MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku adalah Vampir



Melody diajak Niko ke rumahnya yang memiliki luas mencapai 5000 m². Niko memperlihatkan hewan buas peliharaan yang berada di taman belakang rumahnya yang sangat besar itu. Melody pernah melihat hewan tersebut, Niko memakai gambarnya di akun sosial media miliknya.


Melody tidak berani melangkah lebih dekat saat macam kumbang hitam itu mengaum ke arahnya.


Namun Niko malah membuka kandangnya untuk memakaikan rantai besar ke lehernya setelah itu mengeluarkannya dari kandang.


Melody mundur beberapa langkah untuk antisipasi kalau saja binatang tersebut menyerangnya.


"Tidak apa-apa, dia sudah kenyang, dia juga sudah tidak terlalu buas. Setiap hari cakarnya juga dipotong." ujar Niko pada Melody. "Kemarilah."


Melody tetap tidak bergeming, dan Niko yang berjalan menghampirinya. Namun Melody mundur beberapa langkah kembali.


"Baiklah, tidak usah mendekat." ucap Niko. "Niki, sadis'!! (Niki, duduk)."


Hewan buas itu menurut dan duduk. Melody takjub melihatnya.


"Namanya Niki, dia hanya mengerti bahasa Rusia." ujar Niko. "Kemarilah, pegang saja!! Aku tidak akan membiarkannya menyakitimu."


Melody mulai mempercayai perkataan Niko. Dia melangkah maju, dan Niko mengangkat tangannya untuk memegangi meraih tangan Melody, gadis itu pun menyambutnya.


"Dia tidak akan menggigit?" tanya Melody memastikan karena gadis itu masih ragu.


"Aku yang akan mengigitmu kalau kau tidak percaya." gurau Niko menyunggingkan bibirnya.


Melody mulai memberanikan diri untuk mengelus hewan buas yang tampak jinak itu. Hewan itu tidak terlihat menyeramkan lagi sekarang. Sekarang Melody menjadi senang dengan mengelusnya.


"HHAUUUMM!!" teriak Niko mengaum untuk mengejutkan Melody yang tampak asyik mengelus Niki peliharaannya.


Melody sangat terkejut hingga berjalan mundur, lalu menatap Niko kesal. Niko tertawa namun menahannya karena tidak mau gadis itu semakin kesal padanya.


"Aku akan memotretmu bersama Niki." ujar Niko setelah itu mengeluarkan handphone-nya. "Ambilah!!" Niko memberikan rantainya pada Melody.


Niko mundur beberapa langkah untuk memotret Melody bersama Niki.


"Tersenyumlah, Melody." seru Niko dan Melody menurutinya.


Niko melihat hasil jepretannya dengan tersenyum melihat wajah Melody di foto tersebut. Dia semakin merasa beruntung saat ini bersama dengan gadis itu.


"Kau lebih cantik saat tersenyum, untung saja kau jarang tersenyum, kalau tidak pasti banyak sekali pria yang mengejar-ngejarmu."


Melody membuang muka dari tatapan Niko.


Niko memasukan kembali peliharaannya ke kandang. Lalu mereka berjalan menuju kolam renang yang ukurannya sangat besar. Niko mengoleskan pelembab bibir ke bibirnya untuk membuat bibirnya yang kering menjadi lembab.


"Kenapa kau tidak menerima permintaan pertemananku di sosial mediamu? Kenapa juga kau harus membuat akunmu menjadi privasi? Kau jadi semakin membuat aku penasaran." ujar Niko sambil memasukan kembali pelembab bibirnya ke saku mantel kanannya.


"Apa?" tanya Melody menoleh pada Niko yang berjalan di sampingnya. "Aku lupa. Nanti akan aku terima."


Melody agak canggung berada bersama Niko saat ini. Namun dia tidak mau terlihat seperti itu.


"Kau suka berenang?" tatap Melody pada Niko. "Kolam renangnya sangat besar."


Niko berhenti berjalan tepat saat mereka berada di pinggir kolam renang. Dia menghadap ke Melody dengan tatapan serius.


"Aku tidak bisa berenang." jawab Niko.


Melody diam saja mendengar jawaban Niko yang terdengar sebuah candaan walau dia mengatakannya dengan wajah sangat serius.


...***...


Lion yang berada di coffee shop membuka aplikasi maps di handphone-nya. Dia sangat serius menatap handphone-nya hingga tidak berkedip sekalipun.


Setelah itu Lion membuka akun sosial medianya dan melihat postingan terbaru dari Niko. Sebuah foto Melody bersama dengan peliharaan Niko seekor macan kumbang hitam yang bernama Niki.


"Dia sangat suka sekali pamer." gumam Lion mengomentari unggahan Niko. "Sepertinya kau menikmatinya Melon, kau bahkan tersenyum saat di foto."


