan buka minggu depan!!" seru Melody mengguncang-guncangkan tubuh Aramis namun sia-sia. "Dengar tidak? Cepat bangun!! Aku akan tarik sampai jatuh!!"
Dengan sekuat tenaga Melody menarik tangan kanan kakaknya itu hingga terjatuh ke lantai, namun Aramis belum juga membuka matanya.
"Cepat bangun atau aku panggil kak Anna?" ancam Melody kesal.
"HUWAAAAHHH..." teriak Aramis karena menguap lebar. "Aku masih ingin tidur."
Aramis bangun dari posisi tidurnya dan duduk di atas lantai.
Semenjak kejadian dengan Felix, Aramis merasa menyesal karena hal itu terjadi pada adiknya, karena itu sekarang dia mencoba merubah sikapnya pada adik perempuannya itu.
"Tidak!! Kau bau sekali!! ujar Melody sambil mendorong Aramis.
"Jahat! Kau selalu memeluk Oto dan Ato, kenapa aku tidak?!"
"Karena kak Ars jarang mandi." ucap Melody sambil menutup hidungnya. "Cepat bangun! Kak Ato mau kau cepat bergegas!!"
"Dasar Ato cerewet!!" seru Aramis bangkit berdiri.
"Kak Ars." panggil Melody.
Aramis menatapnya dengan tanda tanya di wajahnya.
"Tolong kembalikan jaket-jaket ini pada Lion sekarang juga." ujar Melody menyodorkan jaket-jaket tersebut. "Aku mohon kak."
"Kenapa harus sekarang? Kau bisa mengembalikannya sendiri!"
"Aku akan memelukmu tapi sebagai gantinya kakak harus mengembalikan jaket-jaket ini sekarang. Bagaimana? Kak Ars mau kan?"
"Si bodoh itu pasti belum ba..." ucapan Aramis terhenti.
Aramis mengerti maksud Melody kenapa memintanya untuk mengembalikan jaket milik Lion sekarang juga, agar Aramis membangunkan Lion yang masih tertidur.
"Kalau begitu ayo peluk kakakmu yang keren ini!!" seru Aramis merentangkan kedua tangannya.
Melody tersenyum merasa lega setelah itu memeluk kakak yang kali ini berperan sebagai dewa penolongnya tersebut.
...***...
Dengan langkah cepat Aramis membuka pintu kamar Lion yang tidak terkunci. Lion masih tertidur pulas di tempat tidur dan melupakan janjinya pada Melody.
Waktu sudah pukul sembilan, tinggal satu jam lagi waktu janjinya pada Melody untuk pergi ke taman hiburan. Melihat Lion yang masih tertidur membuat Aramis merasa kesal.
"CEPAT BANGUN BODOH!!" teriak Aramis membanting jaket-jaket milik Lion pada Lion yang tertidur.
Lion terkejut dan membuka matanya.
"Sial, sudah jam berapa ini? Kenapa alarm ku tidak bunyi?" ujar Lion beranjak bangun dan menoleh ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu. "Ars, terima kasih kau membangunkan aku." ucap Lion langsung keluar dari kamar menuju kamar mandi.
"Dasar bodoh!!" gumam Aramis kesal.
Aramis berdiri di depan pintu kamar mandi dimana Lion sedang berada di dalamnya.
"Lion kau dengar?!" seru Aramis.
"Ada apa? Kau ingin mengintip aku ya? Dasar mesum!!" ujar Lion.
Aramis terdiam sebelum mengatakan apa yang hendak dia sampaikan pada Lion.
"Kau ingat? Kau masih punya hutang padaku. Hutang saat kau kalah dalam permainan game El Clasico, itu sudah lama sekali dan aku baru ingat. Kau dengar aku tidak?"
"Cerewet! Katakan saja apa perintahmu?! Kalau macam-macam aku akan memintamu berlutut padaku. Kau juga masih punya hutang itu padaku."
Aramis sedikit kesal dengan jawaban Lion, namun dia menahannya.
"Hari ini kau akan pergi dengan Melo 'kan?"
Pertanyaan Aramis mengejutkan Lion hingga membuatnya berhenti dan membiarkan air pancuran membasahi kepalanya.
"Aku akan membunuhmu jika sekali saja kau menyakitinya! Melo adalah harta paling berharga bagiku dan keluargaku jadi kau harus menjaganya!!" ujar Aramis setelah itu berjalan pergi.
Di bawah air yang terus mengalir dari pancuran, Lion membeku mendengar perintah Aramis yang harus dia jalankan.
"Menjaganya? Memang selama ini apa yang aku lakukan? Apa aku tidak menjaganya?!" gumam Lion dengan tawa kesal.