"Jangan bicara sendiri seperti orang gila." seru Mona yang memperhatikan Lion sambil membuat minuman. "Pulang sana, kau sangat kurang kerjaan, sudah hampir tiga jam kau disini dan tidak memesan apapun."


"Aku sedang irit, seharusnya kau mentraktirku, Mona." jawab Lion. "Kau sangat tega dengan pria yang menyukaimu."


Setelah itu Mona berjalan menghampiri Lion dengan membawa segelas minuman berisi susu putih.


"Minumlah, setelah itu pulang sana." ucap Mona.


"Temani aku minum dulu." pinta Lion tersenyum.


Mona menurut dan langsung duduk di hadapan Lion.


"Ada apa? Sejak kemarin kau kesini terus."


"Aku sudah tidak punya teman." jawab Lion enteng setelah itu menyeruput susu dingin dengan sedotan.


"Jangan membual, Mario selalu bicara kalau dia sampai tidak hapal semua nama teman-temanmu saking terlalu banyaknya."


"Mona, semalam aku bermimpi tentang Mario." ucap Lion dengan serius. "Dalam mimpi itu dia hanya melihatku saja, aku diam saja karena tatapannya."


"Jangan mulai lagi, Lion." seru Mona. "Biarkan si bodoh itu tenang, kau tidak perlu membahasnya terus dengan rasa bersalahmu."


Lion mengubah ekspresinya dan tersenyum bodoh.


"Jam berapa kau selesai kerja? Aku akan mengantarmu pulang."


"Pergilah, aku akan pulang sendiri!!" seru Mona kembali ke belakang meja kasir. "Aku bosan melihat dan mendengar ocehanmu."


Lion hanya memicingkan matanya dengan senyum kesal pada Mona.


...***...


Waktu menunjukan jam tujuh malam saat Niko mengantar Melody pulang dengan mobilnya. Melody memperhatikan tangan kiri Niko yang sedang menyetir. Dia selalu menggunakan sarung tangan di tangan itu. Hal itu membuat Melody sangat penasaran apa alasannya.


"Kenapa kau selalu menggunakan sarung tangan di tangan kirimu, Niko?" Melody menatap Niko yang memperhatikan jalan di depan. "Kau juga selalu memasukkannya ke saku mantelmu setiap kali tidak melakukan apapun."


Niko menoleh pada Melody saat lampu merah.


"Ini agar terlihat keren." senyum Niko.


"Kau juga aneh, bukannya disini sangat panas, kenapa kau memakai mantel terus bahkan tidak melepaskannya saat di sekolah." ujar Melody. "Di Rusia sangat dingin pasti kau sudah terbiasa dengan udara dingin disana, tapi disini sangat panas, bahkan saat hujanpun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan iklim di Rusia. Bukankah sangat aneh jika kau selalu memakai mantel saat disini?"


Niko tertawa mendengar perkataan Melody.


"Kau tahu, aku pindah kesini saat lulus SD dan berencana kembali ke Rusia setelah lulus SMP, tapi ternyata sepertinya aku lebih suka disini." jawab Niko. "Aku tidak cocok dengan iklim dingin disana karena itu aku lebih memilih tinggal disini." jawab Niko sambil menjalankan kembali mobilnya karena sudah lampu hijau.


"Sepertinya itu bukan jawaban dari pertanyaanku." ucap dingin Melody.


"Astaga, ternyata kau benar-benar gadis yang aku lihat di bandara waktu itu ya." gumam Niko tersenyum pada Melody. "Apa itu artinya saat ini hubungan kita semakin dekat?"


Melody mencoba bersikap tenang. Dia merasa kalau saat ini Niko terus memutar-mutar jawabannya atau mengalihkan topik pembicaraan. Namun hal itu membuat gadis itu semakin penasaran dengan alasan semua itu.


"Kau terlihat sekali menghindar untuk tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan semua hal yang aku tanya hari ini tidak ada yang kau jawab dengan jawaban seharusnya." ucap Melody dingin. "Kau bilang kau tidak bisa berenang, tapi itu sangat aneh jika kau memiliki kolam renang sebesar itu di rumahmu, kau juga menjawab dengan alasan klise yang kau buat untuk sarung tangan itu. Sekarang kau terus memutar jawabanmu untuk menghindar dari pertanyaanku. Setidaknya kalau kau ingin lebih dekat denganku, kau harus menjawab semuanya dengan jujur."


Dengan cepat Niko membanting setir ke kiri dan mengerem mendadak setelah mendengar ucapan Melody, membuat klakson-klakson dari mobil lainnya di jalan berkumandang bersamaan.


Niko menoleh dingin pada Melody.


"Aku adalah vampir."


...----------------...


Niko



Visual Model :


Vernon Seventeen